
Di dalam taxi, Queen segera mencegat pak supir taxi, sebelum lelaki paruh baya itu menginjak pedal gas melaju di jalanan kota. Dengan cepat dia mengambil seutas kain yang telah dia ikatkan pada tali tasnya, lalu dilingkarkan pada kepalanya untuk menutupi matanya.
Sabi turut membantu Queen mengikat kain itu, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun seolah sudah paham dengan keadaan Queen yang tidak bisa naik mobil jika tidak menutup matanya.
“Thankyou ...” ucap Queen, lalu mengalihkan pandangannya.
Sabi tak menyaut. Dia hanya mengangkat kedua pundakya bersamaan dengan kedua alisnya. Dia lalu melirik Queen yang terus diam, dengan kepala yang menghadap ke jendela mobil.
“Apa-apaan ini?! Mata tertutup tapi melihat ke jendela.” Gumam Sabi menyeringai.
Queen yang merasa dirinya disinggung oleh Sabi, segera memukul paha Sabi hingga membuat Sabi harus mengelus pahanya beberapa kali karena efek pedis yang Queen berikan di area pahanya.
Sabi membungkam mulutnya, berusaha tidak mengeluarkan suara apapun untuk membuat Queen tidak merasa menang karena berhasil membuatnya merasa sakit.
“Jangan mencari masalah denganku.” Ucap Queen dan Sabi tersenyum mendengarnya.
Mereka melalui jalanan kota yang padat dan sedikit macet. Terkadang Sabi membayangkan, akan seperti apa ibu kota ini dibeberapa tahun kedepan?! Tahun 2013 saja sudah semacet ini, bagaimana jika beberapa tahun ke depan. Sabi menarik nafasnya seolah sudah merasakan sesak, membayangkan betapa macetnya jalanan nanti.
Sabi melirik Queen, lagi. Lalu sebelah sudut bibirnya terangkat. Queen menoleh, seolah merasa dia sedang ditertawakan oleh Sabi.
“Kamu menertawakanku?”
“Perasaan.” Singkat Sabi, memalingkan pandangannya.
“Kamu menertawakanku barusan. Iya kan?!” Queen ngotot, menyiku lengan Sabi hingga membuat Sabi sedikit mendesah kesakitan.
“Aku tidak menertawakanmu.” Sabi sedikit membantah dan membalikkan tubuh Queen, kembali menghadap pintu mobil.
“Awas saja kamu menertawakanku.”
“Dasar anak ayam warna warni.” Timpal Sabi, mengejek Queen. Mengingat pakaian terakhir Queen yang menyala seperti warna anak ayam yang biasa dijual di sekolah atau dipasar.
Segera tangan Queen kembali menyerang paha Sabi, kali ini tangannya mencubit paha Sabi dengan kuat dan Sabi mengerang kesakitan berusaha melepaskan tangan Queen dari pahanya.
“Aaaaa ... sakit!!!!”
Queen tidak peduli, dan tersenyum menang mendengar rintihan Sabi. Pak supir pun semakin melajukan taxi yang mereka kendarai, menuju tempat yang biasa Queen tuju. Cafe Memories.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di daerah pantai tempat Cafe Memories berada. Tanpa berlama-lama Sabi segera turun dari taxi dan mengusap paha yang Queen cubit tadi.
“Oh iya.” Seru Sabi, yang hampir lupa membayar ongkos taxi.
Setelah dia membayar ongkos taxi, Queen masih belum keluar dari dalam taxi. Sabi menundukkan sedikit tubuh tingginya, mengecek keadaan Queen yang masih belum keluar dari dalam taxi.
Disana terlihat, Queen seperti kesusahan untuk membuka ikatan penutup matanya. Sabi tersenyum melihatnya, karena Queen terlihat seperti anak kecil yang sedang kesusahan membuka sesuatu.
Sepertinya dia bukan hanya tidak tau mengucapkan terimakasih, tapi dia juga tidak tau mengucapkan minta tolong. Gumam Sabi, pergi menghampiri Queen.
