
Sabi menarik nafasnya dan dihembuskan dengan kasar. Wajahnya terlihat frustasi, namun dia berusaha untuk tetap tenang.
Zulaikha terus menatap Sabi dari pantulan spion mobil. Seakan dia bisa merasakan apa yang dirasakan Sabi saat ini, perasaan kesal dengan segala hal yang sedang berkecamuk di kepala.
“Tuan muda ...” panggil Zulaikha, yang sudah tak tahan untuk tetap diam melihat Sabi seperti orang yang berbeda.
“Jika penting, katakanlah. Selain dari itu, jangan ganggu aku dulu.” Sahut Sabi singkat.
“Aaa ... baiklah tuan muda.” Zulaikha mengangguk mengerti.
Akhirnya perjalanan menuju kantor benar - benar hening tanpa percakapan, setelah sebuah percakapan pendek yang Zulaikha mulai.
Mungkin ini adalah situasi yang Zulaikha inginkan beberapa bulan yang lalu saat dia pertama kali terangkat menjadi sekertaris pribadi. Tenang dan tidak perlu meladeni berbagai pertanyaan dan sikap tidak jelas dari seorang, Sabi. Namun akhir-akhir ini Sabi begitu serius kerja dan sudah jarang bicara. Bahkan tidak ada lagi hal aneh yang dia lakukan.
Rasanya sangat hambar, jika seseorang yang biasanya berbuat rusuh tiba-tiba menjadi begitu serius dan tenang.
Zulaikha menarik nafasnya perlahan.
Sepertinya kali ini dia lebih suka boss nya itu banyak cerita dan bertindak tidak jelas daripada diam dan serius seperti ini.
Aku rindu tuan muda yang dulu. Sekali lagi Zulaikha menarik nafasnya dan dihembuskan dengan pasrahnya.
...........
Rapat yang ditunggu-tunggu pun telah berlangsung dan berjalan dengan baik. Semua orang yang menghadiri rapat ini, terlihat begitu sibuk dengan memaparkan segala pekerjaan mereka yang telah mereka kembangkan atau selesaikan sampai hari ini.
Masing-masing memaparkan hasil kerja mereka dengan profesional dan juga memecahkan masalah dari paparan yang belum menemukan jalan keluar. Hingga waktu tak terasa berputar dan mereka telah melakukan rapat selama 5 jam dengan seriusnya.
“Sepertinya kita sudahi sampai sini rapat kita hari ini dan akan kita sambung lagi minggu depan.” Seru Paman Edie, sembari meregangkan tulanh belakangnya yang sudah mulai renta.
“Baiklah ...” sahut Zayn, menutup sebuah map tebal.
Bahkan menutup map pun dia terlihat sangat tampan. Waah ... kamu memang luar biasa Zed. Tidak sia-sia aku mengagumimu selama ini. Queen tersenyum kecil melirik Zayn, seolah semua hal di dunia ini yang terlihat hanyalah Zayn lah yang terindah.
Bagaikan bulan yang selalu mengitari matahari, seperti itulah Queen yang selalu mengitari Zayn dan menjadikan Zayn sebagai pusat orbit dan dunianya.
Seperti biasa, Zayn selalu pergi meninggalkan ruangan rapat terlebih dahulu dan tanpa menyapa Sabi sedikitpun. Seperti biasa juga, Sabi sudah tidak heran dan membiarkan Zayn seperti itu.
“Hey ... Paman senang kamu menjadi lebih baik dalam hal pekerjaan, tapi jangan terlalu dipikirkan soal itu.” Paman Edie menepuk bahu Sabi beberapa kali, seolah tengah memberikan Sabi sebuah dukungan untuk tetap kuat dan tegar menghadapi harinya yang tidak mudah.
“Apa maksud Paman?” Sabi berusaha tidak mengerti dan tersenyum kecut, menghindari bertatapan mata dengan Paman.
