
“Tuan muda pesan apa?” Tanya Zulaikha yang memegangi menu.
“Bagaimana caranya aku tau mau memesan apa, jika menunya ada padamu.” Sabi melirik geram Zulaikha.
Ya Tuhan, baru juga kemarin dia bersikap baik. Sekarang jadi sinis lagi. Gumam Zulaikha sambil memberikan menu yang dipegangnya pada Sabi.
Sesekali Sabi, Zulaikha dan pelayan cafe itu saling tanya mengenai makanan yang ada di menu itu. Sedangkan Queen masih menatap tempat duduknya bersama Zayn waktu itu, dibalik kacamata hitamnya.
“Oke kita pesan itu.” Seru Sabi tersenyum setelah mengatakan makanan dan minuman yang telah dia pesan.
Merasa ada yang janggal, dia melirik ke sebelahnya. Tempat Queen duduk. Diperhatikannya gadis itu lamat - lamat.
Ada apa dengan dia?
“Hey.. kamu tidak mau pesan makanan?!” Sabi menyiku lengan Queen.
Queen sedikit menoleh, lalu menyunggingkan sebuah senyum kecut.
“Ada apa denganmu?” Tanya Sabi lagi.
“Aku pesan makanan dan minuman seperti yang kamu pesan.” Jawab Queen singkat. Dia lalu berdiri melirik ke kanan dan kekiri. “Maaf mba, toilet dimana yah?”
“Toilet ada dibalik pintu itu mba, setelah masuk kesana mba belok kiri lalu belok kanan.” Sahut pelayan muda itu.
“Terimakasih.”
Tanpa berlama - lama, Queen segera pergi menuju toilet tanpa menegur Sabi dan Zulaikha terlebih dahulu.
“Hey.. apakah wanita selalu seperti itu?” Tanya Sabi pada Zulaikha yang berada di depannya.
“Selalu seperti itu, maksudnya?” Zulaikha balik bertanya tak mengerti.
“Itu looh.. Banyak bicara menjengkelkan, diam pun menjengkelkan.”
Sialan! Berarti dia juga menganggapku menjengkelkan jika terlalu banyak bicara.
“Menurutku tidak semua tuan muda.” Sahut Zulaikha dengan kening yang berkerut kesal.
“Oh seperti itu.” Sabi mengangguk - anggukkan kepalanya, sesekali melirik ke pintu yang Queen masuki tadi.
Apakah sebaiknya ku bertanya padanya kenapa memanggilku Zu?
Zulaikha sesekali menggigit bibirnya berusaha menahan rasa penasarannya akan pertanyaan yang sekarang ini menggelantung di kepalanya. Pasalnya, tak semua orang tau tentang nama panggilan itu.
“Tuan muda..” panggil Zulaikha dengan nada yang dikecilkan, takut dimarahi.
“Hmm.. kenapa?” Sabi menoleh.
“Saya mau bertanya.”
“Tanya saja.”
“Hmm.. kenapa tuan muda memanggilku dengan panggilan Zu?” Akhirnya pertanyaan itu keluar setelah otak dan hatinya berdebat cukup hebat.
“Memangnya kenapa?”
Nih orang bukannya ngasih tau aja. Malah bertanya balik.
“Hm.. kan nama saya Zulaikha, kok bisa disingkat jadi Zu?!”
Sabi terlihat sedikit berpikir. Alisnya berkerut seolah ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi, tapi dia takut jika yang dia katakan itu akan jadi sebuah ancaman untuknya kelak, atau jadi sebuah lelucon bagi Zulaikha. Dia akan dianggap gila oleh sekertarisnya sendiri.
Dirinya sendiripun menganggap dirinya sendiri sudah gila. Hanya beruntung dia memiliki Ibu yang selalu bisa menutupi kekurangannya. Jadi jangan sampai orang lain tahu kekurangan yang selama ini dia alami.
Pertanyaan Zulaikha juga akan menimbulkan beberapa pertanyaan baru, yang akan semakin mengorek dirinya semakin dalam. Hingga akhirnya Sabi memilih bungkam dan menutup kenyataan bahwa dia melihat sosok anak kecil pada diri Zulaikha yang selalu tanpa sadar dia panggil Zu.
“Biar lebih singkat. Namamu terlalu panjang, aku benci memanggil nama yang terlalu panjang.” Jawab Sabi santai.
“Benarkah tuan muda?” Zulaikha bertanya sekali lagi dengan penuh harap. Pasalnya jika Sabi memiliki jawaban lain, maka bisa dipastikan jika Sabi adalah teman masa kecilnya dulu yang selama ini menjadi cinta pertamanya.
