
" Andri.... Andri !!!! " teriak Bu Siti.
" Kenapa Bu ? " tanya Andri yang sudah keluar dari kamarnya.
" Tolong kamu cari adik mu, tiba - tiba perasaan ibu tidak enak "
Andri dan Hilwa langsung mengerutkan dahinya melihat Bu Siti yang tiba - tuba panik.
" Ada apa Bu ? " tanya Pak Ahmad yang baru keluar dari kamar mandi.
" Pak, perasaan ibu tiba - tiba gak enak. Lalu Ibu langsung memikirkan Feby "
" Paling Feby lagi di pos ronda atau lagi di warung Mang Rohim Bu " sahut Andri.
" Disana juga pasti ada Febry, Roby, Deni dan juga Sahrul jadi Ibu tidak usah hawatir " kata Andri lagi berusaha menenagkan Ibunya yang gelisah.
" Tetap saja Ibu tidak tenang ! "
" Istigfar Bu, ini minum dulu " kata Pak Ahmad sambil memberikan segelas air pada Bu Siti.
" Mas lihat dulu adik mu, kasihan Ibu jadi tidak tenang " bisik Hilwa.
" Iya aku akan pergi mencari Feby " balas Andri sambil mengusap kepala istrinya.
" Bu, Pak, Andri pergi dulu ya. Ibu tidak usah hawatir ya " ucap Andri dan segera langsung pergi keluar dengan berjalan kaki.
" Tenang ya Bu semoga tidak terjadi apa - apa " ucap Hilwa sambil memeluk Bu Siti.
Andri berjalan ke warung Mang Rohim terlebih dahulu. Namun disana hanya ada Jafar dan teman - temannya.
" Jafar ! "
" Ya Kak "
" Feby dan yang lain kemana ? "
" Mungkin di pos ronda Kak, ada apa memangnya ? "
" Ah tidak kok "
" Aku ke pos aja deh "
" Mau aku bantu cari Kak ? " tanya Jafar yang melihat kepanikan Andri.
" Tidak usah, ya sudah aku pergi dulu ya "
" Oke Kak "
Andri terus menuruskan perjalananya hingga sampai pos ronda.
Berjarak beberapa meter dari pos ronda, Andri seperti melihat keributan disana. Dia melihat adik - adiknya sedang berseteru.
" Ya Allah, kenapa mereka ? " Andri segera berlari menuju mereka.
...*****...
" Ma, mana Febry ? Dia tidak ikut makan bersama ? "
" Tidak Pa " Bu Irma termenung.
" Ada apa Ma ? "
" Mama jadi hawatir sama Febry "
" Hawatir kenapa Ma ? "
" Febry gelisah sejak tadi di apotik. Mama jadi hawatir Pa. Perasaan Mama jadi tidak enak "
Pak Rizki kasihan melihat istrinya gelisah karena memikirkan sang anak. Karena takut terjadi apa - apa dengan sang anak Pak Rizki memutuskan untuk pergi melihat Febry.
" Papa, pergi dulu lihat Febry ya Ma "
" Papa gak makan dulu ? "
" Aku tidak tenang kalau melihat mu gelisah seperti ini " ucap Pak Rizki sambil mengelus kepala Bu Irma.
" Iya tapi Papa makan dulu aja, ini udah Mama siapin "
" Baiklah, April ayo makan dulu Nak "
" Iya Pa "
Setelah selesai makan malam Pak Rizki segera keluar rumah untuk mencari anaknya.
" Kamu jangan gelisah seperti itu hmm "
" Iya Pa "
" Ya sudah Papa pergi dulu ya "
" Iya Pa hati - hati. Nanti Febrynya langsung bawa pulang ya Pa "
" Iya Mama sayang "
Pak Rizki segera pergi ketempat biasa Febry dan kawan - kawan suka berkumpul.
Dari kejauhan Pak Rizki melihat ada sepasan laki - laki dan perempuan muda sedang cekcol dan teman - temannya berusaha menenangkannya.
" Itu ? " Pak Rizki terus menatap kesudut sana.
" Itu kan Febry dan Feby ! Mereka kenapa ? "
...*****...
Dari arah berlawanan Pak Rizki dan Andri berlari secepat mungkin.
