FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
58. Makan Siang Bersama



“Ada apa dengan kalian berdua? Kacau sekali.” Queen beranjak dari tempat duduknya, menuju ke kasir untuk mengecek makanan mereka yang belum kunjung datang.


Sabi dan John langsung diam seketika saat mendengar ucapan Queen yang terdengar seperti ungkapan rasa kesal. Mereka berduapun saling tatap, dan saling menyalahkan satu sama lain.


Queen yang berada di kasir, memperhatikan dua pria yang sifatnya tidak beda jauh. Seketika Queen berpikir, bahwa semakin lama hubungan pertemanan itu maka sifat orang yang menjalin pertemanan itu akan saling mempengaruhi dan akan terlihat sama. Queen tersenyum melihatnya, berharap dia juga bisa seperti itu.


Seorang pelayan cafe akhirnya datang membawa pesanan mereka bertiga, dan mempersilahkan Queen untuk melihat apakah pesanan itu sudah benar seperti yang mereka pesan tadi.


Queen mengangguk, dan meminta nampan makanan itu pada pelayan agar dia saja yang membawanya ke meja. Pelayan itu meresponnya dengan baik, dan dengan senang hati memberikan nampan itu pada Queen.


Sedikit berat, namun dia berusaha menahannya dan menjaga keseimbangannya agar tidak menumpahkan semua makanan itu. Queen berjalan penuh hati-hati menuju meja mereka.


“Hey hati-hati.” Seru Sabi yang langsung berdiri dari tempat duduknya, membantu Queen menurunkan satu persatu makanan dari nampan.


Queen melirik Sabi, lalu mengacuhkannya.


“Lain kali coba katakan ‘tolong’ pada seseorang. Jangan menyulitkan dirimu sendiri.” Ucap Sabi, mengambil nampan dari tangan Queen.


Queen melirik Sabi, lagi. Kali ini dia memutar bola matanya, merasa apa yang diucapkan Sabi hanyalah sebuah kata kiasan.


“Ada apa denganmu?” Sabi melirik kesal Queen, melihat cara Queen menatapnya seolah sedang meremehkannya. Padahal niatnya baik untuk membantu Queen, bahkan menasehati Queen hal yang baik. Namun sepertinya gadis di depannya ini bukan tipe penerima saran yang baik. Seolah apa yang dikatakannya hanya sebagai kiasan pemanis kata bagi Queen.


“Tidak. Makanlah ...” jawab Queen, langsung duduk di kursinya.


Sabi menarik nafasnya dalam, dan bergerak menuju kasir memgantarkan nampan itu. Dia tidak habis pikir dengan sikap Queen yang keras kepala, jika dikasih tau sebuah saran. Rasanya Sabi ingin membawa Queen ke sekolah TK, untuk belajar mengucapkan kata tolong dan terimakasih. Queen benar-benar tidak tau mengucapkan dua kata itu.


Sabi kembali dan melirik Queen masih dengan tatapan kesal. Dia langsung duduk, dan menyantap makanannya dengan lahap.


“Hey ... kamu lupa berdoa.” Queen mengingatkan.


Sabi langsung batuk mendengar ucapan Queen. Makanannya pun sedikit berhamburan keluar, dengan cepat dia mengambil tisu menutup mulutnya, agar makanannya tidak keluar semakin banyak.


Sabi melirik John yang terlihat sedikit menertawakannya. Segera kakinya menyenggol sepatu John, agar berhenti menertawainya. Rasanya dia benar-benar malu, malu karena ditegur oleh seorang atheis karena lupa berdoa dan malu karena kejorokannya tadi.


Aaiiisshhh .... Gumam Sabi, melepas sendok makannya dan langsung berdoa, mengangkat kedua tangannya.


“Kamu juga atheis, John?” Queen melirik John, yang terus terkekeh tanpa berhenti mengunyah makanannya.


“Ha?!” John menatap canggung Queen, menyadari bahwa ditegur oleh orang atheis itu sangat memalukan. Bagaimana bisa dia yang memiliki agama lupa untuk berdoa, sementara Queen yang tidak memiliki agama saja mengingatkan mereka untuk berdoa. Rasanya John ingin menampar dirinya sendiri.


“Ah iya, aku lupa.” Gumam John, segera melipat kedua tangannya dan berdoa sambil menutup matanya.


Queen menggeleng-gelengkan kepalanya, dan melanjutkan kegiatan mengunyah salad sayur dan buah yang dipesannya.


Setelah mereka semua selesai menyantap makanan mereka masing-masing. Sabi terlihat menatap kosong foto-foto yang terpampang di dinding cafe itu.


Foto-foto itu terlihat sangat banyak dengan orang yang berbeda-beda dan hampir memenuhi seluruh dinding.


“Kenapa banyak skali foto di dinding itu?!” Tanya Sabi, tanpa mengalihkan pandangannya.


