
Sepanjang perjalanan mereka berdua diam membisu. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Karena kesal berkelahi dengan pikirannya sendiri Feby menendang batu yang berada di hadapannya dan berdecak kesal.
" Aaagrhhhhhh !!!! "
Febry dibuat heran dengan tingkah Feby yang berubah - ubah.
" Feb jangan aneh - aneh ya ini udah malem ! " tegur Febry.
" Aku kesal ! "
" Kesal ? Perasaan tadi dia happy aja " batin Febry.
" Aku kasih tahu Febry tidak ya ? Bodo amat deh lebih baik aku kasih tahu dia aja " batin Feby.
" Aku mau di jodohin " ucap Feby dengan wajah memelas. Febry pun terkejut mendengar pernyataan Feby.
" Apa ? Kok bisa sama ? " batin Febry.
" Febry ? Kok kamu diam aja ? Ayo lakuin sesuatu " pinta Feby masih dengan wajah memelas sambil menarik - narik lengan Febry.
" Aku juga mau di jodohin ! " balas Febry.
" What ?! "
" Come on Febry jangan bercanda "
" Aku serius Feby ! Kalau tidak percaya kamu boleh tanya orang tua ku "
" Kok kita bisa sama ? "
" Entahlah "
Suasana menjadi hening, mereka kembali sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Tak lama pandangan mereka bertemu. Satu sama lain menunjukan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
" Gimana dong ? " tanya Feby bingung.
" Gimana apanya Feb ? "
" Itu masalah perjodohan ? "
" Hufff..... Entahlah aku juga pusing dibuatnya.
Tak terasa sudah sampai di depan rumah Feby. Mereka masih tetap terdiam, Feby pun enggan masuk kedalam rumahnya.
" Feb sudah samapi rumah kamu, masuk gih " pinta Febry sambil memberikan isyarat agar Feby masuk kerumah. Namun Feby memasang wajah memelas pada Febry.
" Hufff... oke besok kita pikirkan jalan keluarnya ya. Sekarang kamu masuk terus tidur, besok kamu harus kerja " ucap Febry lagi agar Feby segera masuk ke rumahnya.
" Iya, aku masuk dulu ya, good night " balas Feby dan segera masuk kedalam rumah. Dan Febry pun segera pergi menuju rumahnya.
Pagi telah tiba, karena ini hari senin semua sibuk dengan aktifitasnya masing - masing. Selesai sholat subuh Feby selalu menyempatkan diri membantu ibunya memasak dan memberskan rumah.
" Ehhhh... Mbak Hilwa mau ngapain ? " tanya Feby pada Hilwa yang ingin membantu ibu mertua dan adik iparnya didapur.
" Mau bantuin "
" Gak boleh ! " larang Feby sambil bertolak pinggang. " Mbak kembali kekamar aja, aku gak mau mbak kecapean "
" Tapi "
" Sudah Hilwa kamu istirahat saja ya, biar ibu dan Feby yang mengerjakannya "
" Ayo aku antat ke kamar " kata Feby.
Sebagai menantu Hilwa tidak enak hati hanya berdiam diri dan tidak membantu mertuanya. Hilwa beruntung sekali mendapatkan mertua dan adik ipar yang sayang kepadanya tanpa membedakan.
" Mbak, jangan pegang pekerjaan rumah ya kasian namti debaynya "
" Iya Feb, makasih kamu udah perhatian sama aku "
" Itu memang harus mbak, mbak kan kakak aku juga. Mbak itu keluarga kami, ya sudah istirahatlah mbak "
Setelah mengantar Hilwa kekamarnya, Feby kembali menyelesaikan tugasnya. Selesai dengan urusannya Feby segera sarapan dan bersiap untuk berangkat kerja. Andri dan Pak Ahmad juga sedang sarapan ditemani oleh Hilwa dan Bu Siti.
" Mbak minga tolong dandanin ya hehee " kata Feby yang baru saja keluar dari kamarnya.
" Kamu tuh aneh Feb, masa dandan aja harus Hilwa yang dandanin " seru Bu Siti.
" Habis aku kan tidak bisa dandan Bu "
" Belajar Feb, kan sekarang teknologi sudah canggih. Kamu bisa lihat di youtube tutorial make up " sahut Pak Ahmad.
" Males Pak lihatnya, lagi pula aku tidak mengerti " tutur Feby.
" Emang dasar males ! " sahut Andri sambil tersenyum mengejek.
