
" Aku kesal dengan April dan juga orang tua ku "
" Kok bisa ? "
" Semakin bertumbuh dewasa, April susah sekali di nasehati. Padahal dia salah tapi Mama tetap membelanya ! "
Feby mengusap - usap bahu Febry pelan mengisyaratkan kalau Febry harus sabar.
" Waktu aku pulang kerumah, disana tidak ada orang tua ku hanya ada April di kamarnya. April sedang asik bermain hp sambil tertawa disaat memasuki waktu magrib. Aku memanggilmya sampai 3 kali tapi dia tidak menjawabnya dan mengabaikan ku. Lalu aku membentaknya dan menyuruhnya untuk solat tapi nanti sambil asik memainkan hpnya aku geram melihatnya "
" Lalu kamu membentaknya sepertu itu kah ? "
" Iya benar "
Feby menganggukan kepalanya mengerti apa yang terjadi. Feby tiada henti mengusap - usap bahu Febry.
" Sabar ya Feb. Kamu tidak bisa menghadapi wanita dengan kekerasan. Apalagi April itu manja "
" Tapi By, dia tidak mendengarkan "
" Sudah - sudah lain kali kamu harus mengontraol emosi mu ya " kata Feby langsung merangkulnya.
Setelah curhat dengan sahabatnya seketika Febry menjadi tenang karena sudah meluapkan kekesalannya.
" Mama ku juga terlalu memanjakan April, bahkan tak pernah menyuruh April mengerjakan pekerjaan rumah "
" Mungkin April masih terlalu kecil "
" Kecil ? Dia itu sudah SMA, lihat kamu saja dari SD sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah masa April sampai sekarang tidak bisa apa - apa " keluh Febry yang suaranya mulai meninggi. Feby terus mengusap - usap bahunya.
Sahrul dan Deni beralih pada orang didepan mereka yang terlihat sedang serius. Diam - diam Deni memotret mereka berdua dan mempostingnya di grup anak muda.
" Sahabat rasa pacar " begitu tulisnya digrup.
" Mungkin beda cara mendidiknya Feb. Tapi kamu harus menasehatinya dengan cara baik - baik pasti suatu saat dia akan memgerti "
" Entahlah By "
" Sudahlah tenangkan dirimu Feb "
Beberapa menit kemudian ponsel mereka berempat berbunyi beberapa kali. Begitu banya pesan masuk. Tanpa menunggu lama mereka mengecek ponsel mereka masing - masing.
" Apa - apaan si nih grup rame banget " umpat Feby.
" Iya gak biasanya rame seperti ini " sahut Febry.
Sahrul dan Deni hanya diam sambil senyum - senyum membalas pesan grup.
" Kurang ajar ! " umapt Feby lagi lalu menoleh kebelakang. Febry juga syok melihat pesan grup yang isinya ghibah untuk mereka berdua.
Feby langsung menghajar Sahrul dan Deni sampai bocil - bocil tertawa melihat kelakuan mereka.
" Bisa - bisanya kalian memfoto aku dan Febry ! "
" Lagian kalian serius banget seperti orang pacaran yang tidak direstui kedua orang tua hahaha " kata Deni.
" Gak apa - apa Feb, sekali - sekali jadi selebriti haha " sahut Sahrul.
" Siap - siap jadi bahan bullyan " kata Febry menggelengkan kepalanya.
Dengan suara motor berisik Roby berhenti tepat dihadapan mereka berempat.
" Wah - wah ada yang jadi selebriti nih " goda Roby.
" Ini nih lagi naek daun mereka " jawab Sahrul.
" Emang punya teman gak ada akhlaknya " jawab Feby kesal.
" Di pos sebelah rame tuh Feb karena kalian berdua " kata Roby lagi sambil turun dari motornya membawa makanan dan beberapa minuman dingin.
" Bodo amat "
" Nih mending pada makan dulu "
" Makasih Rob, emang lo bestie terbaik hehee " kata Deny yang langsung menyambar makanan tersebut.
Feby tengah sibuk membalas pesan grup sambil tertawa sedangakan Febry tak menanhgapinya hanya dua kali mengirim stiker ketawa dan melempar batu.
" Gara - gara kalian grup jadi rame " kata Feby.
" Kalau tidak begitu tidak rame Feb. Grup sepi seperti kuburan " Sahrul.
