Duren & Jantik

Duren & Jantik
Kunjungan



Tak menunggu waktu lama keesokan harinya Hendro pun pergi menuju kediaman Gerald.


Gerald merupakan sosok yang ambisius, ia merupakan pebisnis yang menekuni bidang properti dan konstruksi, kekayaan Gerald tak kalah banyak dari Ghurair namun cara mendapatkan kekayaan itulah yang berbeda.


Jika Ghurair mendidik para putra dan putrinya untuk mandiri dalam menghasilkan rejeki yang berkah, berbeda dengan Gerald yang kerap melakuakn kecurangan dan pemerasan dalam bisnisnya, semua pebisnis sudah mengetahui nya karena itu sudah menjadi rahasia umum bagi mereka. Tak ayal banyak yang tak ingin berurusan dengan Gerald karena mereka tahu jika berurusan dengan Gerald maka kemiskinan lah yang akan terjadi.


Berbeda dengan Hendro dan Oemar mereka tak kenal takut sedikit pun menghadapi Gerald terbukti jika saat ini mereka sudah berada tepat di Mansion mewah milik nya. Tak lupa Hendro pun membawa Melly ke hadapan Gerald.



"Selamat pagi....silahkan duduk pak Hendro..."ucap Gerald saat melihat Hendro , Oemar dan Melly yang sudah berada di ruang tamu.


Mereka pun duduk menghadap Gerald dan istrinya Ariana Gerald Antoni...


"Pagi pak... tak perlu berbasa basi lagi langsung saja ya pak , kedatangan kami kemari ingin meminta pertanggung jawaban dari anda dan keluarga perihal putri kami itu..." ucap Hendro seraya menatap sang putri


"Pertanggung jawaban apalagi pak, bukankah kami sudah meminta maaf kepada anda dan kami pun sudah memulihkan kembali perusahaan anda, lantas apa lagi yang anda inginkan..." tukas Gerald menatap Hendro dan Oemar tak suka


"Perusahaan saya memang sudah pulih dan itu semua karena perbuatan anda sendiri , jika anda lupa...." cecar Hendro


"Cih... sudah benar kami berbaik hati kepada keluaraga anda tapi anda malah sesuka hati..."


"Bukan sesuka hati pak, tapi perbuatan anda dan putra anda lah yang menyebabkan semua ini terjadi..."


"Lalu anda maunya apa..." ucap Gerald cuek


"Kami menunggu i'Itikad baik dari anda dan keluarga, tapi anda malah meremehkan keluarga saya,bahkan mengirim Bobby ke luar negri, saya pun tahu itu. Dimana pun anda menyembunyikan nya saya pasti mengetahui nya bahkan sekarang pun saya tau jika dia sedang berada di indonesia bukan, jadi saya minta anda untuk Nikahkan mereka segera ...." lantang Hendro


Gerald pun tersenyum mengejek menatap Hendro


"Heh...nikahkan,,, memang nya siapa putri anda hingga kami harus menikahkan nya... bahkan orang yang kami suruh pun tak sempat untuk melecehkan nya...." Ucap Gerald dengan enteng nya


Oemar pun meradang kala ia mendengar Gerald merendahkan sang adik


"Kami hanya menyuruh putra anda untuk menikah dengan Melly , karena jauh sebelum permasalahan kita terjadi mereka pun sudah menjalin hubungan ...." tutur Oemar dengan kekesalan.


"Cih... mereka masih kecil jadi mereka mana tahu arti sebuah hubungan..."


"Mereka memang masih kecil tapi mereka sudah bisa melakuakn hal seperti ini..." ucap Hendro sambil menyerahkan kertas kepada Gerald di atas meja. Ia yang sudah tak tahan dengan drama dari Gerald ini akhirnya memberikan surat Visum itu.


Gerald pun mengambilnya dan membacanya sekilas, matanya melotot melihat hasil visum di depan nya itu, penasaran dengan ekspresi sang suami Ariana pun mengambil kertas yang di pegang suami nya.


"Ha-hamil...." ucap Ariana dengan gugup, ia pun menatap Melly bergantian dengan kertas nya.


"Iya...putri kami sekarang sednag hamil anak dari putra anda Bobby..." ucap Hendro


"Tidak mungkin anak saya menghamili anak bapak, yang ada anak anda itu pasti yang menggoda anak saya duluan..." pekik Ariana tak terima dengan tuduhan Hendro


"Tapi bu mereka sudah menjalin hubungan atas dasar suka sama suka bahkan kami memiliki buktinya dari rekaman vidio yang mereka lakukan , dan terbukti jika putra anda memang menginginkan putri kami,...."


"Benar tante kami sudah berpacaran hampir satu tahun...." tutur Melly pelan sambil terus menundukkan kepalanya.


