
" Bu pak, Feby pergi dulu ya " kata Feby.
" Iya hati - hati "
" Ayo jalan Feb "
" Oke " Febry melajukan motornya dan pergi menuju danau.
" Pak, kalau dilihat - lihat mereka berdua cocok ya " ucap Bu Siti yang masih menatap Febry dan Feby yang sudah menghilang disimpang jalan.
" Bapak juga berpikir begitu bu "
" Kita jodohkan saja mereka pak hehee "
" Ibu ini, sudah jangan urusin urusan mereka. Ayo masuk bu "
Kedekatan mereka berdua membuat kedua orang tua mereka berpikir untuk menjodohkan mereka. Tetapi Febry dan Feby sudah nyaman dengan hubungan persahabatan yang telah mereka lalui selama 22 tahun.
" Loh kok kita berdua aja ? " protes feby
" Lah memang mau berapa orang ? Mau aku ajak se Rt biar rame ? "
" Bukan gitu, aku kira kamu ajak si Roby "
" Si Roby gak tau mau pergi kemana. Tadi dia pake baju rapih banget "
" Mungkin mau kondangan "
" Mungkin "
" Beli makanan dulu yuk " kata Feby sambil menepuk bahu Febry.
" Mau beli apa ? "
" Nasi padang aja sama cemilan juga ya hehee "
" Kamu rakus banget si Feb ! Awas nanti jadi gendut loh hahaha "
" Dih apaan si !! " Feby yang tidak terima diperingati oleh Febry, melancarkan cubitan ke pingggang Febry.
" Awww sakit Feb ! "
" Makanya jangan ngeledek "
" Tuh ada nasi padang " kata Febry sambil menepi kekiri.
" Ga ah ! Pasti itu mahal. Kita cari yang serba 10 ribu aja. Kan sama juga porsinya malah kadang banyakan yang serba 10 ribu "
" Ya ampun nih anak, pengan banyak enak terus murah " perotes Febry sambil menepuk jidatnya.
" Eh kita harus hemat. Hemat itu pangkal kaya "
" Iya - iya terserah kamu. Percuma ngomong sama cewe gak bakalan menang "
" Apa ? "
" Ah engga. Untung gak denger hehee "
" Febryansyah Alfa Rizki jangan bicara macam - macam ya ! "
" Iya Feby Nur Damayanti "
Febry kembali menjalankan motornya dan akhirnya menepi lagi untuk membeli nasi padang serba 10 ribu yang Feby inginkan dan juga membeli cemilan di supermarket. Sesudah membeli semua itu mereka segera pergi dan sampailah di sebuah danau.
" Nih " Febry memberikan pancingan kepada Feby.
" Apaan nih ? "
" Pancinganlah pake nanya lagi "
" Aku ikut mancing gitu ? "
" Iya, sekali - sekali kamu ikut mancing jangan duduk diam saja sambil menghayal ! "
" Dih siapa yang menghayal. Aku tuh lagi berimajinasi "
" Udah sama aja ! Nih pegang "
Mai tidak mau Feby mengambil pancingan itu. Feby tidak tau cara memakainya bagaimana, makanya Feby hanya diam saja.
" Ih malah diam si ! "
" Cara pakainya bagaimana ? "
" Sini aku ajari "
Febry berjalan mendekati Feby dan berdiri tepat dibelakan Feby. Febry memperlihatkan bagaimana cara mengayunkan pancingan itu. Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Entah mengapa ada rasa yang begitu berbeda.
" Ye pegang - pengang ! " perotes Feby. Wajah Febry memerah karena dia menyentuh tangan Feby dan tubuh mereka berdekan. " Awas nanti naksir hahaha "
" Ngaco ! " Febry langung melepaskan tangan Feby dan pergi ketempatnya. Ada rasa malu dan jantung Febry berdetak kencang. Tapi tidak dengan Feby, dia bersikap seperti biasa.
" Febry terus ini diapakan ? " teriak Feby.
" Udah diemin aja, kamu liatin pelampungnya. Kalau pelampungnya tenggelam berarti umpannya dimakam ikan "
Beberapa menit sudah berlalu, belum ada tanda - tanda ikan menyambar umpanya itu. Feby jenuh menunggu ikan itu memakan umpannya. Lalu Feby melihat kearah Febry, dengan serius Febry menunggu umpannya diamakan oleh ikan.
" Si Febry sampe anteng banget. Dia gak jenuh apa menunggu seperti ini ? " keluh Feby. Akhirnya Feby berdiri dan mendekati Febry.
" Febry kamu gak jenuh menunggu ? "
" Tidak. Anggap aja sedang melatih kesabaran " jawab Febry matanya masih fokus kearah pelampung. Sedangakan Feby hanya menggelengkan kepalanya.