" Lebih persis seperti hati yang hampa " Deni mengucapkanya dengan perasaan yang mendalam.
" Bocil mau gak " tawar Roby pada anak kecil yang sedang bermain.
" Mau dong Kak "
Ketika mereka sedang berkumpul pasti salah satu dari mereka ada yang membawakan makanan untuk di makan bersama - sama. Tidak hanya sekedar main hp namun kadang mereka juga ikut bermain bersama anak kecil.
" Gimana perjodohan kalian ? " tanya Deni.
" Apa masih berlanjut ? " sambung Sahrul.
" Semua rencana yang kita jalani berhasil dan aku bebas tidak pusing lagi " jawab feby
" Tapi Feb, cewe yang mau dijodohkan sama kamu itu cantik luar biasa "
" Benar tuh. Kelihatanya kalian serasi "
" Cocok banget kalau sampai kalian menikah "
" Aku heran sama kamu Feb kenapa gak mau sama dia ? "
Mereka berempat bingung pada Febry yang menolak Citra. Secara Citra wanita yang cantik, tinggi, putih, tubuhnya bagus, rambutnya panjang dan terlihat sangat cerdas.
" Dia itu anak orang berada pasti dia sangat manja " jawab Febry.
" Kamu jangan berperasangka buruk dulu Feb, siapa tau kamu salah, bagaimana kalau Citra itu wanita mandiri ? Ya gak guys ? " kata Feby.
" Iya benar itu "
" Saat pertama kali bertemu sudah terliat karakternya "
" Memang kamu mencari wanita yang seperti apa ? " tanya Roby.
" Dia harus rajin beribadah, mandiri, kuat, bisa mengerjakan tugas rumah dan tidak manja. Ya seperti " mata Febry tertuju pada Feby, membuat Roby, Sahrul dan Deni juga menatap Feby.
" Sahabat ku ini " kata Febry melanjutkan kata - katanya yang terpotong.
Feby sedikit menaiki alisnya dan menatap Febry.
" Kamu menikah saja dengan Feby "
" Ya pasti seru "
" Pasti jadi trending topik "
Begitu kata Roby, Sahrul dan Deni.
" Kalian sudah gila " umpat Feby.
" Makanya kamu saja yang memilihkan wanita untuk ku " titah Febry.
" Kok aku ? "
" Kan kamu sahabat ku, pasti kamu tau yang terbaik untuk ku "
" Udah ya jangan aneh - aneh "
" Kamu juga Feby kenapa kamu menolak laki - laki itu ? " kata Deni.
" Huhhh... Kalian bisa lihat sendiri kan dia itu lembek. Okelah untuk usahnya dia sangat ahli tapi dia lembek tidak tegas mana bisa dia mengendalikan ku yang ada aku yang mengendalikannya " jawab Feby yang membuat mereka tertawa.
" Aneh kan kalau wanita yang pegang kendali ! " lanjut Feby.
" Ya tidak juga si Feb. Tau sendiri sekarang tuh banya suami takut istri " kata Sahrul.
" Tapi aku tidak mau seperti itu. Jadi kepala rumah tangga itu harus tegas. Aku ingin ada yang mengendalikan emosi ku dan selalu menyayaiku bukan takut dengan diri ku "
" Ya atau siapa yang cocok dengan mu " kata Sahrul.
" Siapa ? "
" Ini dia " Sahrul menunjuk Febry yang sedang serius mendengar perkataan Feby.
" Huhhhh, dia itu sahabat ku "
" Loh emang salah nikah sahabat sendiri "
" Ya pokoknya tidak mau. Mungkin akan aneh jika kita menikah hahahah " Feby jadi geli membayangkannya.
Padahal orang tua mereka sedang merencanakan perjodohan mereka tanpa sepengetahuan mereka. Mungkin mereka akan terkejud dengan pernyataan orang tua mereka kalau mereka akan dijodohkan.
Waktu semakin malam mereka pun pulang kerumah masing - masing. Seperti biasa Febry selalu mengatar Feby pulang seperti biasa. Sepanjanh perjalanan pemuda pemudi selalu menggoda mereka karena postingan Deni di grup. Febry dan Feby hanya tertawa dan sama sekali tidak marah pada mereka yang menggodanya. Karena mereka tahu sejak kecil Febry dan Feby sudah menjadi sahabat dekat.