FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
30. Tirai Selendang



Bruukk!!!


.Tubuh Sabi ambruk dengan keadaan berlutut, masih menatap Zulaikha dari teras cafe.


"Tuan mudaa." seru Zulaikha, panik dan segera berlari menghampiri Sabi.


Zulaikha segera berjongkok disamping Sabi yang tengah merintih kesakitan. Membuka selendang miliknya untuk menutupi wajah Sabi, agar tidak dikenali oleh pengunjung cafe.


"Hey.. apakah dia baik - baik saja?" tanya seorang pengunjung cafe yang prihatin dengan keadaan Sabi.


"Ii iya.. dia baik - baik saja." saut Zulaikha yang mulai panik.


"Tapi dia tidak terlihat baik - baik saja. Aku akan telfon ambulans." seru pengunjung cafe itu sembari mengetikkan sejumlah angka pada telfon genggamnya.


"Ja jangan!"


"Kenapa? sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit."


Gawat! tuan Sabi pernah melarangku untuk tidak memanggil dokter atau siapapun. Jadi sekarang aku juga tidak boleh membawanya ke rumah sakit atau dia akan marah besar.


"Dia.. Dia tidak sakit, dia hanya mabuk." Ucap Zulaikha diselingi dengan tawa canggungnya.


"Dia memang kalau mabuk suka begini, suka berlebihan." sambungnya lagi.


"Benarkah?!" tanya pengunjung cafe itu dengan raut wajah yang sedikit terkejut.


"Iyaa!" Jawab Zulaikha penuh keyakinan.


"Lihat saja wajahnya sedikit memerah." Zulaikha membuka sedikit selendangnya, memperlihatkan separuh wajah Sabi.


"Hahaha.. seperti tomat." Imbuhnya berusaha meyakinkan.


"Astagah ku pikir dia sakit. Baiklah, urus pacarmu baik - baik. jangan biarkan dia terbiasa mabuk disiang hari. Tidak bagus bagi kesehatannya." ucap pengunjung cafe, lalu kemudian pergi meninggalkan Zulaikha dan Sabi.


"Hey hey.. dia hanya mabuk. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." serunya mengusir kerumunan.


Tinggallah Sabi dan Zulaikha yang masih duduk dilantai teras cafe. Zulaikha membuka kembali selendangnya, dan melihat Sabi yang ternyata masih membuka matanya sayu, menatap Zulaikha.


"Zzz.." Lirih Sabi terbata.


"Tuan muda.." Panggil Zulaikha.


"Apa yang terjadi tuan muda?"


Sabi mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Zulaikha lembut.


"Zzz.. Zuu.." Panggil Sabi, sambil tersenyum pelik pada Zulaikha. Lalu pingsan dalam pelukan.


"Tuan muda.." Panggil Zulaikha yang berusaha menyadarkan Sabi, yang tak kunjung bangun.


Zulaikha segera meraih ponselnya, mengetik beberapa angka lalu menelfon supir pribadi Sabi, Pak Van.


Tak menunggu waktu lama, Pak Van segera datang ke lokasi yang Zulaikha kirimkan padanya. Dengan cepat, Pak Van menghampiri mereka berdua, dan segera memopoh Sabi, masuk kedalam mobil dengan berusaha tenang agar tidak menarik perhatian publik.


"Pak.. sebenarnya apa yang terjadi pada tuan muda?" Tanya Zulaikha yang barusan masuk ke dalam mobil, duduk disebelah Sabi.


"Maaf, apakah tuan Sabi sudah pernah menceritakan pada anda sebelumnya?" Pak Van balik bertanya, seraya menyalakan mesin mobil dan pergi dari lokasi.


"Hm.. cerita apa pak?" Zulaikha memperhatikan wajah pak Van dari pantulan spion mobil.


"Tidak. tidak apa - apa." jawab Pak Van, masih menyembunyikan masalah Sabi.


