FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
47. Familiar



Sabi membuka matanya perlahan, pandangannya terlihat kabur dan buram. Kepalanya juga masih terasa sedikit sakit. Bahkan untuk bergerak pun dia masih belum sanggup, karena rasanya isi perutnya akan keluar.


Sabi sedikit menengok ke sebelah tempat tidurnya, disana ada seorang wanita berambut pirang cokelat sedang setengah terjaga, bersandar di tempat tidurnya dengan sebelah tangan yang terus menepuk - nepuk lembut punggung tangannya. Seolah - olah sedang menjaganya.


Sabi tidak bisa mengenali siapa orang itu, karena pandangannya yang masih buram. Sehingga dia memutuskan untuk kembali menutup matanya dan tidur.


Matahari perlahan - lahan naik bersinar menyinari bumi, kicauan ayam dan burung meramaikan suasana pagi hari yang nampak tenang di rumah besar keluarga Andi.


Sabi membuka matanya perlahan. Lampu yang bersinar terang diatasnya mampu dia lihat jelas bersama dengan detail lampu itu. Akhirnya penglihatannya kembali normal, dan kepalanya pun sudah tidak sakit lagi.


Sabi meregangkan tubuhnya, menggeliat seperti ulat bulu. Merasakan kehangatan pada selimutnya dan begitu nyaman hingga rasanya dia malas untuk beranjak dari tempat tidurnya saat itu.


“Tuan muda.. apakah anda sudah baikan?” Seru Zulaikha yang ternyata telah berada disebelah tempat tidur Sabi, menunggunya sadar.


“Waaa..” teriak Sabi kaget, menutupi setengah tubuhnya dengan selimut.


Zulaikha langsung menatap Sabi dengan tatapan bingung.


Sepertinya dia sudah sehat. Gumam Zulaikha lega, melihat ekspresi dan tingkah konyol Sabi pagi ini.


“Apa yang kamu lakukan disini? Kamu hampir membuatku gagal jantung pagi - pagi.” Bentak Sabi yang masih syok dengan kehadiran Zulaikha yang tidak disadarinya.


“Saya menjaga anda tuan muda, karena dari semalam anda jatuh pingsan dan tak kunjung sadar.” Tutur Zulaikha.


Sabi terlihat sedikit berpikir, mengingat kejadian semalam.


Benar, tadi malam kepalaku sangat sakit dan pandanganku mendadak menghitam. Oh.. berarti wanita semalam yang menemaniku, dia. Eh.. tapi, rambutnya berwarna hitam. Apakah semalam aku salah liat?!


Sabi kembali melirik Zulaikha lamat - lamat.


Mungkin aku salah liat. Gumamnya.


“Terimakasih.” Singkat Sabi mendadak dingin.


“Tuan muda, sebaiknya anda bersiap - siap ke kantor.” Ucap Zulaikha mengingatkan.


Sabi kembali melirik Zulaikha, dipandangi wajah gadis itu secara detail. Wajahnya benar - benar mirip dengan anak kecil yang selalu hadir dalam mimpinya. Tapi entah mengapa, hatinya seperti belum mau berterus terang pada Zulaikha. Entah karena ini adalah privasi bagi dirinya dan keluarga besarnya atau karena ada suatu ketidakpuasan yang belum dia tau itu apa.


Sabi menarik nafasnya panjang. Pikirannya ingin agar dia membahas masalah semalam, namun hatinya belum mau untuk membahas itu sekarang. Padahal dia telah menunggu lama untuk menemukan siapa anak perempuan itu beserta alasan mengapa anak itu selalu menjadi mimpi buruknya, namun setelah semua jawaban ada di depan matanya. Entah mengapa dia tidak ingin, seolah keinginan besarnya kemarin langsung sirna dengan mudahnya.


“Tuan muda..” panggil Zulaikha berusaha menyadarkan Sabi dari pikirannya sendiri.


“Ah? Hm.. maaf.” Sahut Sabi yang tersadar dari pikirannya.


“Zu..” panggil Sabi.


“Iya tuan muda.”


“Bisa kamu keluar, dan menungguku di bawah?! Aku mau bersiap - siap sendiri seperti biasanya.” Ucap Sabi datar, memalingkan pandangannya dari Zulaikha.


Perasaan Zulaikha mulai tidak enak, entah mengapa dia merasa Sabi menghindarinya dan mulai dingin padanya.