Queen membalikkan badannya, melihat foto-foto yang dilihat oleh Sabi. Senyumnya melebar dan berbalik lagi menatap Sabi.


“Itu foto-foto pengunjung yang datang kemari. Mereka selalu memotret pengunjung yang terlihat memiliki ikatan yang menarik. Lalu disimpan, dan nanti akan dipajang saat merayakan ulangtahun cafe ini. Jadi, orang-orang bisa melihat para pengunjung yang pernah mengunjungi cafe ini bahkan dari tahun 90an.” Queen menjelaskan pada Sabi dengan telaten, sambil menunjuk beberapa foto yang berasal dari tahun 90an.


Sabi melirik foto yang ditunjuk Queen. Dia terlihat antusias melihat foto-foto yang ditunjuk oleh Queen.


“Berarti cafe ini sudah berdiri sejak lama yah?!” Seru John.


Queen mengangguk mengiyakan pertanyaan John.


“Bahkan katanya, cafe ini sudah berdiri dari beberapa ratus tahun yang lalu.” Ucap Queen dengan nada berbisik, agar tidak terdengar oleh pelayan cafe.


“Benarkah?” Sabi dan John sama terkejutnya.


“Wah ... aku tidak percaya.” Timpal John.


“Serius.” Queen berusaha meyakinkan mereka berdua.


“Kalau memang benar. Kita harus difoto. Siapa tahu anak cucuku nanti bisa melihatnya.” Usul John, melirik salah seorang pelayan cafe yang ada di meja kasir.


“Kita tidak bisa meminta mereka untuk memotret kita. Mereka punya kriteria tersendiri.” Queen menyilangkan tangannya di depan dadanya. Sembari mengingat bagaimana pelayan cafe memintanya dan Zayn untuk mau dipotret. Queen jadi tersenyum mengingat kenangan itu, meskipun setelah itu dia dan Zayn jadi semakin jauh.


“Tidak bisa gitu doong.” John menolak keras, dan berjalan menuju meja kasir.


Sabi berusaha menahan, namun dia gagal. Tenaga John sangat kuat, sehingga dia bisa dengan mudahnya lolos dari Sabi.


Sabi mengusap rambutnya, sambil menarik nafasnya berusaha menahan kesal.


“Semoga dia tidak membuat keributan.”


“Permisi ... bisakah kamu memotret kami dan memajangnya di dinding seperti itu?!” John langsung pada inti, menanyai pelayan wanita dengan wajah putih pucat.


Pelayan wanita itu melirik Sabi dan Queen yang duduk saling berhadapan. Matanya menatap mereka berdua dengan sangat dalam, seolah sedang menerawang atau apalah itu.


John mengangkat sebelah alisnya, merasa pelayan itu sangatlah aneh. Bukankah itu terlalu berlebihan menatap seseorang seperti itu hanya karena minta di foto? John mengerang kesal dan langsung mengetuk meja kasir.


“Jika memang tidak bisa, katakan. Jangan melihat temanku seperti itu. Temanku tidak jelek-jelek amat untuk dilihat seperti itu. Dasar!!!” Bentak John dengan suara yang sedikit besar hingga Sabi dan Queen bisa mendengarnya dari tempat mereka duduk.


“Maaf ... maksud saya bukan seperti itu.” Ucap pelayan wanita itu.


“Lalu maksud kau itu apa?! Hah?! Cepatlah katakan, bisa atau tidak. Jangan membuatku menunggu. Aku paling tidak suka menunggu.” Sergah John.


John terkesiap melihat wanita itu. Dia terlihat benar-benar elegan seperti wanita bangsawan dari jaman dulu.


“Mereka berdua bukan pasangan, tapi hubungan takdir mereka menarik.” Imbuh wanita itu.


“Iya mereka berdua memang menarik, pertama ketemu seperti anjing dan kucing dan sekarang sudah mulai akrab. Lihatlah, unikkan?!” Timpal John yang berusaha mengakrabkan diri dengan wanita itu.


“Tapi kau ini siapa? Kenapa bisa meramal seperti itu?” Sambung John.


Wanita itu sedikit tersenyum dan masuk kembali ke dalam ruangan tempat dia keluar tadi.


“Ya ampun, sombong sekali.” John memukul meja kasir, merasa gemas dengan tingkah wanita itu yang seakan menarik ulur dirinya dan terasa sangat menarik.


“Maaf pak, dia manager cafe ini sekaligus pemilik cafe ini.” Seru pelayan wanita itu sambil berjalan keluar dari meja kasir menuju meja tempat Sabi dan Queen duduk.


Tiba-tiba ponsel John berdengung, dia melihat ada sebuah panggilan dari karyawan hotelnya yang tidak bisa dia abaikan. Sambil menarik nafas panjang, John berjalan keluar dari cafe dan mengangkat telfon itu.


“Permisi ... saya akan memotret mba dan mas. Apakah boleh?” Seru pelayan wanita itu yang sudah siap dengan kameranya.