Selesai di make up oleh Hilwa, Feby pamit untuk berangkat bekerja.
Di rumah Pak Rizki tak kala sibuknya, Bu Irma selalu mempersiapkan sarapan terlebih dahulu dan di bantu dengan Febry.
" Ma, mana April ? " tanya Febry pada Bu Irma.
" Sepertinya belum bangun, coba tolong kamu ke kamarnya " pinta Bu Irma, tanpa banyak bicara Febry segera melangkah ke kamar adik perempuannya.
" April bangun ! Pril.... Pril ! " Febry mengoyak - oyak tubuh April namun tidak direspon.
" Banyak drama ini anak ! " Febry mengambil segelas air dan disiram kewajah April.
Byur
" Aaaaaaaa kakak !!! " teriak April sambil mengusap wajahnya.
" Apa - apaan si kak ? Bisa lembut gak si banguninnya ? " protes April pada kakaknya.
" Udah jangan banyak drama ! Cepat bangun kalau tidak kakak tinggal nih ! " ancam Febry. April bergegas ke kamar mandi dengan tergesah - gesah karena dia takut di tinggal oleh kakaknya.
" April sudah bangun Feb ? " tanya Bu Irma.
" Sudah ma "
" Kamu sarapan dulu gih "
" Iya ma "
Setelah selesai sarapan Febry dan April pamit pada kedua orang tuanya.
Sesampainya ditempat kerja Feby memarkirkan motornya ditempat biasa. Saat berjalan memasuki tempat kerja semua karyawan termasuk scurity memperhatika wajah Feby yang terlihat berbeda.
" Apa si Pak ? Biasa aja dong liatinnya ! "
" Itu mata kenapa Feb ? " tanya salah satu scurity.
" Kepo deh bapak " jawab Feby santai.
" Bilang sama saya siapa yang pukul kamu, biar saya yang hadapi "
" Apa si pak hehee udah ah aku masuk dulu ya " Feby terus berjalan meamsuki ruangannya. Setelah duduk di tempatnya salah satu temannya mendekatinya sambil menggelengkan kepala menatap Feby.
" Apa ? "
" Kenapa itu ? "
" Abis akrobat hhaaha "
" Ada - ada aja kamu Feb "
" Udah sana kerja " usir Feby.
" Belum juga masuk jam kerja hehehe ngopi dulu yuk ah "
" Yuk "
Sebelum bekerja Feby selalu minum kopi berasama temannya agar lebih semangat saat bekerja. Saat bertemu teman kerja mereka selalu menanyai bekas luka Feby, sampai Feby bosan untuk menjawabnya.
" Gila ya cape aku jawabnya, apa aku harus umumkan biar semua pada tahu " perotes Feby.
" Hahaha udah si Feb ngapain di ambil pusing.
Beberapa menit kemudian Feby melakukan pekerjaannya dengan serius dan profesional. Kalau dalam mode bekerja Feby terlihat sangat tegas dan tidak banyak berbicara kecuali Feby sedang melayani nasabah.
Waktu istirahat tiba Feby lebih senang makan di rumah makan padang, warteg atau membeli makanan di pejuan gerobak seperti bakso, mie ayam, ketoprak dan lain sebagainya. Kadang teman - temannya mengajak makan di kafe atau di restoran terdek, namun Feby selalu menolaknya.
" Feby lo mau makan apa ? "
" W mau makan baksi aja "
" Gak ikut aku ke resto ? "
" Tidak "
" Oke, aku duluan ya "
Sambil menyantap Bakso dan meminum jeruk peras Feby menyempatkan untuk mengirim pesan pada Febry.
📩Feby : Febry 😢
5 menit kemudian.
📩Febry : Apa lagi ?
📩Feby : Gimana ini ? Aku gak mau di jodohin 😭
📩Febry : Sama aku juga Feb
📩Feby : Kamu gak ada rencana ?
📩Febry : Gak. Aku lagi fokus kerja. Nanti saja pulang kerja kita bahas. Aku tunggu di kafe mang Rohim ya.
📩Feby : Oke.
Jam istirahat sudah usai dan Feby kembali melanjutkan pekerjaannya sampai waktu pulang kerja tiba.
Tidak lupa dengan janjinya untuk bertemu di warung mang Rohim untuk membahas soal perjodohan, Feby segera melajukan motornya ketempat tujuan. Hanya memakan waktu 20 menit Feby pun sampai di warung Mang Rohim. Ternyata Febry sudah sampai duluan di warung mang Rohim.