
Setelah melakukan perjalanan yang cukup aneh bagi Anna. Akhirnya Anna menghentikan mobil yang dia kendarai tapat di depan sebuah Cafe yang berada di pinggiran pantai.
Suasana yang sangat ramai, dan tidak ketinggalan matahari yang bersinar begitu teriknya, membawa angin laut yang terasa sedikit panas.
"Nona, kita sudah sampai di tempat yang ramai dan juga padat akan pengunjung, seperti yang nona minta." Ucap Anna, menyadarkan Queen dari lamunannya.
"Baik.. terimakasih Anna." Queen segera memakai kacamata hitamnya yang dibubuhi berlian - berlian, menampakkan kesan mewah dan mahal.
Queen turun dari mobil dan pandangannya segera menyapu sekeliling pantai yang ada di depannya.
"Anna.. sekarang kamu bisa pergi."
"Tidak Nona.. saya akan menemani Nona berjalan - jalan seperti yang Nyonya Denisa perintahkan." Bantah Anna.
"Pergilah... pergi entah kemana, saya tidak akan mengatakan apapun ke Nyonya Denisa."
"Tapi nonaa_"
"Pergi saja Anna, ambil waktu senggangmu. Saya hanya mau menikmati waktuku sendiri." sergah Queen lembut, memotong ucapan Anna.
"Baiklah Nona.. saya akan kembali lagi ke sini menjemput nona." dengan berat hati akhirnya Anna mengiyakan perintah Queen.
"Kembalilah setelah 3 setengah jam. jangan kembali sebelum 3 setengah jam kemudian, oke?!"
Queen berlalu meninggalkan Anna yang masih berdiri dengan perasaan yang setengah keberatan. Tak lama Queen berbalik lagi memperhatikan Anna yang masih belum beranjak.
"Pergiii..." teriak Queen, mengusir Anna dengan mengayun - ayunkan telapak tangannya.
Aiissh.. baiklah nona, anda yang memintaku.
Anna menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil dan pergi menjauh dari pandangan Queen.
"Oke, dia sudah pergi. Sekarang aku harus mencari makanan yang bisa menambah tenagaku." seru Queen melirik ke sekitar berusaha mencari sebuah makanan yang ingin dia santap.
Pandangannya terhenti pada seorang pedagang kaki lima yang menjajahkan kelapa muda segar. Tanpa berlama - lama, Queen segera berlari kecil ke pedagang es kelapa muda itu.
"Mas.. satu yaa." ucapnya ramah, sambil melepas kacamatanya.
"Baik mba, ditunggu yaah.." sahut pedagang pria yang berbadan bontet itu.
"Silahkan duduk dulu mba.." ucap seorang wanita paruh baya, yang mungkin istri dari pedagang pria tadi.
Queen tersenyum, mengangguk - anggukkan kepalanya.
Diliriknya lagi ke sekitar, berusaha mencari tempat duduk yang kosong diantaranya banyaknya pengunjung yang sementara duduk sambil menunggu minuman mereka.
"Waah ramai sekali. sepertinya disini es nya enak, makanya banyak pembeli." ucapnya sedikit kaget mendapati bahwa dirinya tidak mendapatkan kursi yang kosong untuk duduk.
Disaat yang bersamaan, mobil yang ditumpangi Zayn dan Ridwan lewat tepat di depan Queen yang masih berdiri mencari tempat duduk.
"Waan.. stopp!!!" pintah Zayn mendadak pada Ridwan yang sedang asik menyetir.
"Yaa.. kenapa tuan?" saut Ridwan.
"Stop waan! stoop!!!" Zayn semakin menaikkan suaranya.
"ba baik tuaan.." Ridwan sesegera mungkin membawa mobil untuk menepi lalu berhenti.
"Ada apa tuan? apa ada yang tertinggal?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Ridwan, Zayn segera turun dari mobil dengan terburu - buru.
"Tuan mudaa... tuaan.."
Aiisshh.. Ada apa dengannya?! segera Ridwan menyusul Zayn.
