
Rasanya enggan sekali untuk pulang kerumah, tetapi mau bagaimana lagi mau tidak mau Feby harus menghadapinya.
" Kenapa harus dijodohkan ? Memangnya kenapa kalau belum punya pacar atau belum siap untuk menikah ? Toh suatu saat aku juga ingin menikah, tapi bukan sekarang ! Aku ingin berkarir dulu tapi mereka tidak mengerti. Huffff menyebalkan " Feby berceloteh sendiri sambil menyalahkan motornya. Saat motornya sudah menyalah Feby segera pulang kerumahnya.
Feby berharap agar jalanan macet supaya dia telat sampai rumah. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Jalan begitu renggang tidak ada tanda - tanda kemacetan.
Tibalah dirumah, dengan malas Feby masuk kedalam rumah.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " jawab Hilwa yang sedang berada diruang tamu.
" Ibu mana Mbak ? "
" Ibu sedang membeli kue sama Bapak "
" Sepertinya mereka sangat antusian menyambut tamunya "
" Ya begitulah "
" Kak Andri kemana Mbak "
" Ada dikamar baru selesai mandi "
" Oh, aku kekamar dulu ya "
" Oke "
Sesampainya dikamar Feby langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur menghilangkan rasa lelahnya.
Tidak berapa lama Bu Siti dan Pak Ahmad pulang dari pasar membawa banyak makanan untuk di sajikan.
" Banyak sekali Bu belanjanya " kata Hilwa yang ingin membantu membawakan barang belanjaan Bu Siti.
" Iya nak, eh kamu jangan bawa ini biar Andri saja " ucap Bu Siti.
" Andri bantu Ibu mu " pinta Pak Ahmad.
" Siap langsanakan Pak "
Didalam kamar Feby sibuk membalas pesan dari Febry. Setelah itu dia mendengarkan musik sambil memejamkan matanya.
Bu Siti sedang mempersiapkan makanan dan minuman untuk menyambut tamu yang akan datang. Kue - kue dan keripik juga sudah tersedia disana.
" Alhamdulillah sudah selesai " ucap Bu Siti yang begitu senang.
Feby tidak turut membantu Bu Siti karena dia baru saja pulang kerja. Hilwa hanya membantu yang ringan - ringan saja karena Bu Siti melarangnya lantaran dia sedang hamil.
" Hilwa, tolong beri tahu Feby. Minta dia untuk bersiap "
" Baik Bu "
Hilwa bergegsa pergi kekamar Feby kemudian mengetuk pintu kamarnya.
" Masuk saja Mbak " sahut Feby dari dalam kamar.
" Feby cepat bersiap "
" Iya Mbak "
" Mau aku make up ? "
" Tidak usah Mbak "
" Yang sabar ya adik Mbak yang cantik " ucap Hilwa sambil menepuk bahu Feby.
" Jujur Mbak, aku tidak mau seperti ini "
" Iya Mbak paham kok, ayo kita keluar "
Mereka berdua pun keluar dari kamar menuju dapur untuk menata makanan di meja tamu. Tidak beberapa lama tamu yang ditunggu - tunggu datang. Pak Ahmad dan Bu Siti menyambutnya dengan senang hati.
" Assalamualaikum " ucap mereka.
" Waalaikumsalam, ayo silahkan masuk " balas Pak Ahmad menyambutnya dengan senyuman.
" Aduh jadi merepotkan ini " kata Pak Amri.
" Tidak apa - apa Amri, ayo silahkan di cicipi " ucap Pak Ahmad.
Feby hanya tertunduk dan tidak ingin menampakan wajahnya. Begitu juga dengan pemuda yang ingin dikenalkan dengan Feby, dia tertunduk malu. Namun sesekali mencuri pandangan ke arah Feby.
" Itu cowok kenapa malu - malu gitu si ! Enggak ada coolnya " gumam Feby dalam hatinya.
" Reno ayo sapa Feby nya " ucap Bu Tari.
" Hallo Feby " dengan malu - malu Reno menyapa Feby lalu dia kembali menembunyikan wajahnya.
" Hai " balas Feby dengan tersenyum.
" Hahahaha kenapa nih cowok lemah gemulai begini "
" Maaf ya Bu Pak, Reno agak sedikit pemalu " tutur Bu Tari.
" Yang benar saja Ibu sama Bapak mau menjodohkan aku dengan dia ! "
Feby masih sibuk berkata - kata dalam hatinya tanpa mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya. Andri dan Hilwa hanya diam memperhatikan, jika di tanya baru dia menjawab.