Pak Van tidak mau menjawab, berarti ini masalah pribadi dan rahasia. Tapi.. semoga bukan masalah yang serius.


Seulas senyuman pelik dan pandangan mata yang penuh rasa hawatir, jelas terpampang di wajah Zulaikha.


Eeh eh.. apa yang aku lakukan?! kenapa sekarang aku jadi peduli dengannya.?! Sadar Lai.. sadar!!! Zulaikha mencubit pipinya, berusaha sadar dari pikiran bodohnya.


Sementara Pak Van terlihat menarik sebuah senyuman, melihat tingkah gadis muda itu.


...........


"Membosankaaaaaaan..." Queen berteriak kesal di dalam kamar, sambil melempar sebuah cermin kecil yang sedari tadi dia pegang.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? sekarang aku sudah ada di Indo, dan aku sudah membuatnya melihatku. Lalu apa lagi yang harus ku lakukan untuk membawanya kembali?!" Queen berdiri, menatap sebuah lukisan yang ada di kamar itu.


"Haruskah aku menghampirinya lagi?"


"Aah.. tidak tidak tidak!!!" Dia menggeleng -gelengkan kepalanya, mengusir ide konyol yang terbesit di kepalanya.


"Thats not my style!" Imbuhnya lagi, memangku dagunya sambil berpikir keras.


"Aiishh.. Sial!"


"Aku tidak punya waktu banyak lagi. Aku harus membawanya kembali, entah dengan style ku atau tidak." ucapnya yakin menatap lukisan itu. Seolah - olah sedang berbicara dengan lukisan yang ada didepannya itu.


Dengan cepat, dia bergerak mengganti pakaiannya lalu menata rambut coklatnya agar terlihat bergelombang. Namun segumpalan rambut terlihat rontok, ketika sedang menyisir lembut rambutnya.


Queen hanya bisa mengela nafasnya pelan lalu dihembuskan kuat, dengan senyuman lebar.


"Tidak apa.." tersenyum lagi, melihat pantulan dirinya di depan cermin.


"Itu hanya rambut.. yaa.. hanya segumpalan rambut."


"Itu tidak akan menghentikan langkahku. Apa kamu dengar? aku tidak akan berhenti, hanya karena kamu rontok dari kepalaku. Bahkan jika kepalaku gundul sekalipun, aku akan tetap mengejarnya." Ucapnya sambil menunjuk - nunjuk rambutnya yang telah rontok, seolah - olah rambut itu sedang berusaha menghentikan apa yang ingin dia lakukan.


Dia lalu meraih rambut rontoknya itu, menggulung - gulungnya. dan dilemparkan ke tempat sampah.


Tak lama, dia kembali lagi ke depan cermin. Memastikan bahwa tidak ada yang salah dari penampilannya. Memasang wajah cemberut, lalu jari jemarinya membentuk sebuah senapan dan menembakkan senapan yang terbuat dari tangannya ke arah cermin dan boom.. muncullah sebuah senyuman.


"Hahahaha.. awali harimu dengan senyuman." ucapnya riang.


"dan tentunya sarapan dulu biar tidak lapar." imbuhnya, sambil meninggalkan kamarnya dengan membawa tas bermereknya.


Queen menuruni anak tangga dengan riang, sambil terus tersenyum tiada henti memandangi sekitar rumah besar keluarga Andi.


Pandangannya tiba - tiba terhenti pada nyonya Denisa yang saat itu sedang lewat didepannya.


"Morning Madam Denis.." Sapa Queen, menghampiri nyonya Denisa.


Nyonya Denisa menghentikan langkahnya, dan berbalik melihat Queen yang datang menghampirinya sambil tersenyum. Nyonya Denisa membalas senyuman Queen, yang tak kalah cerah dari senyuman milik Queen.


"Morning Queen.." balas Nyonya Denisa.


"Kamu mau keluar?"


