Febry & Feby

Febry & Feby
Mengungkapkan Perasaan



" Roby ! Roby ! " teriak seorang memanggil Roby dan Roby menoleh ke belakang.


" Iya "


Lisa berlari mengejar Roby.


" Ada apa ? "


" Bisa bicara sebentar ? "


Roby langsung memperlihatkan jam tangannya pada Lisa.


" Oh "


" Sudah masuk jam kerja " jawab Roby yang langsung berjalan meninggalkan Lisa.


" Hm bagimana kalau pulang kerja ? " Lisa terus mengikuti Roby.


" Tidak bisa ! "


" Hm bagaimana kalau istirahat ? "


" Baiklah tapi aku akasn siang dengan Febry dulu "


" Oke. Nanti aku tunggu di kantin "


" Iya " Roby lekas meninggalkan Lisa karena ada pekerjaan yang harus dia kerjakan sampai selesai. Dengan tergesah - gesah Roby berjalan agar cepat samapai tujuannya.


" Dari mana bro ? " tanya Febry yang sudah menunggunya sejak tadi.


" Maaf - maaf aku terlambat "


" Santai aja "


Dengan cepat Febry dan Roby mengerjakan pekerjaannya. Febry selalu teliti dan serius saat mengerjakan tugasnya. Beda halnya dengan Roby, dia kadang suka bercanda dan tidak terlalu serius. Namun pekerjaannya selalu rapih sama seperti Febry.


...*****...


Jam istirahat tiba, semua kariyawan dan karyawati meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk makan siang dan meregangkan otot - otot mereka.


" Roby lama banget si ! " keluh Lisa menunggu kedatangan Roby.


Sedangakan yang di tunggu sedang asik bersenda gurau sambil menikmati kopi dan rokok setelah makan siang.


" Bodohnya aku, kenapa tidak meminta nomor hp Roby terlebih dahulu ?! " umpat Lisa sambil menepuk jidatnya.


" Apa jangan - jangan Roby lupa ? "


" Awas saja kalau sampai lupa ! "


Lisa kerap kali memainkan jari jemarinya sambil mengetuk - ketuk meja perlahan. Dan akhirnya yang ditunggu datang juga.


" Syukurlah akhirnya dia datang juga " ucap Lisa senang melihat Roby datang.


" Maaf ya sudah menunggu lama "


" It's ok "


" So ? "


" Ehem, jadi begini Roby. Aku ingin tahu tentang Febry "


" Hanya itu ? "


" Ya "


" Oh God Lisa aku kira ada apa ? "


" Ayo ceritakan pada ku "


" Tentang Febry ? "


" Iyalah masa tentang kamu ! "


" Oh jadi dia ingin tahu tentang Febry. Sudah ku duga. Baiklah akan ku beri tahu " batin Roby.


" Febry tipe cowo yang diam, dingin dan cuek. Dia sangat sederhana bukan tipe orang yang suka menghambur - hamburkan uang. Dia tidak suka cewe manja dan mengatur - atur dirinya ! " kata terakhir agak di tekankan supaya Lisa paham.


" Hanya itu ? "


" Jika ingin lebih jelas kamu langsung saja dekati orangnya. Nanti kamu akan tau sendiri bagaimana karakter Febry "


" Bagaiman kalau kamu membantu ku jadian sama Febry ? "


" Oh maaf aku tidak bisa " Roby langsung mengangkat kedua tangannya.


" Kenapa ? "


" Berjuanglah sendiri "


" Ayolah Rob. Kamu kan teman baiknya Febry "


" Bukan aku, ada seorang yang lebih memahami karakter Febry "


" Kenalkan aku padanya "


" Tidak akan bisa ! "


" Pasti bisa "


" Nih cewe ngeyel ya ! "


"Kamu berusaha sendiri. Kalau Febry tahu kamu mendapatkannya karena ada bantuan orang lain dia pasti akan kecewa. Coba saja kalau tidak percaya ! "


Lisa terdiam mendengar perkataan Roby dia berpikir sejenak.


" Susah juga ya untuk mendapatkaan dia, tapi aku tidak boleh menyerah " begitu kata Lisa.


" Baiklah aku akan berusaha sendiri "


" Oke aku pergi dulu " ucap Roby.


" Terimakasih ya infonya "


" Sama - sama dan selamat berjuang "


Roby berjalan pelan meninggalkan Lisa yang masih betah duduk di sana sambil termenung.


" Siapa ya orang yang Roby katakan itu ? "


Lisa berpikir sambil jari jemarinya mengetuk meja.


