
Andri dan Hilwa sudah berada dirumah pak Ahmad. Kehadiran anak pertamanya membuat suasana rumah pak Ahmad menjadi ramai. Begitu senangnya mereka menyambut kehadiran sang bayi kecil.
Tamu - tamu pun berdatangan kerumah pak Ahmad baik saudara, teman mau pun tetangga memberikan selamat kepada keluarga pak Ahmad.
Roby, Deni dan Sahrul juga datang kerumah pak Ahmad memberikan selamat atas kelahiran anak pertama Andri dan Hilwa. Dan disana mereka bertemu dengan Febry yang juga berada disana dengan orang tuanya juga adiknya.
" Kak Andri, mbak Hilwa selamat ya " ucap Roby, Deni dan Sahrul.
" Makasih - makasih " balas Andri menyalami mereka.
Kebetulan sekali Faishal sedang di gendong oleh Feby saat mereka bertiga datang.
" Kak, hati - hati anaknya ... "
" Apa !? " Feby langsung memotong perkataan Deni saat hendak menggodnya.
" Hehee engga Feb "
Roby hanya tertawa sesekali matanya melirik Feby yang tengah duduk di samping pak Rizki.
" Laras gak kamu ajak Rob ? "
" Tidak, di lagi pergi sam sepupunya "
" Oh "
Febry melirik mereka berempat yanh asik mengobrol tanpa dirinya. Ingin sekali dia bergabung kesana tapi hubungannya dengan Roby dan Feby sedang tidak baik - baik saja.
" Feb!! Sini " ajak Sahrul yang sengaja membuat teman - temannya berkumpul.
" Bagus Rul " bisik Deni.
" Disini aja " jawab Febry.
Feby dan Roby sengaja tidak mendengar dan memperhatikan keberadaan Febry. Mereka berdua terkesan tidak peduli.
Namun saat Roby, Deni dan Sahrul hendak pulang Febry segera menghampiri mereka.
" Rob " panggil Febry.
" Apa !? " masih dengan wajah juteknya.
" Maafkan aku " Febry mengulurkan tangannya pada Roby.
Roby hanya menatapnya dengan wajah datar.
" Maaf "
Lama kelamaan Roby tersenyum dan segera menjabat tangan Febry lalu memeluknya.
" Maafin aku juga Feb "
" Nah gitu dong " sahut Sahrul dan Deni.
Momen itu juga dilihat oleh Feby di balik goredeng rumahnya. Dia tersenyum lega karena Febry dan Roby sudah saling memaafkan. Kini hanya tinggal hubungan dia dan Febry yang belum di perbaiki.
...****************...
Di caffe, Jacky dan Lisa sedang mengadakan pertemuan untuk merencanakan sesuatu.
" Bagaimana Jacky ? Kamu belum bertindak juga ! "
" Aku masih mencari waktu yang tepat "
" Cih !!! Sampai kapan ? "
" Tunggu saja "
" Lama sekali ! "
Diam sejenak sambil meminum kopi.
" Febry dan Roby sudah baikan ! "
" Apa ? "
" Tidak lama lagi pasti mereka akan kembali berkumpul. Termasuk juga Feby "
" Tidak akan ku biarkan, Feby kembali pada Febry ! "
" Ckck, kalau Feby sampai kembali, itu salah kamu ! "
" Kok salah aku ? "
" Ya karena kamu lama bertindak "
Jacky mengambil nafas dalam - dalam lalu dia memijat dahinya.
" Aku tidak sanggup melakukan itu padanya "
" Cihhhh ! Munafik ! "
" Terserah kamu mau bilang apa "
" Baiklah jangan salahkan aku ya "
Lisa kesal dengaan Jacky yang tidak tega terhadap Feby.
" Kalau begitu aku pergi ! "
" Tunggu dulu " tahan Jacky.
" Apa lagi ? "
" Oke, aku akan melakukanya "
" Aku akan menunggu di club biasa. Semua akan ku siapkan "
" Oke "
" Ingat nanti malam ya "
" Iya cerewet "
" Ya sudah aku pergi dulu "
Tiba - tiba Lisa mengecup pipi Jacky sebelum dia pergi dan mengembangkan senyumnya.
" Murahan sekali kamu ini " ejek Jacky. Bukannya marah Lisa malah tertawa.
Setelah bertemu dengan Lisa, Jacky segera menghubungi Feby untuk mengajaknya bertemu nanti malam.
📩Jacky : Nanti malam aku jemput ya
📩Feby : Memang mau kemana ?
