
Secepatnya Queen Lee membuka satu persatu pintu lemari pakaian Nyonya Sura. Lemarinya lumayan banyak, dan pakaiannya hampir semua adalah pakaian bermerek yang dia buat. Queen tidak bisa berhenti tersenyum melihat mahakaryanya begitu digemari.
Beberapa pakaian hitam dia letakkan diatas tempat tidur, dengan model pakaian yang berbeda-beda. Satu per satu dia mulai mencocokkan pakaian dengan barang-barang lainnya. Membuat sketsa di kepalanya dengan membayangkan wajah dan postur tubuh dari Nyonya Sura.
Hmm ... sepertinya ada yang kurang.
Alisya berkerut, melihat sesuatu yang kurang disana.
Ah, iya. Memakai belt pasti akan bagus.
Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari tempat Nyonya Sura menyimpan ban pinggang. Bersama dengan matanya yang terus menyapu seluruh ruangan, kakinya pun turut melangkah kemana arah pandangannya beralih.
Ah, itu dia. Gumamnya sumringah melihat sebuah bufet dengan berbagai perhiasan diatasnya, tersusun rapih yang tampilannya tak jauh berbeda dengan tampilan toko perhiasan.
Matanya menuntunnya menuju ke bufet itu dengan cepat tanpa memperhatikan langkahnya, hingga mengabaikan sebuah kaki manekin tempat memajang topi berada didepannya dan kemudian membuat kakinya tersandung.
Aakkhh ...
Dia benar-benar terjatuh, menempel seperti cicak di lantai. Mulutnya tidak bisa berhenti mengerang karena lutut dan juga sikunya terus mengalirkan rasa sakit ke otaknya.
“Astagah nona.” Seru seorang asisten rumah tangga, langsung membalikkan tubuh Queen. “Biar saya bantu anda berdiri nona.” Sambungnya namun Queen menolak.
Queen begitu malu, wajahnya bahkan sampai memerah karena seseorang menyaksikan dirinya menempel dilantai dengan sempurna seperti ini. Rasa sakit pada lutut dan sikunya seolah langsung sirna tergantikan dengan rasa malu.
“Nona, anda kesakitan. Sebaiknya anda bangun.” Bujuk asisten rumah tangga itu, yang masih setengah panik melihat Queen. Apalagi mendapati lututnya sedikit lecet dan memar. “Nona, lutut anda terluka.” Ucapnya, menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“Kalau begitu ambilkan aku obat merah. Pliss...” Kata Queen memohon. Lebih tepatnya memohon untuk memberinya waktu menyingkirkan rasa malunya ini.
“Baik nona, saya akan mengambilkan obat merah untuk anda.” Kata pelayan itu langsung pergi meninggalkan kamar Nyonya Sura dan Queen menarik nafas lega.
Dia mulai menggerakkan kepalanya ke sebelah, lalu memiringkan tubuhnya yang sedikit ngilu membuat mulutnya lagi-lagi mengerang, mengadu kesakitan. Pandangannya tiba-tiba terfokus pada sebuah map yang ada dibawah lemari kokoh itu.
Map yang sudah dikerumuni oleh sarang laba-laba dan juga terlihat sangat berdebu.
Apa itu?
Queen menggerakkan tubuhnya perlahan untuk lebih mendekat ke kolong lemari itu. Tangannya masuk ke dalam kolong lemari dan menggapainya, lalu menarik map usang itu perlahan.
Debu langsung menyeruak keluar lemari, membuatnya sedikit terbatuk. Tapi tidak membuatnya berhenti untuk menarik map usang itu keluar. Sarang laba-laba yang juga ikut tertarik menempel ditangannya tidak diperdulikannya. Dia hanya penasaran, dan ingin memuaskan rasa penasarannya pada map usang itu.
Dia bangun perlahan, dan duduk dengan pandangan yang masih terpaku pada map usang.
Hasil analisis Andi Sabiru Perwira?!
Alisnya berkerut membaca tulisan samar yang tertutup debu didepan Map usang itu. Rasa penasarannya semakin menantang dirinya untuk lebih tau tentang map usang itu. Tangannya mengelap dan menyingkirkan debu yang menempel kemudian membukanya. Namun belum sempat dia membukanya, aisten rumah tangga itu sudah terdengar masuk membuka pintu kamar.
Queen panik, antara ingin mengembalikan map itu ke kolong lemari atau membawanya. Matanya melirik kolong lemari dan map itu secara bergantian. Rasa penasarannya belum tuntas, hingga rasanya tidak mudah mengembalikan map itu kembali ke kolong lemari.
Dengan cepat Queen menggulung map usang itu lalu memasukkannya ke dalam tasnya, sebisa mungkin dia membuat map itu muat dalam slingbagnya dan berjanji akan mengembalikan map itu ditempat semula dia mengambilnya.
Tangannya kemudian membersihkan debu yang berserakan dilantai, dan juga menyingkirkan sarang laba-laba pada tangannya tentunya.
“Astagah nona. Apakah anda baik-baik saja?” Asisten rumah tangga itu kembali terkejut melihat posisi Queen Lee masih sama seperti saat dia tinggalkan tadi.
“Oh Tuhan, apa yang terjadi padanya?” Seru Pak Tri langsung mengalihkan pandangannya. Tidak bisa melihat posisi Queen yang merayap seperti cicak, dengan rok yang sangat mini. Hampir memperlihatkan seluruh selangkangannya.
“Jangan melihat kemari Paaak!!!” Teriak Queen dan Pak Tri menyaut kaku.
