FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
44. Hangat



Hujan turun dengan sangat lebatnya, membuat orang - orang yang ada di taman jadi panik, berlari mencari tempat berteduh. Apalagi para pedagang, mereka terlihat kewalahan mengatur dagangan mereka agar tidak basah terguyur hujan yang sangat lebat.


Sabi dan Queen yang ada di taman pun tak kalah panik. Queen yang tidak suka terkena hujan, segera menarik Sabi untuk mencari tempat berteduh, namun Sabi justru menolak dan ikut dengan Queen.


“Pergilah duluan, nanti aku menyusul.” Ucapnya, lalu pergi menghampiri Mba penjual somay.


Queen memperhatikan lelaki yang dianggapnya konyol, pergi berlari menghampiri Mba Somay dan membantu penjual somay itu membereskan jualannya agar tidak basah.


Penilaiannya akan Sabi yang manja, konyol, bodoh dan tidak ada hal yang baik dari diri Sabi, sedikit berubah setelah melihat aksi Sabi yang peduli pada orang lain. Dia pikir Sabi adalah anak orang kaya yang manja tapi ternyata jiwa sosialnya sangat baik.


Hati Queen tergerak dan ingin membantu mba Somay juga. Queen berlari dan menghampiri mereka yang sedang berberes.


“Sini aku bantu.” Seru Queen sambil mengulurkan tangannya.


Sabi menatap Queen yang ada di depannya. Sebuah senyumanpun terukir di wajahnya.


Sabi lalu memberikan sebuah payung besar pada Queen untuk dibuka. Dengan gesit dan kompak Sabi dan Queen membereskan barang - barang dagangan penjual somay itu. Lalu sama - sama mendorong gerobak itu untuk menepi ke bawah pohon.


Setelah selesai membantu mba penjual somay itu, mereka diberi sebungkus somay secara gratis dan somay yang mereka makan tadi diberikan secara cuma - cuma.


Queen bersorak kegirangan, begitupula dengan Sabi. Siapa sangka kedua orang kaya itu ternyata masih suka dengan yang namanya gratisan.


Mba somay pun tersenyum bahagia melihat dua orang dewasa yang tingkahnya seperti anak kecil.


“Makasih ya mas, mba.” Ucap mba somay tersenyum senang.


Sabi dan Queen mengangguk lalu pergi mencari tempat berteduh. Karena jika hanya mengandalkan payung mba somay itu, takkan cukup untuk mereka bertiga ditambah dengan gerobak.


Sabi dan Queen berlarian dibawah derasnya hujan mencari tempat untuk berteduh. Sesekali Queen menarik tangan Sabi untuk berhenti dan berteduh di tempat yang Queen lihat, namun Sabi menolak seakan ada tempat yang lebih baik dari tempat yang disarankan Queen.


Dengan wajah kesal, Queen mangut menuruti kemauan Sabi yang terus menarik tangannya berlari mengikutinya.


Pakaian mereka mulai basah, diguyur air hujan yang jatuh semakin deras.


Masih terus berlari, Queen melihat ke sekitarnya. Keadaan terlihat sepi, lampu - lampu terlihat berpantulan digenangan air memperindah jalanan kota, dan air hujan yang jatuh terasa seperti alunan melodi yang berirama dengan langkah kaki mereka berdua.


Queen juga melirik Sabi yang terlihat sedang meliriknya sambil tersenyum. Tak dirasa, dia pun ikut tersenyum membalas senyuman Sabi yang terlihat begitu polos tersenyum padanya.


Sabi yang juga melihat senyuman Queen yang lebar dengan mata yang ikut tersenyum padanya, membuat hatinya menghangat dibawah dinginnya air hujan dan angin yang berhembus padanya.


Tangannya tak dirasa semakin mempererat genggamannya pada tangan Queen yang terasa mulai dingin. Ditariknya tangan wanita yang menghangatkan hatinya untuk menambah laju lari mereka.


Setelah beberapa saat berlari dibawah hujan, mereka sampai didepan sebuah cafe yang terlihat tua nan aestetik. Masih menggenggam tangan Queen, Sabi menarik Queen masuk mengikutinya. Mereka duduk di kursi yang berdekatan dengan jendela besar, yang menampilkan keadaan malam yang terasa nyaman.