📩Jacky : Teman ku ulang tahun dia mengadakan acara
📩Feby : Oke
📩Jacky : Aku jemput jam 8 ya
📩Feby : Siap
...****************...
Menjelang jam 08.00 malam.
Feby sibuk memilih baju, karena kebingungan ingin memakai baju seperti apa, akhirnya Feby memilih baju yang biasa dia pakai saja.
Jam 08.00 tepat Jacky sudah berada di rungan tamu untuk menuggu Feby.
" Lama banget dandannya ! " seru bu Siti.
" Pakai aja yang menurut mu nyaman " jawab Jacky.
" Pasti nanti cewek - cewek yang lain pakai dres atau semacamnya "
" Lalu kenapa ? Kan tidak harus sama kan ? Kamu ya kamu " sahut Jacky lagi.
" Benar juga si "
" Dasar "
" Jacky jangan pulang larut malam ya " titah pak Ahmad.
" Iya pak " balas Jacky sambil menyalami pak Ahmad dan bu Siti.
" Aku pergi ya pak, bu "
" Iya hati - hati "
" Jangan lupa oleh - oleh ya hehehe " goda bu Siti.
" Siap bu " balas Jacky.
Tak lama Feby dan Jacky pergi, Andri baru sampai rumah dengan membawa 3 bal pempers dan beberapa makanan.
" Feby kemana pak ? "
" Pergi dengan Jacky "
" Kirain aku dia main di pos "
" Udah lama adik mu tidak mai disana ! "
" Iya juga si bu, ya udah Andri masuk dulu ya "
" Sana temani istri dan anak mu "
" Siap bu "
Beberapa saat kemudian bu Siti baru saja menyelesaikan jahitannya. Sesekali dia melirik suaminya yang begitu gelisah, entah apa sebabnya.
" Pak ada apa ? "
" Tidak bu "
" Jangan di sembungikan "
" Benar bu "
" Ibu sudah hidup bersama bapa bertahun - tahun, jelas ibu tau bapak sedang gelisah "
" Huhhhh iya bu "
" Gelisah kenapa pak ? "
" Sejak Feby pergi perasaan bapak jadi tidak enak "
Bu Siti langsunh merubah ekspresi wajahnya, seakan - akan dia merasakan apa yang suaminya rasakan.
" Sebenarnya bapak ingin melarang Feby keluar, tapi bapak tidak enak dengan Jacky "
" Ibu juga jadi hawatir "
Cklek
Pintu kamar Andri terbuka.
Melihat mertuanya yang duduk gelisah Hilwa segera menghampiri mereka.
" Ada apa bu, pak ? "
" Perasaan bapak tidak enak "
" Astagfirullah " ucap Hilwa.
" Ibu juga jadi mengawatirkan Feby "
" Memang dia kemana ? "
" Di pergi dengan Jacky " sahut pak Ahmad.
Mendengar Feby pergi, Hilwa jadi ikut merasa hawatir juga pada adik ipar kesayangannya.
" Doain aja pak, bu biar tidak terjadi apa - apa dengan "
" Iya Hilwa "
" Hilwa masuk lagi ya pak, bu "
" Iya Hilwa "
Tadinya Hilwa ingin pergi kedapur untuk makan, namun dia mengurungkan niatnya dan segera kembali kekamarnya.
" Kok gak jadi makan sayang ? " tanya Andri.
Hilwa hanya duduk dan pikirannya entah kemana.
" Sayang " Andri menepuk bahu istrinya pelan.
" IYA !!! " Hiwa terkejut.
" Ada apa hmm ? "
" Perasaan ibu sama bapak tidak enak, mereka menghawatirkan Feby "
" Feby ? "
" Iya, aku juga jadi meenghawatirkannya "
Mendengar perkataan istriny Andri juga ikut menghawtirkan Feby.
" Kita tunggu sampai jam 10, jika Feby belum pulang aku akan mencarinya " ucap Andri sambil mengelus anaknya.
Namun Hilwa masih saja gelisah memikirkan adik iparnya, begitu juga dengan pak Ahmad dan bu Siti yang masih berdiam diri di ruang tamu.
Pikirannya tertuju pada anak perempuannya yang baru saja pergi keluar rumah bersama kekasihnya.
" Pak "
" Apa bu ? "
" Ibu jadi tambah hawatir "
" Sama bu "
Diam sejenk sambil menonton tv.
" Kita berdoa saja semoga anak kita selamat "
" Aamii pak "
" Biar gak tegang buatkan bapak kopi ya hehehe "
" Si bapak bisa aja "
Pak Ahmad tersenyum pada istrinya.
" Ibu buatkan dulu ya "
" Makasih bu "