
" Kamu sakit Feb ? " kata Febry sambil mengecek kening Feby panas atau tidak.
" Apaan si kamu ! " Feby menepis tangan Febry yang sudah mengenai keningnya.
" Oh iya, tadi si Feby lewatin pohon gede disana ! mungkin dia kesambet penunggu pohon hahaa " seru Roby.
" Iya penunggungnya mang Rohim " sahut Febry. Roby kembali tertawa sambil memegang perutnya.
" Aku aduin loh ke mang Rohim ! Katanya dibilang penunggu pohon besar ! " kata Feby sambil menepuk bahu Febry dengan kencang.
" Lah memang benarkan ? Mang Rohim buka warkop di bawah pohon besar itu ! " kata Febry sambil mengusap bahunya.
" Bener - bener Feb hahahaa " sahut Roby.
" Ayo ah mabar aja ! Jadi ngomongin mang Rohim si ? Entar orangnya keselek loh hahahaha " kata Feby yang berbicara agak kencang. Ternyata orang yang Feby sebut namanya sedang berjalan di hadapan mereka.
" Hayo ngomongin mamang ya ? " Mereka bertiga kaget melihat mang Rohim sudah berdiri dihadapan mereka.
" Itu mang si Febry yang ngomongin mamang " kata Feby sambil menahan tawa. Mata Febry membulat dan menatap ke arah Feby.
" Ini mang si Roby mau bayar hutang ke mamang " kata Febry menjadikan Roby kambing hitam.
" Ya sudah atuh nanti ke saja ya Roby "
" Siap mang nanti kita ke warung mamang ya " Feby.
" Tumben cuma bertiga, yang lain pada kemana neng Feby ? "
" Mungkin lagi malam mingguan dulu kali sama ayang hehee "
" Oh. Cuma kalian bertiga ya yang jomblo hahahaa kasian !! " Ledek mang Rohim pada mereka. Mereka pun ikut tertawa.
" Ah mang Rohim bisa aja nih ! "
" Mamang pergi dulu ya "
" Iya mang "
Mereka bertiga segera memulai permainan online di ponsel mereka. Satu persatu datang dan berkumpul di post kamling. Tidak lupa salah satu dari mereka ada yang membawa gitar untuk melengkapi nyanyian mereka.
" Besok lari pagi ga ? " tanya Febry.
" Iya, ayo ikut Rob " ajak Feby sambil menepuk bahu Roby.
" Iya aku ikut "
" Hm... Paling ngomong doang ! " sahut Febry dengam melirik Roby.
" Beneran deh, kali ini aku ikut. Tapi aku nginep di ruma kamu ya Feb " kata Roby sambil asik melihat ponselnya tanpa melirik Febry dan Feby.
Plak
" Enak aja kamu mau nginep dirumah aku ! " tolak Feby samil mencubit tangan Roby.
" Aw sakit Feb !! Lagian bukan kamu maksudnya itu Febry. Makanya punya nama jangan sama ! " perotes Roby sambil mengelus tangannya.
" Oh hehee maaf - maaf ! Kalau mau perotes sana sama orang tua kami, kenapa memberi nama ini pada kami ? Berani tidak ? "
Roby hanya memanyunkan bibirnya sambil meringis kesakitam karena cubitan Feby tadi.
" Ayo pulang, udah jam 10 nih " ajak Febry.
" Oke "
" Kamu jadi menginap dirumah ku tidak " tanya Febry pada Roby yang masih asik dengan ponselnya.
" Jadi Feb "
" Ya sudah, aku antar Feby pulang dulu ya "
" Oke "
Seperti biasa, Febry selalu mengantar Feby pulang setiap habih bermain bersama. Walaupun Feby punya ilmu beladiri, tetap saja Febry hawatir dengan keselamatan Feby.
" Eh "
Febry menyenggol bahu Feby.
" Apa ? "
" Tadi kamu kenapa senyum - senyum sendiri ? "
" Huh dasar " Febry mengacak - acak rambut Feby karena kesal dengan sahabatnya itu.
" Stop oke ! Nih aku kasih tau. Tadi aku habis antar jahitan kerumah kak Jafar "
" Terus apa masalahnya dengan kamu senyum - senyum ? "
" Ya adalah. Kak Jafar ganteng banget tau. Apa lagi saat dia senyum. Behhh gantengnya "
" Aku kira si kenapa ? Menurut aku biasa aja, gantengan juga aku "
" Idih !!! Apanya yang ganteng ? Liat wajah mu serius begitu ! Aku heran kenapa cewek - cewek tergila - gila pada mu ? " perotes Feby sambil menatap Febry dari atas kebawah.