“Paman sudah mendengarnya dari Syafar, dan Paman lihat hari ini pikiranmu sedikit blank tadi. Jadi ku pikir kamu pasti memikirkan tentang itu. Bertahanlah dan kuat. Pundak lelaki harus sekuat baja.” Sekali lagi Paman menepuk pundak Sabi, memberi dukungan penguatan padanya agar dia tidak terlalu lemah memikirkan nasib dirinya.
Paman Eddie, merupakan kerabat dekat Paman Andi Syafar yang sering datang ke rumah keluarga Andi. Sehingga dia tau betul bagaimana perkembangan Sabi dan Gio sejak kecil sampai mereka tumbuh sebesar ini. Paman Eddie juga tau betul apa yang akan dilakukan oleh Gio, jika dia naik menjadi direktur utama. Karena Gio, pasti akan menyingkirkan Sabi bagaimanapun juga. Sebagaimana Gio selalu berusaha menyakiti Sabi saat mereka masih anak-anak.
Sabi pun sudah terpikirkan hal itu, sejak Paman menyatakan akan mengangkat Gio menjadi direktur utama. Tidak akan ada tempat sedikitpun baginya dan Ibunya di rumah ataupun di perusahaan bahkan di Mall W. Mereka akan terusir dan menjadi gelandangan seperti yang selalu dikatakan oleh Gio, dulu.
Sabi tersenyum kecut melihat Paman. Matanya seolah berbicara bahwa dia membutuhkan seseorang untuk membantunya, dan menjadi tameng untuk melindunginya dari Gio yang akan berbuat apa saja pada dirinya.
Namun mulutnya kaku, dan tidak bisa berbicara banyak. Meminta bantuan hanya akan membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan. Dirinya saja sudah cukup menyedihkan, apalagi ditambah statusnya dalam keluarga yang seperti tiada artinya di mata Paman Andi Syafar.
Banyak mengeluarkan kegelisahannya hanya akan membuat dirinya semakin rendah dan menyedihkan, dan diam adalah solusi terbaik baginya.
“Paman pergi dulu.” Ucap Paman Eddie, pergi meninggalkan Sabi yang terus memandangnya.
“Tuan muda ... anda mau makan siang menu apa hari ini?” Seru Zulaikha berusaha menghibur Sabi dengan makanan.
Sabi meliriknya dengan tatapan sayu lalu tersenyum kecut padanya.
“Tidak usah. Nanti aku keluar cari makan sendiri.”
Hm ... hm ... hm ... ada apa dengannya hari ini?! Dia terlihat seperti mayat hidup sekarang. Sangat layu dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Queen menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat Sabi yang tidak seperti biasanya.
“Sebaiknya dengarkan kata sekertarismu itu. Pergilah cari makan. Sepertinya kamu butuh sedikit nutrisi.” Pinta Queen dengan menekankan kata kekurangan nutrisi.
Sontak Sabi melirik Queen, dilihatnya Queen dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kenapa kamu melihatku begitu?” Sergah Queen yang merasa risih dilihat seperti itu.
“Tumben hari ini warna pakaianmu tidak mencolok.” Ucap Sabi, memberi penakanan kata norak dengan tatapan mengejek.
“Ciih ... jadi kamu menghina style ku kemarin? Waah ... sungguh kamu benar-benar orang awam yang tidak tau mode!!!!” Queen mendesis dan membentak Sabi sekaligus dengan nada bicara yang bebas tanpa jaim sedikitpun.
“Mode katamu?! Kamu seperti ayam kecil yang dijual disekolah SD kemarin, sangat mencolok. Bahkan mataku hampir buta melihatmu, sangat bersinar dengan warna biru electrik.” Ejek Sabi sambil bertepuk tangan, menertawakan Queen.
Queen menarik nafasnya dalam-dalam. Dia mulai merasa kesal, dan rasanya ingin melempar Sabi dengan tasnya yang kebetulan hari ini sedang berat. Namun seulas senyuman tiba-tiba terukir di bibirnya, meskipun tidak terlalu lebar saat tersenyum pada Zayn.
