
Satu tahun pun berlalu.
Keluarga Adel dan Hanan sangat bahagia.
Kini Misela sudah berusia 3.5 tahun. Bicaranya sudah lancar dan tingkah laku nya sudah sangat aktif. Bahkan Bu Retno kadang kewalahan mengasuh Misela yang tak bisa dikendalikan dan hanya maunya sendiri.
Adelia dan Hanan masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka harus berpisah di pagi hari dan bertemu kembali di sore bahkan malam hari nya. Adelia yang tadinya dapet libur dua hari dalam satu minggu kini hanya satu hari saja dalam satu minggu nya.
Begitu juga halnya dengan Hanan. Tapi untungnya libur mereka bisa di atur di hari yang sama. Jadi mereka masih punya waktu untuk berdua-duaan di hari libur mereka.
"Sayang kok Misela belum juga punya dedek kecil ya? Padahal kita lembur loh bikinnya. Apa si otong kurang canggih ini?" Tanya Hanan sambil mengelus perut Adelia.
"Mungkin belum waktunya Mas. Nanti kalau udah waktunya juga punya." Jawab Adelia terkekeh.
"Oiya sayang kamu punya simpanan uang berapa? Aku boleh pinjam dulu gak sayang?"
"Boleh Mas emang buat apa Mas kok tumben pinjem uang aku?"
"Aku capek kerja di tempat orang aku mau buka toko roti sendiri yang deket sini aja. Gimana kamu setuju gak sayang? Kita juga bisa membuka lowongan pekerjaan nantinya."
"Yang bener Mas? Aku setuju banget Mas. Kira-kira butuh modal berapa Mas? Kalau kurang nanti bisa pinjem kantor dulu."
"Belum tau sayang. Besok kan kita libur kita cari ruko yang pas ya buat usaha kita dulu ya. Harus yang ramai dan strategis. Biar pemasaran nya bagus."
"Iya Mas. Semoga niat baik mu di lancarkan ya Mas. Aku akan selalu mendoakan mu."
"Iya sayang. Terima kasih ya. Emm bagaimana kalau sekarang kita buat dedek bayi untuk Misela hehe."
"Tuh kan mulai lagi deh. Udah ayo kita tidur capek banget nih."
"Iya sayang mimpi indah ya."
Cup.
Hanan mencium kening Adelia dan tidur dengan memeluk nya. Mereka pun terlelap hingga pagi.
*****
Pagi ini Misela sudah di bawa oleh Bu Retno. Hanan dan Adel bersiap untuk mencari bangunan ruko yang pas untuk disewa lewat Google.
Setelah mendapat kan beberapa alamat mereka pun memesan taxi online dan mendatangi satu persatu alamat tersebut.
Dengan hati-hati dan teliti mereka memilih tempat yang akan mereka gunakan nanti.
Hingga menjelang sore hari mereka pun ahirnya mendapatkan bangunan yang cocok.
"Iya Mas disini bagus nih dan ramai orang melintas juga. Harga sewanya juga terjangkau Mas, uangnya cukup gak ya Mas buat beli alat dan bahan bakunya?."
"Iya sayang kalau kamu juga udah cocok kita ACC tempat ini ya. Tinggal kita perhitungkan untuk beli alat-alat dan bahannya. Kamu jangan pesimis dulu ya."
Mereka pun memulai sang pemilik bangunan itu dan tanda tangan kontrak.
Setibanya di rumah Hanan dan Adelia sibuk memperhitungkan segala sesuatunya untuk membuka usaha pertama mereka.
Dari mulai alat, bahan pokok, perkiraan omset yang di dapat hingga gaji karyawan semuanya Hanan hitung dengan sangat matang. Hanan begitu lihai dalam hal ini. Adelia pun sampai kagum dengan kegigihan Hanan.
"Kamu hebat banget sih Mas buat agenda beginian. Aku ngaku kalah ini mah."
"Kan Mas kerja udah lama sayang jadi Mas tau dong persiapan nya apa aja. Sedangkan kamu yang sibuk cuma jari-jari mu. Tuh lihat iihh tangan istriku sedikit kasar."
"Kamu mulai menggoda ku kan Mas?"
"Hehehehe."
Cup.
Hanan mencium tangan istrinya.