Melihat Queen yang masih berdiri ditempatnya tadi, membuat Zayn mengentikan langkahnya yang tadi sempat terburu - buru.
"Tuan mudaa.. kenapa anda turun dari mobil tiba - tiba?!" panggil Ridwan dari belakang Zayn.
Tanpa menyaut, Zayn mengangkat tangannya memberi isyarat untuk tidak mengikutinya.
Apa? kenapa? hey.. tidak biasanya. Ridwan menghentikan langkahnya dan memperhatikan apa yang akan tuan mudanya lakukan.
Zayn melangkahkan kakinya perlahan, selangkah demi selangkah, tenang agar nafasnya tidak memburu. Namun jantungnya sepertinya tidak bisa berbohong. Nafasnya masih memburu karena jantungnya terus berdetak tak karuan. Entah karena terburu - buru atau karena sesuatu yang lain.
Dihampirinya Queen yang berdiri tepat di depannya, yang hanya berjarak beberapa centi saja.
"Mbaa esnya kelapa mudanya.." panggil wanita paruh baya tadi.
Queen menengok, dan segera berjalan untuk mengambil es kelapa mudanya. Namun seorang perempuan yang tidak dikenal, segera berlari mendahului Queen, dan tanpa sengaja menyenggol Queen. Akibat sepatu yang dia gunakan terlalu tinggi, membuatnya kakinya bergetar, badannya semakin condong ke depan dan kehilangan keseimbangan.
No no no... Aa..
Eeh kok tidak jatuh?! Queen membuka matanya menyadari bahwa dia tidak terjatuh.
"Wiiih tidak jatuh." serunya riang.
"Hm.. makanya jangan pakai sepatu yang terlalu tinggi." ucap Zayn, menahan pinggang Queen dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang ramping Queen, hingga tidak terjatuh.
"Aa.. apa?"
Zayn menarik pinggang Queen, hingga badan Queen kembali berdiri tegap, lalu tangan kokohnya melepaskan rangkulannya dari pinggang Queen.
"Astagah.. makaaaass_" Queen berbalik, dan nampak terkejut melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Orang yang membawanya kembali ke Indo, orang yang ingin dia bawa pulang ke Paris, dan orang yang akan dia perjuangkan meskipun kepalanya gundul sekalipun.
"Hahahaha.." Queen tertawa senang melihat Zayn yang saat ini berdiri di depannya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Zayn dingin.
"Padahal tadi saya ingin menemuimu langsung, tapi ternyata.. takdir membawamu ke depanku sekarang." Jawabnya riang, dengan mata yang berkaca - kaca bahagia.
"Oh yaa..?!"
"Yaa.. ternyata benar, harapan orang - orang yang tengah sekarat itu akan selalu terwujud meski tidak semuanya siih.." ucapnya lagi, masih memandang Zayn bahagia.
"Aku ingin bicara."
"Bicaralah disini." sahut Queen, masih tersenyum senang.
"Tidak, kita bicara di tempat lain."
"Uuuu... kamu ingin bicara di tempat yang lebih bagus dari ini? waah.. ternyata selama di Indo, kamu jadi pria yang lebih sweet yah." Queen meremas lembut kedua pipi Zayn dengan kedua tangannya.
"Queen stop!" Zayn membentak Queen dan menarik tangan Queen dari kedua pipinya.
Sontak semua orang segera melirik ke arah mereka berdua yang sedang berdiri, diantara orang - orang yang sedang duduk.
"Z zet.. kenapa main bentak - bentak ciih?! kan bisa bicara halus - halus." Ucap Queen dengan nada manjanya, berusaha mengubah suasana hati Zayn.
"Tidak Queen. ikut aku sekarang!" Zayn segera menarik tangan Queen menjauh dari tempat itu.
Queen yang masih mengingat es kelapa mudanya, tentu saja menolak untuk pergi dari tempat itu.
"Tidak, aku tidak mau!" bentak Queen manja.
"Queen!" bentak Zayn.
" Aaa.. mmm.. mmm.." rengek Queen memanyunkan bibirnya.