“Benarlah.. memangnya kamu harap aku jawab apa?!” Sabi nyolot berusaha menutupi kebenaran.
Mungkin anak itu bukan tuan muda. Lagian jika tuan muda adalah anak itu, tidak mungkin dia tidak akan mengenaliku.
“Tidak tuan..” Zulaikha tersenyum kecut menghadapi kenyataan bahwa anak lelaki itu ternyata bukan Andi Sabiru.
Artinya dia masih harus berpetualang mencari cinta pertamanya sekaligus saudaranya yang hilang.
Cukup lama mereka saling diam tanpa saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya makanan dan minuman yang telah mereka pesan datang, memecahkan keheningan yang membelenggu kedua manusia itu.
“Aaakhh.. segaarr..” seru Sabi setelah menyeruput minuman dinginnya.
Zulaikha pun tak mau kalah, dia juga menyeruput minumannya dengan penuh semangat. “Mmm.. segaarr..”
Mereka berdua kemudian mulai menyantap makanan mereka masing - masing. Sabi melirik kursi di sampingnya yang masih kosong, sementara makanan telah tersedia di depan kursi itu.
Cukup lama Queen tak kunjung kembali dari toilet, membuat pikiran Sabi sedikit terganggu. Sesekali dia melirik ke pintu yang Queen masuki tadi.
Kenapa dia belum kunjung datang?
“Hm.. Zu..” panggil Sabi.
“Iya tuan..”
Eh tunggu! Kenapa aku harus hawatir dengannya?! Ciihh... dia juga sudah dewasa, lagian memangnya ada marabahaya apa di toilet. Konyol.
“Hmm.. tidak tidak. Silahkan makan lagi, kalau mau tambah silahkan.” Ucap Sabi.
Ada apa lagi dengan laki - laki ini? Tadi marah - marah sekarang ramah. Jangan - jangan sebentar jadi orang gila. Zulaikha mengernyitkan dahinya heran.
Sabi terus melahap makanannya sambil terus menepihkan rasa hawatirnya pada Queen yang tak kunjung kembali. Namun semakin dia tolak, rasanya dia semakin resah. Matanya terus memperhatikan pintu yang Queen masuki tadi, sambil terus melahap makanannya.
Sampai pada satu potong makanan terakhirnya, secepat mungkin dia mengunyah makanan itu dan mendorongnya dengan air putih. Zulaikha yang melihat tingkah Sabi, hanya melotot heran dengan sikap tuannya.
Tuhkan jadi orang gila, dasar!
“Aku ke toilet sebentar.” Ucap Sabi bergegas menuju toilet.
Banyak sekali barang mewah yang sedikit kulot, seperti sudah ada disana selama beratus - ratus tahun lamanya.
“Apakah pemilik cafe ini suka mengumpulkan barang antik? Terlalu banyak barang mewah antik disini.” Seru Sabi melihat lamat - lamat sebuah pot emas di depannya.
Sabi terus melangkah berusaha mencari lorong yang dimaksud oleh pelayan cafe. Namun dia merasa tidak ada jalan berbelok ke kiri ataupun ke kanan. Lorong itu seperti tidak memiliki ujung dan terasa sangat panjang.
“Yyaa.. apakah ini masih sebuah cafe? Kenapa aku merasa seperti dalam kerajaan terkutuk?!”
Sabi mulai bergidik ngeri melihat ke sekeliling tak ada seorangpun manusia selain dirinya. Bahkan suara mobil dari luarpun tak terdengar sama skali, hanya langkah kakinya yang terdengar bergema di lorong panjang bernuansa merah dan emas itu.
Tiba - tiba seseorang menarik tangannya dari balik ruangan.
“Aaa..!!!” Sabi melompat kaget, berteriak ketakutan seperti melihat hantu.
“Hey hey.. diam!!!” Queen membungkam mulut Sabi yang masih berteriak ketakutan.
“He ajusgsy 72!&:7! @?/?/)’k”
“Diamlah dulu.. aku tidak tau apa yg kamu bilang.”
Sabi mengangguk mengerti. Mengikuti langkah kaki Queen yang membawanya pergi dari lorong itu.
Sampai akhirnya mereka sampai dipintu masuk tadi, Queen melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Sabi, membuatnya akhirnya bisa bernafas lega.
“Hey kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali? Kamu tidak apa - apa? Apa kamu sakit?”
Sepertinya Sabi tidak bisa menyembunyikan rasa hawatirnya, dengan cepat sejumlah pertanyaan dilontarkannya pada Queen yang dari tadi terlihat tenang.
“Apa kamu sekarang sedang menghawatirkanku?” Tanya Queen sambil menyunggingkan senyum meledek.
