Febry & Feby

Febry & Feby
Rencana Ketahuan



Agar mengtahui lebih jelas Bu Irma dan Aprilia pergi mendekat.


" Apa - apaan ini ? Kenapa Citra mau membatalkan perjodohan ini ? " kata Bu Irma sedangkan Aprilia hanya diam dan menyimak.


" Mama jadi bingung Pril "


" Kita awasi saja dulu Ma "


" Baiklah "


Sedangkan Febry, Roby dan Sahrul mendekat ke arah Reno yang sedang berjalan dengan ekspresi ketakutan.


" Kamu kenapa ? " tanya Roby.


" Kalian berdua benar tentang Feby. Aku tidak ingin bersamanya "


" Apa ku bilang "


" Lebih baik kamu cepat mengatakannya sebelum terlambat " sahut Febry dengan wajah datar.


" Kamu benar. Aku harus memberitahu orang tua ku "


Ternyata Bu Siti dan Hilwa sedang berada di sana juga. Karena Hilwa sudah hamil tua Bu Siti mengajaknya untuk berjalan pagi di taman kota.


" Loh loh itu bukannya Febry ? " kata Bu Siti.


" Iya Bu, itu juga ada Roby. Dan itu Sahrul sedang merekam sesuatu " balas Hilwa.


" Sepertinya Ibu kenal dengan laki - laki yang disamping Febry " Bu Siti penasaran dan berjalan mendekat. " Itu bukannya Reno ? Kenapa dia seperti orang ketakutan ? "


" Entahlah Bu. Coba kita sedikit mendekat "


Alangkah terkejutnya Bu Siti mendengar perkataan Reno yang akan memutuskan perjodohannya dengan Feby.


" Apa - apaan ini ? "


" Tenang Bu. Sebaiknya kita mencari tahu "


" Ibu rasa ada yang mereka rencanakan "


Setelah Citra dan Rena pergi. Mereka berkumpul lagi di dekat ayunan. Disana merekatertawa puas setelah berhasil mengerjai Citra dan Reno.


Deni dan Sahrul menunjukan sebuah video yang mereka rekam. Tertawa mereka kembali mengeras karena melihat sandiwara yang mereka buat.


" Lihat wajahnya sangat lucu " ucap Feby saat melihat Reno ketakutan dengan dirinya.


" Akhirnya aku bebas dari perjodohan ini " kata Febry.


" Selamat ya rencana kalian berdua berhasil " ucap Roby.


" Kalian mau makan apa nanti aku dan Febry yang akan membayarnya "


" Asik, ayo kawan kita berburu kuliner "


Disaat mereka sedang merayakan kemenangan mereka. Ada empat orang yang mengawasi mereka dan sudah mengetahui rencana jahat mereka.


Kesal dan marah itu yang dirasakan oleh Bu Siti dan Bu Irma karena anaknya benar - benar keterlaluan.


" Lihat Hilwa, adik mu itu sungguh keterlaluan ! " ucap Bu Siti emosi.


" Bu Siti "


" Bu Irma "


" Kebetulan sekali kita bertemu "


" Iya Bu "


" Apa Bu Irma mengawasi mereka ? "


" Iya Bu, saya kesal sekali melihatnya "


" Memang anak kurang ajar bisa - bisanya punya rencana seperti itu " umpat Bu Siti.


" Sabar Bu. Kita cari cara lain agar Feby mau dijodohkan " ucap Hilwa menenagkan Ibu mertuanya.


" Saya punya ide Bu" kata Bu Irma dengan wajah berubah senang.


" Apa itu Bu Irma "


" Kita duduk dulu Bu "


" Baiklah "


Bu Irma menjelaskan rencananya pada Bu Siti. Hilwa dan April hanya menyimak. Selesai memeberi tahu rencananya Bu Irma dan Bu Siti tertawa.


" Hilwa beritahu Feby ya "


" Tenang saja Bu, Hilwa tidak akan beritahu Feby "


" Kami juga ya April "


" Siap Ma "


Karena kesal dengan anaknya Bu Siti dan Bu Irma jadi menyusun rencana yang akan mengejutkan anaknya itu.


...***...


" Bu, mana Feby ? " tanya Pak Ahmad.


" Masih dikamarnya kali Pak "


" Tumben "


" Sebentar lagi juga keluar "


Dan benar sekali perkataan Bu Siti, Feby keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapih.


" Mau kemana kamu ? " tanya Pak Ahmad.


