FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
10. Pencuri?!



Katakanlah sekarang jiwa Sabi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Akhirnya dia mengetahui mengapa dia terus bermimpi buruk, yang meskipun alasan dibalik mimpi buruk itu belum ditemukan. Namun baginya, dia seperti menemukan sebuah titik terang ditempat yang gelap. Tempat yang selama ini membelenggunya.


"Sebagai balasan yang tadi, kamu yang tunggu obat disini!" cetus Jon kesal.


"terus kamu?"


"Yaaa aku ke parkiran ambil mobil." jawab Jon sambil memberikan resep obat pada Sabi.


Sadar akan kesalahannya tadi yang menendang Jon, Sabi pasrah dengan apa yang dikatakan Jon. Sedangkan Jon tanpa salah dan dosa, pergi meninggalkan Sabi sambil mengejeknya karena harus menunggu diantara banyaknya orang - orang yang sedang mengantri.


Sudah beberapa menit berlalu dan dia masih berdiri menunggu panggilan resep atas nama Jones. Namun telinganya belum kunjung mendengarkan nama itu sedikitpun.


Apa yang mereka lakukan didalam? kenapa lama sekali?! Ahhh.. Sabi mulai menunjukkan ekspresi kesal karena kakinya mulai keram berdiri lama.


Yahh meskipun ekspresi kesalnya tidak terlihat, karena tertutup jaket. Namun Bahasa tubuhnya cukup memperlihatkan bahwa kakinya kelelahan. Sesekali dia menumbuk - numbuk kakinya agar pegalnya sedikit hilang, namun yang ada kakinya semakin pegal.


Hellleeh.. percumaaa! Dengus Sabi kesal pada kakinya sendiri yang mudah sekali pegal.


Diliriknya kursi - kursi tunggu yang telah ful diisi oleh bapak - bapak dan ibu - ibu yang telah lebih dulu datang.


Tiba - tiba seorang wanita paruh baya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju loket pengambilan obat. Bagaikan melihat emas dan permata, Sabi dengan cepat berlari ke tempat duduk yang telah kosong. Saat hampir sampai, ternyata seorang wanita lebih dulu menyela Sabi. Namun dengan cepat, Sabi menarik baju wanita itu, hingga wanita itu termundur kebelakang. Segera dia duduki kursi itu, lalu memangku kakinya tanpa ada rasa salah dan dosa.


"Hey..." Celetuk wanita itu yang ternyata adalah Zulaikha.


Sabi diam, duduk santai dan tak memperdulikan Zulaikha sesikitpun.


"Aku yang duluan sampai, seharusnya aku yang duduk disitu!" protes Zulaikha yang tidak terima dengan perbuatan curang Sabi.


Sabi masih cuek bebek dan tidak menghiraukan Zulaikha sedikitpun. Sementara orang - orang disekitar mereka, mendadak memperhatikan mereka.


Aiiihh.. Siaal! Zulaikha mengumpat kesal.


Merasa dirinya jadi pusat perhatian, Zulaikha memilih mengalah dan meninggalkan Sabi yang sedang asyik memutar lagu diearphonnya.


"Mba.. silahkan duduk disini saja. Nama saya sudah dipanggil." Seru seorang lelaki paruh baya.


Langkah kaki Zulaikha terhenti, seketika sebuah senyuman terukir dibibir merah jambunya.


"Terimakasih yaa pak.."


Tanpa menunggu komando, Zulaikha segera menduduki kursi kosong itu dengan wajah yang berseri - seri.


Lamanya.. arrghh... Keluh Sabi sambil mengganti posisi duduknya.


Belum lama dia mengganti posisi duduknyaz Sabi kembali mengganti posisi duduk berusaha mendapatkan rasa nyaman ditengah rasa keterbosanan yang sedang memeluknya erat.


Tiba - tiba.. Bruukkh..


Kaki Sabi menghantam kursi yang ada didepannya.


Aaarrghh..


"Hey..." Seru Zulaikha yang kaget.


Sabi mengelus - elus kakinya yang terbentur, merasa kurang puas, Sabi menundukkan kepalanya. Memastikan apakah kakinya memar atau tidak.


Bruukhhh... Lagi - lagi kepala Sabi yang terbentur di kursi depan, tempat Zulaikha duduk.


Aaiishhh.. Sabi mengerang kesakitan dengan tangannya yang reflek memegang kepalanya terbentur.


Aiissh... Zulaikha mendenguskan nafas dengan kesal serta raut wajah yang mulai kusut karena geram. Kali ini dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Zulaikha segera berdiri dan berbalik kebelakang, memperhatikan Sabi yang sedang meraung kesakitan.


"Heyy.. Ka_"


"Tuan Joseep S.." Teriak seorang petugas apotik dari balik jendela yang setengah tertutup, sambil mengeluarkan sebelah tangannya menjulurkan sebuah obat.


Zulaikha segera berbalik dan tersenyum senang, karena nama ayahnya telah dipanggil. seakan marahnya pada lelaki dibelakangnya telah memudar. Dia segera menghampiri petugas apotik, namun na'as. Sebelum dia mengambil obat milik ayahnya, seseorang tiba - tiba datang dari arah belakang segera mengambil obat miliknya, yang ternyata orang itu adalah Sabi.


"Yyaa.." Seru Zulaikha yang kaget melihat pemandangan yang dilihatnya.


"Hey.. itu obatku..." Zulaikha sedikit berteriak, berharap lelaki itu akan mendengarkannya dan berbalik.