Queen dan Sabi menganga tak percaya bahwa John bisa membujuk pelayan itu untuk memotret mereka.


“Apakah boleh?” Tanya pelayan wanita itu sekali lagi.


Sabi dan Queen saling menoleh, dan mengangguk bersamaan. Sepakat untuk difoto bersama.


“Kalau begitu, apakah bisa lebih dekat lagi?” Ujar pelayan wanita itu, yang sudah standbye dengan kamera di depan matanya.


Queen semakin mendekatkan dirinya dengan meja, begitu juga dengan Sabi. Namun gaya mereka tetap terlihat canggung.


Pelayan wanita itu menaikkan sebelah alisnya, masih merasa kurang dengan gaya mereka.


“Jangan canggung yah mas dan mba.”


Sabi memperhatikan Queen yang terlihat berdeham, berusaha untuk tidak terlihat kaku. Namun dimatanya, Queen tetap terlihat kaku. Sambil menarik nafas, Sabi menjulurkan telunjuknya tepat disebelah pipi kiri Queen.


“Sepertinya kamu punya lesung pipi sepertiku.” Ucapnya masih melirik Queen dengan tatapan usil.


“Ha? Benarkah?!” Queen berbalik melihat ke arah Sabi. Sontak bibir Queen, langsung melekat di jari telunjuk Sabi. Sabi tertawa melihat itu, dan Queen pun tertawa karena merasa dibodohi oleh Sabi dengan mudahnya.


*Cekreekkk!!!!


Dengan cepat pelayan wanita itu memotret gaya mereka berdua.


Queen langsung berbalik tak percaya bahwa pelayan memotret mereka berdua dengan gayabaneh seperti itu.


“Mba bisa diulang?!”


“Ini sudah bagus mba. Benar kata manager saya, kalian punya takdir yang menarik.” Ucap pelayan itu melihat foto Queen dan Sabi yang ada di kameranya.


Sabi mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa tak mengerti dengan perkataan pelayan wanita itu.


Jika dia mengatakan hubungan yang menarik, iya Sabi bisa mengertinya karena mereka berdua seperti kucing dan anjing yang tidak pernah akur jika bertemu. Namun, pelayan itu barusan mengatakan takdir yang menarik. Memangnya ada apa dengan takdir mereka berdua? Apa yang menarik dari takdir mereka berdua? Kenapa cafe dan orang-orang didalamnya terasa semakin aneh bagi Sabi.


“Benarkah?!” Seru Queen, tersenyum pada pelayan wanita itu, seolah tidsk merasa sedikitpun keanehan.


“Queen ... ayo kita pergi.” Sabi menarik tangan Queen, mengajak Queen untuk bergegas pergi dari cafe aneh ini.


“Hm ... kenapa?”


“Ayo pergi.” Sabi terus menarik tangan Queen, hingga Queen menuruti kehendak Sabi. Berdiri lalu berjalan keluar dari Cafe.


Disaat yang bersamaan, mereka berpapasan dengan John yang baru saja selesai menelfon.


“Hey mau kemana? Ayo foto dulu.”


“Mba, nanti dibayar sama dia yah.” Teriak Sabi, menunjuk ke arah John.


“Hey hey ... apa?!” John masih celingak celinguk tak mengerti melihat Sabi dan Queen yang langsung pergi keluar dari cafe.


“Ada apa denganmu? Lagi-lagi kamu terlihat seperti sedang ketakutan.” Queen melepaskan genggaman tangan Sabi dari tangannya.


“Lain kali kita tidak usah datang kesini lagi.”


“Kamu kenapa? Apa yang salah dari cafe ini?!” Queen masih ngotot mau mendengar jawaban Sabi yang begitu tidak menyukai tempat ini. Padahal cafe ini terasa sangat nyaman bagi Queen. Baik interiornya, lokasinya maupun pelayan serta makanannya semua terasa baik dan tidak ada yang salah dari itu semua.


Namun bagi Sabi, cafe dan pelayannya sangat terasa aneh dan mengandung mistis. Hanya saja kenapa hanya dia yang merasakan itu, sementara Queen tidak merasakan itu.


Sabi menarik nafasnya dalam, dan menarik tangan Queen lagi. “Kamu tidak mengerti dan aku juga tidak mengerti kenapa. Jadi mari kita kembali ke kantor.”


“Hey ... tunggu aku.” Teriak John yang baru saja keluar dari cafe dengan dompet yang masih ditangan kanannya.


Sabi dan Queen mengurungkan langkah mereka, dan menunggu John yang berlari mendekati mereka.


“Sudah mau pulang?” Tanya John saat berada di depan mereka berdua.


Sabi dan Queen hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan John.


“Ayo naik mobilku.” John mengangkat kunci mobilnya, lalu menuntun Sabi dan Queen menuju tempat mobilnya terpakir tak jauh dari Cafe Memories.


Bersambung ....