FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
83. Hujan meteor



“Zuuu..” ucap Sabi bergegas menghampiri Zulaikha dan Queen Lee. “Queen, apa yang kamu lakukan?!” Tanyanya dengan nada membentak.


“Apa?!” Queen hanya melihat Sabi dengan tatapan heran dan Sabi membalas tatapannya dengan ketus.


“Kamu tidak apa-apa?”


Sabi merangkul pundak Zulaikha lembut dan membantunya berdiri perlahan, sementara Queen memutar bola matanya melihat pemandangan didepannya ini.


“Lebay.” Ketus Queen, berbalik meninggalkan Sabi dan Zulaikha sambil memangku kedua tangannya.


“Queen Lee!” Bentak Sabi, namun tak dihiraukan Queen sama sekali. “Queen, jangan pergi begitu saja.” Sambungnya lagi masih berusaha menahan Queen yang tetap acuh tak acuh.


Sekali lagi Queen memutar bola matanya, dan berbalik melihat dua orang yang dianggapnya terlalu berlebihan dengan tatapan tajam.


“Lalu? Haruskah aku berdiam diri dan memasang diri untuk dibentak atas kesalahan yang bahkan tidak aku perbuat?!” Ucap Queen dengan tatapan tajamnya. “


Sabi melongo mendengar ucapan Queen yang seakan langsung membaca pikirannya.


“Menyalahkanmu? Memang kamu yang salah disini Queen.”


“Terserah apa katamu.” Sahut Queen berbalik meninggalkan Sabi dan Zulaikha.


Zulaikha melirik Sabi yang tengah menatap Queen geram.


“Tidak apa-apa tuan muda.” Ucap Zulaikha.


Perlahan tangan Sabi mulai melepas dari lengan Zulaikha dan perlahan pergi menyusul Queen Lee tanpa berkata sepatah apapun.


Zulaikha sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, jika dilihat dari mimik wajah Sabi. Mereka berdua pasti akan bertengkar lagi, dan itu bisa menguntungkannya.


Tak mau ikut terlibat lebih jauh lagi, Zulaikha hanya tetap diam ditempat melihat Sabi mengejar Queen yang semakin jauh dari pandangan matanya sambil tersenyum.


...........


“Queen ...” panggil Sabi yang dihiraukan oleh Queen.


“Queen Lee, stop!” Teriak Sabi lagi sambil menarik lengan Queen hingga dia tidak bisa menghindar lagi.


Queen menatap Sabi santai, tapi tidak dengan Sabi. Matanya menyalak seperti gonggongan anjing.


“Kenapa?”


“Harusnya aku yang bertanya kenapa padamu Queen?!” Sabi menghempas genggaman tangannya dari lengan Queen.


“Kenapa harus kamu? Aku juga punya hak untuk bertanya kenapa? Kenapa kamu mengikutiku dan berusaha menceramahiku?! Kenapa?”


“Queen!” Sebuah bentakkan tiba-tiba keluar dari mulut Sabi.


Sontak Queen terdiam, menatap Sabi sambil membeku.


Melihat Queen yang langsung terdiam membeku menatapnya datar. Sabi menarik nafasnya perlahan, meredam emosi yang sempat memuncak menguasai dirinya.


“Aku tidak tau apa yang terjadi diantara kalian berdua, tapi kamu tidak boleh bertindak kasar seperti itu.” Tutur Sabi dan Queen lagi-lagi memutar bola matanya.


“Aku tau dia hanya sekertaris dan tidak sepadan denganmu, tapi kamu tidak boleh memperlakukannya seperti itu. Apalagi ini di rumah duka, semua orang tengah berduka sekarang dan kamu membuat kegaduhan. Itu tidak sopan Queen.” Lanjut Sabi semakin membuat Queen mendengus kesal.


“Sekertaris kompleks” ucap Queen dengan nada meledek.


“Apa maksudmu?”


“Lupakan!” Sahut Queen mengibaskan tangannya di depan Sabi. “Aku mau pulang, melihat wajahmu secara terus menerus menguras energiku.” Dia lalu berbalik sambil mengibaskan rambut coklatnya yang bergelombang.


“Hey.. aku tadi menasehatimu dan responmu hanya seperti itu???” Teriak Sabi kesal, berusaha menahan langkah kaki Queen yang terus berjalan menjauhinya.


Queen berbalik menatap Sabi, sambil tersenyum kecil membentuk sebuah sudut kecil dibibirnya yang merah. “Harus ku akui, sebagai seorang atasan kamu sangat baik karena memperhatikan karyawanmu. Tapi, karyawanmu tidak baik untukmu. Berhati-hatilah.” Ucapnya lalu pergi dan meninggalkan Sabi yang masih heran dengan ucapannya.


............


Zayn sesekali melirik Ridwan dan memberi kode tatapan mata yang sudah tidak asing bagi Ridwan. Ridwan segera membuka telefon genggamnya dan mengecek jadwal rutin dari Zayn yang telah tertata rapih di dalam memo. Melihat tidak ada jadwal setelah kegiatan ini karena semua jadwal dibatalkan akibat tragedi yang tak terduga, Ridwan hanya memberikan kode dengan menggeleng kepalanya pada Zayn, dan Zayn hanya mengangguk tanpa ekspresi.


Setelah acara selesai, mereka kembali ke rumah Zayn.


