
Sabi dan Zulaikha pergi meninggalkan kantor dan menuju ke lokasi seleksi kemarin. Sepanjang perjalanan, Sabi hanya menatap pemandangan kota dibalik jendela mobil dan tak banyak bicara seperti biasanya.
Zulaikha pun ikut diam, tapi matanya tak berhenti melihat ke spion untuk melirik Sabi, yang duduk di kursi belakang.
“Pak.. singgah bentar disini.” Seru Sabi memecahkan keheningan.
Pak Van segera menepi dan berhenti di depan cafe yang Sabi tunjuk.
“Ada apa tuan muda?” Tanya Zulaikha.
“Ah tidak. Sepertinya aku lapar dan mau makan sambil memberi beberapa makanan kecil untuk Paman.” Jawab Sabi, lalu keluar dari mobilnya.
“Oh iya benar, tuan. Tadi anda mengeluh lapar. Maafkan saya tuan muda. Saya lupa bahwa tadi anda ingin makan.”
“Eh tidak apa. Ayo ikut, kamu juga belum makan siang.” Ajak Sabi, lalu melangkah pergi masuk cafe duluan.
Mendengar ucapan Sabi, Zulaikha secara tak sadar terlihat sedikit tersenyum. Hatinya menghangat ketika mendapatkan sedikit perhatian Sabi.
“Eh Pak Van.. ayo masuk.” Ajak Zulaikha yang mendapati Pak Van tengah memperhatikannya sambil tersenyum.
“Masuk saja..” sahut Pak Van sambil tersenyum ramah. Seolah memberikan Zulaikha kesempatan untuk bersama Sabi.
“Zuuu...” teriak Sabi dari depan pintu cafe sambil terus melambaikan kedua tangannya.
Zulaikha segera berbalik.
“Jangan lupa bawa dompet aku, ketinggalan di mobil.” Teriak Sabi lagi, sambil memberi kode bahwa dia akan menunggu duluan di dalam.
Zulaikha mengangguk mengerti, dan kembali membuka pintu mobil bagian belakang tempat Sabi duduk tadi. Dia menggelengkan kepalanya ketika melihat dompet Sabi yang jatuh dibawah kursi, bukan ketinggalan.
Dasar ceroboh.. Gumamnya sambil tersenyum lalu menutup kembali pintu mobil.
*Piiiiipppp....
Sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir menyenggol Zulaikha yang saat itu sedang berbalik menghadap jalan raya.
Sontak Zulaikha sedikit berteriak kaget dan tak sengaja menjatuhkan dompet milik Sabi hingga terbuka.
Untung saja, mobil itu tidak sampai menyenggolnya. Segera Zulaikha mengelus dadanya dan memungut dompet Sabi yang terjatuh, lalu ditutup kembali.
Eh..?!
Seperti ada yang tak asing. Zulaikha merasa ada sesuatu yang familiar didalam dompet itu. Rasa penasaran langsung memenuhi seluruh ruang kepalanya, namun disisi lain dia merasa sangat tidak sopan membuka dompet milik bosnya secara sembarangan.
Zulaikha melirik ke sekitar, melihat keadaan. Tak ada yang memperhatikannya. Namun perasaannya tetap merasa tidak enak. Diremasnya dompet hitam itu, berusaha mendapatkan sebuah keyakinan.
Sampai akhirnya, rasa penasarannya lebih besar daripada rasa tidak enaknya. Zulaikha dengan cepat membuka dompet itu, sebelum hatinya kembali bergelut dengan pikirannya.
Apa?! Jadi..
Sebuah foto keluarga yang berlatar tahun 90an, dimana ada sepasang orangtua dan seorang anak lelaki ditengahnya sedang tersenyum ceria dengan kedua lesung pipi yang nenghiasi pipi tembem anak itu.
Ini kan... Zulaikha langsung membungkam mulutnya yang bergetar.
Jadi, tuan muda Sabi adalah anak laki - laki itu.
Sebuah senyuman merekah dibibir Zulaikha. Matanya terlihat sangat berbinar dan memancarkan sebuah kebahagiaan yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata - kata.
Diliriknya cafe tempat Sabi yang sedang menunggunya. Tanpa berlama - lama, Zulaikha segera masuk ke dalam cafe, mencari keberadaan Sabi.
Sabi melambai sambil tersenyum hangat padanya.
Zulaikha membalas senyuman itu dengan sangat sumringah sambil sedikit tertawa.
“Kenapa lama sekali? Langsung bayarkan, di sana.” Seru Sabi sambil menunjuk - nunjuk kasir.
Ha?!