" Feby ! "
" Febry ! "
" Ada apa ini ? "
Ucap Andri dan Pak Rizki bersama - sama. Mereka terkejut dengab apa yabg terjadi. Feby menangis dan Febry wajahnya ada luka memar dan masih mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Roby, Deni dan Sahrul mencoba menenangkan situasi.
" Ada apa dengan kalian ?! " tanya Andri.
" Kenapa bisa seperti ini ? "
Mereka enggan menjawabnya.
" Lepaskan aku Febry ! Lepaskan ! " ucap Feby yang merasa jiji di pegang dengan Febry.
Pak Rizki yang melihat ekspersi Feby seperti ketakutan, jadi berasumsi sendiri kalau anaknya telah berbuat sesuatu dengan Feby.
" Kamu apakan Feby ! " teriak Pak Rizki yang salah paham dengan anaknya.
Saat hendak melayangkan pukulannya pada Febry. Roby dan yang lain menahannya.
" Om... Om jangan Om ! "
" Minggir kamu biar ku hajar anak tidak tau diri ini ! " ucap Pak Rizki yang sudah emosi.
" Om tenang dulu Om jangan emosi " ucal Andri cepat.
" Ada apa ink Febry Feby ? Ada yang bisa menjelaskan ? " ucap Andri lagi.
" Roby Deni Sahrul katakan ada apa ini ? " tanya Pak Rizki.
" Apa dia melukai Feby ? " tanya lagi Pak Rizki sambil menunjuk anaknya kesal.
" Begini Om Kak, tadi ada kesalah pahaman anatar Feby dan Lisa. Lisa merasa cemburu pada Feby. Kemudian dia datang kemari mencari ribut dengan Feby. Saat Feby mau memukul Lisa karena marah Febry datang menghalangi jadinya Febry yang terkena pukulan Feby " kata Roby mencoba menjelaskan semuanya.
Pak Rizki dan Andri hanya mengusap wajahnya kasar.
" Andri maafkan Febry ya " ucap Pak Rizki.
" Tidak apa - apa Pak. Maklum anak muda emosinya masih labil ! Kalau bisa tidak usah di perpanjang ya Pak. Takutnya kedua keluaga kita bisa jadi bertengakar " pinta Andri agar masalah adik - adikny tidak di perpanjang.
" Kamu benar Andri. Biar masalah ini mereka berdua yang selesaikan " jawan Pak Rizki.
" Iya Pak "
Mata Andri beralih kepada Feby yang masih tangannya digenggam erat oleh Febry.
Andri berjalan mendekati mereka berdua dan memegang tangan mereka.
" Febry sudah lepaskan biar Kakak yang tangani " pinta Andri.
" Tapi Kak "
" Lepaskan Nak, beri Feby waktu untuk sendiri "
Peralahan Febry mengendurkan penggangannya pada tangan Feby. Febry enggan melepaskan karena Febry ingin membujuk Feby agar tidak marah lagi padanya.
" Kami pulang duluan ya " Kata Andri yang sudah menrangkul adiknya.
" Iya Andri, ayo kita juga pulang " ajak Pak Rizki.
Febry pun menurutinya dengan langkah gontai.
Roby, Deni dan Sahrul memberi semangat pada Febry dengan menepuk bahu Febry.
Feby masih terisak dalam pelukan Kakaknya itu. Tidak tinggal diam Andri terus menghiburnya dan menengkannya.
" Kamu harus kuat jangan menangis seperti ini hmm "
" A..ku ti..dak me..nyangka akan terjadi seperti ini hiks hiks hiks "
" Sudah - sudah hentikan tangisan mu nanti Ibu jadi panik. Hapus air matanya "
Feby terlihat menghapus air matanya yang masih saja membasahi pipinya.
" Kenapa Kakak bisa tau aku dan Febry " ucapan Feby terpotong.
" Bukan aku tapi batin seorang Ibu " jawab Andri cepat lalu mengusap kelapa Feby dengan lembut.
Sedangankan Febry duduk di belakang kemudi karena yang mengendari motornya adalah Pak Rizki.
" Kenapa Papa bisa tau aku dan Feby "
" Bukan aku tapi batin seorang Ibu " ucap Pak Rizki cepat.
" Ibu mu sangat gelisah memikirkan mu jadi Papa pergi untuk mencari mu "
" Feby menjauhi ku Pa " keluh Febry dengan raut wajah yang yidak bisa di artikan.
" Sabar Nak, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya "
Febry hanya terdiam dengan perasaan sedih.