“Tunggu sini sebentar.” Ucap Sabi pergi meninggalkan Queen yang memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.


Tak berselang lama, Sabi kembali membawa sebuah selimut berbulu yang besar dan tebal, lalu dilingkarkan pada tubuh Queen yang menggigil kedinginan.


Eh?! Gumam Queen yang sedikit terkejut dengan sikap Sabi padanya.


Sabi kembali duduk di depan Queen.


“Kenapa?” Tanya Sabi yang menyadari ekspresi Queen yang terlihat terkejut.


“Tidak.” Jawab Queen singkat.


“Cafe ini tempatku dan John kalau bolos sekolah. Cafe ini seperti rumah bagiku, terasa hangat. Jadi jika hujan seperti ini, lebih baik berteduh disini. Sangat hangat disini.” Kata Sabi, lalu memeluk tubuhnya sendiri karena mulai menggigil kedinginan.


Queen langsung tertawa gurih melihat Sabi.


“Hey kenapa ketawa? Ada yang lucu?” Tanya Sabi yang tiba - tiba sok sinis.


“Ada. Kamu..” sahut Queen.


“Ha? Saya? Kenapa?!” Sabi masih tak mengerti.


Queen menggelengkan kepalanya. Dia segera berdiri dan duduk tepat disebelah Sabi, lalu membuka selimut tebal itu dan menautkan separuh selimut itu pada tubuh Sabi dan separuhnya lagi tetap padanya.


Sabi melirik dirinya yang berada dalam satu selimut yang sama dengan Queen.


“Kamu bilang ini tempat yang hangat bagimu? Tapi kamu sendiri menggigil kedinginan. Jadi mari kita tetap sama - sama hangat, seperti ini.” Imbuh Queen melirik Sabi yang terlihat kebingungan.


Sabi menatap Queen, lalu mengalihkan pandangannya menatap jendela. Tidak sepenuhnya melihat keluar jendela, tapi lebih ke melihat pantulan bayangan Queen yang ada di jendela. Senyum tipis pun terukir diwajahnya.


“Permisi.. coklat panasnya.” Ucap seorang pelayan cafe, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Queen mengangguk sambil tersenyum, meskipun belum sempat dilihat oleh pelayan itu.


“Oh My God! Coklat panas dan roti coklat?!” Seru Queen yang terlihat sedikit kaget dengan menu yang dipesan oleh Sabi.


“Kenapa? Kamu tidak suka?”


Sabi mengambil salah satu coklat panas itu lalu diminumnya pelan - pelan.


“Aahh.. enak. Coba deh.” Imbuh Sabi.


Queen menatap Sabi dalam. Seakan ada yang ingin dia sampaikan, namun tertahan.


“Minumlah..” Sabi menyodorkan gelas yang terisi coklat panas itu tepat ditangan Queen, lalu menempalkan tangan Queen yang terasa dingin pada gelas itu.


“Hangatkan?!” Imbuhnya lagi.


Queen mengangguk pelan, lalu sedikit tersenyum dan meminum coklat panas itu dengan sedikit ragu - ragu.


“Kamu tidak suka coklat?” Tanya Sabi lagi.


“Suka. Sangat suka.” Jawab Queen singkat, menatap nanar gelas yang dipegangnya.


“Kalau begitu minumlah yang banyak. Habiskan kalau perlu.” Sergah Sabi lalu menyeruput minumannya sambil tersenyum kecil.


...........


Kedua mata Sabi langsung terbuka sempurna, diikuti dengan tubuhnya yang terperanjat kaget. Keringat dingin membasahi tubuhnya dan perasaan takut menyelimuti perasaannya.


Sial! Mimpi buruk lagi?!


Sabi bangun perlahan dari tempat tidurnya. Melirik alarm yang sedari tadi berbunyi namun tak dihiraukannya.


Aah benar! Semalam Zu tidak menemaniku. Aishh.. seharusnya setelah pulang, aku langsung memanggilnya kemari, tapi aku malah langsung tidur. Bodoh!!!