“Bantu aku berdiri. Dadaku sangat sakit.” Keluh Queen, berpura-pura memasang wajah kesakitan.
Asisten rumah tangga itu membantunya duduk, lalu berdiri. Erangan kembali terdengar dari mulut Queen tapi kali ini Queen tidak berpura-pura, dia benar-benar mengerang kesakitan saat kakinya akan melangkah. Pak Tri dan asisten rumah tangga itu langsung meraihnya, menjaganya agar tidak terjatuh lagi.
“Bagaimana anda bisa terjatuh nona? Ruangan ini bahkan tidak memiliki lubang sekecil semut.” Ucap Pak Tri, memopoh tubuh Queen keluar dari ruang ganti Nyonya Sura.
“Apakah Pak Tri tidak melihat kaki manekin itu?! Sangat panjang sampai sukses membuatku kesakitan seperti ini.” Geram Queen, disela-sela rasa nyerinya pada lututnya.
“Eh, kamu.” Tunjuk Queen pada asisten rumah tangga itu. “Ambilkan aku belt, warna hitam untuk dipasangkan dengan baju yang ada diatas tempat tidur itu.” Pintahnya dan asisten rumah tangga itu mengangguk, kembali ke ruang ganti. “Tadinya aku hanya ingin mengambil belt, tapi berakhir seperti ini.” Keluh Queen, hampir tak terdengar.
“Bungkus ini yah pak Tri dan berikan pada gadis itu. Aku ingin pulang, rasanya dadaku sangat sakit.” Katanya, melepaskan diri dari gopohan Pak Tri.
“Nona, bagaimana dengan luka anda?!”
“Luka luar tidak penting bagiku, yang penting saat ini adalah tubuhku dibagian dalam karena luka dalam lebih menghawatirkan daripada luar yang ada di luar.” Jawab Queen, berlalu meninggalkan kamar Nyonya Sura dengan berjalan sedikit pincang.
Aiisshh... mungkin sebaiknya aku tidak usah datang ke acara pemakanan Nyonya Denisa. Aku hanya akan membuat seluruh mata tertuju padaku dengan cara berjalanku yang seperti ini.
Queen terus melangkah, dengan ekspresi wajah menahan sakit tapi dengan hati yang berbunga. Karena dia bisa membawa map usang itu tanpa dicurigai oleh siapapun di rumah itu.
Sesaat sebelum dia menuruni tangga yang membuatnya lagi-lagi mengerang kesal dan mengadu kesakitan, Queen melirik Zulaikha yang masih berada dalam kamar Nyonya Salma, bersama dengan dua orang asisten rumah tangga wanita.
Disana, Zulaikha nampak bingung memilih baju mana yang bagus, yang akan dikenakan oleh Nyonya Salma. Gadis itu sepertinya mempertimbangkan apa yang Queen katakan tadi padanya, tentang selera fashionnya yang buruk dan akan mempermalukan Nyonya dari keluarga Andi, yang kemudian membuat Zulaikha tersenyum menang.
“Jangan memilih itu. Itu kuno, seperti sudah dikenakan 100 kali dalam sebulan.” Ucap Queen dengan nada memerintah, masuk ke dalam kamar Nyonya Salma. Tentunya dengan sedikit pincang.
“Nona, apa yang terjadi pada anda?!” Tanya Zulaikha spontan ketika melihat Queen Lee yang masuk dengan keadaan pincang dan lecet dibagian lututnya.
“Ah, ada sedikit tragedi tadi. Tapi tugasmu bukan untuk menghawatirkanku, hawatirkan saja baju yang salah kamu pilih dan hampir membuat Nyonya Salma terlihat memalukan karena itu.” Jawab Queen menohok, membuat Zulaikha lemas mendengarnya.
“Pilih baju yang sana.” Tunjuk Queen pada sebuah baju yang dipegang oleh salah satu asisten rumah tangga. “Pasangkan dengan sepatu yang itu.” Tunjuk Queen lagi, dan mendekat pada sepatu yang dia maksud. “Lalu pasangkan dengan topi itu. Karena pastinya wajah Nyonya Salma akan selalu sedih. Jadi pasti dia ingin menutupinya dengan sesuatu, jadi ... topi hitam dengan sedikit jaring didepannya akan sedikit membantunya.” Tuturnya, dengan ekspresi wajah bangga.
“Baik Nona, terimakasih.” Ucap kedua asisten rumah tangga itu serempak. Sementara Zulaikha hanya diam, melihat sosok Queen yang tersenyum dengan bangganya atas skill yang dia punya.
“Ah, tidak usah berterimakasih.” Queen melambaikan tangannya di depan dada. Tersenyum penuh kebanggan. “Lagian itu hanya sebuah bakat tentang selera fashion, jadi tidak perlu berterimakasih seperti Nona sekertaris pribadi satu ini.” Sebuah kalimat sarkasme diucapkan Queen dengan lantangnya mengarah pada Zulaikha dan itu membuat Zulaikha tertawa dalam batinnya.
“Bungkus itu, aku akan pamit duluan.” Ucapnya kemudian pergi meninggalkan kamar Nyonya Salma. Namun sebelum dia benar-benar keluar dari kamar itu, matanya melirik ke sebuah bingkai foto kecil yang ada diatas bufet dan membuat langkah kakinya tertahan.
Ada sesuatu yang tidak asing disana dan menarik simpatinya. Sebuah foto usang, dimana Nyonya Salma bersama seorang anak laki-laki yang memakai seragam sekolah dasar dengan tatapan sendu, duduk dipangkuan Nyonya Salma.
Zeed?!
Bersambung ...