Mau tidak mau, Zulaikha mengangguk mengerti lalu keluar dari kamar Sabi.


...........


Sabi berjalan menuruni tangga, menuju ruang makan keluarga. Disana dia melihat keluarganya telah lengkap berkumpul di meja makan sambil memuji - muji Gio sepupunya.


Aarghh.. aku pikir tontonan majas hiperbola telah selesai semalam. Ternyata masih berlanjut. Keluh Sabi memutar kedua bola matanya.


“Sabi, sini duduk.” Panggil Nyonya Sura yang menyadari kehadiran Sabi.


Sabi melihat ekspresi Ibunya yang terlihat datar, berubah sedikit senang ketika melihatnya seolah bahagia mendapat teman sefrekuensi untuk mendengarkan cerita majas hiperbola di meja makan.


“Tidak bu. Aku harus berangkat sekarang.” Tolak Sabi, halus lalu berbalik meninggalkan ruang makan keluarga.


“Kenapa pergi terlalu awal? Lagian tidak ada agenda rapat, dan tugasmu di kantor juga tidak banyak sekali. Apakah sekarang kamu bekerja lebih keras karena kamu takut aku akan menggeser posisimu?!” Sergah Gio yang langsung menghentikan langkah Sabi.


Dasar hati busuk! Kutuk Sabi, berbalik memandang wajah Gio yang penuh dengan kesombongan.


“Wow.. amazing! Sepertinya lebih baik kamu jadi peramal kartu tarot, karena jawabanmu teng teng! Benar sekali!” Balas Sabi dengan wajah yang super ceria.


“Apalagi jika ada Dewa, aku yakin Dewa tidak akan tinggal diam mendengarmu berkata seperti itu.” Sambung Sabi, langsung menampar Gio dengan kata - kata yang paling bisa membuat Gio tersudut.


Ekspresi Gio mendadak berubah tak senang memandang Sabi. Suasa di ruang makan keluargapun jadi terasa canggung dan suram. Paman yang merasa suasana jadi terasa canggung, langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu disusuli dengan Nyonya Denisa yang mengikuti Paman.


Begitupula dengan Nenek, yang sempat tersedak ketika mendengar nama Dewa disebut oleh Sabi. Langsung meninggalkan meja makan tanpa berkata apapun.


Nyonya Sura datang menghampiri Sabi yang masih berdiri menatap Gio dengan tatapan tajam.


“Carilah kata lain untuk menyudutkannya, tanpa harus menyebutkan nama itu.” Ucap Nyonya Sura dengan nada yang berbisik, lalu pergi meninggalkan ruang makan keluarga.


Sabi tertegun. Dirinya kembali teringat oleh larangan yang dibuat Paman, untuk tidak menyebutkan nama anggota keluarga yang telah tiada. Karena itu akan membuat anggota keluarga yang masih hidup akan merasa sedih dengan kepergian beberapa anggota keluarga yang meninggal dengan cara yang tragis.


Bukan hanya nama Dewa saja yang dilarang Paman untuk disebutkan secara frontal di depan seluruh keluarga, tetapi ada beberapa nama lainnya seperti Andi Deswa Akbar dan Dewi Kumalasari Lubis yang merupakan kedua orangtua dari Andi Maladewa Akbar atau Dewa, sepupu satu kali dari Sabi dan Gio. Serta nama ayah dari Sabi sendiri, yaitu Andi Shabir.


Sabi meremas kuat celananya, merasa bersalah atas sikapnya. Seharusnya dia tidak sembrono seperti itu yang membuat beberapa orang di rumah ini akan terluka mengingat nama itu. Terlebih lagi Nenek, pasti Nenek skarang tengah menangis menatap foto keluarga kecil itu.


Aaarrghh.. sial! Gerutunya dalam hati.


Sabi kembali melirik Gio yang memandang makanannya datar tanpa ekspresi.


Sabi menarik nafas panjang, lalu pergi meninggalkan ruang makan keluarga dengan perasaan rasa bersalah.


“Tuan muda..” panggil Zulaikha yang berlari datang menyusulinya.


Sabi tetap tidak menghiraukan Zulaikha dan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.


Pantang mundur, Zulaikha tetap mengikuti Sabi dan setia mengekori Sabi menuju mobil yang telah terparkir di depan pintu rumah.