Setelah cukup lama menengkan dirinya sambil berdebat dengan dirinya sendiri yang lalai tidak memanggil Zu untuk menemaninya tidur. Sabi lalu pergi mandi dan bersiap - siap pergi ke kantor.


Setelah selesai bersiap - siap, dia langsung segera turun ke bawah menuju ruang makan. Disana telah ada Nenek yang sudah makan duluan tanpa Nyonya Sura yang biasanya duduk disebelah Nenek.


Sabi melihat ke sekitar, mencari sosok Ibunya. Namun yang terlihat hanya, Pak Tri dan Zulaikha yang berdiri seperti biasa dengah Nenek yang menyantap makanannya.


“Ibu mana?” Tanya Sabi yang merujuk pada Pak Tri.


“Tumben Ibu tidak memberitahuku kalau dia akan keluar selama beberapa hari.” Ucap Sabi sambil mulai menyantap makanannya.


“Mungkin Ibumu terlalu sibuk sampai lupa mengabarimu. Apalagi besok akan ada penyambutan untuk sepupumu Gio.” Sergah Nenek.


“Benarkah? Hmm.. berarti besok rumah akan mengadakan pesta sambutan sekaligus merayakan kelulusan Gio yah?!” Tanya Sabi lagi, tanpa ekspresi.


Nenek menggeleng tak tahu.


Sabi melirik Pak Tri yang sepertinya tau jawaban dari pertanyaannya.


“Iya tuan, rencananya seperti itu.” Spontan Pak Tri segera menjawab.


Sabi melirik Zulaikha lagi, namun Zulaikha langsung menunduk. Diliriknya lagi kursi kosong disebelahnya yang biasanya diduduki oleh Queen.


“Zu..”


“Iya Tuan muda.” Zulaikha langsung mengangkat kepalanya menengok ke arah Sabi duduk.


“Panggil Queen di kamarnya. Dia sangat lambat bangun, kita akan terlambat ke lagi kantor karna dia.” Sambung Sabi.


“Ba_”


“Maaf Tuan muda, Nona Queen sedang tidak berada di rumah sekarang.” Sergah Pak Tri yang memotong ucapan Zulaikha.


Seketika Sabi langsung meletakkan sendoknya yang tadi ingin dia masukkan ke mulutnya.


“Kemana? Tumben skali dia keluar sangat pagi.”


“Nona Queen dijemput oleh beberapa orang, tadi subuh tuan muda.” Jawab Pak Tri lagi.


“Subuh? Kemana dia subuh - subuh?” Sabi menatap Pak Tri tajam dengan ekspresi sedikit bingung.


“Maaf tuan muda, saya tidak tau.” Pak Tri langsung membungkukkan badannya, merasa bersalah karena tidak tahu alasan mengapa Queen pergi seawal itu tanpa berita apapun.


Sabi terlihat menggeleng kepalanya, lalu benar - benar melepaskan sendoknya dan berdiri meraih kopernya.


“Zu.. ayo berangkat.”


“Baik tuan muda.”


...........


Di sebuh ruangan yang besar dan mewah bernuansa hitam putih. Terlihat Zayn yang sedang menerima telefon menghadap sebuah kaca besar yang langsung memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian beberapa meter dari atas tanah.


Seperti biasa, Ridwan selalu berada di sekitar Zayn dan sedang memeriksa beberapa berkas penting di atas meja dengan raut wajah yang serius.


“Sepertinya kita akan sibuk beberapa hari ini.” Ucap Zayn yang duduk di depan Ridwan.


Ridwan melirik ke arah sumber suara dan mendapati Zayn yang sudah berada di depannya.


“ saya pikir anda masih menelfon, tuan.”


“Apakah akhir - akhir ini dia mencariku?”


“Siapa, tuan?” Tanya Ridwan sedikit bingung dengan pertanyaan Zayn yang sedikit ambigu.


“Zulaikha, sekertaris pribadi Andi Sabiru.” Jawab Zayn dengan tatapan mata yang dingin.


“Oh, dia. Saya pikir yang anda maksud adalah nona Bunga.” Ledek Ridwan.


“Aku sedang tidak bercanda Wan.” Zayn mendesis jengkel.


