Febry & Feby

Febry & Feby
Kelahiran Sang Buah Hati



Sudah tiga tahun lama Febry dan Feby menjalin ikatan pernikahan, suka dan duka mereka hadapi bersama karena mereka sudah membuat komitmen sebesar apapun masalah yang mereka hadapi harus di selesaikan secara baik - baik dan jangan sampai ada kata - kata perpisahan.


Kini mereka tengah menunggu kehadiran sang buah hati yang sebentar lagi akan lahir kedunia. Selama masa kehamilan Febry selalu merasa hawatir pada istrinya yang begitu aktif bergerak. Sampai dia meminta tolong pada mama dan ibu mertuanya agar menemani Feby saat dia sedang bekerja.


" Ma, bu aku hawatir kalau meninggal Feby sendirian dirumah "


" Memangnya kenapa Feb ? "


Febry memijit kepalanya.


" Febry !! "


" Aduhhh gimana ya ma " Febry menjadi serba salah, karena Febry tidak ingin merepotkan mama dan ibu mertuanya.


" Katakan saja Feb ada apa ? " kata bu Siti.


" Aku hawatir sama Feby, soalnya dia aktif banget ! "


" Maksudnya ? "


" Feby tuh gak bisa diem banget, Febry sampe pusing sendiri "


" Emang ya itu anak ! "


" Tapi ibu jangan marahin Feby ya "


" Iya bu kita nasehatin Feby aja biar jangan terlalu aktif " sambung bu Irma.


Saat ini bu Siti ingin sekali memberi pelajaran pada anaknya itu. Raut wajahnya terlihat marah sekali.


" Ya bu, jangan marahin Feby ya "


" Huhhhhh " bu Siti membuang nafasnya perlahan.


" Iya iya ibu gak marahin istri mu "


" Memang Feby melakukan apa ? Sampai kamu hawatir ? " tanya bu Irma.


" Terakhir yang bikin aku syok dia naik motor ma, bu ! "


" Apa !? "


" Tanpa rasa bersalah dia jalan dekatin aku sambil senyum - senyum bawa 1 bungkus rujak "


" Ampun itu anak, padahal perutnya udah besar begitu gaka ada takutya sama sekali ! " bu Siti tambah geram dengan anaknya.


" Mau aku, kalau dia ingin rujak pesen online aja gitu, atau tunggu aku pulang kerja "


" Yaudah biar mama aja yang temani Feby di sini kalau kamu kerja "


" Ibu juga akan di sini "


" Aku gak mau merepotkan mama sama ibu "


" Merepotkan apanya si Feb ? "


" Ibu juga bakal bilangin Feby biar jangan ngeyel "


Tiba - tiba orang yang sedang di bicarakan datang bersama April.


" Ada apa ini ? Kok aku datang pada diem " Feby pun duduk di samping suaminya. Ibunya sudah memasah wajah yang menakutkan sampai Feby tak berani memandangnya. Lalu dia melirik suaminya yang megalihkan pandangannya.


" Mmm pasti si Febry ngadu sama ibu sama mama juga ! "


" Besok mama sama ibu temenin kamu disini ! "


" Kenapa ? "


" Karena kamu gak bisa diem ! " sahut bu Siti yang kesal denga anaknya.


" Sabar bu " bisik bu Irma.


" Tapi aku "


" Jangan membantah perintah suami mu ! " sahut lagi bu Siti.


" Kamu harus di awasi sayang karena usia kandung mu tinggal menghitung hari " kata bu Irma.


" Baiklah " mau tidak mau Feby menurutinya.


Setelah bu Irma dan bu Siti pulang daru rumah mereka. Feby langsung masuk kekamarnya dan berdiam diri disana. Febry yang sudah tau istrinya merajuk dia hanya diam saja.


" Orang lagi ngambek bukannya di baikin istrinya ini malah diem aja ! " begitu kata Feby.


Tak lama Febry pun masuk kedalam kamar membawa sesuatu.


" By " ucap Febry sambil menaruh brownies kesukaan Feby di meja dekat tempat tidur.


" Gak mood ! "


" Ihhh janga ngambek "


" Kamu ngapain ngadu sama ibu sama mama ? "


" Aku takut kamu kenapa - kenapa sayang "


Feby masih diam saja dan tidak mau menatap suaminya namun denga cepat Febry memeluknya.


" Aku gak mau kamu dan anak kita kenapa - kenapa. Tolong mengerti ya By "


" Iya, aku minta maaf ya "


" Aku maafin " Febry langsung mengecup bibir Feby.