Sabi membukakan pintu taxi dan sedikit membungkuk, mendekatkan dirinya dengan Queen yang masih duduk berusaha membuka ikatan penutup matanya. Lagi-lagi dia tersenyum melihat Queen, seolah bibirnya tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum saat dekat dengan Queen.
“Biru ...” Gumam Queen yang merasakan kehadiran Sabi.
“Hm ...” Sahut Sabi, menyingkirkan tangan Queen dari kain yang menutup matanya.
Dengan cekatan, Sabi membuka ikatan pada kepala Queen dan Queen terlihat seperti anak kecil yang diam dan pasrah, menyerahkan semuanya pada Sabi.
Sabi menyodorkan kain penutup mata itu pada Queen, lalu diam menatap Queen seolah sedang menunggu sesuatu.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Minggir!” Ucap Queen, menatap tajam Sabi.
“Hmm ... sudah ku duga.” Sabi memanyunkan bibirnya, dan mundur menjauh dari pintu taxi.
Queen keluar dari taxi, menatap Sabi yang terlihat seperti sedang cemberut. Queen rasanya ingin tertawa melihat Sabi yang terus memanyunkan mulutnya. Tapi rasa gengsinya masih tinggi untuk menertawakan Sabi, setelah apa yang tadi dilakukan Sabi padanya.
“Dasar bebek!” Seru Queen, sembari berjalan menabrak sedikit lengan Sabi.
Sabi melirik Queen yang duluan berjalan di depannya dan mengikuti Queen dari belakang. Mereka berdua lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah marahan dan sedang saling merajuk.
Di dalam cafe, mereka duduk ditempat mereka duduk dulu. Mata Sabi menyapu seluruh ruangan cafe itu. Bulu kuduknya sedikit berdiri, mengingat kejadian terakhir kali dirinya masuk ke cafe ini.
Kenapa dia suka sekali masuk ke cafe ini?! Gumam Sabi, menatap satu persatu pelayan cafe yang sedang mengantar makanan pada pengunjung.
“Ada apa denganmu?” Seru Queen yang menyadari gelagat aneh Sabi.
“Kenapa kamu suka skali datang kesini?” Sabi balik bertanya.
“Kenapa memangnya?” Timpal Queen.
“Aku tidak suka cafe ini.” Ucap Sabi dengan sedikit berbisik pada Queen.
Queen terkekeh mendengar ucapan Sabi. Sangat terlihat jelas, bahwa sekarang Sabi sedang ketakutan. Ingin rasanya dia berkata bahwa Sabi adalah penakut yang handal. Namun dia mencoba menahannya, untuk tidak ribut dengan Sabi disini. Perutnya sudah terlalu lapar untuk mengeluarkan lebih banyak tenaga karena bertengkar dengan Sabi.
“Terserah kamu. Siapa suruh tadi kamu yang memintaku memilih tempat makan.” Queen menatap Sabi dengan tatapan mengejek.
Sabi menaikkan sebelah bibirnya. Bagaimanapun Queen memang benar, salahnya sendiri yang menyuruh Queen memilih tempat makan. Sekarang dia tidak akan meminta Queen memilih tempat makan lagi, atau mereka akan lebih sering datang kesini.
Tiba-tiba suara ponsel Sabi, berdengung. Disana terlihat ada sebuah pesan dari John.
*Kamu dimana?
Sabi meraih ponselnya dan membalas, memberitahu posisinya di sebuah Cafe dekat pantai.
*Bersama siapa? Sekertarismu?
Belum saja Sabi meletakkan ponselnya, pesan John sudah masuk secara beruntun.
*Jadi bagaimana perkembangannya?
*Ceritakan padaku!
Sabi menarik nafasnya dalam, saat melihat isi pesan John seperti orang yang tidak sabaran. Dengan malas, Sabi memintanya untuk datang saja ke Cafe Memories dan makan siang bersamanya karena Sabi bukan tipe yang suka mengetik pesan dengan panjang lebar. Hal itu terlalu memuakkan dan melelahkan baginya. Jadi, lebih baik bertemu dan bicara secara langsung.
*Baiklah, tunggu aku disana. Aku tidak sabar mendengar ceritamu tentang sekertaris itu.
