FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
70. Mencari Tanpa Bertanya



“Tuan muda ... Saya membawakan baju kantor anda.” Seru Zulaikha yang baru masuk ke dalam kantor Sabi.


Ruangan itu terasa sunyi, bahkan sedikit suarapun tidak terdengar. Merasa ada yang janggal, mata Zulaikha langsung menyapu seluruh ruangan itu, mencari sosok Sabi yang seharusnya ada di ruangan itu. Namun sosok Sabi sama sekali tidak terlihat.


Dengan cepat, Zulaikha mengambil handphone nya yang berada di saku roknya. Menekan tombol panggil pada sebuah kontak yang bertuliskan ‘Si Labil’, kontak milik Sabi.


Terdengar beberapa kali berdengung, namun tak kunjung diangkat oleh Sabi. Bahkan sampai akhirpun, Sabi tetap tidak mengangkat panggilan darinya.


“Gawat, tuan muda ada dimana sekarang?” Gumam Zulaikha, mulai cemas.


“Aku harus mencarinya kemana? Bagaimana nanti jika tuan Zayn melihat tuan muda, jalan sendiri tanpaku. Dia pasti akan memarahiku lagi.” Gumam Zulaikha lagi, berusaha berpikir dimana keberadaan Sabi. Sebelum Zayn yang lebih dulu bertemu dengan Sabi seorang diri.


Queen ...


“Iya, nona Queen Lee.” Seru Zulaikha, langsung mencari kontak Queen Lee pada handphone nya.


Setelah beberapa kali menelfon Queen Lee, akhirnya panggilannya diangkat juga meskipun bukan diangkat oleh Queen langsung.


“Maaf, nona Queen Lee sedang sibuk.” Ucap seorang wanita diseberang telfon.


“Oh iya, maafkan saya. Saya hanya ingin bertanya, apakah tuan muda Andi Sabiru sedang bersama dengan Nona Queen Lee?” Tanya Zulaikha dengan hati-hati.


“Andi Sabiru? Hm ... tidak.” Sahut wanita itu yang tak lain adalah Ella.


Zulaikha diam, berpikir sejenak. Jika Sabi tidak bersama dengan Nona Queen Lee, lantas dia sedang bersama dengan siapa sekarang?


“M. Eddie est venue!” Terdengar sebuah suara yang agak jauh dibalik telfon itu, namun Zulaikha masih bisa mendengarnya.


“Nona Queen, Mister Eddie sudah datang.” Ucap wanita itu dibalik telfon, namun tidak ditujukan padanya.


Sepertinya wanita itu sedang menyampaikannya pada Queen. Membuat Zulaikha semakin fokus mendengarkan pembicaraan mereka.


Mister Eddie? Pak Eddie? Jika itu memang Pak Eddie, apa yang dilakukannya disana pagi ini?! Bukankah dia sangat sibuk saat pagi hari?!


“Permisi ...” seru Zulaikha dan wanita diseberang telfon itu menyahut.


“Apakah itu Pak Eddie Sugio?” Tanya Zulaikha.


“Iya, benar.” Sahut wanita itu.


“Apa yang dilakukan Pak Eddie Sugio disana pagi ini?”


“Maaf. Itu privasi kami dengan Pak Eddie.”


“Ah, iya. Saya minta maaf.” Sahut Zulaikha canggung. Lalu mengakhiri panggilan itu.


Rupanya Sabi tidak bersama dengan Queen Lee, membuatnya sedikit merasa lega. Karena jika iya, dia pasti akan dimarahi lagi oleh Zayn. Bertemu dengan Zayn saja sudah membuat mentalnya terkadang down, apalagi jika dimarahi. Rasanya bukan hanya down, dia seperti akan down lalu meluap seperti tsunami.


Aku harus mencarinya kemana?


Zulaikha menerawang ke luar jendela, melihat jalanan yang sudah padat dengan kendaraan dan ribut dengan bunyi klakson dari beberapa kendaraan yang tidak sabar ingin melambung.


Matanya tertuju pada sebuah cafe diseberang kantor. Langsung teringat, terkadang Sabi suka minta dibelikan makanan ditempat itu. Apalagi pagi ini dia tidak sarapan, pastinya dia akan menyuruhnya membeli makanan disana untuk sarapan.