Suasana yang sudah menggelap, dan langit yang telah bertabur bintang membuat Ridwan sesekali mendecak kagum melihat keindahan malam itu. Namun seperti biasa, Zayn tidak peduli.


“Tuan, turunkan kaca mobilmu. Lihatlah keluar, pemandangan langit malam ini begitu indah.” Ucap Ridwan melihat pantulan wajah Zayn dari balik Spion dalam mobil.


“Aku lelah, Wan.” Sahut Zayn tanpa eksrepsi.


“Cobalah melihat keluar tuan, pemandangan seperti ini sangat langka terjadi di ibu kota. Entah ada keajaiban apa malam ini sampai langit ibu kota begitu indah malam ini.” Ridwan masih berusaha membujuk Zayn.


“Aku tidak peduli Wan, bertemu banyak orang hari ini membuat energi sangat terkuras.” Sahut Zayn menyentuh jidatnya dan memijatnya perlahan.


“Makanya lihatlah keluar tuan. Karena menurut penelitian, melihat hal-hal yang indah bisa menaikkan energi dan semangat.” Tegas Ridwan yang tidak jenuh membujuk Zayn.


Sambil menarik nafas panjang, Zayn menurunkan kaca mobilnya bersamaan dengan laju mobil yang mulai memelan. Pandangannya mulai merambat keluar jendela mobil, masih melihat suasana kompleks rumahnya yang tenang dan sunyi seperti biasanya.


Dikesunyian jalanan yang tidak asing lagi dimatanya, seorang gadis dengan dress pendek berwarna putih menbaluti tubuhnya yang ramping, serta rambut cokelat yang terikat setengah dihiasi oleh pita besar berwarna hitam semakin memperlihatkan sisi elegan dari gadis yang tengah berdiri sendiri dibawah lampu jalan seolah sedang menanti seseorang.


Mata Zayn terus membeku, melihat sosok gadis yang tidak asing di matanya.



“Queen Lee.” Gumam Zayn hampir tak terdengar.


Tiba-tiba beberapa cahaya bersinar terang melesat indah diatas kepala Queen, membuat sosok Queen yang tengah menunduk seorang diri semakin bercahaya. Cahaya berikutnya pun menyusul, dan diikuti beberapa cahaya lainnya yang juga ikut melesat diatas kepala Queen dengan indahnya.


“Wiihh.. hujan meteoor.” Ridwan berdecak kagum melihat keindahan langit malam itu dan langsung menghentikan laju mobil.


“Tuan muda lihatkan? Hujan meteor, tuan. Wiih, gila. Ini yang pertama kalinya dalam hidupku bisa lihat hujan meteor sebanyak ini. Waah..” sambung Ridwan terus berdecak kagum tanpa berkedip.


“Tuan, tuan lihatkan? Cantikkan tuan?” Timpal Ridwan lagi yang hanya dibalas dengan nada bergumam oleh Zayn.


“Eh tuan, bukankah itu Nona Queen Lee?” Tanya Ridwan yang baru menyadari kehadiran Queen. “Tuan muda?” Merasa tidak ada respon dari Zayn, Ridwan membalikkan badannya dan menengok Zayn yang ada di kursi belakang.


Tatapan Zayn masih mengarah keluar jendela, Ridwanpun mengarahkan pandangannya keluar jendela mencoba melihat apa yang Zayn lihat.


“Ah perasaan hujan meteornya sudah selesai.” Gumam Ridwan heran, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Diliriknya lagi Zayn sekali lagi, baru dia sadari Zayn tidak menengok ke atas melainkan datar.


Ridwan mencoba mendatarkan kepalanya dan mencocokkan pandangannya dengan apa yang dipandang Zayn. Hingga sampai disatu titik, dimana tempat Queen Lee berdiri sambil menunduk sendu.


“Nona Queen???” Celetuk Ridwan, memancing perhatian Queen Lee.


Segera Ridwan menutup mulutnya saat Queen menoleh padanya. Zayn pun langsung mengalihkan pandangannya dan kembali memasang poker face andalannya.


“Heh.. kamu!” Seru Queen, langsung berjalan mendekati mobil yang dinaiki oleh Ridwan dan Zayn.


“No nona Queen..” Sapa Ridwan terbata melihat Queen yang sudah berada di depan matanya.


“Aku tidak mau mencari masalah denganmu.” Ketus Queen tidak menghiraukan Ridwan, melainkan mencari sosok Zayn yang berada di kursi belakang. “Zayn...” serunya girang ketika melihat Zayn.


Zayn tidak bergeming.


“Nona, tuan Zayn sedang lelah. Mohon jangan diganggu.” Tegur Ridwan ragu-ragu.


“Kamu kelelahan? Tunggu sebentar.” Ucap Queen yang tidak menghiraukan teguran dari Ridwan, sambil merogoh sesuatu dari dalam slimbagnya.


Sebuah cokelat berukuran sedang diambilnya lalu disodorkan masuk langsung ke depan wajah Zayn. “Makan ini. Dulu kalau kamu lelah, kamu selalu makan cokelat. Jadi makan ini, biar lelah kamu hilang.”


Zayn melirik tajam Queen, dan mengambil cokelat yang diberikan oleh Queen. Queen langsung tersenyum lebar melihatnya, namun beberapa detik kemudian, senyum merekah itu langsung luntur ketika Zayn membuang cokelat itu keluar jendela mobil.


Bersambung ...