"Terima kasih banyak sayang kamu selalu mendukung ku. Bahkan sekarang uang mu akan aku pakai."
"Gak papa Mas. Kita suami istri memang harus saling mendukung dan menguatkan diri kan?"
"Iya sayang. Mulai besok kita persiapkan semuanya ya."
"Iya Mas."
*****
Sebulan telah mereka lalui bersama. Persiapan untuk buka toko cake & bakery juga sudah matang 100%. Di hari liburnya Hanan melatih beberapa pegawai yang akan bekerja dengan nya.
Tak ada sebuah hambatan atas niat mereka membuka sebuah toko itu. Semuanya berjalan dengan lancar.
Hingga akhirnya Hanan pun mengundurkan diri dari tempat nya bekerja selama satu tahun lebih. Sedangkan Adelia masih tetap bekerja bersama Yumna di perusahaan kosmetik.
Hari ini tanggal 31 Agustus 2021 toko yang mereka beri nama "LUV BAKERY" itu resmi opening.
Mereka tak salah pilih tempat karna di hari pertama toko itu di buka sudah banyak pengunjung yang datang hingga dalam satu hari omset toko itu sebesar delapan juta bersih.
*****
Pagi ini kedua pasangan itu telah bermasalah-malasan untuk bangun karena Adelia hari ini libur kerja jadi Hanan pun ikut bangun siang. Sedangkan Misela sudah di bawa oleh Bu Retno sejak matahari terbit.
"Mas kenapa kamu bau sekali sih. Rasanya aku jadi mual gini cium bau kamu kok tumben sih Mas kamu bau banget." Keluh Adelia yang masih memejamkan matanya dan sedang memeluk tubuh Hanan.
"Namanya juga belum mandi sayang ku." Hanan malah memeluk tubuh Adelia dengan erat. "Sayang kita main satu ronde yuk." Goda Hanan yang masih terpejam juga.
Tak ada jawaban dari Adelia. Hanan mulai merasakan ada yang memegang pusakanya. Artinya Adelia pun menginginkan nya.
Tapi saat Adelia akan mendapatkan ciuman dari Hanan Adelia merasa sangat mual lalu berlari ke kamar mandi.
"Huueeekkkkk… hueeak… uhukk uhuk."
"Sayang kamu baik-baik saja? Sayang buka pintunya kamu baik-baik aja kan?" Hanan mengetuk pintu kamar mandi tapi tak ada jawaban.
Tak lama Adelia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat dan terlihat lesu.
"Sayang kamu sakit ya?"
"Gak tau Mas kayaknya masuk angin ini mula banget loh."
"Ayo kita periksa ke dokter. Ganti dulu baju mu."
"Iya Mas."
Mereka pun berangkat ke sebuah klinik yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Tak perlu antrian panjang Adelia dan Hanan masuk begitu saja.
"Selamat ya Pak karna akan jadi seorang Ayah." Kata dokter itu.
"Istri saya hamil Dok?"
Dokter itu mengangguk. Hanan pun memeluk Adelia dan mencium keningnya.
"Terima kasih sayang sudah memberikan Misela seorang adik."
Adelia hanya mengangguk tak ada kata yang bisa dia ucapakan karna melihat Hanan yang begitu bahagia membuat hanya bisa tersenyum.
"Kandungan nya masuk Minggu ke lima ya Bu. Jangan terlalu lelah dan bekerja berat apalagi stress karna akan berpengaruh buruk pada janin. Ini resepnya silahkan tebus di apotik sebelah ya."
Hanan menerima resep dokter itu dan pergi menuju apotik untuk menebus obat Adelia.
Setibanya di rumah.
"Sayang kamu masih mau kerja?"
"Iya Mas aku kuat kok. Bahkan kamu tau kan waktu aku hamil Misela gimana?"
"Tapi aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu."
"Gak papa Mas aku bakal jaga baik-baik anak kita ini."
"Kamu resign aja sayang. Penghasilan dari toko cukup kok buat kita berempat nanti."
"Belum Mas aku belum bisa resign. Aku masih butuh pekerjaan itu. Bukankah kita berencana punya rumah sendiri Mas bukan di kontrakan ini lagi?"
Hanan terdiam.
