
Biasanya Feby selalu lari pagi bersama Febry pada hari minggu, tapi kali ini Feby menemani sang kakak ipar jalan pagi sambil membeli sarapan dan belanja untuk memasak.
Feby terus memperhatikan perut Hilwa yang makin membesar dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
" Mbak ? "
" Hmmm "
" Mbak tidak sesak nafas ? "
Seketika Hilwa tertawa.
" Kamu itu ada - ada saja Feby. Suatu saat kamu akan mengalaminya "
Feby hanya membalasnya dengan senyuman.
" Kita mau masak apa nih ? " tanya Hilwa.
" Mbak mau nya apa ? Bukankah orang hamil selera makannya tidak tentu. Jadi Mbak saja yang pilih "
" Alhamdulillah kehamilan ku ini tidak seperti itu hehehe jadi makan apa aja masih selera "
" Serius Mbak ? "
" He,em "
" Baiklah "
Feby mengedarkan matanya saat sudah sampai di pasar pagi yang biasa di adakan di taman kota.
Kemudiam Feby mendatangi tukang ayam, seelah itu tukang ikan dan berakhir di tukang sayur - sayuran.
" Kamu belanja banyak banget Feb "
" Gak apa - apa Mbak hehee "
" Ini ambil uang Mbak kita patuangan aja "
" Ihhh apa si udah simpan aja uangnya "
" Dasar ngeyel " ucaap Hilwa sambil meninju lengan Feby pelan.
" Eh iya Mbak aku lupa beli buah, ayo kita kesana Mbak "
" Oke "
Mereka berdua berjalan ke tukanh buah - buahan. Disana Feby tidak sengaja bertemu Febry dan Bu Irma yang sedang memili buah - buahan.
" Huhhhhhh "
Feby membuang nafasnya kasar. Ingin sekali Feby memutar balik tubuhnya namun dengan cepat Hilwa menahannya.
" Ayo, kamu tidak boleh menghindar ! " begitu ucapnya.
" Tante Irma " sapa Hilwa.
" Ehh Hilwa " balas Bi Irma.
" Ada Feby juga ?"
" Iya Tante "
" Kalian mau beli buah juga ? "
" Iya Tante. Ini si bontot yang mau hehee " jawab Irma sambil terkekeh.
Feby hanya tersenyum sambil menundukan kepalanya. Ada rasa canggung tercipta disana. Namun Bu Irma dan Hilwa tidak tinggal diam.
" Loh kalian saling diam - diaman si ? " goda Bu Irma.
" Mereka lagi sariawan kali Tante " ucal Hilwa sambil terkekeh.
" Mbak ! " bisik Feby pelan sambil menarik gamis Hilwa.
" Kalian berdua tidak mau mengobrol ? " tanya Bu Irma. Tiba - tiba Bu Irma mendorong anaknya itu ke arah Feby.
" Sana mengobrol "
" Mama ! " bisik Febry pelan.
Feby hanya bisa diam dan tangannya sibuk memilih - milih buah yang ada di hadapannya.
" Huhhhhh kenapa suasana hati ku saat ini tak secerah minggu pagi ?! " keluh Feby dalam hatinya.
Ya memang minggu pagi sangan cerah bahkan cahaya terpancar begitu terang. Namun tidak bagi suasanan hati Feby yang diselimuti awan gelap mengundang petir yang bergemuruh di hatinya.
Febry juga hanya bisa diam saat berdekatan dengan Feby. Mungkin dia tidak ingin menambah kekesalan yang ada di hati sahabatnya.
Setelah selesai membeli buah Feby langsung mengajan Hilwa pulang, lalu mereka berdua berpamitan dengan Bu Irma.
" Tante kami duluan ya "
" Iya sayang "
Didalam perjalanan pulang Feby hanya diam dan memasang wajah datar.
" Feby "
" Hmmm "
" Ayolah jangan cemberut "
" Aku bingung Mbak "
" Bingung kenapa "
" Harus bersikap apa pada Febry "
" Memang kamu yakin ingin menjauhi Febry ? "
" Mungkin iya ! "
Hilwa hanya mengelus bahu Feby pelan.
...*****...
Sesuai dengan perkataan Pak Rizki dan Bu Irma bahwa mereka akan datang berkejung keruman Pak Ahmad dan Bu Siti untum meminta maaf atas kelakuan anaknya.
" Ayo Pa "
" Iya Ma sebentar Papa keluarkan motor Febry dulu "
" Dasar " Pak Rizki langsung mengusap kepala Bu Irma dan menuruti kemauannya untuk berjalan kaki kerumah Pak Ahmad.
