FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
4. Dia Aneh



Setelah Bunga membuat ruangan wawancara sedikit heboh dengan hentakkan kakinya yang kuat dan penuh semangat, Sabi terkejut lalu diikuti sedikit tawa yang keluar dari mulutnya. Pamannya yang berada tepat disebelah kanan tempat duduknya menyorotinya dengan tatapan tajam.


Sabi tertegun saat menyadari bahwa pamannya Andi Syafar mengamatinya, segera dia membungkam mulutnya. "O'oow" serunya.masih dengan ekspresi menahan tawa.


Mendadak mata Paman menyipit dan terkekeh kecil, Sabi pun sontak ikut terkekeh melihat pamannya yang terkekeh. Selera humor mereka sangat receh, hal kecilpun bisa membuat mereka tertawa bahkan disaat - saat yang serius seperti ini.


Siapa yang berani menegur Paman Andi Syafar kalau ingin tertawa, Ketua/pemimpin Mall W skalipun tidak pernah melarangnya untuk tertawa jika dia ingin. Bukan hanya karena posisi jabatannya sebagai CEO sehingga tidak ada yang berani menegurnya melainkan dia juga merupakan putra satu - satunya dari ketua/pemimpin Mall W dan meskipun dia seorang CEO, Andi Syafar selalu mengizinkan untuk dipanggil Paman oleh Sabi karena Sabi adalah satu - satunya keponakannya yang tersisa.


Sangat jarang bagi seorang CEO untuk ikut berpartisipasi dalam sesi wawancara pegawai. Namun bagi Andi Syafar sesi wawancara adalah sesi yang tidak boleh dia lewatkan ketika dia sedang dalam masa terpuruk dan depresi dengan pekerjaannya di kantor. Dia selalu senang melihat tingkah gugup para pelamar kerja. Baginya itu adalah sebuah komedi yang memancing hormon bahagianya. Sungguh selera humor yang aneh.


"Dia sangat bersemangat, sepertinya aku menyukainya." Bisik paman sambil tersenyum kecil.


"Ayolah... paman sudah tua, jangan menyukai wanita muda. Ingat anak istrimu di rumah." Balas Sabi berbisik ke telinga pamannya.


"Bukan itu maksud paman Sabi... aku menyukainya untuk menjadikannya sekertarisku, bukan sebagai ibu tiri dari anak - anakku. Lagian aku tidak mau nanti di rumahku terjadi drama seperti yang di film - film. Dia mengambil hartaku dan mengusirku dari rumah beserta anak - anakku dan kemudian kami menjadi gembel yang mengenaskan. Setelah kami menjadi gembel, aku bertemu kembali dengan istriku yang ternyata sudah sukses dan bahagia setelah aku telantarkan.. uuuuh.. itu mimpi buruk!" Jelas Paman Andi Syafar dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.


Sabi kembali terkekeh mendengar ucapan pamannya yang benar - benar telah dipengaruhi oleh sinetron. "Inilah manfaat dari sinetron di televisi, mereka bisa mendoktrin pikiran pamanku sehingga paman lebih memilih setia dibanding harus mengalami mimpi buruk." Seru Sabi sambil terkekeh geli.


Disaat Sabi sedang asik - asiknya terkekeh bersama pamannya, didepan mereka berjejer 5 orang pelamar kerja namun 4 diantaranya dari tadi terus menyorot Sabi dan Paman yang asik bercerita sambil terkekeh geli.


"Apakah dia seorang direktur? dia tidak terlihat seperti seorang direktur, bisa - bisanya dia bergosip ditengah - tengah sesi wawancara.." Cetus seorang pelamar wanita.


"Aku sependapat denganmuu.." Sambung Zulaikha yang masih menganga tak percaya melihat tingkah seorang direktur yang tidak bisa menjaga karismanya didepan calon pegawai baru.


"Kenapa bukan dia saja yang menjadi direktur pengelola senior?!" Seru Bunga yang masih menatap Zayn dengan senyum yang merekah - rekah. Zulaikha sontak segera menyorot Zayn dengan tatapan menyelidik.


"Dengan wajah tampan, karismatik, dan juga berwibawa. Bukankah dia lebih dari cukup untuk menjadi seorang direktur pengelola senior?! yaah meskipun dia sekarang turun jabatan jadi wakil direktur biasa, aku tetap padamu paaak.." sambung Bunga.


Zulaikha refleks mengangkat kedua alisnya ketika mendengar ucapan Bunga. Sepertinya dia sedikit terkejut dengan fakta yang barusan dia dengar. Jika ditimbang - timbang kembali, memang Zayn yang lebih cocok untuk menjadi seorang direktur pengelola senior dibanding Sabi yang suka bergosip dan cengengesan tak jelas.