Mendadak Sabi berbalik dan memandang Zulaikha yang terlihat sedikit terkejut karena Sabi yang tiba - tiba berbalik, memandangnya dengan jarak yang lumayan dekat.


...........


“Teh spesial dari pegunungan eropa, untuk tamu spesialku yang sedang depresi karena mulutnya yang tidak punya rem dalam berkata - kata.” Seru John sambil memberikan sebuah cangkir teh di depan Sabi.


“John.. kamu mau mati?!”


“Yang ada kau yang duluan mati saya buat.” Sergah John percaya diri.


Aaargghh... keluh Sabi yang bertambah stres melihat John.


“Hey.. tidak usah kau pikir - pikir itu keluargamu mo sedih atau tidak dengan kata - katamu. Yang musti kau pikir lebih dulu itu kau punya diri. Ingat, kau punya tugas itu pikir memorimu yang hilang entah kemana, bukan mau pikir perasaannya orang. Kau sendiri saja hampir gila, bagaimana kau mau pikirkan orang lain.” Imbuh John.


Mendengar ucapan John, pikiran Sabi langsung teringat pada Zulaikha yang mirip dengan anak kecil yang ada di mimpinya.


“John.. aku mau cerita sesuatu tentang mimpi burukku.” Ucap Sabi yang semakin mendekatkan jarak duduknya dengan John.


“Loh? Jangan, jangan cerita. Paling tetap juga kau cerita. Jadi cerita sajalah, kenapa juga pake acara minta izin segala?! Kau kira saya guru piket..” ejek John.


“Hmm..” gumam Sabi dengan wajah datarnya.


Sabi mulai menceritakan kejadian kemarin secara runtut dan mengaitkannya dengan beberapa pengalaman yang selama ini dia alami ketika bersama dengan Zulaikha.


Alis John terlihat sedikit berkerut, memikirkan masalah yang sedang dialami Sabi.


“Kenapa kau tidak bilang saja ke sekertaris mu itu. Siapa tau dia betul anak kecil itu. Jadi dia bisa bantu kau lengkapi memorimu yang hilang entah kemana.” Tutur John.


“Jangan gila, kamu tau sendiri kalau ini rahasia supaya aku tidak dianggap kelainan atau gila atau apalah sama orang - orang yang tidak paham sama situasiku.” Bantah Sabi yang semakin frustasi.


“Trus kenapa kau kasih tau ke saya?”


“Ya kan kamu beda John. Kamu temanku dari SMA, kamu juga bisa aku percayai. Makanya aku tidak merahasiakan apapun darimu John.” Jawab Sabi dengan wajah lusuh, mengingat bahwa hanya John yang dia miliki dalam hidupnya untuk dia percayai.


“Setelah kamu bilang itu ke saya, adakah saya anggap kau gila?”


Sabi menggeleng.


“Tidak semua orang itu sama seperti yang ada dalam pikiranmu, bisa saja sekertarismu ini seperti saya yang baik hati dan tidak sombong. Bisa mengerti kau seperti saya yang mengerti kau. Meskipun kadang - kadang kau tidak bisa dimengerti karena otak kau sedikit geser.” Ujar John, sambil terkekeh kecil.


Sabi mengangguk perlahan, dan mulai mengerti dengan ucapan John yang terdengar masuk akal kecuali kata - katanya yang mengatai otak Sabi yang sedikit geser.


“Geser geser. Sembarang! Aku ini pintar! Cuma ketemu kamu yang otaknya selalu ketinggalan di kamar mandi, jadi bodoklah aku.” Seru Sabi, lalu memukul John dengan bantal kursi hingga membuat John jadi cengengesan mendengar ucapannya.


Tak terasa, senyuman Sabi kembali pada wajahnya dan mengusir segala kerutan suram di wajahnya akibat terlalu banyak berpikir.


Tak ada yang lebih baik membangkitkan mood selain sahabat karib sendiri.


Setelah mendapat beberapa pencerahan dari orang bijak dadakan, John. Sabi bergegas menuju perusahaan.


Sepanjang perjalanan, dia memikirkan berbagai kalimat yang telah dia rancang di kepalanya untuk disampaikan pada Zulaikha. Kali ini dia harus membahas masalah ini bersama Zulaikha, agar puzzle kenangan yang hilang dari memorinya segera terkumpul lengkap dan mimpi buruk serta rasa bersalah yang tidak jelas lekas hilang dari dalam dada dan pikirannya, yang selama ini membelenggunya.


