
Sudah Seminggu lebih Febry dan Feby tidak saling mengenal. Di pos ronda maupun di warung Mang Rohim tidak ada tanda - tanda team konoha. Rasanya begitu sepi sekali, biasanya mereka selalu berkumpul dan kompak. Bahkan mereka juga ikut bermain dengan anak kecil.
Tapi sekarang hanya tinggal kenangan. Masing - masing berjalan dijalannya sendiri. Tidak ada komunikasi yang terjalin atara mereka berlima. Bahkan untuk bertemu pun tidak pernah.
Kadang hanya Deni dan Sahrul yang biasa terlihat di pos ronda atau di warung Mang Rohim. Namun hanya beberapa menit singgah disana lalu mereka segera pergi lagi.
...----------------...
" Assalamualaikum " ucap Feby saat pulang kerumah. Namun tak ada yang menjawabnya.
" Tumben sepi, pada kemana ya ? "
Feby terus melangkahkan kakinya hingga masuk kedalam kamarnya.
Beberapa menit kemudian Feby sudah selesai mandi dan sudah mengganti baju kerjanya. Namun masih belum ada tanda - tanda orang di rumah itu selain dia.
" Tumben mereka pergi gak kasih kabar ke aku "
Lantas Feby duduk di ruang tamu sambil mengutak atik handphonenya. Barulah terdengar suara rintihan.
" Eh eh tunggu dulu deh "
Feby mencoba mendengarnya lagi.
" Kok ada yang merintih ? "
Feby segera beranjak dari duduknya dan mencari asal suara rintihan itu.
" Sepertinya terdengar dari kamar Kakak ! "
Feby mencoba mengingat sesuatu.
" Tunggu dulu ! "
" Kalau mereka semua pergi, otomatis pintu di kunci dong ! Tapi ini tidak "
Feby berpikir sejenak.
" Mbak Hilwa ! " teriak Feby dan segera membuka pinta kamar Andri dengan kasar.
Brak
" Mbak ! "
" Feb, tolong Mbak "
" Iya iya Mbak "
Feby mencoba memapa Hilwa yang tengah berbadan dua. Feby perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk memapa Hilwa.
" Ayo Mbak pelan - pelan "
" Sakit sekali Feb ! "
" Remas saja tangan ku jika Mbak memelukannya "
Feby merasa kasihan melihat kakak iparnya merintih kesakitan seperti itu. Bahkan dia hanya seirang diri dirumah.
Sampailah didepan pagar rumah. Feby meminta Hilwa agar diam disana saat Feby hendak mengambil kunci motor.
" Mbak tunggu disni sebentar "
" Cepat ya Feb ! "
Hilwa seperti tidak sanggup menahanya sampai dia menitihkan air mata.
" Febry !!!! " teriak Hilwa yang melihat Febry melintas di hadapannya.
Ciittttt.
Febry memberhentikan motornya. Karena dia mendengar suara Hilwa yang terdengar aneh akhirnya Febry memutuskan untuk menghampirinya.
" Ada apa Mbak ? "
" To tolong aku ! "
" Astgafirullah, yang lain kemana ? "
" Hanya ada Feby, tolong bantu ya Feb ! "
" Iya Mbak "
" Mbak " Feby keluar dengan tergesah - gesah. Namun dia malah melihat sosok yang dia benci saat ini.
" Kenapa kalian diam ayo bawa aku ! " teriak Hilwa.
" Baik Mbak "
Febry segera menggendong Hilwa naik kemotornya. Sedangkan Feby memegangi Hilwa saat Febry hendak menaiki motornya.
" Feb tolong ambilkan perlengkapa Mbak di kamar ya. Semua sudah tersedia di tas "
" Iyaa Mbak "
" By, aku duluan ke bidan ya "
" Ya, hati - hati "
Hilwa menggengam pinggang Febry cukup keras karena dia merasakan sakit di perutnya.
" Febry bisa cepat sedikit "
" Iyaa Mbak, Mbak sabar ya "
" Aku tidak tahan lagi "
Keringat bercucuran di wajah Febry, dia panik melihat kondisi Hilwa saat itu.
Feby memacu motornya dengan cepat hingga sekarang dia sudah berada di belakang motornya Febry.
" Feby sudah ada di belakang kita " ucap Febry yang melihat Feby dari kaca spion.
" Lebih cepat Feb ! "
Febry mencoba semaksimal mungkin memacu motornya, dia juga tidak ingin terjadi apa - apa pada Hilwa saat di perjalanan.
