Febry & Feby

Febry & Feby
Usulan Perjodohan



" Huhfff.... Kurang kerjaan banget si mereka menggosipi Febry dan Feby ! Astagfirullah aku lupa lagi hamil jangan sembarangan berkata " batin Hilwa.


Rasa kesal melanda hati Bu Siti. Bagaimana tidak kesal anak perempuannya di gosipi yang tidak - tidak. Sebagai seorang ibu pasti Bu Siti sangat tau kelakuan anaknya. Dan Bu Siti juga tau sifat Febry, karena dari kecil Bu Siti juga ikut merawat Febry.


Bu Siti dan Hilwa sudah ada di dalam rumah dan duduk diruang tamu. Pak Ahmad melihat istrinya cemberut tanpa segan ia menegurnya.


" Ibu kenapa ? " tanya Pak Ahmad. Bu Siti enggan memjawab pertanyaan dari suaminya. Sekilas Pak Ahmad berpaling menatap menantunya itu.


" Ada apa Hilwa ? " bisik Pak Ahmad. Hilwa ingin menjawabnya tapi dia tidak enak dengan ibu mertuanya dan akhirnya Hilwa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Ada apa sayang kok ibu cemberut ? " bisik Andri yang juga aneh melihat ibunya.


" Aku tidak enak mengatakannya mas "


" Bu kalau ada apa - apa dibicarakan saja jangan di pendam " kata Pak Ahmad lagi.


" Feby dimana Pak ? " tanya Bu Siti yang sudah membuka suaranya.


" Dia didapur bu "


Feby yang sedang dibicarakan pun keluar dari dapur sambil bernyayi dengan gembira.


" Loh kok pada tegang si ada apa ? " kata Feby yang ikut duduk bersama keluarganya. Tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Feby.


" Aneh banget si ditanya pada diem " Feby menggerutu dalam hati lalu dia meminum kopi yang baru dia buat tafi di dapur.


" Feb kamu pacaran sama Febry ? " tanya Bu Siti "


Uhukk.... uhukkk


Feby yang mendengar pertanyaan dari ibunya langsung batuk - batuk.


" Pelan - pelan Feb " kata Andri.


" Jawab Feb kamu pacaran sama Febry ? " tanya Bu Siti lagi.


" Hahaha " Feby tertawa lepas karena pertanyaan yang dilontarkan ibunya sungguh menggelikan. " Ibu, Febry itu sahabat baik Feby. Kami tidak pacaran bu " kata Feby memberi penjelasan. " Oh iya Feby tahu kenapa ibu bertanya seperti ? " Hening sejenak. Feby masih tersenyum menatap ibunya.


" Nungguin ya hahahaa " ucap Feby sambil bercanda.


" Huh dasar adek kurang ajar ! Aku udah serius aja nungguin kamu ngomong " sahut Andri kesal dengan adiknya yang selalu bercanda jika ada hal yang serius.


" Lagian pada serius banget hehehe "


" Feby... Feby kamu tuh ya gak bisa serius " balas Pak Ahmad.


" Hehehe maaf pak. Ibu, Feby tahu ibu mendengar perkataan ibu - ibu tukang gibah kan ? "


" Sebenarnya kalau kalian pacaran juga tidak apa - apa. Ibu si setuju saja, apa lagi ibu sudah mengenal Febry sejak kecil "


" Dih apa si ibu. Kita berdua tuh sahabatan "


" Ya kamu kan gak tahu kapan sahabat bisa berubah jadi cinta, benar tidak pak ? " sahut Andri.


" Benar Andri bapak setuju "


" Kalian ada - ada saja. Ibu aku tadi dapet ikan. Terus ikannya sudah aku bersikan tinggal dikasih bumbu lalu digoreng "


" Iya nanti ibu yang masak saja "


" Oke bu " Feby pun beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.


Diruang tamu Bu Siti merencanakan untuk mencarikan jodoh untuk anak perempuannya. Pak Ahmad setuju saja dengan usulan istrinya. Namun Andri tidak setuju dengan usulan ibunya.


" Andri tidak setuju bu. Biarkan Feby yang memilih pasangan hidupnha sendiri "


" Ibu tidak langsung menikahkannya Andri. Biar mereka saling mengenal jika cocok baru dilanjutkan ketahap serius "


" Aduh ibu sekarang jamannya sudah berbeda. Mana mau Feby dijodohkan "


" Apanya salah jika mencoba "


Andri dan Bu Siti saling beradu argumen dan masing - masing tetap pafa pendiriannya.