Penuh semangat dan tidak sabaran, Sabi berlari masuk ke dalam perusahaan ingin segera bertemu dengan Zulaikha. Beberapa adegan yang menyenangkan turut muncul di kepalanya, seperti tidur normal seperti orang lainnya dan berjalan - jalan di padang rumput bersama Zulaikha seperti yang pernah dilakukan dirinya bersama anak perempuan yang ada dalam mimpinya.


Saat dirinya tepat berada di depan pintu ruangannya sendiri, Sabi menarik nafasnya panjang dan memantapkan hati dan otaknya agar bisa bekerjasama dalam membahas masalahnya ini. Serta menyusun kata sebaik mungkin agar Zulaikha tidak menganggapnya gila dan berhalusinasi.


Krrek!


Sabi membuka pintu perlahan, dan masuk ke dalam ruangannya. Jantungnya mulai berdegup kencang, entah karena gugup atau karena efek habis berlari.


“Helloo.. good morning!” Sapa Queen dengan raut wajah yang girang, duduk di sofa besar andalan Sabi.


Sontak mata Sabi langsung tertuju pada Queen yang melambai - lambaikan tangan padanya dengan raut wajah yang ceria, seperti orang yang telah pergi lama dan akhirnya bisa kembali bertemu.


“Queen..” seru Sabi tak percaya melihat gadis itu yang tiba - tiba muncul di ruangannya setelah berapa hari pergi entah kemana.


“Why? Do you miss me Ru?! Eh.. An, Eh.. mark, Eh..” Seru Queen yang terbata, menyadari bahwa dirinya tidak tau nama orang yang dia sapa.


Queen menatap Zulaikha dan Sabi bergantian. Bingung dengan pikirannya sendiri yang bisa - bisanya tidak tahu nama orang yang dia sapa, dan sering bersama dengannya selama dia ada di negara ini.


“Ada apa Nona Queen?” Tanya Zulaikha, yang menyadari ekspresi kebingungan Queen.


“Tunggu, nama kamu siapa?” Tanya Queen tak merespon pertanyaan dari Zulaikha.


Hahh?!


Sabi sedikit terkekeh mendengar pertanyaan Queen yang sedikit gila baginya. Bisa - bisanya gadis itu tidak tahu namanya, sementara dia tinggal, makan dan datang ke perusahaannya. Bahkan mereka sempat keluar bersama dan selalu bertengkar jika bertemu. Trus Queen ternyata tidak tau namanya.


“Waaah.. kamu benar - benar yah. Aku saja tau namamu, dan kamu tidak tau namaku?” Seru Sabi yang mulai geram dengan Queen.


“Hey.. apakah kita pernah berkenalan sebelumnya? Atau apakah kamu pernah menyebutkan namamu di depanku?! Tidak kan? Jadi itu bukan sepenuhnya salahku karena tidak tau namamu.” Tutur Queen, membela dirinya dengan elegan.


Sabi menarik nafasnya dalam - dalam berusaha menahan kesal. Meskipun terasa sangat kesal, namun yang dikatakan Queen ada benarnya. Mereka tidak pernah berkenalan dengan baik sebelumnya, jadi sedikit wajar jika Queen tidak mengetahui namanya.


“Baiklah...” Sabi menarik nafasnya lagi.


“Aku akan mengatakan namaku, tapi pastikan kamu mendengar namaku baik - baik karena aku takkan memberitahumu 2 kali. Oke?!”


“Oke.” Seru Queen sambil mengangguk dengan percaya diri, menatap Sabi dalam.


“Namaku Andi Sabiru, Putra satu - satunya dari pasangan suami istri Andi Shabir dan Ashura. Dengar?!” Tegas Sabi, menatap Queen tajam.


“Oh Andi Sabiru?! Hm.. karena Andi adalah marga keluargamu, jadi aku akan memanggilmu Biru.” Sahut Queen, lalu tersenyum dan berdiri mendekati Sabi.


Biru?! Gumam Sabi yang tertegun mendengar ucapan Queen.


“Hello.. Good morning Biru. Senang berkenalan denganmu, Biru.” Imbuh Queen, meraih telapak tangan Sabi dan menjabatnya.


Apa ini? Kenapa panggilan itu terasa familiar ditelingaku?


Bersambung...