*Oh iya, dan pesankan aku satu porsi makanan apa saja untuk makan siangku. Oke?!
*Dengan air putih dan es jeruk tentunya!
*Jangan lupa!
Sabi sekali lagi menarik nafas panjang saat melihat isi pesan John. Tanpa membalas satupun pesan dari John, Sabi langsung menyimpan kembali ponselnya dalam kantong jasnya. Dia lalu mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya John muncul dengan wajah yang berseri-seri masih lengkap dengan pakaian kerjanya. Jas berwarna merah dengan dalaman kemeja bermotif bunga, serta celana panjang yang juga sama terangnya dengan warna jasnya. Tak lupa kaca mata hitam yang belum dilepaskannya.
“Andi Sabiru ...” John dengan pedenya memanggil Sabi dengan kuatnya, seolah tidak memperdulikan pengunjung lain yang menatapnya aneh.
Sabi mendesis kesal, alisnya pun berkerut. Dia sudah bisa menebak bahwa orang yang memanggilnya tidak lain dan tidak bukan adalah John, teman baiknya yang tingkat kepercayaan dirinya hampir setara dengan Queen.
Sabi melirik ke asal suara, dengan tatapan yang sedikit terkejut saat melihat pakaian yang dikenakan John.
“Ada apa dengannya?!” Gumam Sabi dengan alis yang sebelah naik, menatap John dengan ekspresi wajah antara bingung dan juga malu.
“John ...” Gumam Queen yang menyadari kehadiran John.
John berjalan dengan pedenya, mendekati meja tempat Sabi dan Queen duduk. Disana, hanya ada dua kursi dengan sebuah meja bundar yang sedikit besar. Tanpa berpikir panjang, John segera menarik kursi kosong yang bisa diraihnya dan dibawa ke meja tempat Sabi dan Queen berada.
“Queen Lee ...” John sedikit terkejut melihat kehadiran Queen disana dan bukannya Zulaikha seperti yang ada dalam bayangannya.
“Hy ... aku suka gayamu hari ini. Sangat fresh.” Puji Queen, melirik pakaian yang dikenakan John.
Tak seperti Sabi yang tidak begitu menyukai warna terang dan aneh, Queen justru menyukai sebuah gaya yang sedikit nyentrik atau aneh. Baginya orang yang berani tampil beda seperti John dan dirinya adalah orang yang memiliki jiwa adrenalin yang hebat, karena berani tampil beda diantara kebanyakan orang yang terlihat sama karena takut akan kritikan.
“Oh .. thanks. Kamu memang seorang desainer sejati. Bisa melihat gaya dibalik seleraku yang aneh.” John melepaskan kacamata hitamnya, lalu megedipkan sebelah matanya dan tersenyum oada Queen.
“Jadi kamu sadar apa yang kamu pakai itu aneh.” Sabi mendesis, menahan tawanya.
“Diam kamu!” Timpal John, mendorong tubuh Sabi dan Sabi hanya diam dan pasrah.
“Bagaimana bisa?!” John tersenyum melirik Sabi dan Queen secara bergantian.
“Apanya?” Tanya Queen yang sedikit bingung.
“Kalian berdua ...” John menunjuk Queen dan Sabi secara bergantian, seolah masih belum percaya dengan pemandangan yang dilihatnya ini.
Rasanya seperti belum lama John melihat Sabi dan Queen bertengkar hebat di hotelnya, dan sekarang mereka berdua terlihat makan siang berdua dengan akurnya. John tidak bisa berhenti berdecak kagum melihat kedua orang itu yang terlihat akur sekarang.
“Kami tidak seakur ini. Kami hanya sekedar makan siang bersama karena satu tim dalam proyek Paman Eddie.” Sabi berusaha menjelaskan pada John untuk tidak terlalu berekspektasi tingi padanya dan Queen. Karena mereka berdua memang belum murni akur jika bertemu, pasti masih ada saja yang akan membuat mereka bertengkar atau saling adu mulut. Namun jika tidak begitu, rasanya seperti ada yang kurang.