" Aku mau latihan Pak "


" Kalau libur kerja ya istirahat Feb jangan keluyuran terus "


Feby hanya diam dan duduk di samping Pak Ahmad sambil meminum kopinya.


" Ini anak, kopi punya Bapaknya diminum juga " tegur Bu Siti. Sedangankaan Pak Ahmad santai saja karena sudah terbiasa berbagi kopi dengan anak perempuannya.


" Join ya Pak "


" Iya iya "


" Aku ijin pergi ya Pak, Bu, Assalamualaikum " Feby mencium tangan kedua orang tuanya dan langsung pergi dengan mengedarai motornya.


" Kanapa si Bu ? "


" Ibu kesal Pak. Gara - gara kelakuan anak kita perjodohannya di batalkan "


" Sudah mungkin belum jodoh "


" Ibu masih kesal saja Pak "


" Ibu kan punya rencana dengan Bu Irma, Yasudah jalani saja. Mungkin akan berjalan lancar " sahut Pak Ahmad.


" Jadi Bapak mendukung "


" Kalau yang terbaik untuk anak perempuan kita Bapak setuju "


" Makasih ya Pak "


" Sama - sama Bu. Yang terpenting jangan terlalu memaksa mereka "


Bu Siti menganggu, walaupun Bu Siti suka memarahi Feby tapi Bu Siti sangat menyayangi anaknya itu.


...***...


" Kamu mau kemana Feb ? " tanya Pak Rizki.


" Biasa Pa "


" Sama Feby ? " tanya Bu Irma yang menahan senyumnya.


" Iya Ma sama siapa lagi "


Febry pun duduk bersama orang tuanya sambil menonton televisi. Tak lama terdengarlah suara motor yang berhenti tepT didepan rumah Febry. Tanpa menunggu lama Febry segera berdiri dan langsung keluar.


" Sebentar By " Febry segera masuk kembali mengambil tasnya dan berpamitan dengan orang tuanya.


" Apaan sih si Febry kok manggilnya By "


" Siapa Feb ? "


" Feby "


" Oh Papa kira siapa. Abis kamu panggilnya By "


" Itu panggilan kesayangan Pa " sahut Bu Irma tertawa dalam hati.


" Nama kita sama jadi aku memanggilnya By aja " jawab Febry yang sudah siap. " Aku pergi dulu Pa, Ma, Assalamualikum "


" Waalaikumsalam "


" Ayo kita berangakat "


" Aku yang bawa ? "


" Iya "


" Oke "


Bu Irma mengintip dari jendela rumahnya, memang benar jika dilihat Febry dan Feby sungguh serasi.


" Gimana Ma, kamu jadi dengan rencana mu "


" Iya dong Pa, aku yakin mereka akan terkejut. Mau tidak mau mereka harus menerimanya "


Pak Rizki hanya menggolengkan kepalanya melihat istrinyayang sangat antusias dengan rencananya.


" Eh iya tadi kenapa kamu manggil aku By ? Biasanya juga kamu manggil aku Feb ? "


" Nama kita sama. Jadi aku panggil By aja biar tidak ribet "


" Oh gitu "


" Kenapa ? Keberatan ? "


" Engga "


" Yasudah "


" Kamu aja ah yang bawa motornya "


" Iya "


Feby segera menepikan motornya. Dan sekarang Febry yang mengdarai motor tersebut.


" Jangan ngebut ! " titah Feby. Febry malah sengaja membawa motor itu dengan kencang. Sampai Feby teriak.


" FEBRY !!! pelan - pelan. Aku gak mau ya mati konyol di jalan ! "


Sedangkan Febry hanya tertawa karena senang melihat sahabatnya ketakutan.


" Aku kira kamu tidak punya rasa takut "


" Iyalah emangnya kamu "


" Siapa bilang aku tidak punya rasa takut " kata Febry.


" Apa yang kamu takuti "


" Takut kehilangan mu "


Seketika Feby terdiam seribu kata. Entah apa yang merasuki sahabatnya ini sehingga dia berkata seperti itu.


" Hahahah belajar gombal dari mana ? " jawab Feby dengan wajah datar.


" Kok gombal ? Aku serius "


" Kamu kesambet apa si Feb ? " batin Feby.


" Ya iyalah takut kehilangan kamu. Secara kamu manusia yang unik dan langka. Lihat saja diri mu hahaa "


" Kurang ajar !!! "


Bugk


Bugk


" Baru aku mau salting eh malah dia becanda. Menyebalkan sekali kamu Feb "


" Awww sakit By, kamu tuh bukan cewe kali. Pukulan mu menyakitkan sekali "


" Bodo !!! "