" Sudah - sudah, begini saja kita kenal dulu Feby dengan salah satu anak teman bapak. Biarkan mereka saling mengenal. Dan jangan sampai Feby tahu dengan perjodohan ini " sahut Pak Ahmad yang sudah pusing mendengar anak dan ibu yang tidak mau kalah. Sedangkan Hilwa hanya diam dan menjadi pendengar yang baik.


Feby yang tidak sengaja hendak kekamar mandi mendengar pembicaran mereka. Betapa terkejutnya Feby saat mengetahui bahwa dia akan dijodohkan.


...****************...


Bu Irma yang baru pulang dari warung, tidak sengaja melewati ibu - ibu yang sedang berkumpul. Ibu - ibu menatap Bu Irma yang membawa belanjaan yang cukup banyak.


" Kasihan ya. Padahal punya anak laki tapi sayangnya diabaikan "


" Anak laki - lakinya malah sering menghabiskan waktu dengan teman perempuannya. Dan tadi itu si perempuannya di beliin sesuatu lagi "


" Gak kasian ya dia sama ibunya "


" Kenapa mereka gak dinikahin aja ya "


" Iya masa anak dibiarin berzinah mulu "


Bu Irma yang tadinya tidak memperdulikan, jadi terpancing dengan perkataan omong kosong mereka.


" Jangan suka ngomongin anak orang. Lihat anak kalian sudah pada benar belum ! " cetus Bu Irma dan melanjukan berjalan lagi.


Sesampainya dirumah Bu Irma dengan kasar melatakan belanjaannya ke meja. Febry yang sedang duduk santai dengan papahnya, terkejut dengan kedatangan mamahnya dengan wajah yang memerah karena menahan emosinya.


" Mamah kenapa ? " tanya Pak Rizki panik melihat istrinya yang sudah duduk sambil menangis. Febry juga ikut panik lalu Febry mendekati mamahnya.


" Hey kenapa sayang ? Kok nangis ? "


" Pah, ibu - ibu itu keterlaluan sekali mamah kesal sama mereka hiks... hiks... "


" Memang mereka mengatakan apa mah ? " tanya Febry yang tidak kalah kesal melihat ibunya menangis "


" Mamah gak terima anak mamah dijelek -jelekin seperti itu. Apa lagi mereka juga membawa - bawa Feby juga "


" Sudah - sudah mah " Pak Rizki mencoba menenangkan istrinya. " Febry kamu mau kemana ? " dengan cepat Pak Rizki menarik tangan Febry. Dia tahu pasti anaknya sedang emosi melihat mamahnya menangis.


" Febry mau keluar "


" Untuk apa ? Sudah diam duduk disini " titah Pak Rizki. Febry yang sudah tidak bisa menahan emosinya, dengan kencang dia memukul tembok rumahnya setelah itu dia masuk kekamar.


Bugk


Pak Rizki dan Bu Irma terdiam melihat anaknya yang sudah emosi. April yang baru saja keluar dari kamarnya tidak sengaja melihat kemarahan kakaknya dan juga April panil melihat mamahnya menangis.


" Mamah ! " April segera mengambil segela air minum dan memberikan pada mamahnya. " Mah minum dulu "


" Ada apa pah ? " bisik April namun papahnya mengisyaratkan agar April diam.


" Mah tenangin diri kamu ya, lihat anak mu jadi emosi "


" Iya pah "


Setelah memunaikan sholat magrib Bu Irma dan Pak Rizki duduk di ruang tamu lagi. Karena keadaan sudah tenang Bu Irma mulai membuka pembicaraan.


" Pah ? "


" Iya mah "


" Bagaimana kalau Febry kita jodohkan "


Pak Rizki terkejut dengan usulan istrinya, kemudian Pak Rizki tersenyum.


" Kamu yakin ? "


" Iya pah "


" Sama siapa ? Feby kah ? "


" Kalau Feby sepertinya tidak mungkin karena mereka berdua itu bersahabat "


" Lalu ? "


" Bagaimana kalau mamah kenalin saja dengan anak teman mamah "


" Kamu atur saja mah "


" Ih kok papah gitu jawabannya "


" Ya mau bagaimana lagi mah. Febry juga tidak ada niat untuk memcari pasangan ya jadi kita harus turun tangan " kata Pak Rizki yang juga setuju dengan usulan istrinya.