“Benar! Tuan muda pasti ada disana untuk sarapan, karena aku datang terlalu lama.” Seru Zulaikha dengan mata yang berbinar semangat.



Segera Zulaikha bergegas, menuju cafe itu dengan sedikit berlari dan penuh semangat. Saat dia hendak masuk ke dalam lift, seorang karyawan pria keluar dari lift dengan terburu-buru dan tak sengaja menabrak pundaknya.


“Maaf, maaf ...” ucapnya mencoba menyentuh pundak Zulaikha, namun dengan cepat Zulaikha menepihkan tangan pria itu. Membuat pria itu merasa dirinya sudah keterlaluan menyambaru Zulaikha, hingga respon Zulaikha sampai seperti itu.


“Oh maaf. Saya benar-benar tidak sengaja, saya sangat buru-buru karena tuan Eddie Sugio memintaku untuk bergerak cepat.” Ucap pria itu lagi, merasa bersalah pada Zulaikha.


“Eddie Sugio?!” Zulaikha mengangkat sebelah senyumannya tak percaya mendengar ucapan pria itu. Dia membatalkan langkahnya masuk ke dalam lift, dan membiarkan lift itu tertutup.


“Jika kamu merasa bersalah karena telah menyambarku, tidak perlu memakai alasan untuk berbohong.” Imbuh Zulaikha, menatap tajam karyawan pria itu.


“Apa maksdumu?!”


“Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu menjual nama pak Eddie Sugio untuk menutupi kesalahanmu?!” Sergah Zulaikha, menatap karyawan pria itu dengan tatapan tajam.


“Hey ... apa kamu pikir aku berbohong?! Jika kamu tidak percaya, silahkan pergi ke ruangan Pak Andi Syafar.” Ketus karyawan pria itu dan langsung pergi meninggalkan Zulaikha begitu saja.


Mata Zulaikha mengerjap beberaa kali, tak percaya mendengar ucapan karyawan pria itu. Karena Zulaikha bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang begitu saja, dia memutuskan untuk pergi ke lantai tiga. Mengecek apakah karyawan pria itu mengatakan kebenaran atau kebohongan.


Segera dia masuk ke dalam lift, dan menekan tombol menuju ke lantai dimana ruangan Pak Andi Syafar berada.


Lebih baik aku sendiri yang memastikannya. Gumam Queen, menatap tajam pantulan dirinya yang ada di dinding lift.


Zulaikha berjalan menuju ke ruangan Pak Andi Syafar. Seperti biasa, ruangan itu terdengar tenang dari luar. Tidak menunjukkan tanda-tanda seorang tamu telah datang berkunjung.


Zulaikha melewati lobi sekertaris Pak Andi Syafar begitu saja, dan membuatnya langsung dicegat oleh sekertaris yang ada di lobi koridor ruangan Pak Andi Syafar.


“Maaf, ada yang bisa saya bantu?!” Ucap wanita itu ramah.


“Ah, maaf. Saya ingin bertemu dengan Pak Andi Syafar.” Jawab Zulaikha.


“Apakah ada yang anda ingin sampaikan untuk Tuan Andi Syafar?” Wanita itu melirik kartu tanda karyawan Zulaikha. “Atau apakah ada yang tuan Andi Sabiru ingin sampaikan melalui anda?”


Zulaikha mengangguk percaya diri.


“Maaf, untuk sekarang mungkin anda belum bisa masuk ke dalam. Sampaikan saja padaku, aku akan menyampaikannya langsung pada tuan Andi Syafar.” Ucap Wanita itu, lagi-lagi tersenyum ramah.


“Maaf, jika saya boleh tau, apa yang terjadi? Hingga saya tidak bisa masuk kedalam.” Zulaikha mencoba menggali informasi.


“Didalam sedang ada pertemuan dengan beberapa orang penting dan tidak bisa diganggu.” Jawab wanita itu.


“Apakah di dalam ada Pak Eddie Sugio?”


Wanita itu mengangguk ramah, mengiyakan pertanyaan dari Zulaikha. “Iya, benar.”


“Aargh ... dimana karyawan itu? Kenapa dia belum kunjung datang?” Gerutu Pak Eddie yang tiba-tiba keluar dari ruangan, mencari sosok karyawan pria yang ditemui Zulaikha tadi.


