Febry & Feby

Febry & Feby
Kesal



Pak Rizki dan Bu Irma mengatur pertemuan dengan Pak Ahmad dan Bu Siti di sebuah restoran laganannya. Mereka sengaja ingin bertemu di luar saja karena mereka takut Febry dan Feby akan mengetahui rencana mereka.


" Bagaimana Pak Ahmad, apakah kami di perkenankan bertamu ke rumah Bapak ? " kata Pak Rizki selaku pihak laki - laki.


" Tentu saja Pak Rizki. Kapan Bapak dan Ibu datang kerumah kami ? "


" Bagaimana Ma ? " bisik Pak Rizki pada istrinya.


" Minggu depan saja Pa "


" Apa tidak terlalu cepat ? "


" Lebih cepat lebih baik "


" Insya Allah minggu depan kami akan datang kerumah Bapak "


" Bagaimana Bu " tanya Pak Ahmad.


" Ibu si setuju saja, lebih cepat lebih baik "


" Baiklah, saya rasa tidak ada masalah kalau Pak Rizki dan Bu Irma akan datang minggi depan "


" Jadi kita sepakat ya Pak Ahmad "


" Ayo Pak Ahmad, Bu Siti silahkan dimakan makanannya "


" Terimakasih banyak Bu Irma " balas Bu Siti.


Mereka segera menyantap makanan yang sudah di sediakan di atas meja. Mereka sangat senang karena ingin menjadi besan.


" Assalamualaikum " ucap Feby.


" Waalaikumsalam "


" Kak mana Bapak sama Ibu ? "


" Sedang dinner "


" Wah mantap " jawab Feby yang segera duduk lalu menyantap kue.


Plak


" Kebiasaan " kata Andri yang memukul tangan adiknya.


" Hehee aku mau cobain kuenya"


" Feb, kenapa kamu menolak Reno ? "


" Aku gak mau bahas "


" Kamu tuh ada - ada saja. Segala menyusun " perkataan Andri di potong karena Hilwa menutup mulutnya.


" Menyusun apa Kak ? "


" Ah tidak, aku berkata pada Hilwa "


" Hih aneh... udah ah aku mau masuk ke kamar aja " Feby pun masuk kekamarnya dan beristirahat.


" Mas gimana si "


" Maaf maaf aku lupa hehee "


" Kalau terbongkar Ibu bisa marah tau ! "


" Iya maaf sayangnya Mas, cup " Andri mengecup kening Hilwa agar Hilwa tidak marah lagi. Dan benar saja sekali kecupan Hilwa langsung luluh.


...***...


" Assalamualaikum " ucap Febry.


" Tumben tidak ada orang "


Febry berjalan dan membuka kamar adik perempuannya.


Cklek


Terlihat adiknya sedang asik memainkan ponselnya sambil tertawa riang. Febry hanya menggelengkan kelapanya dan menerobos masuk kedalam.


" April, sudah magrib ayo solat " titah Febry namun April tak mendengar sangking asiknya.


" April " panggil lagi tapi tetap tak di respon.


" Pril, kamu dengar gak ? " masih tetap tak di reapon oleh April.


" APRIL !! " bentak Febry, April kaget dan melempar ponselnya.


" Magrib ! bukannya solat malah asik main hp sambil tertawa ! "


" Iya nanti April solat "


" Sekarang ! "


" Iya iya " air mata April sudah berlinang. Dia tidak senang di bentak oleh Kakaknya.


" Lihat saja, kalau Papa sama Mama pulang aku bilangin "


Keseal Febry melihat adiknya tidak di siplin. Jika libur sekolah April tiada hentinya bermain hp dan berjoget -joget di depan kamera.


" Ada - ada saja kelakuan anak zaman sekarang "


Febry segera masuk kekamarnya meninggalkan April yang terisak di dalam kamarnya. Suara mobil terdengar dan April segera berlari keluar.


" Mamaaaaa hiks hiks hiks "


" Hey kamu kenapa sayang kok nangis ? "


" Kakak membentak ku Ma hiks hiks "


" Ayo masuk " ajak Bu Irma.


Febry mendengar tangisan adiknya begitu kencang di luar dan mengganggu kosentrasi Febry yang sedang mengaji.


" Sudahlah Nak jangan menangis nanti Mama yang tegur Kakak mu "


" Jangan dibesar - besarkan Pril. Mama juga tanya dulu sama Febry, kenapa membentak April " kata Pak Rizki. Bu Irma hanya terdiam mendengar perkataan suaminya.


" Ada apa ? " kata Febry yang membuka pintu kamarnya.


" Kamu sedang mengaji ? "


" Iya Pa "


" Sini duduk "


Sebagai seorang suami dan seorang Ayah, Pak Rizki suguh bijaksana. Pak Rizki tidak pernah pilih kasih pada anaknya semuanya sama. Bahkan kalau anak - anaknya bertengakar mereka juga kena omelan dari Pak Rizki.


" Dia main hp sambil tertawa keras magrib - magrib. Aku menegurnya agar dia solat " jawab Febry santai.