"Dasar orang kaya!" keluh Zulaikha melirik Sabi yang masih asik bergosip dengan CEO Andi Syafar.


Disaat yang bersamaan Sabi tiba - tiba mendongakkan kepalanya melihat kedepan. Dia mendapati Zulaikha yang sedang meliriknya, dia segera mengedipkan sebelah matanya pada Zulaikha.


"aa?!" seru Zulaikha yang kaget melihat direktur Sabi mengedipkan mata padanya. Zulaikha segera mengalihkan pandangannya. Merasa malu sekaligus juga kesal karena dia tidak bisa memasang wajah datar ketika mendapatkan kedipan mata dari direktur tampan.


"Heyyy.. berhenti menggodanya. Kamu akan membuatnya semakin gugup tau!" bisik Paman pada Sabi.


"Siapa suruh dia terus menatapku, anggap saja ini hadiah atas kegagalannya." jawabnya santai.


"Jadi kamu sudah putuskan untuk mengeliminasinya? tanpa harus melihat hasil seleksinya selama beberapa hari ini?!"


"ho'oo.."


"kenapa? bisa saja dia sekertaris yang cocok dan sesuai dengan seleramu yang tinggi." Paman mulai penasaran dengan jalan pikiran keponakannya yang tidak jelas.


"lihatlah paman, dia sangat membosankan. Gayanya, tatapannya, gaya duduknya.. Tidak ada yang menarik, dia membosankan! Aku bisa - bisa mati kebosanan karena harus bersamanya dalam beberapa jam." Jelas Sabi sambik melirik Zulaikha dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"dan orang yang harusnya jadi sekertarisku adalah orang yang menyenangkan, tidak kaku dan membosankan seperti dia!" Sabi menunjuk Zulaikha dengan ujung matanya.


"Tapi dia sudah berhasil masuk sampai dibabak terakhir berarti dia termasuk handal. bukankah kamu mencari pemenang dari babak terakhir ini? karena.. yang berhasil lulus yang menjadi sekertaris terbaik seperti yang kamu minta." jelas Paman yang berusaha menyadarkan pikirannya yang mulai tidak jelas.


"ayolah paman... itu hanya formalitas!" jawabnya dengan enteng.


"Yaa ampuuuun..." seru Paman disusuli gelak tawa. "Aku pikir kamu sudah berubah, ternyata kamu masih sama seperti dulu! kurangajar dan tidak jelas!" Segera Paman memukul kepala Sabi dari belakang secara terang - terangan didepan para pelamar.


Sabi mengelus - elus kepalanya sambil terkekeh geli melihat pada pamannya yang telah berdiri merapikan jassnya.


"Zayn.. mohon bantuannya yaa.." ucap paman sambil melirik Zayn.


Zayn yang menyadari namanya disebut segera menoleh dan mendapati dirinya sementara dilirik oleh CEO Andi Syafar.


"Baik pak.." sahutnya sambil menganggukkan kepalanya.


Sabi segera melirik Zayn dengan ujung matanya. Sementara pamannya CEO Andi Syafar melangkah pergi meninggalkan ruang wawancara.


"kalau begitu pergilaaah... aku juga tidak membutuhkan bantuanmu disini!" Balasnya sinis sambil melirik Zayn dengan ujung matanya.


"Sayang sekali.. tapi Pak Andi Syafar meminta bantuanku untuk membantumu, karena dia tau kamu tidak akan bisa tanpa bantuanku." Balas Zayn masih dengan posisinya yang sibuk melihat hasil tes seleksi pelamar kerja.


Hahh?! Apa? tidak bisa tanpamu? kamu pikir kamu udara? sehingga aku akan mati tanpamuu?! Sial!


"kalau begitu lakukan tugasmu dengan benar!" Sabi menatap Zayn sambil tersenyum meskipun hatinya sedang menggerutu dan mengutuk Zayn.


Setelah melewati berbagai macam cobaan, dari menyaksikan direktur bergosip dengan CEO, direktur mendapatkan pukulan di kepala dari CEO, percekcokan antara direktur dan wakilnya, rasanya seperti sedang menyaksikan drama kantor - kantoran yang tidak jelas dan akhirnya yang ditunggu - tunggu sesi wawancara yang sebenarnya akhirnya dimulai.


Zayn mengambil langkah awal untuk segera memulaikan sesi wawancara. Kerena menunggu Sabi mungkin akan ada drama kantor - kantoran episode ke 2, barulah sesi wawancara akan dimulai.


