Febry & Feby

Febry & Feby
Ajak Memancing



Feby berjalan ke dapur dengan wajah lemah dan lesu. Dia jadi tidak bersemangat karena rahasianya terbongkar.


" Kali ini pasti kena marah sama ibu. Huhh jadi tidak napsu makan " keluh Feby yang sudah mengambil piring dan dia terdiam didelan rak piring.


Dorrr


Hilwa yang melihat adik iparnya diam mematung dengan sengaja Hilwa mengejutkan Feby. Untung saja piring yang dipegang Feby tidak jatuh ke lantai.


" Mbak !! "


" Hhaahaha " Hilwa tertawa melihat wajah Feby yang berubah jadi panik.


" Santai saja Feby. Kok kamu jadi tegang ? "


" Gimana gak tegang pasti aku kena marah sama ibu " kata Feby frustasi.


" Ibu tidak akan marah kalau kamu jujur "


" Entahlah "


" Sudah, makan dulu sana "


" Gak mood mbak "


" Eh gak boleh gitu, nanti kamu sakit " Hilwa segera mengambil piring yang di pegang oleh Feby. Hilwa menyendok nasi beserta lauk pauknya.


" Ini makan " titah Hilwa. Namun Feby masih diam tak menjawab.


" Feby ! "


" Apa mbak ? "


" Ini makan. Apa mau mbak suapi hehehe "


" Ihhh emangnya aku anak kecil " Feby meengambil piring yang sudah berisi makanan dari tangan Hilwa dan segera menyantapnya.


Selesai makan Feby masih enggan keluar dari dapur, dia takut akan dimarahai ibunya. Makanya dia berdiam diri di dapur sambil memainkan ponselnya dan mengirim pesan pada sahabatnya itu.


📩 Feby : Febry !!! 😭😭😭


Feby mengirimkan pesan pada Febry namun Febry belum merespon pesan yang dia kirim.


" Kemana nih orang ? Ayo dong bales !! " kata Feby sambil menatap ponselnya dan berharap Febry membalas pesannya.


10 menit kemudian Febry belum juga membalas pesan. Feby begitu kesal sampai menggerutu sendiri.


" Parah banget si Febry giliran dibutuhin malah gak direspon kesel !!!!! "


" Feby ngapain kamu disitu ? " tanya Andri menatap takam adiknya. Feby segera berdiri dan menundukan kepalanya.


" Ayo keluar ! "


Feby megikuti Andri dari belakang tanpa menjawab perkataan kakaknya itu. Sesampainya dirunag tamu Pak Ahmad dan Bu Siti menatap Feby serius. Feby tidak berani menatap orang tuanya dan dia mulai berkeringat dingin.


" Duduk Feb, ngapain kamu berdiri " kata Pak Ahmad. Feby masih diam dan menuriti apa yang dikatakan bapaknya.


" Kamu ngapain aja di dapur nak ? Sampai Ali pulang kamu belum keluar juga " tanya Pak Ahmad santai.


" Kalau orang buat salah ya seperti itu pak " sahut ibu nya menatap sinis.


" Feby jawab bapak "


" Tadi aku makan pak "


" Lalu kenapa selesai makan gak mau keluar juga ? "


" Keknyangan pak jadi mager "


" Kalau ngomong sama orang tua yang benar ! Apa itu mager ? gak jelas kamu " sela ibu nya yang masih menatap sinis.


" Males gerak bu artinya " jawab Hilwa.


" Feb, jadi kamu ikut beladiri ? Tapi kenapa tidak mau bilang pada kami ? "


" Feby takut bapak dan ibu tidak setuju "


" Feby kamu itu perempuan, kenapa kamu bersikap siperti laki - laki ? Dandan saja kamu masih minta tolong Hilwa. Bagaimana kalau Hilwa tidak tinggal disini ? " kata bu Siti yang mulai emosi. " Kamu juga si Andri ! Dari kecil adik mu, kamu kasih mainan anak laki - laki dan kamu ajak main perang - perangan sama si Febry ! " Andri yang tadinya tidak kena marah jadi ikut di marahi oleh Bu Siti.


" Sudah bu jangan marah - marah ingat kamu punya darah tinggi " kata Pak Ahmad menengahi.