" Aku sudah bilang nanti aku solat tapi Kakak malah terus marah - marah ! " kata Apri tidak mau kalah.


" Kamu gak boleh gitu dong Febry ! " kata Bu Irma membela April.


" Kamu diam Ma" titah Pak Rizki. Bu Irma diam dan tidak berkata apa - apa.


" Dasar anak manja ! " umpatnya dengan suara kecil namun masih bisa terdengar oleh Pak Rizki.


" Febry, dengarkan Papa. Papa tidak menyalahkan kamu karena menegur adik mu. Cuma Papa tidak suka kamu bernada keras, coba kamu pelankan sedikit. Niat kamu sudah benar tapi cara kamu yang salah " Febry hanya menundukan kepalanya. Ya memang benar dia begitu kasar pada adiknya. Jadi Febry tidak mengelak jika di nasehati orang tuanya.


" Dan kamu April, jangan ngeyel kalau di bilangin. Solat tepat waktu dan kurangin main hpnya "


" Tapi kan Pa "


" Ssstt " Bu Irma menyuruh April untuk diam.


" Papa tidak membela siapa - siapa. Dua - duanya anak Papa. Papa ingin adil pada kaliam berdua. Apa kalian mengerti ? "


" Iya Pa " jawab Febry sedangakan April masih bermanja dengan Mamanya.


" Kamu juga Ma, jangan terlalu menjakam April " kata Pak Rizki dan Bu Irma hanya diam saja.


" Ya sudah Pa Febry mau keluar dulu "


" Jangan pulang malem - malem " tegur Bu Irma.


" Iya Ma "


Febry masih kesal dengan sikap adiknya yang manja sekali. Febry memlih keluar rumah dibandingkan berada dirumah melihat adiknya yang manja.


" Febry ! " panggil Feby yang sudah berlari kearah Febry


" Apa "


" Kamu kenapa ? "


" Tidak apa - apa "


" Mmm jangan bohong "


Febry diam dan tidak menanggapi perkataan Feby. Feby tidak tinggal diam melihat sahabatnya yang hanya diam dengan wajah masam.


" Kalau tidak apa - apa, kenapa wajah mu cemburut ? "


" Memang aku seperti ini "


" Masa si " Feby terus menatap lekat Febry. " Kalau bersama ku kamu tidak akan cemberut seperti ini. Ayo katakan ada apa ? "


" Huhhhh bawel banget si !!! " Febry membukam bibir Feby yang banyak bicara dengan tangannya. Feby memukul tubuh Febry agar Febry melepaskan tangannya.


" Mmmmm.... mmmmm "


" Apa hah ? Makanya diam ! "


" Cie pacaran !!! " ledek anak - anak kecil yang melintas dihadapan mereka berdua. Febry segera melepaskan tangannya agar tidak jadi bahan ledekan anak - anak kecil.


" Apa si nih bocil ! Pacaran ! Emang kamu ngerti pacaran itu apa ? " sahut Feby.


" Pacaran itu seperti kakak tadi hahaha "


" Dasar bocil ! aku bilangin ibu kalian ya ! "


" Lariiii !!! "


" Kamu si jadi di ledikin bocil - bocil kan ! "


" Kamu nya bawel "


" Makanya cerita "


" Iya, kita ke warung Mang Rohim aja "


" Gak ah " tolak Feby.


" Tumben "


" Di sana rame banyak Bapak - Bapak "


" Kita ke pos aja "


" Ayo "


Ternyada di pos ada Sahrul dan Deni beserta bocil - bocil yang menggoda mereka tadi.


" Nah ya mabar gak ajak - ajak " kata Feby yang mengejutkan mereka berdua.


" Kalian lama datengnya " jawab Deni yang sedang serius.


" Yaudah lanjutkan " Feby duduk disamping Feby dan para bocil - bocil itu tersenyum melihat Feby yang duduk disamping Febry. " Apa liat - liat ? cengengesan lagi ! "


" Galak banget si Kak Feby "


" Jangan galak - galak Kak nanti cantiknya luntur "


" Hahahahha "


" Dasar bocil, mending kalian main aja sana "


" Iya Kakak cantik "


Feby mentapa Febry lagi. Terlihat jelas febry sedang kesal, kecewa dan marah.


" Kenapa ? " kata Feby sambil menyenggol bahu Febry pelan.


" Aku kesal dengan April dan juga orang tua ku "


" Kok bisa ? "


" Semakin bertumbuh dewasa, April susah sekali di nasehati. Padahal dia salah tapi Mama tetap membelanya ! "


Feby mengusap - usap bahu Febry pelan mengisyaratkan kalau Febry harus sabar.


***Hallo kakak, bagaimana kabar kalian ? Semoga kalian sehat selalu ya. 🤗😁


Terimakasih yang sudah setia mempir di novel aku " Febry & Feby " .😊🙏


Jangan lupa untuk memberikan " Like, komen dan Vote " agar novel aku bisa berkembang 😁


Selamat membaca 😊***