"Iya nyonya. Saya sedikit bosan, jadi saya mau berjalan - jalan dulu." Jawab Queen dengan nada manjanya.


Queen langsung tertawa, menyadari betapa jahatnya kata - kata yang dia ucapkan kepada nyonya Denisa.


"Aah tidak - tidak nyonya. Anda tuan rumah yang sangat baik." sergah Queen, membalas belaian tangan nyonya Denisa padanya.


"Aku hanya ingin berjalan - jalan saja, karena ingin menikmati pemandangan di negara berkembang ini. Sebelumnya kan aku sering di negara maju, jadi sekali - skali aku ingin menikmati pemandangan di negara berkembang sebelum kembali ke negara maju." sambung Queen, di selangi tawa canggungnya.


Aissh.. sial. Apalagi yang kukatakan ini, negara maju dan negara berkembang. Apa hubungannya Queen.. Bodoh!


"Apa kamu mau ditemani? jika mau, saya akan mengutus asisten saya untuk menemanimu. Karena.. sekarang saya sedang sibuk bersiap - siap." Nyonya Denisa menggiring langkah Queen ke Asisten pribadinya, Anna.


Anna tersenyum ramah pada Nyonya Denisa dan juga Queen yang datang menghampirinya.


"Who's this?" Tanya Queen ramah.


(Siapa ini?)


"Dia adalah asisten pribadi saya. Saya akan memerintahkannya untuk menemanimu selama saya sedang ke New York" Jawab Nyonya Denisa.


"Perkenalkan saya Anna, ,Nona." Anna segera memperkenalkan dirinya.


"Oh, jadi Nyonya mau ke New York."


"Iya Queen.. Beberapa hari lagi Gio akan wisuda. Jadi, saya dan suami saya akan ke New York. Sekalian membawa Gio pulang ke tanah air." ujar Nyonya Denisa dengan raut wajah yang gembira.


Pasti dia sangat senang karena akan berjumpa dengan putranya. Mungkin seperti ini juga yang dirasakan Ibu jika aku pulang.


"Queen.. Queen.." panggil Nyonya Denisa, berusaha menyadarkan Queen dari lamunannya.


"Ah yaa!" Queen tersipu malu menyadari dirinya tenggelam dalam pikiran dan perasaannya yang sepertinya sedang merindu.


"Kamu kenapa melamun?"


"ahaha.. tidak nyonya. aku hanya.. mmm.."


"Queen.. berhenti memanggilku Nyonya." Nyonya Denisa menyentuh lembut pundak Queen.


"Kamu sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Kamu sudah bagaikan Gia bagiku. Jadi panggil saja aku Ibu, oke?"


"ah tidak tidak... sejujurnya itu akan terdengar aneh." Queen mundur selangkah, menjauh dari nyonya Denisa. Hingga tangan Nyonya Denisa terlepas dari bahunya.


Entah kenapa, dia merasa takut ketika Nyonya Denisa memintanya untuk dipanggil dengan Ibu.


Matanya terlihat gusar, dan berkaca - kaca.


"Aku tidak akan lama disini Nyonya. Jadi aku akan tetap memanggil anda Nyonya. Biarlah aku menghargaimu seperti itu. Agar putri anda tidak akan merasa.. merasa seperti.. yah.. seperti itu lah." Queen berusaha menjelaskan, namun sepertinya emosinya mempengaruhi pikiran dan mengacaukan segala apa yang ingin dia ucapkan.


"Baiklah..." sahut Nyonya Denisa masih lembut, dan membelai pucuk kepala Queen.


Queen segera menangkap tangan Nyonya Denisa yang baru saja mendarat di kepalanya. Dengan hati - hati, Queen menurunkan tangan Nyonya Denisa.


"Sepertinya aku harus segera pergi, Nyonya." Ucap Queen, sembari pergi meninggalkan Nyonya Denisa.