" Sudahlah. Lebih baik aku menyusun rencana saja "


Lisa pun pergi dari kantin menuju ruang kerjanya. Dia sengaja berjalan pelan saat melintasi tempat kerja Febry. Mata Lisa terus menatap dalam sosok yang sangat dia sukai. Senyumnya terukir indah di bibirnya. Seketika Febry menoleh ke aranya dan pandangan mereka bertemu.


Lisa melambaikan tangannya dan memberi senyuman termanisnya untuk Febry agar dia terpikat. Entah mengapa Febry juga membalasnya dengan senyuman. Jantung Lisa berdegup kencang dan tubuhnya lemas.


" Oh no senyumnya sangat menawan. Aduhh aku mau pingsaan "


Febry segera membuang pandangannya dari Lisa, dia tidak ingin lama - lama bertatap muka dengan Lisa.


" Apa - apaan si dia bukan pergi malah terus di situ " batin Febry yang tidak nyaman ditatap oleh Lisa.


Plak


" Lisa ! "


Lisa terkejut mendapatkan pukulandan teriakan oleh temannya.


" Issssa apa si ! Ganggu aja ah "


" Kamu ngapaim senyam senyum sendiri ? " temannya jadi menatao ke arah Febry.


" Oh come on Lisa " temannya langsung menarik tanga Lisa dan membawanya pada Febry.


" Eh eh eh kamu mau bawa aku kemana ?! "


" Sudah diam aku muak melihat mu terlihat bodoh seperti itu "


" Iya tapi jangan kesana ! "


Temannya Lisa terus menarik tangan Lisa hingga sampai dihadapan Febry.


" Febry ! "


Febry segera menoleh.


" Ini teman ku sangat menyukai mu. Tidak kah kamu tertarik padanya sedikit saja ! Dia selalu memperhatikan mu setiap saat "


Febry langsung menaikkan alisnya. Semua yang berada di situ juga terkejut. Sesangkan Lisa begitu malu wajahnya pun memerah karena ulah temannya.


" Dia terlalu lama mengungkapkannya pada mu ! Jadi bagaimana kamu terima atau tidak ? "


Lisa mencubit lengan temannya berkali - kali namun temannya tidak menghiraukannya.


" Jika dia menyukai ku suruh dia yang berbicara sendiri " ucap Febry dengan lantang namun wajahnya tetap tidak mau menatap Lisa dan sibuk memegang peralatan mesin.


" Dengar tidak Lisa ? Dia ingin kamu yang mengatakannya "


Lisa hanya diam terpaku perasaannya bercampur aduk.


" Oke nanti pulang kerja aku tunggu di parkiran " ucap Febry lagi.


" Serius kan ? "


" Iya "


" Baiklah. Kamu senangkan Lisa ? Ayo kita pergi " ucap temannya itu sambil menggandeng tangan Lisa. " Permisi ya semuanya maaf sudah menggangu waktu kerja kalian hehee "


Para karyawan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat kejadian tadi.


" Anak perempan sekarang berani - berani ya " ucap salah satu karyawan yang umurnya lebih tua.


" Iya Pak. Perempuannya agresif dan laki - lakinya pendiam "


" Febry, hati - hati ya dalam memilih pasangan hidup. Jangan hanya melihat fisiknya karena semkin bertambahnya umur fisik akan berubah menua "


" Tentu Pak sudah ada tinggal menunggu waktu yang tepat saja " jawab Febry. Entah siapa itu orangnya mereka pun tidak tahu.


Roby menepuk bahu Febry dan memberi semangat padanya karena dia sudah tahu siapa yang dimaksud Febry.


" Kamu ini gila ya ? "


" Kamu terlalu lama Lisa ! "


" Iya tahu tapi aku mau menunggu waktu yang tepat "


" Kelamaan !!! "


" Aku malu "


" Sudah nanti kamu nyatakan perasaan mu saja pada Febry. Aku yakin Febry akan menerima "


" Pasti aku akan mengutarakan perasaan ku padanya "


" Ini perdana loh kamu duluan yang ungkapkan perasaan hehehe "


" Oh God. Aku baru sadar "


" Seorang Lisa yang selalu di sanjung para lelaki dan di kejar - kejar oleh para lelaki kini berbalik dia yang mengejar lelaki hahaha " ledek temannya.


" Shuy up ! Ini semua karena mu tau " kesal Lisa pada temannya itu.


" Harusnya kamu berterimaksaih pada ku "


" Iya - iya makasih bestie " Lisa memeluk temannya itu. Memang benar kalau bukan dia yang berani mengatakan pada Febry mungkin Lisa tidak akan mengungkapkannya.