"Halah... palingan juga putri anda yang kegatelan, lagian dimana sih pak ada kucing yang dikasih ikan asin terus di anggurin, dan lagi mana kita tahu bayi itu anak siapa , bisa saja kan anak dari pria lain tapi apesnya malah anak kami yang di suruh tanggung jawab..." ucap Ariana kasar sambil menatap Melly dengan sinis


Melly yang mendengar penghinaan dari Ariana pun merasa kesal dan marah , ingin sekali rasanya ia memukul mulut yang sudah merendahkan nya namun ia hanya bisa terdiam mendengar kan penghinaan itu.


"Bu Ariana kami disini hanya meminta pertanggung jawaban dari putra anda atas perbuatan nya yang sudah menghamili putri kami, tapi anda malah menuduh putri saya yang bukan-bukan...." ucap Hendro berapi-api , ia begitu murka mendengar penghinaan yang di lontarkan wanita bermulut pedas ini


"Memang benar kan kita tidak tahu itu anak siapa, jelas-jelas putri anda sendir yang kegatelan , anak gadis kok gak bisa menjaga kehormatan nya..."


Serasa disambar petir Melly mendengar ucapan Ariana yang begitu kasar padanya, ia begitu merendahkan martabatnya sehingga menyebutnya gadis yang tak bisa menjaga kehormatan wanita.


"Bu Ariana tolong jangan menghina dan merendahkan adik saya, saya tahu jika dia sudah melakukan kesalahan dengan menyerahkan tubuhnya pada pria brengsek yang hanya bisa bersembunyi dibalik ketiak papa dan mamanya, jadi saya mohon tolong suruh dia untuk kemari dan bertangung jawab..."


Bela Oemar yang sudah murka.


"Enak saja ...saya gak sudi ya punya menanntu yang tak terhormat seperti dia,.." tuding Ariana pada Melly.


"Dan lagi saya tak mengakui apalagi percaya jika anak yang dikandung itu adalah anaknya Bobby..." kekeh Ariana


"Baiklah jika anda bersikukuh tak mempercayai nya , Mari kita lakuakan tes DNA pada janin, namun kita harus menunggu saat Melly sudah hamil di usia 4-5 bulan agar tak membahayakan bayinya. Pada saat itu kita akan mengetahui siapa ayah dari janin yang dikandung Melly..." tantang Oemar pada mereka


Seketika Ariana dan Gerald pun terdiam mereka saling lempar pandangan , mereka kalah telak dalam hati kecil mereka memang mereka tahu jika itu anak dari putranya ,apalagi saat melihat semua bukti-bukti yang diberikan Hendro. Namun rasa ego yang tinggi membuat mereka tak mau mengakui nya.


"Baik kita buktikan saja nanti...." ucap Gerald cuek


Hendro dan Oemar yang merasa tak ada jalan damai akhirnya mereka pun pergi meninggalkan kediaman Gerald.


"Sialan..... Bobby...."teriak Gerald memanggil sang putra usai kepergian Hendro dan anak-anak nya.


Gerald begitu kesal saat otaknya terus memikirkan perkataan Oemar tadi sebelum meninggalkan kediaman nya.


"Dan jika ini memang terbukti anak dari putra mu awas saja jika kau terus berdrama tentang maslaah ini, jika kamu bisa merampas dan mengambil kekayaan dengan paksa, namun jangan kau remehkan kami, kami pun bisa menggeret bahakn menghancurkan keluarga mu hingga hancur sehancur-hancurnya sampai ke akar. Jika kau lupa siapa Ghurair maka ingatlah Red Room yang harus kau takuti..." tutur Oemar sebelum ia melangkah pergi tadi.


Bobby pun datang menghampiri sang papa dengan tergesa-gesa


"I-iya...pah..." tanya Bobby gugup ia begitu takut jika sudah berhadapan dengan papanya.


plak....


"Berani nya kau berhubungan dengan gadis sialan itu hah..."


"Maaf pah ampun pah.. Bobby tak menyangka jika dia bisa hamil pah, karena selama ini Bobby selalu bermain aman..." tutur Bobby dengan jujur dan muka polos nya.


"Cuih... dasar kau ini, disekolah kan untuk belajar bukan menghamili anak orang, jika sudah begini kita harus bagaiman hah...."


Bobby pun hanya menggeleng tak tahu harus bagaimana....


"Bobby tak menyukai nya pah.. Bobby hanya bermain-main dengan gadis itu, Bobby yakin jika perempuan itu sering bermain dengan cowok lain juga selai n bersama Bobby ..."


"Mudah nya kau berkata hah... bagaimana dengan mereka yang mengajak mu melakukan tes DNA...."


Bobby pun nampak berpikir keras dan akhirnya...


"Pah serahkan maslaah ini kepada Bobby , Bobby akan mengurus semua ini dengan benar, Bobby janji pah..." ucap Nya meyakinkan


Akhirnya orang tua Bobby pun percaya kepada putranya.


"Kau..berani bermain-main dengan ku Melly , lihat saja pembalasan ku ini...." ujar Bobby sambil mengepalkan jari jemarinya dengan kesal.


💧



.