" Feb umpan kamu dimakan tuh " kata Febry yang segera berlari kearah pancingan Feby. Dengan mahirnya Febry menariknya dan benar saja ikan itu memakan umpannya.
" Yeyyy aku dapat ikan " teriak Feby.
Ikan itu dilepas dari kail dan ditaru di kantung plastik yang sudah di isi air. Kemudian Febry memasangkan umpannya kembali pada kail pacing.
" Ayo dilempar lagi " kata Febry sambil memberikannya pada Feby. Feby pun mengambilnya dan mengayunkan pancingan tersebut. Tak lama umpan yang berada di kail pancing Febry dimakan oleh ikan dan Febry pun mendapatkan ikan.
" Febry udah tengah hari sholat dulu yuk terus habis sholat kita makan "
" Baiklah "
Febry dan Feby membereskan peralatannya dan menuju masjid terdekat. Setelah sholat mereka kembali ketepi danau untuk makan siang.
" Kita kaya lagi piknik ya hahaha " sahut Feby dan Febry hanya tersenyum.
Feby membukakan sebukus nasi padang untuk Febry dan juga untuknya. Dan mereka makan bersama dengan lahap. Feby yang cuek dengan gaya makannya tidak menghiraukan Febry yang sedang memperhatikannya sambil tersenyum.
" Sahabat ku yang satu ini cuek banget. Inilah yang membuat ku nyaman berada didekat mu Feb. Kamu orangnya apa adanya dan sangat sederhana. Semoga suatu hari nanti kamu mendapatkan laki - laki yang baik " batin Febry.
" Kenapa ? " kata Feby yang berhenti memakan makanannya karena Febry melihatnya sambil senyum - senyum.
" Ah gak apa - apa "
" Kamu udah gila ya Febry senyum - senyum sendiri ? "
" Lucu aja lihat kamu makan gak ada anggun - anggunnya "
" Oh ayolah. Ngapain si pake jaim segala. Aku ya begini adanya hehee "
" Bagus. Jangan pernah berubah ya tetap seperti " kata Febry. Feby mengacungkan jempolnya ke arah Febry dan kembali memakan makanannya lagi.
Selesai makan Febry dan Feby kembali memancing lagi. Febry sangat serius menunggu umpannya dimakan ikan dan Feby sudah mulai terbiasa memancing namun Feby tidak seserius Febry. Beberapa kali Febry mendapatkan ikan, sedangkan Feby hanya mendapatkan dua ekor ikan saja. Puas dengan hasil pancingnya Febry mengajak Feby untuk pulang karena sudah mulai sore.
" Feb pulang yuk "
" Dih kok pulang "
" Sudah memasuki waktu sholat asar "
" Oh oke deh "
Febry dan Feby kembali membereskan peralatannya dan membungan sampah bekas makanan dan minuman yang tadi mereka santap ke tempat sampah. Kemudian mereka pergi dari tempat itu menuju rumah mereka.
" Gimana enak gak mancing ? " tanya Febry sambil fokus kejalan.
" Enak si tapi gak enaknya tuh menunggu umpannya dimakan ikan "
" Hahahha.... Kan aku sudah bilang anggap saja melatih kesabara "
" Aku gak bisa seaabr itu "
" Dasar perempuan hahaha "
Febry menghentika motornya tepat didepan rumah Feby dan Feby pun turun dari motornya Febry.
" Ini ikan kamu " kata Febry sambil memberikan ikan tersebut.
" Buat kamu aja "
" Aku udah ada. Ini ambil "
" Oke makasih ya "
" Sama - sama. Makasih juga udah nemenin aku ya " Feby hanya mengganggukan kepalanya.
Keberadaan mereka berdua menjadi tontonan oleh ibu - ibu yang waktu itu bergosip di lapangan. Mereka kembali bergosip ria tanpa memperdulikan perasaan Febry dan Feby.
" Aku pulang ya, gak enak nanti kita jadi bahan gosip "
" Oke "
" Sana masuk nanti kamu emosi lagi "
" Aku masuk ya. Bye "
Febry pun segera pergi meninggalkan rumah Feby tanpa memperdulikan ibu - ibu yang sedang menggosipi mereka berdua.
" Lihat deh anaknya Bu Siti dan anak Bu Irma makin lama makin lengket "
" Iya ih malu - maluin aja bukannya dinikahin "
" Tau tuh nanti bakalan hamil tuh si Feby "
Bu Siti yang sedang berjalan dengan menantunya tidak sengaja mendengar perkataan ibu - ibu itu. Tangan Bu Siti mengepal. Hilwa yang melihat ibu mertuanya sedang menahan amarahnya dengan cepat Hilwa mengajak ibu mertuanya berbicara agar Bu Siti tidak mendengarkan perkataan ibu - ibu tukang gosip.