Hanya selang beberapa menit, wawancara sesi pertama selesai. Bunga berdiri dan menatap lekat Zayn yang masih mencoret - coret kertas yang ada di depannya. Sekertaris setia Zayn memberi kode pada Zayn untuk menengok kedepan, karena sepertinya Bunga tidak akan beranjak sebelum Zayn melihatnya.


Zayn segera mendongak ke depan, mendapati Bunga yang berdiri tak jauh didepannya, sambil menggulung - gulung rambutnya dengan tatapan menggoda.



Zayn melihat Bunga dengan tatapan datar. "Sesi wawancara telah selesai, segera tinggalkan ruangan ini karena peserta sesi kedua akan segera masuk." Ucapnya sambil mengalihkan pandangannya pada kertas didepannya yang dia anggap lebih penting daripada memandangi gadis tidak jelas yang hanya membuang - buang waktunya untuk melihatnya berdiri.


Apa? hanya itu? heeey....pujilah kecantikanku!


gumam Bunga yang kesal karena tidak diperhatikan dengan baik - baik.


Zayn memberi kode pada sekertarisnya untuk mengantar Bunga ke pintu keluar. Segera sekertarisnya bergerak mendekati Bunga.


Bunga segera menjauhkan dirinya dari sekertaris Zayn. "Apaansih? aku bisa pergi sendiri!" menatap jijik sambil berlalu meninggalkan ruangan dengan berlenggak lenggok ala model yang sedang berjalan diatas panggung.


"Hahahaha... dia lucu!" Sabi tertawa melihat tingkah Bunga. "Hey.. ambillah dia menjadi sekertarismu!" Goda Sabi.


"Aku sudah punya satu sekertaris."


"Kamu harus meng upgrade sekertarismu, sekertarismu terlalu amat sangat membosankan, makanya kamu juga ikut membosankan karena cahaya kebosanannya nular ke kamu!" ejek Sabi sambil cengingisan.


saya masih disini tuan muda, tidak bisakah anda mengatakannya dibelakangku saja?!


Ridwan diam dan tak bergeming.


"Ambillah salah satu pelamar tadi, atau ambillah gadis tadi untuk menjadi sekertarismu. Supaya hidupmu jadi lebih berwarna sedikit." Sabi Menyerahkan resume Bunga pada Zayn. "Terkadang lelaki membutuhkan wanita bukan?! untuk membuat hidupnya jadi lebih berwarna!" Sambung Sabi sambil tersenyum lebar menggoda Zayn.


Ridwan menepuk jidatnya melihat Sabi yang terus menggoda Zayn.


Tuan muda Sabi.. sayangnya tuan muda Zayn bukanlah seorang playboy seperti anda. Jadi berhentilah melakukan tindakan yang sia - sia karena itu semakin membuat anda terlihat bodoh dimata tuan muda Zayn.


"Aku tidak butuh sekertaris wanita untuk membuat hidupku jadi lebih berwarna." Ucap Zayn dingin sambil mendorong kembali resume yang disodorkan oleh Sabi. "Karena aku sudah memiliki seseorang seperti itu tanpa harus menjadikannya sekertarisku!" Zayn tersenyum sambil menyipitkan kedua matanya.


Apaaa?! si tiang listrik karatan punya wanita? wanita goblok mana yang mau dengan laki - laki yang membosankan seperti dirimu!


Sabi melotot tak percaya mendengar ucapan Zayn.


"Hahahaha... Hey.. berbohong itu ada batasnya! aku tau kamu laki - laki seperti apa. Tidak ada seorang wanita pun yang mampu denganmu! jadi jangan bercanda.. jangan plisss.. Hahahahaa.." Sabi tertawa geli sambil menepuk - nepuk bahu Zayn.


Akupun sependapat dengan tuan muda Sabi.. rasanya aku tidak pernah melihat bahkan mendengar anda berjalan dengan seorang gadis... Ya ampuun.. kalau begini ceritanya. perutku pun tertawa. Ridwan berusaha menahan tawanya untuk menghargai bossnya.


Zayn hanya diam menyaksikan Sabi yang terus menertawainya tanpa henti. Dia lalu melirik Ridwan dan mendapati Ridwan sedang menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.


"Hey.. aku tahu kalian mau tertawa, tertawalah... aku dipihak kalian!" Seru Sabi memancing gelak tawa para pewawancara lainnya yang ternyata berusaha menahan tawanya juga.


Sialan kamu Sabi... Gerutu Zayn.


Bersambung...