“Oh, maaf tuan muda. Sepertinya tidak ada yang mencari anda selain Nona Bunga dan seorang gadis cantik yang sering bersama dengan Tuan muda Andi Sabiru.”


“Hm? Gadis yang sering bersama dengan Sabiru? Bukankah dia Zulaikha?!”


“Bukan, tuan. Dia seorang desainer ternama yang akan bekerjasama dengan Produser Eddie dalam event Asian Model nanti.” Jawab Ridwan lugas.


“Dia mencariku? Sekarang? Untuk apa?” Zayn terlihat sedikit terkejut sambil melihat ke sekitar.


“Tidak, tuan. Dia datang mencari anda kemarin. Saat anda sedang pergi beristirahat makan siang.”


“Oh saat itu. Pantas dia bisa menemukanku.” Gumam Zayn, mengingat saat dia membuat Queen menangis di pantai kemarin.


“Kalian sudah saling mengenal rupanya. Pantas dia mati - matian memaksaku untuk memberitahu dimana keberadaan anda, tuan.” Seru Ridwan semakin bersemangat.


“Hm? Jangan bilang kamu luluh pada gombalan dan kecantikannya sampai membocorkan keberadaanku.” Zayn menatap tajam Ridwan.


“Tidak tuan, tidak. Saya bukan tipe yang mudah luluh dengan wanita.” Ridwan menyilangkan tangannya di depan dada, menyangkali pernyataan Zayn yang menurutnya terdengar sangat lemah untuk ukuruan lelaki yang tangguh sepertinya.


“Lalu?” Zayn mengangkat sebelah alisnya, masih penasaran dengan cerita Ridwan.


“Awalnya aku berpikir dia akan seperti gadis lainnya yang akan menggombalku atau menyogokku dengan uang seperti yang biasa dipakai oleh Nona Bunga. Tapi, dia berbeda tuan.” Kata Ridwan yang terlihat semakin bersemangat.


Ekspresi Zayn pun yang tadinya dingin, dan cuek terlihat antusias dan serius mendengarkan Ridwan.


“Dia melawanku.” Imbuh Ridwan.


“Seperti saat Bunga melawanmu?!” Sergah Zayn.


“Tidak tuan! Caranya berbeda. Jika nona Bunga melawanku dengan kekuasaannya, tapi gadis itu melawanku dengan kekuatannya.” Sahut Ridwan.


Zayn mengangkat kedua alisnya, terkejut dengan jawaban Ridwan.


“Dia menghajarku, dan bisa menyudutkanku sampai membuat kaki dan tanganku lebam. Lihat!” Ridwan menunjukkan kakinya yang lebam, beserta tangannya yang lebam.


“Waaahh... dia perempuan yang kuat. Aku tidak menyangka, aku dikalahkan oleh seorang wanita yang feminin.” Keluh Ridwan yang lebih terdengar seperti memuji kemampuan Queen secara terselubung.


Zayn sedikit tertawa mendengar cerita Ridwan.


Ridwan pun nampak sedikit terkejut, melihat Zayn yang tertawa mendengar ceritanya. Tidak biasanya Zayn akan tertawa mendengar ceritanya tentang seorang wanita. Karena biasanya humor Zayn hanya sebatas kelakuan binatang atau tentang adegan yang lucu. Tapi ini berbeda, Zayn tertawa hanya karena aksi seorang wanita yang memukuli Ridwan sampai terpojok.


“Apakah aku se kasian itu yah sampai anda tertawa?!” Tanya Ridwan ragu - ragu cemas.


“Tidak tidak, Wan.”


“Lalu apakah anda marah padaku tuan?”


“Tidak, Wan. Tidak. Hanya saja aku pikir, sepertinya kamu harus kembali belajar bela diri lagi. Aku tidak mau kamu kalah lagi nanti.” Sahut Zayn, menatap Ridwan tiba - tiba dengan ekspresi yang datar.


“Kalah lagi? Nanti? Apakah anda pikir aku akan dikalahkan lagi? Oleh dia?” Jidat Ridwan sedikit berkerut.


“Iya. Karena kedepannya kamu akan sering bertemu dengannya.”


Bersambung...