Zulaikha menoleh ke arah yang Sabi tunjuk. Lalu dirinya melirik dompet milik Sabi yang dia pegang.
Seketika dia tersadar dengan posisinya saat ini. Dia hanyalah seorang sekertaris Sabi dan Sabi belum mengingatnya sedikitpun. Sontak senyuman yang sumringah tadi, seketika luntur.
Apakah hanya aku yang mengingatnya?! Mungkin baginya aku hanyalah sekedar debu yang tak sengaja melekat di bajunya.
Zulaikha memasang senyum masam dan pergi ke kasir membayar, lalu membawakan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya dan Sabi.
“Kamu suka kan makan itu?” Tanya Sabi sambil menunjuk makanan itu dengan matanya.
Zulaikha mengangguk, tanpa mengeluarkan suara.
“Kamu tidak suka? Kamu tadi kelamaan, makanya aku pesan duluan tadi.” Imbuh Sabi.
“Tidak, tuan. Saya suka. Terimakasih tuan muda. Anda memang baik hati.” Sahut Zulaikha sambil berusaha tersenyum.
Sabi melirik Zulaikha, mendapati sebuah senyuman masam di wajah gadis itu.
Setelah selesai makan siang, Sabi dan Zulaikha tak banyak bicara. Sabi yang enggan memulai pembicaraan, sementara Zulaikha tenggelam dengan pikirannya sendiri tentang Sabi.
Sampaikah mereka di pinggiran pantai tempat Paman Edie melaksanakan kegiatan seleksi model. Namun saat disana, tempat yang kemarin sangat ramai dengan gadis - gadis cantik kini menjadi kosong dan tak seramai kemarin. Satupun Kru dari Paman Edie tak terlihat sama sekali. Tenda dan panggung pun sudah tidak ada.
“Hey.. kemana mereka?” Seru Sabi bingung dan masih celingak - celinguk mencari salah seorang kru Paman Edie.
“Sepertinya seleksi sudah selesai tuan, atau telah berpindah tempat ke daerah berikutnya.” Sahut Zulaikha.
“Astagah benar!” Imbuh Sabi.
“Tunggu sebentar, aku akan menelfon Paman Edie dulu.” Sambung Sabi, mengambil handphone nya yang ada di saku jas nya.
Zulaikha mengangguk mengerti.
Sambil menunggu telefonnya di angkat oleh Paman Edie, Sabi refleks berjalan tanpa arah menyisir pinggiran pantai sambil sesekali menendang - nendang pasir yang ada di depannya.
Zulaikha sedikit tersenyum melihat tingkah Sabi yang terlihat seperti bocah.
Dia belum berubah..
............
“Akhirnya aku menemukanmu.” Ucap Queen pada seorang pria yang sedang menatap laut, di atas sebuah tumpukan karang.
Pria itu berbalik dan melirik Queen yang sedang memeluk sebuah buket bunga lily putih. Pria itu adalah Zayn Adijaya.
“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Zayn dingin.
“Tentu saja mencarimu.” Queen tersenyum membalas tatapan dingin Zayn. Tangannya lalu menyodorkan buket bunga lily yang sedari tadi dia bawa.
“Untuk apa itu?” Tanya Zayn lagi dengan lirikan mata yang semakin dingin.
“Sudah lama aku tidak pernah memberikanmu bunga.”
“Setiap pekan kamu selalu mengirimku bunga.” Sergah Zayn.
“Iya sih. Tapi itu aku selalu mengirimkannya lewat orang. Mumpung sekarang aku ada disini, jadi aku ingin memberikan bunga ini secara langsung padamu.” Timpal Queen, sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
“Mulai sekarang berhenti mengirimkanku bunga.”
Queen menatap lelaki itu dengan tatapan nanar tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Bunga darimu hanya mengotori ruanganku, aku juga buka wanita yang selalu membutuhkan bunga. Intinya aku mau kamu berhenti melakukan apapun untukku.” Sambung Zayn mendorong tangan Queen yang dari tadi menyodorkan buket bunga padanya.
“Zeeed..” lirih Queen.
“Berhenti memanggilku dengan panggilan itu. Panggil aku dengan namaku yang seharusnya.” Sergah Zayn dengan nada suara yang sedikit meninggi.
“Oh iya.. jangan sampai ada satupun orang yang tau kalau kita berdua saling kenal. Usahakan menjauh dariku, kalau perlu kembalilah ke Paris agar kamu tidak menggangguku disini.” Sergah Zayn memotong ucapan Queen.