“Pak Eddie ...” gumam Zulaikha, menganga melihat wujud Pak Eddie yang ada di depannya.


“Heh ... kamu.” Pak Eddie menunjuk Zulaikha. “Apakah kamu melihat karyawan pria yang memakai dalaman kemeja warna merah jambu?” Tanya Pak Eddie yang terlihat sedikit tidak tenang.


“I iya pak. Dia sedang dalam perjalanan menuju kesini.” Sahut Zulaikha, ragu-ragu. “Pak Eddie, maafkan saya atas kelancangan saya yang ingin bertanya pada bapak.” Imbuh Zulaikha menundukkan kepalanya.


“Hm?!” Pak Eddie menaikkan sebelah alisnya, heran. “Kamu sekertaris pribadi Andi Sabiru, bukan?!” Timpal Pak Eddie, berhasil menganalisa wajah Zulaikha.


“Iya, benar pak.” Zulaikha mengangguk sopan.


“Tanyalah, lasti Sabiru yang menunjukmu kemari.” Ucap Pak Eddie.


“Apakah Pak Eddie ada janji bertemu dengan nona Queen Lee hari ini?” Zulaikha bertanya dengan hati-hati, takut jikalau Pak Eddie akan mengomelinya atau mengatakan itu adalah privasi.


“Iya.” Sahut pak Eddie lantang. “Tapi sebentar sore. Tapi ... mungkin hari ini tidak jadi.” Imbuh Pak Eddie.


“Benarkah? Tapi seseorang datang tempat nona Queen Lee dengan nama anda, Pak.”


“Hmmm ...” Pak Eddie menyentuh dagunya yang sedikit berbulu, terlihat sedikit berpikir.


“Aku memang mengajak beberapa orang untuk kesana, dengan membuat janji bertemu atas namaku. Berarti salah satu dari mereka telah duluan kesana.” Ujar Pak Eddie, sedikit tersenyum lega. Lalu melepaskan tangannya dari dagunya.


“Hmm ... tidak mungkin dia.” Gumam Pak Eddie, membayangkan sosok Sabi. “Dia sudah bilang bahwa telah memiliki janji hari ini. Jadi sepertinya, Zayn.” Lanjut Pak Eddie.


Zulaikha terus menyimak setiap kata yang dilontarkan oleh Pak Eddie. Mendengar nama Zayn disebut, Zulaikha semakin lega mendengarnya. Setidaknya Zulaikha tidak perlu terlalu panik untuk mencari Sabi pagi ini, karena Zayn juga sedang tidak berada di kantor sekarang.


“Oh baiklah, Pak. Terimakasih.” Zulaikha menundukkan kepalanya. “Saya permisi ke bawah dulu, Pak.” Ucap Zulaikha pamit undur diri, dan Pak Eddie mengangguk.


*Ting!


Pintu lift terbuka.


Seorang karyawan pria yang ditunggu-tunggu oleh Pak Eddie, akhirnya keluar dari lift dan sangat terkejut melihat sosok Eddie Sugio yang menunggunya di luar ruangan.


“Hey, darimana saja kamu?! Kenapa lama sekali?” Pak Eddie meneriaki karyawan Pria itu.


Zulaikha menoleh ke arah lift, melihat karyawan pria itu yang langsung lari tergopoh-gopoh menuju ke arah Pak Eddie dengan membawa sebuah map ditangannya.


Dari dalam lift juga terlihat Zayn dan Ridwan yang melangkah dengan santainya keluar dari lift. Membuat mata Zulaikha membulat sempurna melihat kedatangan dua orang itu.


Tuan Zayn ... mati aku!


“Eh Zayn, bukankah kamu ada ditempat Queen Lee? Lalu kenapa kamu bisa ada disini?! Tidak mungkin secepat itu kan?!” Seru Paman Eddie saat Zayn menundukkan kepalanya, memberi hormat pada Pak Eddie.


“Queen Lee?!” Seru Zayn, mengernyitkan dahinya. “Saya baru saja sampai. Setelah melihat aktifitas pagi W Mall”.


“Tunggu. Jika bukan kamu yang datang kesana ... berarti ....” Pak Eddie mencoba menerka. “Sabiru?!” Celetuk Pak Eddie. Membuat Zayn langsung menoleh ke arah Zulaikha, dan menatapnya tajam.


Bersambung ....