
Setelah kejadian semalam, Jacky sengaja menghilang begitu saja tanpa memberi kabar pada Feby. Sampai Feby menghubunginya beberapa kali namun tidak ada respon sama sekali.
" Jacky kenapa ya ? "
" Kok dia tidak bisa di hubungngi "
Feby terus memikirkan Jacky yang tiba - tiba menghilang tanpa kabar.
" Ah aku hubungi dia saja ! "
Akhirnya Feby memutuskan untuk menelpo teman kerjanya, mukin dia bisa membantunya.
Namun sama saja, temannya juga tidak merespon panggilannya itu.
" Hihhhh gak di respon ! "
" Apa aku kerumahnya saja ya ?"
" Tapi kalau dia tidak ada bagaimana ? "
Feby bingung dan gelisah.
" Oke, aku akan kerumahnya saja ! "
" Aku akan mengajak Laras biar aku tada temannya "
Tuttt
Tuttt
Tuttt
Feby mencoba menghubungi Laras.
📞Laras : Iya Kak.
📞Feby : Kamu lagi sibuk gak ?
📞Laras : Engga, ada apa Kak ?
📞Feby : Kamu mau gak antar aku ke rumah Jacky ?
📞Laras : Mau Kak. Kapan ?
📞Feby : Bagaimana kalau sekarang ?
📞Laras : Baiklah aku akan bersiap.
📞Feby : Oke, aku ke rumah mu ya.
📞Laras : Oke Kak.
Feby segera besiap untuk pergi menjemput Laras di rumhnya. Setelah itu Feby segera berpamitan dengan orang tuanya.
Hanya butuh beberapa menit Feby pun sampai di depan rumah Laras yang hanya beda komplek dengannya.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " jawab Laras sambil berlari ke arah Feby.
" Ayo Kak "
" Gak pamitan sama orang tua kamu "
" Mereka sedang pergi Kak "
" Oke, ayo kita berangkat "
Feby segera melajukan motornya ke arah rumah Jacky.
" Tumben Kakak yang nyamperin Kak Jacky "
" Tiba - tiba dia menghilang, aku mencoba menghubungi beberapa kali teap tidak di respon "
" Aneh sekali "
" Maka dari itu aku ingin datang ke rumhnya "
" Semoga aja Kak Jacky tidak kenapa - napa ya Kak "
" Aamiin "
Satu jam kemudian Feby dan Laras tengah berada di perumahan elit. Rasa tak percaya ternyata Jacky tinggal di perumahan kelas elit.
" Kak, apa benar ini rumahnya ? "
" Entahlah "
" Rumahnya besar sekali ! "
" Iya Ras, aaku jadi minder "
Dengan ragu Feby memencet bel rumah nan megah itu. Terlihat wanita paruh baya datang menghampiri mereka berdua.
" Cari siapa ya Non ? "
" Maaf Bu, apa benar ini rumah Jacky Rahman ? "
" Iya benar, Non ini siapa ya ? "
" Saya temannya "
" Oh, maaf sekali tuan muda tidak bisa di ganggu, dia sedang sakit "
" Sakit apa Bu ? "
" Semalam tuan muda pulang ke rumah, wajahnya babak belur Non "
" Astagfirullah "
" Yang sabar Kak "
" Bu, saya minta tolong, tolong katakan padanya saya ingin bertemu "
" Maaf Non tidak bisa "
" Katakan padanya Feby ingin bertemu, saya mohon Bu "
" Baiklah tunggu sebentar ya Non "
" Iya Bu terimakasi "
Feby terlihat hawatir pada Jacky, wajahnya terlihat begitu cemas.
" Sabar Kak "
Laras mencoba menenagkan Feby yang terlihayt cemas.
" Silahkan masuk Non " kata wanita paruh baya itu.
" Terimakasih Bu "
" Ya sama - sama Non "
Feby dan Laras mengekori wanita paruh baya. Saat menuju kamar Jacky Feby dan Laras sangay takjub dengan dekorasi rumah Jacky. Hingga sampailah di depan kamar Jacky.
Tok
Tok
Tok
" Permisi tuan muda "
" Iya bi masuk saja tidak di kunci "
Cklekk
" Suruh masuk mereka bi dan tolong buatkan minum ya bi. Terimakasih "
Ucap Jacky yang begitu sopan pada wanita paruh baya itu.
" Silahkan masuk Non "
" Terimakasih "
Terlihatlah Jacky yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya dan wajahnya penuh luka lebam.
" Astagfirullah Jacky "
" Tenang aku tidak apa - apa "
Feby meneteskan air mata saat melihat orang yang mulai dia cintai babak belur seperti itu.
" Bagaimana ini bisa terjadi ? "
" Tidak, aku ingin tau "
" Aku takut kamu tidak akan percaya "
" Katakanlah "
Laras hanya diam melihat mereka berdua.