Baiklah ... terserah. Aku tidak tau masalahmu apa. Tapi tertawakan sajalah aku, jika itu bisa menghiburmu sedikit. Beginilah caraku menguatkanmu.
“Aissh ... dasar!” Gerutu Queen, lalu pergi meninggalkan ruangan rapat.
Perginya Queen, seketika langsung memudarkan tawa Sabi. Padahal Sabi sengaja mengejeknya untuk bisa bertengkar dengannya hari ini. Tapi siapa sangka, emosi Queen hari ini tidak cepat naik seperti biasanya. Biasanya dia akan langsung emosi dan bahkan akan memukuli Sabi, namun hari ini dia tidak banyak membantah dan malahan langsung pergi.
Ada apa dengannya? Sabi mendelik, memperhatikan pintu keluar.
“Tuan muda ... didekat sini, ada_”
“Zu ... aku pergi dulu sebentar. Kamu pergilah cari makan.” Ucap Sabi langsung pergi memotong ucapan Zulaikha yang belum selesai.
Seperti ada rasa sedih namun dia siapa untuk merasakan itu, dan kenapa juga dia harus sedih ditinggalkan seperti itu. Seharusnya dia merasa senang karena memiliki waktu untuk beristirahat, daripada terus membuntuti Sabi kemana dia pergi.
Lay ... istirahatlah, kamu tidak perlu merasa sedih untuk hal-hal yang tidak patut disedihkan. Lagian kenapa juga harus merasa sedih, seharusnya kamu senang karena punya waktu untuk istirahat. Iya istirahat, rapat hari ini menguras banyak energimu. Jadi beristirahatlah ... Zulaikha menguatkan batinnya sendiri sambil tersenyum kecut melihat ambang pintu dengan tatapan nanar.
............
Sabi berjalan menyusuri koridor, belok kanan lalu belik kiri. Semakin dia menemui belokan di koridor, langkahnya semakin cepat seakan sedang mengejar sesuatu. Bahkan sapaan karyawannya tidak dia pedulikan lagi.
Merasa masih belum menemukan sesuatu yang dicarinya, dia mempercepat lagi langkahnya hingga berlari dan tak sengaja menyenggol beberapa karyawan yang ada di depannya.
“Sorry ...” Ucapnya sambil terus berlari tanpa mengurangi laju larinya.
Jantungnya semakin berdetak kencang, dan hampir menemukan warna untuk harinya yang kusam ini.
Pintu lift yang hampir tertutup pun tetap dia kejar agar tidak ketinggalan. Untung saja seorang karyawan yang telah berada dalam lift, memperhatikan dia. Jika tidak, dia harus menunggu.
Di dalam lift, Sabi terus memperhatikan dirinya di pantulan dinding lift. Wajahnya terlihat dipenuhi keringat, segera disekanya dengan lengan jasnya. Padahal di kantong jasnya ada sapu tangan, namun dia mengabaikan sapu tangan itu seolah sapu tangan hanyalah pajangan di pakaiannya. Jika ada yang memperhatikannya dengan detail, mungkin Sabi akan segera dicap dengan laki-laki aneh.
Setelah memastikan wajahnya bersih dari keringat, dia mencoba sedikit tersenyum melihat pantulan dirinya. Tapi sayang, senyuman itu tidak bertahan lama. Melihat dirinya sendiri tersenyum seperti itu, membuat dirinya dipenuhi dengan rasa bersalah dan berbagai over thinking. Hingga yang tertinggal hanyalah sebuah tatapan nanar, dan sebuah kesedihan yang bersembunyi dengan baiknya di relung ujung hatinya.
*Ting!
Pintu lift terbuka.
Baru saja pintu itu sedikit terbuka, Sabi sudah melangkah lebih dulu dan berusaha menjadi orang pertama yang keluar dari dalam lift.
Segera dia menyapu pandangannya ke seluruh penjuru lantai satu tempat karyawan keluar dan masuk. Seolah sedang mencari seseorang yang dari tadi membuatnya berlari.