“Ha? Apa? Menghawatirkanmu?! Yang benar saja.. aku tidak peduli padamu. Bahkan kalau kamu hilangpun tak apa.” Sabi tergagap mendengar ucapan Queen, yang membuatnya jadi malu untuk mengakui rasa hawatirnya.
“Trus kenapa kamu mencariku? Kenapa kamu terlihat hawatir? Kenapa?”
“Yaa itu karena.. karena.. karena aku juga mau ke toilet!” Sahut Sabi jelas terlihat seperti pembohong yang bodoh.
“Tapi_”
Sabi segera meletakkan jari telunjuknya didepan mulut Queen.
“Sssttt!!! Jangaj banyak bicara, ayo.”
Sabi lalu menarik tangan Queen menuju meja tempat mereka makan tadi. Disana masih terlihat Zulaikha yang memperhatikan mereka berdua yang datang sambil bergandengan tangan.
“Cepat makan, lalu ku antar kamu pulang.” Pintah Sabi mendekatkan makanan Queen dengan Queen.
“Lalu kalian berdua mau kemana?”
“Kami berdua? Ya ke kantor lah..”
“Aku ikut.” Ucap Queen singkat.
“Aa? Apa? Tidak! Kamu tidak boleh ikut! Kamu bukan karyawan di kantorku, jadi kamu bukan orang yang berkepentingan. Kamu akan diusir begitu sampai di depan kantorku, jadi jangan mencari malumu sendiri.” Omel Sabi tak mengizinkan permintaan Queen.
Queen hanya menarik nafas panjang, lalu tersenyum licik melirik Sabi yang terlihat seperti masih merendahkannya.
...........
“Waah kantormu lumayan juga.” Seru Queen melihat bangunan yang berdiri tinggi dan kokoh.
Aiishh.. jika saja dia tidak menelfon bibi, pasti dia tidak akan ikut sekarang. Keluh Sabi sambil melirik ke arah Queen dengan tatapan berat hati, karena telah membawa wanita itu datang ke kantornya.
“Ayo kita ke ruanganku.” Ajak Sabi langsung melangkah tanpa menunggu Queen yang masih melihat - lihat bangunan tinggi itu.
Zulaikha pun mengikuti langkah kaki Sabi.
“Hey.. tunggu.” Teriak Queen sambil berlari kecil.
Semua orang yang melewati mereka sontak menganggukkan kepala, lebih tepatnya menganggukkan kepala pada Sabi. Namun beberapa karyawan yang mengerti tentang fashion, langsung membelalak kaget melihat seorang Queen Lee hadir di kantor mereka. Tak heran beberapa karyawan pecinta fashion, langsung mengambil handphone mereka dan memotret Queen secara diam - diam.
Sepertinya aku harus mengeluarkan peraturan baru, untuk tidak memotretku tanpa seizinku. Ini sangat tidak nyaman. Keluh Sabi melirik karyawannya dengan tatapan kesal.
Mereka bertiga terus berjalan sampai tepat di depan lift. Zulaikha dengan cepat menekan sebuah tombol yang akan membawa mereka ke lantai tempat ruangan pribadi Sabi bekerja.
Ting!
Pintu lift terbuka
Disana terlihat ada Zayn bersama Ridwan, sekertaris setianya.
Mata Sabi, Queen dan Zulaikha sontak langsung menatap Zayn, namun berbeda dengan Sabi, dia menatap Zayn dengan tatapan tak suka.
Zayn yang santai dan seakan tak peduli dengan kehadiran Sabi, tak membalas tatapan mata Sabi. Zayn hanya menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.
Tiba - tiba langkah kakinya terhenti. Ujung matanya mendapati sebuah objek yang familiar.
“Hey.. kamu menghalangi jalan.” Tegur Sabi, menatap Zayn tak suka.
Zayn hanya diam, lalu kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sabi dan geng barunya.
“Ciih.. dia pikir dia hebat?! Dasar!” Gerutu Sabi sambil masuk ke dalam lift diikuti dengan Zulaikha.
“Sepertinya aku akan sering datang berkunjung.” Ucap Queen tersenyum tipis.
“Apa? Kenapa?!” Sergah Sabi tak senang dengan ucapan Queen.
“Bukan urusanmu.”
“Hey.. tentu saja urusanku. Ini kantorku, jadi aku berhak tau apa alasan orang luar datang ke kantorku setiap harinya?! Bukankah itu sebuah tindakan kejahatan dan mengganggu karyawan? Jadi aku tidak akan mengizinkanmu.” Jelas Sabi, sambil menggertakkan giginya kesal.
“Bodo amat!”
Bersambung...
Jangan lupa like dan comment yah 😊👍🏾