" Duduklah dulu, kalian baru saja sampai " titah Jacky dan mereka berdua pun duduk.
" Eh eh jangan di lantai "
" Sini duduk di tempat tidur ku "
" Tidak di sini saja "
" Sebentar aku ambilkan bangku di balkon "
" Sudah kamu diam saja biar aku yang ambil " kata Feby sambil menghapus air matanya.
" Ayo aku bantu Kak "
Feby dan Laras mengambil bangku itu yang berada di balkon dan menaruhnya di samping tempat tidur Jacky.
" Permisi tuan muda ini minumnya "
" Terimakasih bi "
" Sama - sama tuan muda, saya permisi dulu "
" Iya Bi "
" Ayo di minium "
" Iya Kak "
Feby dan Laras meminumnya kemudian kembali bicara pada Jacky.
" Kak rumahnya bagus sekali "
" Ini bukan rumah ku Laras, ini rumah orang tua ku. Kalau aku belum punya rumah "
" Ah Kakak bisa aja "
" Setelah menikah baru aku akan menempati rumah ku sendiri "
" Maka nikahilah Kak Feby "
" Pasti, tunggu saja nanti undangannya ya "
" Siap Kak "
Feby terus menatao Jacky yang terus mengobrol dengan Laras. Air matanya mengalir lagi.
" Jangan nangis, aku udah gak apa - apa "
" Kamu bohong "
" Benar "
" Apa kamu tidak melawan orang yang sudah menyakiti mu "
" Aku tidak bisa membalasnya "
" Kenapa ? "
" Tidak "
" Kamu bisa bela diri kenapa tidak melawan ? "
" Karena aku takut melukai hati seseorang kalau aku melawannya "
" Maksud mu ? "
" Intinya aku tidak bisa melawannya "
" Katakan siapa yang melakukannya ? "
" Kamu tidak akan percaya "
" Katakan ? Apa aku mengenalnya ? "
" Ya "
" Makka katakan "
" Aku takut kamu tidak akan percaya "
" Katakan Jacky !? "
" Febry "
Hening seketika.
" Febry orangnya, sekarang apa kamu percaya ? Pasti tidak "
" Bagaimana bisa dia melakukannya ? "
" Enathlah mungkin aku sudah menyinggung dirinya "
" Tapi Febry bukan tipe asal serang "
" Benarkan kata ku, kamu tidak akan percaya "
" Coba ceritakan "
" Seelah pulamg dari rumah mu, aku bertemu Febry di tempat angkringan, Dia sedang duduk sendiri di sana "
" Loh, bukanya ada " sambung Laras yang perkataannya terpotong.
" Iya disana juga ada Roby, Deni dan Sahrul. Tapi posisinya Febry lagi sendiri "
" Lalu "
" Aku mendekatinya dan meminum wedang jahe bersama. Aku bilang padanya aku ingin menikahi mu dan aku ingin memiliki mu. Entah mengapa dia tidak menerima hal itu dan berbicara yang bukan - bukan tentang diri ku. Ya memang ku akui, aku ini laki - laki berengsek yang suka main perempuan. Tapi kali ini aku sangat serius pada mu Feb. Aku ingin menikahi mu "
Tanggan Feby terkepal mendengar pernyataan Jacky bahwa sahabatnya telah memukuli kekasihnya.
" Dia memukul ku bertubi - tubi, dan aku hanya dia tidak membalasnya karena takut melukai hati mu Feb "
" Kalau kamu tidak salah, mengapa kamu tidak melawannya saja ? Jika terjadi seperti itu lagi lawan saja dia "
" Kak sabar "
Laras mengusap - usap bahu Feby.
" Aku akan bertanya padanya "
" Jangan ! Aku tidak mau kaliam bertengkar. Jika sahabat mu tidak ingin kamu menikah dengan ku maka aku tidak akan melakukannya "
Feby terlihat sangat marah dan Jacky berhasil memprofokasi Feby.
" Luka mu sudah di obati ? "
" Sudah, tenang saja nanti juga sembuh "
" Aku pamit ya sudah mau magrib "
" Iya, terimakasi sudah menjenguk ku "
" Sama - sama "
" Kak cepat sembuh ya "
" Terimakasih Laras "
" Kalau masih sakit jangan bekerja dulu ya "
" Iya sayang, Ayo aku antar kalian "
" Tidak usah, kamu diam saja di sini "
" Baiklah. Hati - hati ya "
" Iya "
Feby dan Laras segera pergi dari rumah Jacky.
" Laras, kita makan bakso dulu mau gak ? "
" Boleh Kak "
Laras merasakkan bahwa Feby sedang marah jadi dia memutuskan untuk menemaninya agar dia bisa merasa tenang.