Kamu luar biasa Sabiii! Yuuuhuuuuwww..! Sabi melompat - lompat kegirangan sambil beberapa kali menciumi plastik obat miliknya.


"Hey pak.. anda mengambil obat yang salah!" Tegur Zulaikha yang berada tepat dibelakang Sabi.


Sabi yang saat itu masih menggunakan earphone, tidak mendengar suara Zulaikha yang menegurnya dari belakang.


Bapak ini kenapa siih? dari tadi buat emosi terus. Zulaikha mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi.


"Hey pak... anda salah mengambil obat! obat yang anda ambil adalah obat saya, jadi kembalikan obat saya pak!!!" Ucap Zualikha dengan nada suara yang mulai meninggi.


Sabi tetap tidak mendengar apa yang Zulaikha katakan. Mulai melangkahkan kakinya dan berjalan meninggalkan Zulaikha yang masih berdiri dibelakangnya.


Ini orang.. benar benar.. menjengkelkan! Teriak Zulaikha dalam hati. kali ini dia tak bisa lagi membendung amarahnya. Dia segera menyusul Sabi sambil berjalan dengan cepat. Sesegera mungkin, secepat mungkin yang dia bisa ditambah lagi dengan keadaan yang sedang marah. Zulaikha berhasil mengejar Sabi tanpa berlari.


Tangan kanan yang putih dan kecil meraih bahu Sabi yang lebar dan lebih tinggi daripada bahunya. Sabi sontak berhenti dan menengok, namun belum sempat Sabi menengok, Zulaikha dengan cepat dan kuat menarik bahu Sabi kebelakang hingga membuat Sabi kehilangan keseimbangan. Tubuh yang tinggi dan kekar itu sontak langsung jatuh kebelakang, tanpa sempat bisa bertumpu pada suatu pegangan.


Dengan cepat Zulaikha menghampiri Sabi yang masih mendesis kesakitan dan mengambil obat milik ayahnya.


"Yyaaa..!" Teriak Sabi.


"Makanya kalau saya minta obat bapak saya, kembalikan." ucap Zulaikha sambil memeriksa obat ayahnya tidak kekurangan satu apapun.


Sabi segera bangkit, dan melepaskan topi jeketnya lalu melepaskan earphone yang masih menempel ditelinganya.


"Kamu ini cari masalah yaaa! kenapa memgambil obat orang lain sembarangan?!"


Apa? ambil obat sembarangan?


"Hey pak.. anda yang mengambil obat milik bapak saya!" sahut Zulaikha dengan memangkukan kedua tangannya dipinggangnya yang ramping, tanpa menoleh ke arah Sabi.


"Apa? mengambil obat kamu?! Sudah gila ya kamuu?! Sini obat saya!" Sabi sedikit terkekeh, lalu dengan cepat menarik dengan kasar obat dari tangan Zulaikha yang saat itu sedang lengah.


Zulaikha yang menyadari obatnya diambil dari tangannya, merasa sangat kesal dan langsung segera menoleh ke tempat Sabi berdiri.


"Pencu... riii" Bentak Zulaikha dengan nada suara yang tiba - tiba menurun.


Seketika matanya membulat dengan sempurna mendapati orang yang dikatainya pencuri adalah seorang direktur di sebuah perusahaan tempat dia melamar.


"Apa? pencuriii? saya bukan pencuri, ini obat saya!" Sabi ngotot menyatakan obat yang dipegangnya adalah obat miliknya.


Haduuuh... Bagaimana ini?! itu direktur tukang gosip Andi Sabiru.


Zulaikha segera berbalik dan membelakangi Sabi dengan wajah yang sedikit pucat.


"Hey.. saya sedang bicara! kenapa membelakangi orang yang sedang bicara? tidak sopan!"


Mana bisa saya menunjukkan wajah saya pada anda tuan Andi Sabiru?? setelah saya membuat anda terjatuh dan mengatai anda pencuri. Yang ada anda tidak akan menerima saya diperusahaan bapak dan saya akan di blacklist banyak perusahaan.


"Hey.. maumu kamu sebenarnya apa?! setelah membuat saya terjatuh dan menuduh saya pencuri, sekarang kamu malah membelakangi saya dan diam seribu bahasa." Ucap Sabi kesal seraya mengernyitkan dahi.


Habislah aku...


Zulaikha memejamkan matanya berusaha berpikir mencari jalan keluar.


"Jangan - jangan kamu pencuri yaa.." tuduh Sabi sambil mendekati Zulaikha yang masih berdiri mematung ketakutan.


Bisa - bisanya anda mengatakan saya pencuri sementara jelas - jelas di bungkus obat itu tertera nama bapak saya. Pliisss.. jangan mendekatiku tuan..


Zulaikha meringis, masih berusaha mencari jalan keluar.


Langkah Sabi semakin dekat dengannya, jantung Zulaikha berdetak semakin tak karuan. Semakin Sabi melangkahkan kakinya mendekati Zulaikha, maka semakin tak karuan pula detak jantungnya berdegup, takut, hawatir, semua menjadi satu.


Jika dirinya, seorang pelamar yang berhasil lolos sampai babak terakhir ketahuan melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang direktur di sebuah mall ternama. Maka karir yang baru saja akan mulai dirintis, semuanya menjadi sia - sia dan akan hancur berkeping - keping. Harapan demi harapan yang telah dirajut akan terurai kembali menjadi lautan sesalan yang tak bertepi.


Ya Tuhan.. Selamatkan saya dari situasi gila ini..


Bersambung...