" Ckck " Febry berdecak kesal saat melihat kemacetan di depannya.
" Ada Feb ? Kenapa berhenti ? " kata Hilwa sambil memegang perutnya.
" Macet "
Feby yang mengetahui sedang macet, dia langsung senmgera turun dari moyornya dan berlari kedepan.
" By !!! " teriak Febry namun tak di respon oleh Feby.
Feby berlari sekencang mungkin lalu memberi tahu para pengndari untuk memberi jalan karena sedang ke adaan darurat.
" Pak tolong beri jalan ! "
" Lo gak ngeliat disini macet ! "
" Iyaa saya tau ! Saya gak buta ! Tolong beri jalan sedikit Pak, Kakak saya mau melahirkan ! "
Feby terus memberi penjelasan pada pengendara sambil menunjuk ke arah Febry.
Dan untunglah para pengendara itu memberi jalan sedikit agar Feby bisa melewati kemacetan.
" Minggir - minggir kasih jalan ! " teriak salah satu orang yang berada di kemacetan itu.
Sambil melewati kerumunan yang memberi jalan Feby dan Febry menundukan kepala dan tersenyum pada semuanya dan mengucapkan terimakasih karena telah memberi jalan untuknya.
Beberapa menit kemudian sampailah pada tempat yang di tuju.
" Mbak maaf ya " ucap Febry lalu segera menggendong Hilwa.
" Bu tolong Kakak saya mau melahirkan " ucap Feby.
" Ayo - ayo bawa keruangan "
Dengan panik Febry membawa Hilwa dengan cepat hingga sampai ke ruangan tersebut.
" Mas jangan keluar, temani istrinya saja "
" Saya bukan suaminya, saya adiknya " balas Febry.
" Om maaf - maaf Mas "
" Iya tidak apa - apa "
" Biar aku yang didalam, tolong kabari orang tua ku dan Kak Andri ya " kata Feby.
" Baiklah "
Febry segera keluar dan mengambil handphonenya lalu menghubungi Andri.
Tut
Tut
Tut
Namun Andri tidak meresponnya, begitu juga dengan Pak Ahmad sudah bebeapa kali di telpon tapi tetap tidak di respon.
" Aku telpon Mama aja "
Tut
Tut
Tut
📞Ada apa Feb ? "
📞Mama lagi dimana ?
📞Mama dirumah, ada apa ? Kok suara mu panik ?
📞Mama aku minta tolong. Mama bisa gak kerumah Feby sekarang ?
📞Iya bisa
📞Tolong katakan pada siapa pun yang berada disana kalau Mbak Hilwa sudah berada di bidan bersama aku dan Feby
📞Oh iya iya Nak, Mama segera kesana sekarang
📞Terimakasih ya Ma. Maaf merepotkan
📞Tidak apa - apa, Mama pergi sekarang
Bu Irma segera menutop telponnya dan bersiap pergi kerumah Pak Ahmad.
" Ada apa Ma ? "
" Tidak ada waktu untuk memjelaskan, sebaiknya Papa antar Mama kerumah Pak Ahmad ! "
Pak Rizki begitu heran ada apa dengan istrinya. Kenapa dia begitu panik ? Namun Pak Rizki tidak mau banyak tanya dan segera mengantar istrinya kerumah Pak Ahmad.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " jawab Pak Ahmad.
" Pak Rizki, Bu Irma ayo masuk "
" Pak langsung saja ya "
" Ada apa ini ? " kata Pak Ahmad menatap heran.
" Pak, Hilwa sudah berada di bidan bersama Feby dan Febry "
" Apa ? " Andri yang baru keluar dari kamarnya begitu terkejut.
" Ya Andri. Tadi Febry mengabari saya Pak "
" Ya Allah, kenapa Andri tidak menyadarinya " keluh Andri.
" Ayo kita kesana ! "
Mereka pun bersiap untuk pergi ke bidan untuk melihat Hilwa.
" Loh Pak mau kemana ? " tanya Bu Siti yang baru saja pulang.
" Ayo ikut Bu, Hilwa mau melahirkan "
" Apa ? Iya - iya tunggu Ibu Pak "
Bu Siti segera menaruh beberapa kantung keresek di sembarang tempat kemudian Bu Siti segera mengunci pintu rumahnya.
Tanpa menunggu lama mereka segera pergi menuju bidan