Febry & Feby

Febry & Feby
Rencana



Febry sudah duduk di warung mang Rohim dengan segelas kopi dan gorengan. Sambil memaninkan ponselnya Febry menunggy kedatangan Feby.


" Mang kopi satu ya " kata Feby yang sudah duduk di samping Febry.


" Ini anak dateng gak ucap salam, main pesan kopi aja ! " protes Febry.


" Hehee maaf - maaf "


" Nih neng kopinya " kata mang Rohim sambil menaruh kopi dihadapan Feby.


" Makasih mamang "


" Ngobrolnya disana aja yuk " ajak Febry ketempat duduk yang agak jauh, agar tidak ada orang yang mendengar obrolan mereka.


Mereka masih terdiam tanpa kata dan hanya sibuk meminum kopi dan memakan gorengan mereka.


" Jadi gimana ? " Feby membuka suara terlebih dahulu.


" Aku punya rencana. Tapi takut tidak berhasil "


" Apa rencananya ? "


Perlahan - lahan Febry mendekatkan wajahnya ke wajah Feby. Feby tak sadar kalau wajah Febry sangat dekat dengan wajahnya. Tiba - tiba Feby menoleh kekanan, wajah mereka bertemu dan mereka saling bertatapan. Selama 30 detik mereka saling tatap dan akhinya Feby tersadar dari lamunannya.


Plak


Feby meluncurkan serangannya tepat dipipi Febry. Dan Febry meringis kesakitan.


" Mau ngapain deket - deket ? Jangan macam - macam ya Feb " ancam Feby sambil memgepalkan tangannya.


" Heh dasar mesum, aku tuh mau bisikin kamu. Emangnya mau ngapain ? " jawab Febry dengan nada kesal.


" Oh hehee aku kira " perkataan Feby menggantung dan wajahnya memerah.


" Apa ? Mau cium kamu ? "


Feby hanya tersenyum tanpa ada rasa bersalah karena sudah menampar Febry.


" Dasar mesum " gumam Febry lalu dia duduk seperti semula sambil meminum kopinya.


" Ih kok ngambek si maaf - maaf " Febry masih terdiam hanya menatal sinis ke arah Feby.


" Gak jadi "


" Ayolah Feb maaf ya, mana yang sakit sini " Feby mengusap - usap pipi Febry dan Febry hanya terdiam. Kini giliran Feby yang mendekati Febry.


" Apa rencananya ? "


" Tapi jangan di tampar lagi " Feby pun menganggukan kepalanya.


Febry membisikin rencananya pada Feby. Feby mendengarkan dengan serius dan sesekali mengganggukan kepalanya.


" Gimana ? Setuju gak ? " tanya Febry


" Mmm boleh juga "


" Deal ya "


" Oke "


Mereka berdua sepakat dengan rencana yag dibuat, tinggal menunggu waktunya tiba. Selesai mengobrol mereka berdua pulang dan seperti biasa Febry selalu mengantar Feby pulang kerumahnya. Walaupun mereka membawa motor masing - masing Febry tetap mendampingi Feby dari belakang.


Sesampainya dirumah, Feby segera memarkirkan motornya setelah itu dia masuk kerumah. Dan tidak lupa mengucapkan salam.


" Tumben baru pulang Feb ? " tanya Pak Ahmad.


" Iya pak hehee " Feby pun segera masuk kekamar dan bersiap untuk mandi biar terlihat lebih segar. Selesai mandi Feby diam dikamar untuk beristirahat, setelah menunaikan sholat isya Feby baru keluar kamar dan bergabung dengan orang tuanya.


" Bu, kak Andri dan Mbak Hilwa mana ? "


" Mereka ke pasar malam "


" Hah seriusan bu ? "


" Iya "


" Ih mereka gak ngajak aku si "


" Kamu tuh udah besar, ngapain masih ikutin kakak mu " kata Pak Ahmad.


" Makanya punya pacar biar diajak jalan - jalan " ledek Bu Siti.


" Apa si ibu, aku gak mau pacar - pacaran kalau bisa langsung nikah aja "


" Wah pak, berarti kita langsung nikahkan saja Feby dengan anak teman mu "


" Gak mau " tolak Feby.


" Tadi katanya kamu mau langsung nikah "


" Iya tapi dengan pilihan aku sendiri "


Feby cemberut dengan keputusan orang tuanya yang mau menjodohkannya.


" Udah jangan cemburut, ini antarkan ke Bu Irma " kata Bu Siti.


" Iya "


Bu Siti mencubit pinggang Feby karena Feby masih saja cemberut.


