
Sehabis berkumpul dengan teman - temannya Febry segera pulang kerumahnya. Dalam perjalanan pulang Febry terus memikirkan keadaan Feby. Akhirnya Febry memutuskan tidak langsung pulang kerumah melainkan pergi membeli buah - buahan.
" Sebaiknya aku beli buah - buahan dulu mumpung belum terlalu larut malam " ujar Febry segera memacukan motornya ketempat yang dia tuju.
Ingin sekali dia menghubungi Feby dan berbicara padanya, menanyakan keadaannya dan memberinya semangat. Namun Febry harus mengurungkan niatnya tersebut alasannya karena pertama kalau sedang sakit pasti Feby menonaktifkan handphonenya dan kedua hubungan mereka sedang tidak baik - baik saja mana mungkin Feby mau berbicar padanya.
Di satu sisi handphone Febry terus berdering entah siapa yang menelponnya. Hanya dua kemungkinan Mamanya atau Lisa yang menelponnya. Atau mungkin bisa jadi keduanya sedang menelponnya. Namun Febry sama sekali tidak memperdulikannya. Dia twrus memacuka motornya sambil mencari tukang buah.
" Giliran di cari pasti susah didaptkan tapi kalau tidak di cari pasti banyak yang jual " keluh Febry karena tidak menemukan tukang buah sepanjang jalan.
Walaupun tidak menemukan tukang buah Febry tetap berusaha mencarinya sampai ketemu.
Beberapa menit kemudian akhirnya Febry melihat tukang buah namun pemiliknya sedang merapihkan dagangannya dengan cepat Febry menghampiri tukang buah itu.
" Pak, mau tutup ya ? "
" Iya Mas "
" Tunggu sebentar Pak saya mau beli "
" Oh, iya silahkan Mas "
Dengan senang hati pemiliknya mempersilahkan Febry memilih - milih buah yang dia inginkan.
Kemudian Febry mengambil beberapa buah apel, pisang dan buah pir. Setelah selesai Febry segera membayarnya.
" Terimakasih Pak "
" Sama - sama Mas "
Febry melesat pergi dengan motornya, kemudian dia mampir sebentar ke indomart dekat dengan komplek rumahnya.
Dengan cepat Feby mengambil roti sobek, susu, beberapa botol teh dingin, beberapa keripik dan juga biskuit. Seelah selesai Febry segera mengantri di kasir untuk melakukan pembayaran.
" Aduh lupa bawa kantung lagi ! "
" Ada kantunngya Mas ? " tanya kasir itu.
" Tidak ada, saya beli aja kantungnya "
" Boleh "
Kasir itu menyeken barang belanjaan Feby dan memasukanya kedalam kantung.
" Pake debit aja Mbak "
Febry memberikan kartu debitnya pada kasir tersebut. Setelah melakukan pembayaran, Febry segera pulang kerumah dia takut Mamanya mencarinya.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
Perlahan Feby masuk kedalam rumahnya. Di ruang tamu sudah ada Papa dan Mamanya yang sedang menunggunya.
" Kamu dari mana saja hmm "
" Habis main " jawab Febry santai sambil membawa barang belanjaannya ke dapur.
Pak Rizki dan Bu Irma hanya menatap Febry yang membawa barang berlanjaan yang lumayan banyak tanpa menanyakan apa isi belanjaan yang di bawanya.
Tak lama Febry keluar memebawa botol teh dingin, keripik dan juga biskuit. Kemudian dia sajikan di meja.
" Tadi Papa mencari mu di warunh Mang Rohim tidak ada dan di pos juga tidak ada ! "
" Iya tadi aku keluar sebentar "
Febry hanya menjawab beberapa kata sambil memakan keripik dan menonton televisi. Tiba - tiba April keluar dari kamarnya dan berlari saat melihat banyak makanan di meja.
" Yeeeeyyyy " teriak April kegirangan.
" Kak aku mau ya ? "
" Hmm "
Febry hanya berdehem dan matanya fokus menonton televisi.
" Oh iya Pa, tada Mama ketemu Pak Ahmad dan Bu Siti "
" Dimana ? "
" Di tukang bubur, katanya Feby sakit "
" Sakit apa Ma ? "
" Asam lambungnya tinggi, dia juga muntah - muntah terus "
" Inalillahi "
" Kasian Pa katanya Feby merintih kesakitan "
Mendengar perkataan orang tuanya Febry menjadi tambah hawatir dengan sahabatnya itu.