" Reno bagaimana kamu setuju dengan perjodohan ini ? " tanya Pak Amri pada anak kesayangannya.
" Kalau aku enggak sama sekali ! " keluh Feby dalam hatinya.
Setelah itu Reno baru menjelaskan tentang dirinya. Pak Ahmad dan Bu Siti sangat setuju anaknya menikan dengan Reno. Walaupun Reno pemalu tetapi dia anak yang sangat cerdas dan seorang pengusaha.
Dilain sisi Feby hanya diam dan mendengarkan mereka berbicara dan mengumbar senyum palsu.
" Kenapa tidak ada bertanya pendapat ku ? Kenapa hanya dia yang ditanya ? " keluh Feby dalam hatinya.
" Nak Feby bagaimana pendapat mu ? " tanya Bu Tari.
" Akhirnya ada yang bertanya juga "
" Kalau aku setuju. Tapi aku tidak ingin cepat - cepat menikan "
" Loh kenapa begitu ? cepat menikah itu lebih baik " balas Bu Tari.
" Aku masih ingin berkarir "
Di ujung sana Bu Siti menatap Feby dengan tajam seolah ingin menerkam Feby.
" Maafkan sikap anak saya ya Bu Pak " kata Bu Siti.
" Tidak apa - apa kok, kami menghargai pendapat Feby " seru Bu Tari sambil tersenyum.
" Anak mu benar - benar Pak " bisik Bu Siti yang kesal dengan anaknya.
" Sudah Bu, kita hargai perasaan Feby " balas Pak Ahmad.
" Reno juga tidak keberatan Pak Bu. Kita juga bisa saling kenal dulu kan " Reno membenarkan perkataan Feby.
" Hufff untunglah dia peka "
Mereka melanjutkan pembicaraan lagi dengan riang gembira dan tidak ada kecanggungan diantara mereka. Feby juga sedikit lega karena Reno tidak keberatan dengan permintaan Feby.
Malam semakin larut keluarga Pak Amri pamit untuk pulang. Tidak lupa Feby dan Reno saling bertukar nomor telpon agar bisa saling menghubungi dan Feby bisa melancarkan rancananya.
" Huuuffd akhirnya selesai juga " Feby menjatuhkan tubuhnya di sofa.
" Feby maksud kamu apa berbicara seperti itu " tiba - tiba Bu Siti menegur Feby.
" Sudah - sudah Bu. Toh Nak Reno juga keberatan "
" Tapi anak ini bikin malu Pak "
" Iya aku salah, aku minta maaf Bu " kata Feby.
" Bantu Ibu bereskan semua ini "
" Siap Bu "
" Hilwa juga bantu ya Bu "
" Jangan, kamu menyapu saja ya " tolak Bu Siti.
Hilwa menurut dengan perkataan Bu Siti dan segera mengambil sapu.
Merasa lelah karena Feby kedapur dan membuat kopi.
" Kakak mau ya " kata Andri yang melihat adiknya membuat kopi.
" Iya aku bikinin "
" Terimakasih adik ku. Nanti taru di mejanya hehee "
Feby hanya memanyunkan bibirnya dan melirik sinis ke arah Andri yang cengengesan. Feby segera membawa kopi yang dia buat keruang tamu. Dan disana sudah ada Andri dan Hilwa yang sedang menonton tv.
" Ini Kakak ku yang tampan " kata Feby sambil memberikan kopi itu.
" Wah terimakasih "
Feby hanya diam dan menyeruput kopi yang nikmat itu, dan tidak lupa kue dan cemilan kering yang masih tersedia di meja.
" Kok Bapak tidak dibuatkan " seru Pak Ahmad yang baru saja keluar dari kamar.
" Bapak mau ? "
" Tentu mau "
" Oke aku buatkan dulu ya "
Beberapa menit kemudian Feby keluar dari dapur membawa secangkir kopi dan di berikan kepada Pak Ahmad.
" Terimakasih anak Bapak yang cantik "
" Hehee sama - sama Bapak "
" Giman menurut mu tentang Reno ? " tanya Andri.
" Ya dia cukup menarik "
" Berarti jadi dong nikah hehee " ledek Andri.
" Apa si Kakak "
Andri selalu senang menggoda adiknya dan membuat adiknya marah. Namun Andri sangat menyayangi Feby dan ingin yang terbaik untuk adiknya.