" Ihhh kebiasaan ! "


" I love you too "


" Aku suapin ya " Febry mengambil brownise yang tadi dia bawa.


" Aku maka sendiri aja "


" Aku suapin aja ya "


" Yaudah terserah kamu sayang hehee "


Feby tak menyangka kalau Febry bisa seromantis itu. Padahal dulu waktu merekah hanya sekedar sahabat Febry bersikap biasa saja. Tetap perhatian padanya namun tidak pernah seromantis saat sudah menikah. Feby beruntung mendapatka Febry sebagai suaminya begitupun juga Febry.


Beberapa hari kemudian, Feby merasakan keram di perutnya. Rintihan Feby membuat bu Irma dan bu Siti panik bukan main. Bu Irma segera mengabari Febry yang sedang bekerja, setelah mendapatkan kabar dari bu Irma dengan cepat Febry menyusul mereka.


" Bu, sakit banget perut Feby "


Bu Siti hanya diam sambil megelus kepala Feby. Sebenarnya dia tak tega melihat anaknya kesakitan tetapi memang proses melahirkan seperti itu.


" Istigfar sayang mama yakin kamu pasti bisa " kata bu Irma memberi semangat.


" Ibu maafin Feby ya "


Feby menitihkan air mata sambil memegang tangan sang ibu. Feby merasa bersalah karena sering membantah pada ibunya yang sudah melahirkannya. Merasakan sakit dan bertaruh nyawa untuk dirinya.


" Ssttttt istigfar Feb " kata bu Siti yang tak mampu berkata - kata.


Tak lama Febry pun datang menghampiri Feby yang tengah merintih kesakitan.


" By "


Febry langsung terdiam melihat istrinya sedang menangis melawan rasa sakitnya.


" Bu, sebaiknya kita tunggu di luar saja ya " kata bu Irma yang tak tega melihat bu Siti sedih. Bu Siti pun memyetujuinya.


" Feb, mama sama bu Siti tunggu di luar saja ya, sekalian mau mengabari yang lain.


" Iya ma "


Semakin lama rasa sakit itu makin terasa, Feby pun tak segan memcengkram tangan Febry dengan kencang.


" By, aku pasti bisa, jangan menyerah By. Aku sayang kamu "


" Sakit banget Feb !!! "


" Maafin aku ya, kamu jangan menyerah By "


" Sakit !!! "


" By "


" Apa ihhh bawel banget ! "


" Santai - santai hehehe "


" Udah tau aku lagi kesakitan "


" Iya maaf hehee, galak banget "


" Ihhh " Feby malah mencubit Febry yang malah terkekeh.


" Awww sakit By "


" Sukur ! "


Beberapa menit kemudian bidan dan asistennya pun masuk untuk menangani persalinan. Feby megikuti perkataan bidan itu sambil tangannya menggenggam kuat tangan Febry. Melihat istrinya berjuang antara hidup dan mati Febry sempat menitihkan air mata namun secepatnya Febry menghapusnya dan memberi Feby semangat.


" Oekkkkkk "


Suara tangaisan terdengar kencang sekali di ruangan itu. Semuanya mengucap syukur karena Feby telah berhasil melahirkan bayinya dengan selamat.


" Selamat ya pak, bu, bayinya perempuan "


" Alhamdulillah "


Febry dan Feby merasa senang sekali atas kelairan anak mereka yang sanga mereka nantikan selama ini.


" Terimakasih ya By atas semuanya " Febry mengecup kening Feby dengan lebut.


" Sama - sama suami ku, akhirnya anak yang selama ini kita nantikan kini suda bersama kita "


" Iya sayang, kita kasih nama siapa ? "


" Terserah kamu aja "


" Masa terserah aku "


" Gimana kalau Athiyah "


" Oke kita beri nama Athiyah Meyliani "


" Oke "


Rasa sakit yang Feby rasakan kini telah terbayar dengn kehadiran sang buah hati. Segala sakitnya seketika hilang saat melihat anaknya yang sudah berada dipangkuannya.


" Kok Athiyah mirip kamu si sayang ? " protes Feby saat memperhatikan wajah anaknya.


" Iyalah, aku kan ayahnya "


" Ihh gak adil banget, kan aku yang melahirkan masa malah mirip kamu "


Febry terkekeh melihat Feby yang tidak senang karena anak mereka lebih mirip dengannya.


" Mama kamu cemburu hehee " bisik Febry pada anaknya. Lalu Febry mencubit pipi Feby sambil tertawa.