...*****...
Keesokan harinya pagi - pagi sekali Febry sudah mengantri untuk membeli bubur ayam. Setelah memebelinya Febry segera pulang kerumah untuk bersiap berangkat kerja.
Dengan tergesah - gesah Febry menyusun makanan yang dia beli semalam. Namun karena rasa hawatir yang begitu dalam membuat Febry tidak fokus dan hampir saja bubur yang baru dia beli tumpah kelantai karena kecerobohanyan.
" Sini Mama bantu " ucap Bu Irma mengambil alih barang yang di peganga Febry.
Tanpa banyak bertanya pada anaknya Bu Irma tau semua ini untuk siapa. Jadi Bu Irma hanya diam saja .
" Sana kamu rapi - rapi saja biat Mama yang menyusun makanannya " titah Bu Irma.
Febry segera masuk kekamarnya dan mengganti pakaiannya denga baju kerjanya.
" Ini sudah siap " kata Bu Irma.
" Terimakasih ya Ma "
" Iya "
" Febry berangkat dulu ya Ma "
" Hati - hati sayang. Salam untuk Feby dan keluarganya ya "
" Hmmm "
Febry berjalan ke arah motornya sambil memikirkan perkataan Mamanya.
" Kok Mama bisa tau ya aku mau kerumah Feby ? Padahal semalam aku tidak mengatakan apa - apa ! "
Sudah siap dengan semuanya Febry segera berangkat ke rumah Feby.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
Jawab Pak Ahmad yang hendak berangkat ketempat kerjanya.
" Feb "
Febry menyalami tangan Pak Ahmad.
" Bagaimana keadaan Feby, Pak ? "
" Dia masih sakit Feb dari semalam mengeluh perutnya sakit "
Mendengar perkataan Pak Ahmad, jelas Febry sangat menghawatirkan Feby. Terlihat raut wajahnya yang sedih mendengar kondisi sahabatnya.
" Masuk aja Feb " titah Andri yang baru saja keluar dari dalam rumah.
" Sana masuk tengok sahabat mu sebentar kali aja dia langsung sembuh " goda Pak Ahmad.
" Bapak bisa saja "
" Ayo Feb " ajak Andri.
" Pak, Febry masuk dulu ya "
" Iya Feb silahkan "
Febry mengekori Andri dari belakang, saat berada didalam Febry menyalami Bu Siti dan Hilwa.
" Masuk saja Feb ke kamarnya " titah Bu Siti.
" Kak temani aku ya " pinta Febry.
" Iya tenang saja "
Kamarnya Feby sengaja tidak di tutup takutnya Feby kenapa - napa atau dia ingin meminta sesuatu.
Terlihat Feby yang terbaring lemah di atas tempat tidur, wajahnya begitu pucat pasih.
" Sejak semalam dia merintih kesakitan. Dia juga memuntahkan lagi apa yang baru saja dia makan " ujar Andri.
Febry merasa terpukul dan kehawatirannya makin bertambah. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dengan Feby.
Perlahan Febry berjalan mendekat kearah Feby. Tiba - tiba Febry mengusap kepala Feby dengan lembut.
" Maafin aku ya By " dalam hatinya.
" Semoga cepat sembuh ya By "
Andri hanya tersenyum melihat perlakuan Febry kepada adiknya. Terlihat Febry sangat menyayangi Feby dengan sepenuhati.
" Ehemm ehem "
Andri berdehem dan seketika Febry menghentikan tangannya mengelus kepala Feby.
" Ehhh maaf Kak refleks hehee " jawab Febry malu.
" Santai saja, siapa tau setelah kamu datang menjenguknya dan mengusap kepalanya dia langsung sembuh " goda Andri sambil meninju lengan Febry pelan.
" Ah Kakak bisa aja nih "
Febry kembali menatap Feby lalu beralih melihat jam tangannya.
" Kak aku harus berangkat kerja, aku titip ini ya untuk Feby "
Ucap Febry sambil memberikan barang yang dia bawa tadi.
" Repot - repot Feb "
" Gak apa - apa Kak "
Febry segera keluar dari kamar Feby dan menyalami semua dan dia segera berangkat ketempat kerjanya.
" Banyak sekali " ucap Bu Siti melihat barang bawaa Febry.
" Itu ada buburnya juga Bu " ucap Andri.
" Iya nanti Ibu akan taruh di kamar Feby "