John mengangkat kedua alisnya, dan mengangguk-angguk seolah paham dengan apa yang dikatakan Sabi. Padahal dalam pikirannya, dia masih berekspektasi tinggi tentang hubungan akrab Sabi dan Queen.
“Terserah kamu John.” Timpal Sabi yang merasa lelah meyakinkan John. Karena se kompleks apapun Sabi menjelaskan itu pada John, jika John masih mangut-mangut tanpa bantahan itu artinya apa yang dikatakan Sabi belum cukup masuk akal dipikiran John.
“Santailah ...” seru John, menepuk pundak Sabi beberapa kali.
“BTW dimana sekertarismu? Kenapa dia tidak terlihat?!” John melihat ke sekitar, berusaha mencari keberadaan Zulaikha.
“Iya, kenapa kamu tidak mengajaknya makan siang bersamamu?!” Timpal Queen.
“Dia pergi makan siang sendiri.” Sabi tersenyum mengangkat kedua bahunya.
“Ada apa denganmu? Bukankah seharusnya kamu harus lebih mendekatkan diri dengannya? Dia adalah kunci!” Sahut John dengan sedikit membentak.
Queen terus menyimak meskipun dia merasa ada sesuatu yang aneh tentang pembicaraan John dan Sabi.
“Aku sudah tau.” Sabi mengusap wajahnya, merasa sedikit frustasi ketika membahas Zulaikha yang ternyata teman masa kecilnya dulu.
“Tau apa?” John melirik Sabi, dengan sedikit mengangkat sebelah alisnya dan Queen mengalihkan pandangannya ke tempat lain seolah tidak peduli, padahal telinganya fokus mendengarkan.
“Dia adalah teman masa kecilku dan yang selalu ada dalam mimpiku.” Jawab Sabi, spontan. Lalu melirik Queen yang ada di depannya. Alangkah terkejutnya dia, baru menyadari ternyata ada Queen bersamanya.
Bagaimana bisa dia lupa kehadiran Queen dan dengan gamblangnya menceritakan Zulaikha dan mimpi buruknya di depan Queen.
Bodoh!!!! Sabi mengutuk dirinya sendiri yang sembrono.
“Wah bagus itu!” John menjentikkan jarinya dengan penuh semangat 45. “Lalu bagaimana kelanjutannya? Apakah dia sudah tau tentangmu yang selalu memimpikannya?!”
Sabi membungkam mulutnya, dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Rasanya dia juga ingin membungkam mulut John yang terus terusan blak-blakan di depan Queen.
“Hey ... jawab!” John mendorong tubuh Sabi, terus memaksa Sabi untuk menjawab pertanyaannya.
Sabi terus diam, membungkan mulutnya dan melirik John sambil membersarkan matanya. Sesekali matanya menunjuk ke arah Queen, memberitahu John, bahwa ada Queen. Namun John tidak mudah peka dengan kode seperti itu.
John terus memaksa Sabi dan menggoda Sabi untuk menjawab pertanyaannya. Sepertinya lagi-lagi John berekspektasi tinggi tentang hubungannya dengan Zulaikha. Sabi bisa melihat itu dari keantusiasan John yang ingin tahu jawaban dari pertanyaannya.
Sekali lagi, Sabi menarik nafas panjang dan menendang tulang kering John. Dia tidak punya pilihan lain selain menendang kaki John. Daripada Queen akan tahu semakin dalam tentang mimpi buruknya yang ada sangkut pautnya dengan Zulaikha. Lebih baik dia membungkam John dengan membuat teman baiknya itu tersakiti, seperti yang dia lakukan sekarang.
“Aaakhh ... ada apa denganmu, haahh?!!!” John terus mengerang kesakitan sambil terus memaki Sabi yang menendang tulang keringnya.
Queen yang berusaha acug tak acuh namun terus menyimak jadi merasa sedikit terkejut ketika melihat kaki John yang ditendang oleh Sabi. Segera Queen sadar, bahwa percakapan yang mereka lontarkan tadi adalah rahasia diantara mereka berdua. Namun entah ada angin apa sampai membuat pembicaraan itu jadi bocor dengan mudahnya seperti ini.
Bersambung ...