" Bapak tidak melarang kamu ikut beladiri dan berlatih di tempat gym tapi apa salahnya memberi tahi kami dulu nak "


" Maafin Feby ya pak bu "


" Iya ibu maafin. Tapi ibu minta kamu sedikit feminim jangan bergaya seperti anak laki - laki terus " pinta Bu Sita.


Feby hanya menganggukan kepalanya tanpa membantah perkataan ibunya.


Keesokan harinya Feby yang sudah selesai membersihkan rumah dan memasak, bersitirahat di bangku dan ditemani secangkir kopi. Dilihat ponselnya Febry belum juga membalas pesannya yang semalam.


" Tumben banget si Febry gak bales ? Apa dia sakit ? Ah gak mungkin paling dia lagi sibuk sama mesin " batin Feby.


" Assalamualaikum " ucap Febry.


" Waalaikumsalam " jawab Pak Ahmad. " Eh Febry masuk - masuk "


" Iya pak makasih "


" Feby nih ada si Febry " kata Pak Ahmad.


" Cie pagi - pagi udah di apelin pacar " ledek Hilwa.


" Apa si kalian berdua kompak banget "


" Febry sini duduk " ajak Andri.


" Iya kak "


" Mau apelin si Feby ya " kata Andri sambil menyenggol bahu Febry dan tertawa kecil.


" Apa si kak Andri "


Feby segera berpindah posisi dan duduk disamping Febry.


" Kamu kenapa gak bales chat aku ? " bisik Feby.


" Kapan kamu chat aku ? "


" Semalam. Coba lihat hp kamu "


" Aku gak bawa hp "


" Ih ngeselin banget si !! "


" Ehmm... ehmmmm " Andri berdehem sambil melirik Febry dan Feby.


" Eh ada Febry " kata Bu Siti yang baru keluar dari dapur. Febry segera berdiri dan menghampiri Bu Siti.


" Bu, ini mamah minta tolong minta di vermak kemejanya dan gamisnya " kata Febry.


" Oh nanti ibu vermaknya. mungkin nanti sore atau besok jadinya "


" Iya bu "


" Tapi diburu - buru gak ? "


" Tidak kok bu "


" Aku kira Febry mau apelin Feby ga tau nya mau vermak baju hahahaa " sahut Andri sambil meledek Feby. Pak Ahmad, Bu Siti, Hilwa dan juga Febry tertawa mendengar ledekan Andri. Kecuali Feby, dia melempari bantal ke wajah kakaknya itu.


" Jangan iseng ya kak " Feby yang tidak senang menyerang kakaknya dan mengelitikinya.


" Ampun - ampun " Andri yang merasa geli meminta Feby agar tidak mengelitiki dia.


" Makanya jangan iseng "


" Iya deh gak iseng lagi nanti aku dibanting lagi hahaha "


Febry hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.


" Feb kamu gak kemana - mana kan ? " tanya Febry.


" Tidak memang kenapa ? "


" Mancing yuk "


" Dimana "


" Didanau "


" Ya sudah, kapan perginya "


" Sekarang, aku ambil motor dulu ya "


" Oke "


Febry pun pamit kepada orang tua dan kakaknya Feby. Dan Febry juga meminta izin untuk mengajak Feby pergi memancing. Sesampainya dirumah Febry segera bersiap dan membawa pancingan berserta umpannya yang sudah dia beli.


" Kamu mau kemana Feb ? " tanya Bu Irma.


" Mancing ma "


" Wah papah ikut ya " kata Pak Rizki.


" Ayo tapi papah bawa motor sendiri ya "


" Loh memangnya "


" Papah seperti tidak paham saja. Pasti Febry sudah mengajak Feby ikut mancing bersamanya " sahut Bu Irma. Febry yang mendengar perkataan mamahnya hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanyanya yang tidak gatal.


" Oh iya papah lupa hehee "


" Febry pergi dulu ya, Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam "


Febry segera menyalahkan motornya dan pergi menuju rumah Feby.


" Pa, kalau menurut mamah, Febry tuh cocok banget sama Feby "


" Papah juga merasa seperti itu "


" Kenapa mereka tidak pacaran saja ya pah hehehee "


" Kamu ada - ada saja, sudah jangan urusin masalah anak muda. Ayo kita masuk kedalam " ajak Pa Rizki sambil menggandeng Bu Irma.