Walaupun sudah tidak muda lagi tapi mereka tetap romantis dan membangun komunikasi yang baik.
" Assalamualaikum "
Pak Rizki dan Bu Irma mengucap salam setibanya di depan rumah Pak Ahmad.
" Waalaikumsalam " jawab Bu Siti yang begitu terkejut melihat siapa yang berkunjung kerumahnya.
" Pak Rizki, Bu Irma, silahkan masuk "
" Iya terimakasih Bu "
Bu Siti pun mempersilahkan mereka berdua duduk. Pak Ahmad, Andri dan Hilwa juga menyambut kedatangan mereka.
" Ini Bu Siti "
" Ya ampun Bu Irma segala bawa kue "
" Gak apa - apa Bu "
" Terimakasih ya Bu "
Bu Siti segera membawa kue itu kedapur untuk di potong - potong dan disajikan.
" Mana Feby, Pak ? " tanya Pak Rizki.
" Dia di kamar, sejak tadi "
" Biar Hilwa panggilkan feby ya Pak "
" Baiklah Nak "
Tok
Tok
Tok
" Feby ! "
" Iya Mbak, masuk saja "
Cklek
Pintu kamar Feby di buka oleh Hilwa.
" Feb, ada Om Rizki dan Bu Irma di luar "
" Hah ? "
" Ayo keluar "
" Tapi "
" Udah Ayo keluar "
Hilwa menarik paksa Feby agar segera keluar dari kamarnya.
" Tante, Om " ucap Feby lalu menyalami mereka berdua.
" Kamu kenapa mengurung diri sayang ? " tanya Bu Irma yang menyambut Feby dengan hangat.
" Tidak apa - apa Tante "
" Jangan mengurung diri hanya karena Febry ! " ujar Pak Rizki.
" Iya sayang, itu tidak baik. Tante gak suka lihat kamu bersedih "
Feby hanya tersenyum tipis sambil menundukan kepalanya.
" Jadi kedatangan kami ke sini karena ingin meminta maaf atas kelakuan anak kami " kata Pak Rizki.
" Tidak apa - apa Pak. Namanya juga anak muda " jawab Pak Ahmad santai.
" Kami hanya tidak ingin pesaudaraan ini renggang karena masalah anak - anak kita "
" Saya juga minta maaf atas kelakuan Feby yang kasar " ucap Pak Ahmad.
" Tidak masalah Pak, yang jadi masalah saat ini hubungan anak - anak kita yang mulai berjarak ! Saya dan istri jujur sangat sedih melihat mereka berjauhan. Padahal semua ini rencana mereka untuk menolak dijodohkan dan mencari pacar sendiri. Tapi malah persahabatan mereka yang hancur "
" Saya juga sama Pak. Sangat disayangkan jika persahabatan mereka yang dibangun sejak kecil hingga sekarang "
" Jadi bagaimana Feby ? " tanya Pak Rizki.
Feby yang ditanya enggan untuk menjawabnya matanya hanya terpejam.
" Katakan saja Nak " ucap Bu Irma.
" Sebenarnya aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi Lisa " perkataan Feby berhenti sejenak.
" Dia tidak senang saat aku bersama Feby. Dia cemburu saat aku bersama Febry. Padahal aku sahabatnya semua juga tau aku sahabatnya. Tapi Lisa benar - benar tidak ingin kekasihnya di dekati "
" Aku juga cukup tau diri jika Febry sedang bersama Lisa. Tapi Lisa tetap saja kesal dengan ku. Jadi lebih baik aku saja yang mengalah, kalau Febry bahagia bersamanya aku juga akan bahagia "
" Oh sayang " Bu Irma langsung memeluk Feby.
Setelah lama berbincang - bincang Pak Ahmad dan Bu Irma pamit untuk pulang.
" Tante, Om. Tolong sampaikan salam ku untu Febry ya. Maaf karena sudah memukulnya " ucap feby.
" Tentu, kami akan menyampaikannya "
" Tante masih berharap kamu jadi menantu Tante " ujar Bu Irma sambil memeluk Feby. Dan Feby hanya membalasnya dengan senyuman.
" Tante jangan marah pada Lisa ya "
" Tidak Feb, Tante akan bersikap seperti biasa padanya nanti "
" Terimakasih Tante "
" Kami pamit ya "
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
" Aku berharap semuanya akan baik - baik saja. Terasa aneh saat menjauhi mu Febry. Huhhhh memang benar suasana hati ku tak secerah minggu pagi " keluh Feby dalam hatinya.