" Aww sakit bu "


" Makanya jangan cemberut kalau di suruh orang tua "


" Iya ibu sini aku antarkan kerumah Febry " kata Feby sambil tersenyum manis dihadapan Bu Siti.


Tidak mau berdebat lagi dengan ibunya, Feby cepat - cepat pergi kerumahnya Febry dengan tergesah - gesah.


Sesampai di rumah Febry, ternyata ada Pak Rizki yang sedang bersantai di teras rumahnya.


" Assalamualaiku "


" Waalaikumsalah, masuk Feb "


Feby segera membuka pagar rumah Pak rizki dan menyalami Pak Rizki.


" Mau ketemu Febry ? "


" Tidak Om, ini mau kasih pakaiannya tante "


" Terimmakasih om "


Feby pun duduk sambil memainkan ponselnya. Tak lama Febry keluar dan melihat ada Feby duduk di teras rumahnya.


" Ehhmmm "


" Ehmm juga "


" Bukan chat aku aja kalau pakaiannya udah selesai "


" Gak apa - apa sekalian main. Udah lama aku gak main ke rumah kamu "


" Hai Feby "


" Hallo tante, tante repot - repot bikinin minum, jadi enak hehehe "


" Dasar kamu, ayo diminum "


" Ini tante pakaiannya "


" Makasih ya Feb, jadi berapa nih ? "


" Seperti biasa aja tante "


" Oke, ini "


" Makasih tante "


" Sama - sama, tante tinggal kedalam ya "


" Iya tante "


Bu Irma terlihat sangat senang sekali. Entah apa yang membuatnya sangat bahagia. Feby hanya tersenyum menatap Bu Irma yang sudah masuk kedalam rumahnya.


" Seperti ya tante sangat senang sekali "


" Iya, dia sudah janji pada temannya akan menjodohkan ku dengan anak temannya "


" Sepertinya kedua orang tua kita sangat bersemangat memilihkan jodoh untuk kita "


" Entahlah "


Tin tin tin


Suara klakson motor tedengar bising di luar rumah Febry. Ternya itu Roby yang tidak sengaja lewat rumah Febry.


" Hai para jomblo " sapa Roby.


" Sombong !! "


" Hahahaa " Roby tertawa mengejek mereka berdua. Kemudian Robu masuk dan duduk diteras rumah Febry. " Kalian mau mabar gak ngajak - ngajak "


" Siapa yang mabar ? Aku abis anterin vermakan " sahut Feby.


" Oh hehhee "


" Abis dari mana Rob ? " tanyya Febry


" Biasalah, abis ketemu ayang "


" Pamer !! "


" Harus dong, makanya kalian cari pacar "


" Awas nanti putus nangis - nangis hahaha " ledek Feby.


" Jangan gitu dong doainnya "


" Eh iya Rob weekend mau kemana ? "


" Gak kemana - mana "


" Serius gak ? "


" Iya, emang kenapa si ? Sepertinya ada yang serius nih "


" Kamu dan Laras harus bantuin kita " kata Feby.


" Bantuin apa ? "


" Udah nanti juga tau sendiri "


" Oke nanti aku bilang sama Laras dulu "


" Tapi harus jadi ya Rob " kata Feby degan wajah serius.


" Lebih baik kalian jujur deh " gumam Roby yang sedikit penasaran.


" Sebaiknya kita bicara diluar aja " kata Febry yang sudah berdiri. Kemudian Febry merapihkan bekan minuman ya g disediakan Bu Irma kedalam rumah dan pamit kepada orang tuanya untuk keluar rumah.


" Ayo " ajak Febry yang sudah menyalahkan motornya.


Feby dibonceng oleh Febry dan Roby mengikuti Febry dari belakang. Febry melajukan motornya sampai ke pos ronda dan mereka mengobrol disitu.


" Masalahnya serius ya ? " kata Roby ya g masih penasaran.


" Jadi begini "


Feby menceritakan masalahnya pada Roby sedangkan Febry hanya diam dan mendengarkan Feby berbicara. Selesai menceritakan Roby pun tertawa.


" Hahahaa, makanya kalian cari pacar " ledek Roby.


" Ihh udah deh jangan ngeledek " protes Feby.


" Sekarang rencana kalian apa ? "


Sekarang giliran Febry yang berbicara tentang rencannya. Febry meminta tolong Roby dan Laras agar membantu mereka berdua.


" Aduh gimana ya " Roby jadi bingung di buatnya.


" Ayolah Roby, masa kamu tega si sama kita " Feby memohon dengan wajah memelas.


" Oke deh "


" Yeeeyyy makasih Roby "


Roby menggelengkan kepalanya, sebenarnya diia enggan membantu temannya tapi mau gimana lagi mereka berdua teman baik Roby.