
" Febry dimana istri ku ? " Andri datang dengan wajah panik.
" Sudah di dalam Kak, bersama Feby "
" Aku ingin masuk ! "
Andri memaksa masuk kedalam tanpa persetujuan.
" Maaf Mas, tidak boleh masuk ! "
" Tapi saya suaminya ! "
" Kak Andri ! "
Feby segera berlari ke arah Andri.
" Kak "
" Feby "
" Bu biarkan Kakak saya yang menemani istrinya "
" Baiklah "
" Aku keluar ya Kak "
" Terimakasih ya adik ku "
" Iya Kak "
Feby segera melangkahkan kakinya keluar ruangan.
" Feby "
" Ibu "
" Bagaimana Hilwa ? "
" Dia baik - baik saja "
" Alhamdulillah "
Mereka semua menunggu di lurangan itu hingga bayi Andri dan Hilwa lahir. Rasa cemas merajai mereka. Mereka berharap agar Hilwa dan anaknya selamat.
Saat para orang tua sedang mengobrol Febry dan Feby hanya saling diam. Sesekali Febry melirik ke arah Feby yang diam termenung. Ingin sekali dia mendekatinya. Namun dia takut Feby tidak menginginkannya.
" Kalian kenapa diam saja ? " tanya Bu Irma.
" Aku panik Tante "
" Tidak usah panik sayang semua akan baik - baik saja "
" Iya Tante "
Febry sangat senang saat Mamanya sangat hangat dengan Feby. Ingin sekali dia memberitahu orang tuanya kalau dia mencintai Feby. Tapi sekarang sudah terlambat untuk mengatakannya.
" Pak, Bu aku pergi dulu ya "
" Kamu gak tunggu Kakak mu ? "
" Aku lapar "
" Ohhhhh kasian anak ibu kelaparan ya "
" Apa si Bu, aku malu ada om dan tante di sini "
Pak Rizki dan Bu Irma hanya tersenyum melihatnya.
" Ya sudah aku pergi ya, nanti aku balik lagi. Om, tante aku pergi dulu ya "
" Iya Feb "
" Febry kenapa diam aja, ayo temani Feby ! " titah Bu Irma.
Feby langsung memejamkan matanya saat Bu Irma meminta anaknya untuk menemani dirinya.
" Tidak usah repot - repot tante, aku bisa sendiri hehehe "
" Biasanya juga kamu selalu sama Febry ! " balas Bu Siti.
" Ayo aku temani "
Akhirnya Feby terpaksa menerimanya.
Sepanjang perjalanan Feby hanya diam saja. Bahkan Febyb tidak mau menatao wajah Febry, padahal Febry terus menatapnya.
" Mau makan apa ? "
Karena tidak mendapat jawaban Febry segera menarik tangan Feby ketempat warung nasi padang.
" Tidak usah pegang - pegang ! "
" Iya aku tidak pegang "
Walaupun Feby sedang marah tapi kalau urusan makan tetap nomor satu. Soal pertengakarannya dengan Febry bisa di kesampingkan.
Seperti biasa Feby selalu memesan ayam serundeng yang bagian dada tidak lupa kuahnya di lebihkan.
Selesai makan Feby segera kembali untuk melihat Hilwa. Feby tidak memberikan kesempatan untuk Febry bicara saat mereka bersama tadi, tidak ada senyum, tidak ada canda tawa hanya ada wajah datar yang di berikan oleh Feby.
" Setidaknya aku masih bisa bersamanya saat ini. Walaupun dia tidak memberikan senyumannya lagi ! " dalam hati Febry.
" Cepat sekali kalian kembali ? " kata Pak Ahmad.
" Iya Pak, aku ingin menungu Mbak Hilwa "
Saat kembali Feby juga membawa beberapa cemilan dan minuman untuk di berikan pada orang tuanya dan orang tua Febry.
" Terimakasih Feby "
" Sama - sama Tante "
" Segela repot - repot Feb "
" Tidak repot kok Om hehehe "
Dan tidak lupa Feby juga menawari Febry.
" Ambilah "
" Tidak "
" Ambil ! "
" Aku sudaah makan tadi ! "
Tanpa banyak bicara Feby segera memberikan cemilan dan minuman itu ketangan Febry. Kemudian Feby kembali duduk dekat dengan orang tuanya. Sambil menunggu kabar baik dari Hilwa dan Andri.
...****************...
Di dalam ruangan.
" Mas, aku lelah ! "
" Sakit Mas "
" Iya - iya, istigfar sayang "
Hilwa menitihkan air mata seakan dia tidak.sanggup lagi untuk menahan rasa sakit yang dia alami.
