FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
49. Perkara Bunga



“Queen..” teriak Sabi histeris, ketika melihat darah mengalir dari hidung Queen.


Dia segera menarik Queen dan meremas kuat pundak Queen, menjaga agar gadis itu tidak terjatuh pingsan karena habis menabraknya. Begitulah dipikiran Sabi.


“Wa wa what?!” Queen nampak terlihat bingung dengan respon Sabi yang sedikit berlebihan.


“Darah!”


Gawat! Aku harus cepat pergi dari sini.


Queen langsung segera berusaha melepaskan dirinya dari cengkaraman tangan Sabi. Meskipun agak kesulitan, karena tubuhnya yang semakin melemah.


“Lepaskan aku.” Ucap Queen mulai tak bertenaga.


“Kenapa? Kamu mau kemana? Kita ke rumah sakit saja.” Tanya Sabi, yang semakin mempererat cengkaramannya sehingga membuat Queen semakin kewalahan melepaskan dirinya.


“Tidak, tidak usah! Tidak perlu ke rumah sakit. Ini.. ini...” Queen berusaha mengelak, namun dia bingung harus beralasan apa. Tenanganya juga mulai melemah.


Sial! Apa yang harus aku lakukan?! Aku tidak boleh memancing perhatian. Lagian dimana sekertaris itu? Kenapa dia membiarkan bosnya berjalan sendiri?! Jika ada dia, aku akan mudah melepaskan diri.


“Ini apa?” Tanya Sabi, yang masih panik.


“Mana sekertarismu?” Queen berusaha mengalihkan topik.


“Aku menyuruhnya menyebar proposal untuk rapat, sebentar lagi dia akan ke sini. Untuk mengantar proposal ke ruangan kerja Zayn.” Jawab Sabi.


“Oh itu dia, Zayn..” panggil Sabi, yang tumben sekali mau menyapa Zayn seperti memanggil seorang teman.


Zayn dan Ridwan menoleh. Melihat penuh dengan tanda tanya di kepala mereka.


Kesambet angin apa dia?! Tumben sekali memanggilku seperti itu. Gumam Zayn.


“Kamu mau kemana? Aku baru saja mau masuk ke ruanganmu, mengantar proposal untuk rapat bersama Paman Edie.” Imbuh Sabi.


Ciih... apakah aku tidak salah dengar? Tumben skali dia produktif. Tunggu. Bukankah itu... Gumam Zayn yang sedikit terkejut melihat Queen yang sangat dekat dengan Sabi.


Astagah.. bagaimana ini?! Zed tidak boleh melihatku seperti ini! Rengek Queen dalam hatinya, lalu meremas lengan Sabi kuat, berusaha mendapat perhatian Sabi.


Sabi menoleh pada Queen. Darah yang keluar dari hidung Queen semakin banyak. Hal itu membuat Sabi semakin panik.


“Queen. Da_”


“Ayo kita pergi.” Queen menarik lengan Sabi, menjauh dari Zayn dan Ridwan yang mulai berjalan mendekati mereka.


“Hm.. kenapa mereka langsung pergi? katanya mau mengantar proposal, tapi pergi. Dasar tidak jelas.” Seru Ridwan, menatap punggung Sabi dengan tatapan tak suka. Apalagi melihat punggung Queen, dia seperti jengkel teramat dalam pada gadis yang membuatnya merasakan kekalahan dan malu disaat yang sama.


Zayn hanya diam, melihat mereka berdua pergi meninggalkan perusahaan dengan sangat lengketnya dan saling menggandeng. Tak lupa adegan tarik - menarik dan dorong mendorong, terlihat seperti dua orang bocah yang akrab sedang bermain bersama.


...........


Zulaikha masuk ke dalam ruangan Zayn, namun disana dia tidak menemukan siapapun. Baik Zayn, Sabi maupun Ridwan. Ruangan itu kosong, tanpa seorangpun.


Dimana mereka semua? Gumam Zulaikha menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.


Matanya tiba - tiba berhenti pada sebuah vas putih dengan bunga lily putih yang menghiasinya. Zulaikha mendekat dan menyentuh bunga itu lembut.


Ini bunga kesukaannya. Dulu, dia terkadang membawa bunga seperti ini setiap pulang ke rumah. Tidak ku sangka, aku melihat lagi bunga ini. Tapi di tempat yang berbeda dan dengan suasana yang berbeda pula.


Zulaikha menarik keluar sebatang bunga lily itu lalu menghirupnya bau dari bunga itu perlahan.


Wah.. ini bunga hidup. Aku pikir hanya bunga hias. Tapi, diantara banyaknya bunga yang populer, kenapa dia memilih bunga ini? Ini bunga apa yah?


“Letakkan itu!” Seru Bunga yang tiba - tiba datang memasuki ruangan Zayn.