Sosok Queen terlihat sedang berjalan santai tak jauh dari tempatnya berdiri, menuju pintu keluar.
Seutas senyuman terukir lagi di bibir tipis Sabi. Sambil menarik sebuah nafas panjang, dia berlari secepat mungkin menuju pintu keluar dan menjadikan sosok Queen sebagai target yang akan dia tuju.
Saat dirinya benar-benar dekat dengan Queen, Sabi mengurangi kecepatan larinya dan melirik tangan Queen yang tengah melambai pada seseorang. Tanpa ragu-ragu, Sabi meraih tangan Queen dan menariknya ikut berlari bersama.
“Aa ...?! Heeeyyy ...” seru Queen yang terkejut.
Meskipun Queen terkejut dan seakan tidak mau mengikuti kemana Sabi akan membawanya, namun kaki Queen terus menyeimbangkan langkah Sabi dan ikut berlari bersamanya.
“Aaiissh ... apa yang kamu lakukan hahh?!!” Teriak Queen berusaha menghentikan Sabi dan Sabi hanya sedikit tertawa mendengarkannya.
“Hey ... berhenti. Aku lelah.” Teriak Queen sekali lagi, menarik tangan Sabi, masih berusaha menghentikan langkah lelaki itu.
Perlahan-lahan laju lari Sabi berkurang dan berhenti. Dia berbalik melihat Queen yang ada dibelakangnya. Menatap gadis itu lekat dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Ada apa denganmu hah?!” Ucap Queen, berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah.
“Harusnya aku yang menanyakan itu padamu.” Sabi memalingkan pandangannya, mengelap keringat yang bercucuran disekitar wajahnya dengan lengan jasnya.
“Hah?! Kenapa aku?” Queen makin tambah heran dengan laki-laki di depannya ini.
Masih dengan keadaan terengah-engah. Queen menyodorkan sapu tangan miliknya yang berwarna dasar hitam dengan motif batik bertinta emas.
Pandangan Sabi masih menyapu ke seluruh jalanan, mencari taxi yang bisa dia tahan. Hingga dirinya tidak begitu memperhatikan sapu tangan yang diulurkan oleh Queen.
“Aiisshh ... dasar!” Gerutu Queen, melihat Sabi yang mengabaikan dirinya.
Tanpa berkata apapun lagi, Queen langsung menarik jas Sabi dengan sekuat tenaga, hingga tubuh Sabi langsung mendekat padanya. Jarakpun hanya beberapa jingkal diantara mereka.
Mata Sabi membulat sempurna melihat Queen yang benar-benar dekat dengannya. Tiba-tiba tangan gadis itu mendarat lembut menyentuh wajahnya, mengelap keringat yang membasahi sekitar wajahnya dengan sapu tangan hitam yang tadi ingin diberikan Queen.
“Aku sangat membenci orang yang memakai desainku dan dia tidak memperlakukannya dengan baik.” Ucap Queen, yang masih terus mengelap keringat Sabi.
“A apa maksudmu?”
“Stupid!” Tanpa ragu, Quee memukul kepala Sabi, hingga membuat Sabi mundur beberapa langkah dan meringis kesakitan.
“Kamu memakai jas yang aku rancang sendiri, dan tanpa berdosanya ... kamu mengelap keringat kotor dan baumu itu pakai jas itu?! Hey ... kamu melakukannya di depan desainernya!” Bentak Queen, yang mulai kesal dengan sikap Sabi.
“Memangnya kenapa? Apa salah?!”
“Apa salah katamu?!”
Sabi menelan salivanya, seakan tau apa yang akan terjadi berikutnya jika Queen kesal.
“Biruuuuu ...” teriak Queen dengan kesalnya. Mendaratkan tas slingbagnya tepat pada wajah Sabi , hingga membuat lelaki itu merintih kesakitan dan beberapa kali memohon maaf pada Queen.
“Maaf ... maaf ...”
“Aaa sakitt!”
Sabi terus merintih dan terus mencoba menghindar dari pukulan Queen.
Bersambung ...