"Queen! berhenti berlagak seperti anak kecil!" bentak Zayn menghempas tangan Queen.
"Es kelapa muda ku belum selesai Zed.."
"Ini yang terakhir kalinya aku akan bicara padamu. Jadi jangan menyesal." Ucap Zayn dingin menatap Queen tajam.
"Aa.. apa? kenapa?"
"Makanya aku ingin bicara denganmu." saut Zayn ketus.
"Baiklah.." ucap Queen pasrah menunduk, mengikhlaskan es kelapa mudanya yang sudah dia tunggu - tunggu hampir setengah jam.
"Ayoo.." Ajak Zayn.
Queen masih belum beranjak.
"Queen! ayooo!" bentak Zayn lagi.
Queen menggeleng - gelengkan kepalanya manja. Lalu mengulurkan tangannya, meminta untuk digandeng.
Aiisshh..
"Sini!" Zayn kembali, dan menggandeng tangan Queen.
Ya Ampuuun.. demi apapun, Akhirnya, setelah sekian lama aku menunggunya. Akhirnya dia menggenggam tanganku, lagi.
Queen tersenyum senang melihat pundak Zayn dari belakang. Rasanya dia ingin menangis bahagia sekarang. Akhirnya usaha menunggu es kelapa muda yang lama, tidak sia - sia. Es kelapa muda itu membawanya bertemu dengan cinta pertamanya, setelah sekian lama berpisah.
Zayn membawa Queen menyeberang jalan, menuju sebuah Cafe di seberang jalan sana. Tak hanya menggandeng tangan Queen, Zayn menarik tangan Queen agar Queen bisa berada disampingnya, lalu merangkul bahu gadis yang tengah kasmaran itu agar tidak terserempet kendaraan yang tengah ramai berlalu - lalang di jalanan.
Hey.. pemandangan apa ini? baru kali ini aku melihatnya seperti itu pada wanita. Waah wah wah.. Guman Ridwan yang masih memperhatikan dari jauh.
Ikutin aah.. Ridwan segera menyusul Zayn dan Queen menuju cafe di seberang jalan.
Setelah berada di depan cafe, Zayn segera melepaskan rangkulannya pada Queen. Namun masih menggenggam tangan Queen dengan erat.
"Kita bicara di depan cafe ini? Cafe The Memories?!" tanya Queen dengan polosnya.
"Tentu saja tidak. ayo masuk." ucap Zayn menarik Queen masuk ke dalam cafe.
Sesampainya di dalam, Zayn segera memilih tempat duduk. Namun Queen menolak untuk duduk, dan menolak untuk melepaskan genggaman tangan Zayn.
"Kenapa lagi?"
"Aku tidak mau duduk disini." Jawabnya manja.
"Lalu kamu mau duduk dimana?" tanya Zayn setengah kesal.
"Disana.." Queen menunjuk dua buah kursi yang saling berhadapan dengan bunga berwarna pink di atas mejanya.
Zayn mengerang kesal.
"Baiklah ayo." Zayn menarik Queen ke tempat yang dia tunjuk.
Mereka berdua melepaskan gengaman tangan satu sama lain dan saling menatap satu sama lain.
"Aku mau bicara." Zayn berusaha bicara serius.
"Tidak, aku tidak mau." bantah Queen memanja.
"Kenapa lagi? hah?"
"Aku haus dan juga lapar. kita akan bicara setelah aku makan dan minum."
"Queeen!" bentak Zayn yang mulai emosi.
"Aku kemari bukan untuk berkencan, aku mau bicara serius. dan sepertinya percuma." Zayn bangkit dari duduknya, menatap Queen kesal.
"Kalau kamu pergi, aku akan datang padamu besok dan terus mendatangimu." Queen melirik Zayn, dengan tatapan mata sayu nya.
Zayn kembali duduk, dan memanggil barista untuk memesan makanan dan minuman.
Setelah itu, mereka berdua tenggelam dalam lautan kebisuan. Zayn menolak untuk mengeluarkan suara, agar meminimalisir perdebatan dengan Queen. Sementara Queen memilih diam untuk tetap mempertahankan Zayn agar tetap di depannya. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan saat ini, untuk bisa melihat lelaki itu lebih lama.