"Oh baiklah.. hati - hati di jalan yaa.." sahut Nyonya Denisa, sambil melambai pada Queen yang bahkan tidak menoleh padanya.


Sementara Anna segera menyusul Queen, dan menuntun langkah kaki Queen menuju mobil yang akan mereka pakai.


"Silahkan masuk nona." Anna mempersilahkan Queen masuk ke dalam mobil, yang pintunya telah dibukakan oleh Anna.


"Terimakasih Anna.." sahut Queen ramah, masuk ke dalam mobil masih dengan raut wajah gusarnya.


Queen terus memandangi jari jemarinya. Merasakan sebuah perasaan yang terluka dalam dadanya, dan itu membuat senyuman paginya luntur seketika.


Mesin mobil menyala, dan Anna mulai menancap gas perlahan meninggalkan teras rumah.


Queen yang merasa mobil sudah bergerak, segera mengangkat wajahnya dan mendongak ke depan. Matanya membelalak kaget, pupil matanya membesar dan nafasnya memburu kencang. Tiba - tiba terlihat mobil lain datang dari arah berlawanan menghantam mobil yang mereka tumpangi.


Bruuukk!!!


"Aaaaaaaa...."


Anna yang mendengar teriakan Queen, segera mengerem mendadak. Padahal baru berapa meter mereka meninggalkan teras dengan tenang, dan Queen berteriak seperti mereka sedang mengalami kecelakaan.


Aiissh..


"Nona.. Nonaa.. apakah anda baik - baik saja?" Anna berbalik, melihat Queen yang sudah gemetar ketakutan.


Queen masih tidak menyaut, yang terdengar hanyalah sebuah rintihan ketakutan dan tubuh yang gemetar ketakutan.


"Nona.. nonaaa!!!" Teriak Anna, yang heran sekaligus panik.


"Si.. siapa.. yang menabrak kii kiita An?" Ucap Queen terbata, masih gemetar ketakutan.


"Apa? siapa yang menabrak kita nona? tidak ada yang menabrak kita. Kita bahkan belum turun ke jalan raya." Jawab Anna.


"Aa? Benarkah?"


Queen segera menurunkan tangannya yang sedari tadi menutup wajahnya. Perlahan - lahan dia membuka matanya. Melirik ke kiri dan ke kanan.


Ditarik nafasnya perlahan, mengatur kembali nafasnya yang memburu.


"Benar, kamu benar Anna." Queen menghembuskan nafas lega, berusaha tersenyum kembali.


Apa? benar apa? benar tidak ada yang menabrak kita? kan memang tidak ada yang menabrak kita dari tadi. astagah.. kenapa dia begitu aneehh?!


"Seharusnya tadi aku memasang ini." Queen mengeluarkan sebuah kain dari dalam tasnya.


"Selendang?" seru Anna heran.


"Bukan.. ini bukan selendang, ini tirai." sahut Queen sembari memasang kain itu. Menutupi dirinya yang ada dibelakang Anna, hingga apa yang ada di depannya tidak terlihat sama skali.


Kenapa dia memasang tirai dalam mobil? seperti orang yang mau sholat saja.


"ooh tirai. seperti orang yang akan sholat di mesjid." seru Anna, yang masih heran melihat apa yang dilakukan Queen.


"Sholat? mesjid? apa itu?"


"Sholat itu kegiatan berdoa yang dilakukan orang yang beragama islam, nona. dan mesjid adalah tempat mereka untuk beribadah. Ketika mereka beribadah di mesjid, ada pembatas antara laki - laki dan perempuan. Pembatasnya seperti apa yang nona lakukan saat ini." Tutur Anna, berusaha menjalaskan pada Queen yang heran dibalik tirainya.


"Oh begitu, maaf saya tidak tau." ucap Queen, memperlihatkan wajah gusar yang setengah ketakutan dengan tatapan yang kosong.


"Saya atheis." sambung Queen.


Bersambung...