" Kamu saja yang belum tahu "
" Tahu apa ? Tahu bulat digoreng dadakan hahaa " Febry hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Feby yang terus tertawa.
...****************...
Pagi pun tiba, sesuai janji mereka semalam yang ingin lari pagi ke taman kota. Mereka melakukan pemanasan sebelum.berlari. Tepat di dekat lapangan banyak ibu - ibu yang sudah berkumpul untuk senam. Mata mereka tertuju pada Febry, Feby dan juga Roby.
" Lihat tuh anaknya Bu Siti dan Bu Irma selalu saja bersama "
" Bukan nikahin saja ya anak - anaknya itu ! "
" Iya ya dari pada nanti kebablasan "
" Itu lagi anaknya Bu Nur, segala ikutin mereka ! "
Feby yang mendengar celotehan emak - emak komplek itu merasa geram. Ingin sekali Feby mencabik - cabik mulut mereka.
" Kurang ajar ya tuh emak - emak komplek !!! " kata Feby yang sudah ingin maju dan membuat perhitungan. Namun tangannya ditahan oleh Febry.
" Tenang jangan emosi Feby ! " tahan Febry.
" Gak usah di dengering Feby ! " Sahut Roby.
" Gimana gak mau di dengerin ! Orang tedengar jelas di kuping aku ! " perotes Feby dan masih memberontak dari cengraman tangan Febry.
" Sebaiknya kita pergi saja " ajak Febry.
" Ibu - ibu ayo kita mulai senamnya " ucap pembimbing senam. Dan ibu - ibu yang bergosip tadi segera berdiri di posisi masing - masing. Terlintas di pikiran Feby untuk menjahili emak - emak komplek itu. Feby sedang mikirkan niat liciknya untuk mengerjai mereka.
Melintaslah seekor kucing dihadapan Feby. Dan kebetulan kucing itu tiba - tiba duduk didekat pot buang yang jaraknya tidak jauh dari emak - emak komplek yang ingin senam. Cengkraman Febry sudah dilepaskan, kini Feby berjalan menuju kucing itu.
" Feb mau kemana ? Ayolah jangan ladenin emak - emak itu ! " ucap Febry yang berjalan di belakan Feby, Roby mau tidak mau juga mengikutinya. Febry dan Roby tenang karena feby cuma mengelus elus kucing yang sedang bersantai. Namun Feby menoleh kebelakang ke arah Febry dan Roby. Senyum licik terukir dibibir Feby. Febry dan Roby hanya menggelengkan kepalanya karena sudah tau niat jahat Feby.
Perlahan Febry dan Roby mudur kebelakan. Musik sudah di putarkan dan senam pun dimulai. Dengan semangat para emak - emak komplek menggerakan tubuhnya sesuai dengan intrusi pembimbing senam.
" Hehehe... Rasakan ini ! " batin Feby.
Feby mulai melancarkan aksinya. Febry dan Roby hanya mengintip dibalik pohon belimbing dengan wajah khawatir.
" Maaf ya meong, maaf ya aku jadiin kamu tumbal " kata Feby sambil mengangakat kucing itu dan mengelusnya. Feby segera melancarkan aksinya. Kucing itu dilemparkan ke emak - emak komplek yang sedang senam.
" Aaaaaaaa !!!!!! "
" Meong... meong... meong "
Emak - emak komplek berteriak histeris sambil memaki - maki. Sedangkan Feby sudah berlari secepat kilat bersama Febry dan Roby meninggalkan lapangan itu sambil tertawa.
" Siapa si yang lemparin kucing ?! "
" Iya nih iseng banget "
Mereka tidak tahu kalau yang mengerjai itu adalah Feby, karena mereka sedang asik senam dan tidal memperhatikan sekeliling mereka.
" Hahahaha rasakan itu emak - emak komplek ! " ucap Feby sambil tertawa terbahak - bahak.
" Parah banget kamu Feb " kata Febry sambil ikut tertawa.
" Tapi lumayankan bisa jadi hiburan kalian hahaha " sahut Feby.
" Iya juga si Feb. Ada - ada saja kamu " Roby.
Febry hanya menatap Feby yang sedang tertawa. Kejadian ini cukup menghibur dirinya juga. Sejujurnya Febry juga kesal dengan perkataan emak - emak komplek tadi. Namun dia masih menghormati orang yang lebih tua. Tapi tidak dengan Feby yang tidak memandang bulu. Tua atau muda kalau yang mencari masalah dengannya akan dia balas.
" Sebernya aku tidak mau menjahili mereka, tapi mereka itu keterlaluan ! kita hanya beda usia, kalau yang tua berbuat ulah jangan salahkan jika yang muda tidak menghormati mereka ! " kata Feby.