"Nah yang penting kan aku bisa jaga diri ku dan bayi ku. Kamu jangan terlalu khawatir ya."
Hanan pun berlutut dan mencium perut Adelia.
"Sayang kamu harus kuat ya. Kamu jangan buat Bunda sakit. Anak Papi pasti hebat seperti Bunda. Nanti kalau sudah lahir main bareng sama Ka Misela ya."
Cup.
Ciuman singkat kembali mendarat di perut Adelia.
*****
Sembilan bulan kemudian.
Adelia melahirkan seorang anak laki-laki yang wajah ya sangat mirip dengan Hanan.
"Ahirnya putra Papi lahir juga. Makasi ya sayang udah mau berjuang untuk anak kita." Hanan mendarat kan ciuman di kening Adelia.
Setelah cukup sehat Adelia di bolehlah untuk pulang oleh dokter.
Tapi jalan yang di lalui taxi online itu berbeda dengan jalan menuju kontrakan nya.
"Mas kita kok lewat sini mau kemana dulu?"
"Ya pulanglah sayang."
"Tapi kok lewat sini?"
"Iya cari jalan lain yang gak macet."
"Mas arah kontrakan kita kan gak macet sama sekali."
"Haha iya ya lupa."
Adelia hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah suaminya itu. Lalu pandangan nya pun beralih pada anak yang sedang dia gendong.
Taxi online itu pun berhenti di sebuah rumah berukuran minimalis dengan nuansa cat putih abu-abu. Dan ada beberapa tanaman bunga di sekitar rumah itu beserta kolam ikan kecil di dekat teras rumah.
"Loh rumah siapa ini Mas?"
"Tentu saja rumah kita sayang."
"Apa rumah kita Mas? Kamu membelinya? Kapan?"
"Sudahlah ayo masuk. Kamu butuh istirahat sayang."
Hanan pun membuka kunci rumah itu. Kami pun masuk ke dalam dan sudah di suguhi dengan pemandangan yang luar biasa rapi serta nyaman. Barang-barang disana sudah tertata rapih di tempatnya masing-masing.
Sebelum nya Hanan memang ragu bisa mendapatkan rumah ini. Kecil dan sederhana tapi sangat nyaman. Bisnis Hanan lancar bahkan sudah punya satu cabang baru lagi.
"Mas kamu yang menyiapkan ini semua?"
"Iya dong. Tentu bersama beberapa bantuan hehe."
"Mas makasih rumahnya nyaman sekali. Nuansa cat rumah nya juga adem. Kamu pinter banget sih Mas milih rumah. Terima kasih banyak ya Mas."
Adelia melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Hanan dan menyandarkan kepalanya di dada Hanan.
"Sepintar aku memilih istri seperti mu sayang. Aku yang harusnya berterima kasih pada mu sayang. Kamu selalu mendukung setiap usaha dan langkah ku. Kamu selalu menguat kan ku saat aku akan terjatuh. Kamu layak mendapatkan semua kebahagiaan ini sayang. Rumah ini atas nama mu sayang. Dan sebentar lagi aku akan memberikan mu mobil atas nama mu juga."
"Mas…!" Adelia tak bisa berkata apa-apa lagi dia memeluk Hanan semakin erat."
"Istirahat lah sayang kamu belum pulih. Nanti sore akan ada dua ART yang membatu kamu mengasuh anak-anak dan membersihkan rumah ini."
"Mas apa tak berlebihan?"
"Tidak sayang. Semua ini adalah rejeki mu. Buah dari rasa sakit yang kamu terima selama ini."
"Tidak Mas ini semua rejeki kita bersama."
"Aku sangat bersyukur bisa mempunyai istri seperti mu Adelia. Dan juga kedua anak kita."
"Terima kasih banyak Mas. Aku pikir Tuhan akan memberikan ku penderitaan yang tiada akhir tapi kali ini Tuhan memberikan sebuah anugerah yaitu kamu Mas."
Hanan pun memeluk keluarga kecilnya.
...################################...
...Makasih banyak buat reader dan para author yang selalu memberikan dukungan untuk novel BROK3N ini 🙏😘...
...Jangan lupa dong like, komentar, favorit dan vote-nya ya.😊...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini atau mau berteman bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...