" Bu, kapan istri saya melahirkan ? Saya tidak tega melihatnya kesakitan seperti ini "
" Sabar ya Pak "
" Lakukan sesuatu "
Bu Bidan segera mengecek Hilwa lagi dan ternyata sudah watuknya Hilwa melahirkan.
" Pak tolong berikan semangat untuk istrinya ya "
" Tentu Bu "
" Bu Hilwa, ayo tarik nafas lalu buang perlahan. Lakukan lagi ya Bu "
Hilwa menuruti apa kata Bu Bidan itu. Bu Bidan terus menandu Hilwa agar bayinya cepat keluar.
" Ayo Bu sedikit lagi ! "
" Mas aku gak kuat "
" Sayang, dengarkan Mas. Ayo semangat bukan kah kita sudah lama menunggu dede bayi. Sekarang dede bayinya sudah mau keluat jadi kamu tidak boleh menyerah. Ayo sayang kamu pasti bisa, Mas sayang sama kamu "
Hilwa mendorongnyaa sekali lagi dengan sekuat tenaga dan akhirnya lahirlah bayi mungil nan lucu.
" Alhamdulillah "
" Terimakasih sayang "
Andri menciumi Hilwa dengan penuh kasih sayang. Andri juga menitihkan air mata saat melihay istri yang dia sayangi berjuang untuk melahirkan anak mereka.
"Selamat ya Pak, Bu anaknya laki - laki "
" Alhamdulillah " Hilwa dan Andri mengucap syukur.
" Mas keluat sebentar ya sayang "
" Iya Mas "
Cklek
Andri membuka pintu.
" Andri "
Semua bersamaan mendekati Andri.
" Bagaimana Andri "
" Alhamdulillah bayinya sudah lahir " ucap Andri.
" Alhamdulillah "
" Selamat ya Andri "
" Selamat ya Andri "
" Selamat Kak Andri "
" Anaknya laki - laki atau perempuan Kak ? "
" Laki - laki Feb "
" Lalu Mbak Hilwa ? "
" Mbak mu dan keponakan mu selamat dan sehat "
" Alhamdulillah "
" Ya sudah semuanya Andri masuk lagi "
" Iya Nak "
Andri segera masuk lagi ke ruangan Hilwa dan menemaninya.
" Selamat Pak, Bu atas kelahiran cucu pertama "
" Terimakasih Pak Rizki, Bu Irma. Maaf jadi merepotkan kalian. Dan Terimakasih Febry "
" Sama - sama Pak "
" Jika perlu bantuan jangan sungakan untuk memberi tau kami ya Pak "
" Iya Pak Rizki "
" Kalau begitu kami pamit dulu ya "
" Sekali lagi terimakasih "
Setelah kepulangan Pak Rizki, Bu Irma dan Febry. Pak Ahmad dan Bu Siti tak sabar untuk menemui cucu pertamanya. Sedangkan Feby, dia pulang kerumah untuk membawa baju ganti untuk Kakaknya.
" Tampan kan Bu, Pak anak Andri ? "
" Iyalah tampan masa cantik "
" Oh iya ya hehehe "
" Bagaimana keadaan mu Hilwa "
" Alhamdulillah Hilwa baik - baik aja Bu cuma tadi saki pas di jahit "
" Lihat nih Bu, Andri sampai di cakar sama Hilwa "
" Mas ! " Hilwa tersipu malu.
" Wajar Hilwa kamu seperti itu. Dulu ibu juga seperti itu bahkan lebih parah " balas Pak Ahmad.
" Apa benar Bu ? "
" Iya Hilwa. Bapak sampai ibu tarik rambutnya "
Semunya terkekeh.
" Andri, sekarang kamu sudah punya anak berarti tanggung jawab mu bertambah. Jaga mereka berdua jangan sekali - kali kamu berbuat kasar pada istri dan anak mu ! Tetaplah rukun "
" Iya Pak terimakasih Bapak sama Ibu tiada hentinya mengingatkan Andri "
" Terimkasih Bapak sama Ibu sudah menerima Hilwa sebagai anak kalian sendiri hiks.. hiks... hiks " tiba - tiba Hilwa menangis.
" Sama - sama Nak. Ibu sama Bapak tidak akan membeda - bedakan kamu ! Kamu sudah seperti anak kandung kami "
" Kamu harus jaga Hilwa, Andri "
" Iya Pak "
Hilwa tidak punya orang tua karena Hilwa tumbuh di panti asuhan. Bahkan dia tidak tahu siapa orang tuanya. Lalu dia bertemu Andri saat dia sedang berjualan. Dari situ Andri jatuh cinta pada Hilwa. Saat mengetahui latar belakangnya Andri langsung ingin menikahinya.