Zayn menatap sekitar, dan sesekali melirik jari jemari Queen yang ada di atas meja. Diliriknya jari lentik itu hingga ke pergelangan tangannya. Terdapat sebuah tato bintang berwarna hitam menghiasi pergelangan tangan gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Sekejap Zayn tertegun melihat tato itu. Matanya langsung melirik Queen, yang rupanya juga sama sedang melirik pergelangan tangan miliknya. Zayn segera menutupi pergelangan tangannya yang dilirik Queen, lalu menyembunyikannya dibalik meja.
"Kamu menghapusnya." lirih Queen, dengan mata yang berkaca - kaca. Sambil menelan salivanya yang terasa berat dan pahit.
Zayn diam, menghindari tatapan mata Queen.
Makanan dan minuman pun datang. Pelayan dengan telatennya mengatur letak makanan dan minuman itu agar sebagus mungkin, untuk kedua orang yang terlihat seperti pasangan yang sedang berpacaran.
"Maaf mas, mba.. bisa saya memotret kalian?" tanya seorang pegawai dengan tersenyum ramah sambil memegang kamera, yang sudah siap untuk memotret.
"Ha? maaf tidak." ucap Zayn menolak, memalingkan wajahnya.
"Maaf yaa untuk apa?" tanya Queen berusaha tersenyum ramah.
"ah iya mba.. di cafe kami, setiap setahun sekali akan diadakan event The Memories. Nantinya foto - foto selama setahun ini, akan dipajang pada event itu. dan foto yang paling romantis akan terpilih dan dipajang setiap tahun pada acara The Memories itu mba.." tutur pegawai cafe itu.
"Ciih.. kalian bisa melakukan agenda apa saja pada saat event, kenapa harus memasang foto segala?" Zayn melirik pelayan cafe itu sambil memangku kedua tangannya.
"Iya karna sesuai nama eventnya The Memories, yang tujuannya untuk mengenang kenangan yang terjadi di cafe ini. karena.. setiap manusia punya batas waktu dalam menjalani kehidupan, mungkin sekarang dia masih ada di depan kita, duduk bercerita. Namun kedepannya kita tidak tau apakah dia masih akan duduk di depan kita atau justru sudah pergi dari dunia ini. Dengan adanya foto ini, kami akan menyimpan kenangan itu. dan membuat anda akan terus mengingat orang itu di tempat ini." jelas pelayan cafe dengan telaten.
"Benar! kamu benar mba! waahh.. ide kalian cemerlang." Queen bertepuk tangan antusias mendengar penjelasan pelayan cafe itu.
"Hey itu taktik mereka untuk membuat cafe mereka tetap ramai." sergah Zayn, yang mengetahui taktik penjualan.
"stop katakan itu!" bentak Queen menendang kaki Zayn.
"Yyaa Queen!!!" Zayn balas membentak, sambil memukul meja dengan kedua tangannya.
"Dasar!" seru Queen, sambil tersenyum, dan menarik kedua tangan Zayn.
"Hey.. apa yang kau lakukan?"
"Sini biar aku bisikkan sesuatu. Setelah itu aku akan melepaskan tanganmu." Queen mendekatkan wajahnya pada kedua tangan mereka, yang masih terus dia genggam.
Dengan ragu - ragu Zayn mendekatkan wajahnya didepan wajah Queen, yang hanya berbataskan kedua tangan mereka berdua.
"Cepat katakan!" pintah Zayn dengan raut wajah sedikit memerah malu.
"Bagaimana aku bisa mengatakannya kalau kamu tidak melihatku." ucap Queen menggoyang - goyangkan tangan Zayn, berusaha mendapat perhatiannya.
"Hm. hm.. ini aku melihatmu." seru Zayn mulai memandang Queen.
"Batmaaan!" seru Queen memperlihatkan wajah jeleknya pada Zayn.
Zayn tersenyum geli.
Cekreekk!!!
Bersambung...