Zulaikha terperanjat kaget dan menjatuhkan setangkai bunga lily itu.


“Kenapa kamu menyentuh barang orang tanpa izin, hah?! Dasar tidak tau malu.” Bentak Bunga, menatap Zulaikha dengan tatapan tak suka.


“Ma maaf. Aku pikir tadi bunga ini hanya bunga plastik, ternyata bunga asli.”


“Hah?! Maaf? Sekarang kamu makin ngelunjak yah. Kamu pikir karena kamu menjadi sekertaris pribadi dari Sabiru, kamu bisa melakukan apa saja yang kamu suka termasuk mengecek bunga di ruangan orang secara sembarangan?!” Bunga mulai berjalan mendekati Zulaikha, dengan tatapan sinisnya.


“Mau bunga asli kek atau bunga hidup skalipun. Kamu tidak boleh menyentuh barang - barang di sembarang ruangan di kantor ini. Apalagi ini ruangan kerja Zayn. Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?!” Imbuh Bunga, menarik tangan Zulaikha dengan kasar lalu di remasnya kuat.


“Maaf.. maaf atas kelancangan saya.” Tutur Zulaikha, membungkukkan tubuhnya beberapa kali, meminta maaf pada Bunga yang sama skali terlihat tidak menerima satupun permintaan maaf Zulaikha.


“Keluar kamu dari ruangan ini! Keluar...” Bunga menarik paksa Zulaikha keluar dari ruangan Zayn, memperlakukan gadis itu seperti orang yang ketahuan sedang mencuri.


“Keluar! Orang sepertimu tidak pantas diperlakukan dengan baik.” Bentak Bunga, mendorong tubuh Zulaikha hingga keluar dari ruangan Zayn.


“Bunga!” Bentak Zayn, yang menyaksikan tindakan kasar Bunga pada Zulaikha.


Beberapa staff yang sedang lewat langsung melirik ke arah keributan.


“Zayn..” seru Bunga, yang jadi salah tingkah karena Zayn yang tiba - tiba muncul entah darimana.


Zayn segera menghampiri Zulaikha yang tersungkur di lantai karena di dorong oleh Bunga. Zayn juga membantu gadis itu berdiri, lalu menarik lengan Bunga keluar dari ruangannya.


“Zayn.. apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu kasar skali padaku?!” Rengek Bunga, yang merasa malu dilihat oleh Zulaikha dan juga staff lainnya.


“Aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan padanya.” Ucap Zayn, tegas.


“Zayn... kamu tidak sepatutnya memperlakukan ku seperti ini. Aku memperlakukannya seperti itu karena dia salah. Dia menyentuh bunga mu dengan sembarang tanpa seizinmu, karena aku tau kamu tidak suka jika barang - barangmu disentuh oleh orang lain apalagi bunga putih itu.” Bunga berusaha menjelaskan pada Zayn, dengan memasang wajah memelas dan nada suara yang rendah.


“Bagaimana kamu tau?” Tanya Zayn.


“Aku tau segalanya tentangmu. Karena aku terus mencari tau tentangmu, agar bisa memahamimu dan kamu bisa nyaman jika berada didekatku.” Jawab Bunga dengan percaya diri dan berusaha mendapatkan simpati Zayn.


Jujur saja Zayn sedikit syok dengan pernyataan Bunga, bahwa dia selalu mencari tau semua tentang dirinya. Bukannya malah simpati, Zayn justru semakin emosi. Karena bagi Zayn, kehidupannya adalah privasi hingga tidak boleh ada seorangpun yang mencari tau tentang kehidupannya.


“Jika kamu sudah tau segalanya tentangku, berarti kamu tau bahwa kehidupan pribadiku adalah privasi! “ Bentak Zayn tak terima dengan tindakan Bunga, yang mencari tau segala hal tentang hidup Zayn.


“Za zayn.. jangan marah. Aku melakukan itu karena aku mencintaimu. Sebesar itu aku mencintaimu, sampai aku seperti itu.” Bunga langsung mendekati Zayn, dan meraih tangan Zayn. Mengelusnya lembut, berusaha mendapatkan maaf dari Zayn.


“Pergi sekarang kamu dari sini! Dan jika kamu masih punga malu, jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku!” Zayn menghempaskan tangan Bunga dengan kasar, dan mendorong tubuh Bunga agar menjauh darinya.


“Aku benci wanita yang sepertimu!” Imbuh Zayn, tegas da menatap Bunga dengan tatapan benci.


“Dan kamu.” Zayn menunjuk Zulaikha yang terdiam menyaksikan perdebatan antara Zayn dan Bunga.


Segera Zulaikha menelan salivanya yang terasa keras, karena takut dimarahi Zayn akibat menyentuh bunga putih yang ada di ruangan Zayn.