Bagaikan benteng kokoh yang tiba - tiba ditembakkan meriam api, begitulah hati Queen saat ini. Rasanya dia akan ambruk dan kehilangan pertahanan dirinya.
“B ba bagaimana bi_”
Zayn berjalan pergi melalui Queen, dan tak sengaja menyambar bahu Queen.
Air mata yang daritadi ditahannya, mengalir perlahan membasahi pipinya yang memerah karena menahan emosinya agar tidak dilihat oleh Zayn.
Segera dia mengelap air matanya dan berusaha tersenyum penuh dengan semangat.
“Baiklah kalau itu maumu.” Seru Queen berbalik melihat punggung Zayn yang perlahan menjauh darinya.
“Tapi harus kamu tau. Aku tidak akan pergi, sampai tiba saatnya aku pergi. Aku akan benar - benar pergi dan tidak akan pernah mengganggumu lagi. Jadi.. untuk itu, jangan memaksaku untuk pergi. Aku akan berjuang dulu sebelum akhirnya aku pergi.” Sambung Queen.
Langkah Zayn langsung terhenti.
“Setidaknya aku telah berjuang, meskipun akhirnya aku tau kemungkinan besarnya aku akan pergi.” Imbuh Queen, tersenyum menyingkirkan air mata yang lagi mengalir di pipinya.
“Percuma dan sia - sia. Jadi berhentilah.” Sabi berbalik melihat Queen yang berdiri tegar dengan bekas air mata dipelupuk matanya.
“Kamu hanya debu yang tak sengaja melekat di bajuku.” Sambung Zayn sambil mengangkat tangan kanannya.
“Telah kubersihkan.” Imbuhnya lalu menurunkan sedikit ujung jasnya, memperlihatkan pergelangan tangan yang bersih.
Mata Queen membulat sempurna melihat pergelangan tangan Zayn yang bersih tanpa tato bintang seperti yang ada pada pergelangan tangannya.
Tato yang dulu mereka buat bersama saat masih SMA, sebagai ikatan janji bahwa mereka akan selalu bersama dan saling bergantung satu sama lain.
Tapi melihat tato itu telah hilang dari pergelangan tangan Zayn, membuat hati Queen benar - benar remuk. Itu tandanya Zayn benar - benar telah menghapus dia dari hidupnya.
Benarkah Queen harus benar - benar berhenti disaat perasaannya telah dibangun dengan kokoh oleh Zayn sendiri?! Bagaimana mungkin dia bisa berhenti untuk mencintai Zayn, yang telah menjadi satu - satunya orang yang selalu ada dalam hidupnya bahkan disaat dunianya sedang tidak baik - baik saja?!
Tidak. Bagaimana aku bisa berhenti mencintaimu sedangkan perasaanku sudah terlalu dalam untukmu?!
“Tidak apa.” Seru Queen sambil menyunggingkan sebuah senyuman tulus.
Zayn tertegun melihat keteguhan Queen dalam menghadapinya.
“Itu hanya sebuah tato yang gampang dihapus. Tapi aku yakin, nanti namaku akan terukir dihatimu. Meskipun kamu sangat ingin menghapusnya, kamu tidak akan sanggup.” Imbuh Queen, sambil memangku kedua tangannya didepan dada lalu menatap Zayn dengan tatapan yang meledek.
“Itu kamu. Bukan aku.” Sergah Zayn tajam. Lalu pergi meninggalkan Queen.
“Iya sekarang aku.. tapi besok pasti jadi kamu. Liat aja.” Teriak Queen penuh semangat, meskipun Zayn tidak meresponnya.
Hey Zed.. jangan memandangku remeh. Aku kuat dan tangguh lebih dari yang terlihat. Lihat saja nanti, kamu akan mencintaiku sedalam aku mencintaimu, bahkan lebih dalam lagi. Aku yakin.
Gumam Queen percaya diri, menepiskan segala kesedihannya.
Gadis itu kemudian berjalan menjauhi pinggiran pantai, sambil terus membuang segala pikiran negatifnya. Terus tersenyum hingga bekas air mata yang tadi sempat membasahi pelupuk matanya, kering disapu angin pantai yang seolah sengaja berhembus padanya untuk menghapus segala kesedihannya.
............
Zulaikha melihat sosok Queen yang berjalan semakin mendekatinya. Namun sepertinya Queen tidak menyadari kehadirannya.
“Nona Queen..” sapa Zulaikha, membuat Queen menoleh padanya.
“Eh.. kamu.” Seru Queen, sedikit tertegun menyadari bahwa dia tidak tau nama gadis yang menyapanya sementara dia tau gadis itu sering dengannya.
“Apa yang Nona lakukan disini?”
“Jalan - jalan.. mencari udara segar.” Jawab Queen santai, seolah tanpa beban. Sungguh dia pandai bersandiwara.
“Sedangkan kamu, apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Queen balik.
“Oh iya. Kami disini untuk bertemu Pak Edie. Namun sepertinya beliau sudah berpindah tempat dan kami terlambat.” Jawab Zulaikha lugas.
“Kami? Berarti kamu datang kemari tidak sendiri.”
“Iya Nona, saya datang bersama dengan tuan muda.” Zulaikha tersenyum, melirik Sabi yang sedang menelfon tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Queen juga melirik ke tempat mata Zulaikha tertuju. Queen memutar bola matanya, seolah menyadari sesuatu.
“Ini untukmu.” Seru Queen sembari memberikan buket bunga lily miliknya.
“Ha? Kenapa Nona tiba - tiba berikan ini ke saya?!” Zulaikha tertegun melihat bunga lily yang disodorkan padanya.
Queen menarik tangan Zulaikha, lalu meletakkan buket bunga lily itu dalam pelukan Zulaikha.
“Jika kamu tidak mau, silahkan berikan bunga ini pada orang lain yang suasana hatinya sedang bahagia.” Sergah Queen.
“Kenapa harus diberikan pada orang yang hatinya sedang bahagia?”
“Bunga ini terlalu cantik cantik untuk disia - siakan. Kecantikannya harus dihargai dan disenangi oleh orang lain.” Jawab Queen menatap bunga lily itu dengan tatapan sendu.
“Aku pergi dulu yah..” sambungnya melangkah pergi meninggalkan Zulaikha. Berusaha menutupi wajah sendunya.
“Nona anda tidak mau pulang bareng kami?” Teriak Zulaikha pada Queen yang akan menyeberangi jalan.
Queen tak menjawab dan hanya menyilangkan kedua tangannya ke atas sebagai jawaban tidak atas pertanyaan Zulaikha padanya.
Zulaikha yang melihat itu hanya mengangguk mengerti, lalu melirik ke arah Sabi yang tengah berjalan mendekatinya.
“Paman sedang seleksi di luar kota.” Seru Sabi datang menghampiri Zulaikha.
“Katanya seleksi tidak lama lagi akan selesai, karena beberapa timnya sudah disebar ke daerah - daerah lain. Waahh.. jadi tidak sabar untuk melihat betapa meriahnya acara itu nanti.” Imbuh Sabi sembari tersenyum membayangkan kemegahan acara itu.
Dengan hati yang sedikit berdebar. Zulaikha memberanikan diri untuk memberikan buket bunga lily itu pada Sabi.
“Eh?!” Seru Sabi yang sedikit terkejut, melihat sebuah buket bunga lily berada di matanya.
“Tadi aku diberi bunga ini, katanya berikan bunga ini pada orang yang sedang bahagia. Jadi aku memberikan ini padamu tuan.” Sergah Zulaikha, mengalihkan pandangannya dari Sabi.
Mata Sabi mengerjap beberapa kali, mencerna kata - kata yang disampaikan oleh Zulaikha. Diambilnya bunga itu dari tangan Zulaikha dengan perlahan sambil terus menatap bunga lily itu. Dirasakannya jantung yang berdegup cukup kencang.
Rasanya keadaan ini pernah dia rasakan sebelumnya. Kata - kata yang diucapkan oleh Zulaikha, sekuntum bunga lily dan seorang gadis yang memberikan bunga padanya.
Sabi kembali melihat wajah Zulaikha yang tidak berani melihat ke arahnya. Siluet Zulaikha tiba - tiba tersamar dengan siluet seorang anak perempuan yang selalu ada dimimpinya.
*Ngiiiiinggggggggg....
Telinga Sabi kembali berdengung. Kepalanya sakit seperti diremas.
“Akhh...” keluh Sabi, meremas sebelah kepalanya.
“Tuan muda...” seru Zulaikha, mendapati Sabi yang terlihat merintih kesakitan.
Jantung Sabi terus berdetak semakin kencang dan semakin kencang.
Setiap kali dirinya seperti ini, pasti ada Zulaikha di dekatnya. Pastilah Zulaikha ada hubungannya dengan memorinya yang hilang dan jawaban dari mimpi buruknya.
“Tuan muda..” seru Zulaikha lagi, menangkap dan memegang kedua pundak Sabi yang oleng hampir terjatuh.
“Zuuu...” lirih Sabi, sembari menyentuh sebelah pipi Zulaikha.
Ha?! Apakah dia mengingatku?!
Bersambung....