Menyentuh saja akan dimarahi, apalagi jika Zayn melihat salah satu tangkai bunga putih nya jatuh ke lantai karena Zulaikha mengeluarkannya tadi dari vas.


Matilah aku! Zulaikha kembali menelan salivanya.


“Berani - beraninya kamu menyentuh barangku tanpa seizinku!” Bentak Zayn, pada Zulaikha yang mulai terlihat pucat.


“Ma maaf tuan. A aku hanya ingin_”


“Tidak usah banyak alasan! Apapun alasanmu, kamu tetap salah. Karena menyentuh barangku tanpa izin. Aku benci dengan orang yang seperti itu. Pergi kamu!” Ucap Zayn menatap dingin Zulaikha.


“Baik tuan. Tapi ini proposal_”


Tanpa berkata - kata, segera Zayn meraih proposal itu lalu merobek proposal itu hingga menjadi beberapa potongan kecil.


Hahh?! Zulaikha menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Bunga dan staff lainnya pun ikut menganga tak percaya dengan sikap Zayn yang benar - benar tak berperasaan jika sedang marah.


Proposal yang sudah dirobek - robek hingga menjadi beberapa potongan, dilemparkan tepat di depan wajah Zulaikha. Hingga membuat gadis itu, terdiam seperti batu. Menahan rasa malu sekaligus rasa sakit hati karena diperlakukan dengan buruk di depan banyak orang.


“Enyah kamu dari hadapanku!” Ucap Zayn, lalu masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintunya dengan kasar, hingga membuat semua orang kaget dengan bantingan pintunya.


“Wah.. wah, wah...” Seru Bunga sambil bertepuk tangan takjub melihat Zulaikha beserta proposalnya yang berceceran di lantai.


“Setidaknya aku tidak malu sendiri.” Imbuhnya diiringi gelak tawa, lalu meninggalkan Zulaikha yang mematung.


“Kasihan sekali dia.”


“Iya kasihan sekali yah. Padahal dia sekertaris yang hampir sempurna loh. Tapi ternyata.. hmm. Kasihan.”


“Apa kata tuan Andi Sabiru nanti, jika dia tau proposal rapatnya dirobek seperti itu.”


“Itu sangat memalukan. Pasti!”


Seru beberapa karyawan yang melewati Zulaikha dan menatapnya dengan tatapan kasihan.


Hati Zulaikha sudah sakit atas perlakuan Bunga dan Zayn padanya. Mendengar ucapan karyawan lain yang menatapnya dengan sorotan mata kasihan, membuat hatinya bertambah sakit atas hidupnya yang tidak begitu beruntung.


Air matanya mulai menetes. Segera dia berjongkok dan menunduk, mengambil robekan kertas proposal yang berserakan di lantai, untuk menutupi air matanya yang berjatuhan semakin deras membasahi pipinya.


............


Sabi mengambil sapu tangan dari saku jasnya, lalu mengelap darah yang keluar dari hidung Queen secara perlahan.


Sementara Queen tetap diam, memperhatikan Sabi.


“Tunggu. Aku telfon supirku dulu.” Sabi mengentikan aktivitasnya membersihkan mimisan dan mencoba mengambil handphone nya yang ada di saku jasnya.


“No. Biar naik mobilku saja.” Queen menarik lengan Sabi. Berusaha mencegat Sabi untuk melakukan hal itu.


“Mobilmu? Kamu sudah punya mobil?” Sabi melirik Queen heran.


Queen juga melirik Sabi dengan tak kalah herannya.


Sial! Apakah dia pikir selama ini aku miskin karena menumpang di rumahnya?!


“Aku sudah punya sejak pertama kali kakiku berpijak disini.” Jawab Queen dengan tegas.


“Oh.. aku pikir kamu tidak punya mobil.”


“What?!” Queen melepaskan tangannya dari lengan Sabi dan menatap lelaki yang ada di sebelahnya itu.


“Jangan bilang kamu lupa bahwa aku anak muda terkaya urutan ke 5 di dunia.” Imbuh Queen, sambil mengangkat kelima jarinya, tepat di depan wajah Sabi.


“Eh ey... tidak perlu sampai segitunya juga.” Sabi menepihkan tangan Queen dari wajahnya.


Bersamaan dengan itu, mendadak tubuh Queen ambruk dan dengan cepat Sabi meraih kembali tangan Queen yang sempat dia tepihkan tadi. Lalu dengan cepat Sabi menarik tubuh Queen, yang sudah melemah masuk ke dalam pelukannya.


“Queen..” panggil Sabi, menepuk - nepuk pipi Queen. Berusaha menyadarkan Queen.


“Hey Queen... Queen..” sekali lagi Sabi memanggil Queen, dan terus menepuk - nepuk pipi Quee. Namun Queen tetap tak kunjung sadarkan diri.


Bersambung...