BROK3N

BROK3N
Bab 57 Pilihan Adelia



Siang sudah tergantikan oleh malam dengan cahaya bulan yang bulat sempurna. Tentu saja bintang yang setia menemani bulan ikut bersinar saling bergantian.


Di Ruang ICU ini terlihat sepi pengunjung. Hanya ada tiga orang disana di ruang tunggu dengan kursi yang berbeda-beda. Tapi memang hanya ada beberapa baby saja yang sedang di rawat bersama baby Misela. Mungkin karna disini juga biayanya cukup mahal.


Baby Misela sudah tertidur pulas setelah satu botol asi ia minum. Aku tak diperbolehkan menyusui nya secara langsung sebelum keadaan benar-benar pulih. Bahkan untuk menggendong nya saja aku tak boleh. Aku hanya boleh memegang tangannya itu pun hanya sebentar saja. Aku hanya bisa melihatnya dari luar ruangan. Terlihat jelas kalau dia sedang kesakitan saat ini. Mungkin hanya seorang ibu yang bisa merasakannya.


Malam ini aku menunggu Misela sendirian. Ibu aku meminta untuk pulang saja karna disini juga percuma tak bisa menggendong cucunya. Jadi ibu pulang sedari siang tadi. Besok ibu akan kembali dengan membawa kan ku sarapan dan baju ganti karna kami tadi tak sempat membawanya.


Aku pun berjalan keluar rumah sakit. Duduk di sebuah kursi dengan tatapan ke atas langit menghadap bulan. Ku dekap dada ku dan ku pejamkan mata ku mencoba merasakan sorotan cahaya rembulan itu. Dan menarik ulang nafas ku.


"Andai ada Hanan disini menemani ku." Tapi pikiran ku terhenti setelah mendengar sebuah langkah kaki.


Tap tap tap


Langkah kaki itu mendekati ku. Awalnya aku pikir itu hanya seseorang yang hanya ingin duduk seperti ku menikmati indahnya malam tapi tidak dia mengambil tempat duduk kosong di sebelah ku dan menirukan gaya ku yang mendekap dada dan memejamkan mata.


"Zaki? Ngapain kamu disini?" Tanya ku terheran karna dia terlihat lucu dengan gaya seperti itu.


"Ngikutin loe lah Del." Zaki lalu membuka matanya dan duduk dengan posisi menatap ku.


"Kemana aja kamu dari pagi kok baru nongol?"


Tanya ku penasaran karna setelah memberi ku nasi uduk tadi pagi Zaki tak melihat kan batang hidungnya.


"Ya kerjalah masak iya cari cewek sih. Ceweknya udah di depan mata gini kok." Zaki memulai gombalan nya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan nya.


"Emh Zak maafin aku karna aku harus mengatakan ini sama kamu sama kamu."


"Aduh gue deg deg kan nih muka loe biasa aja dong jangan serius gitu. Mau ngomong apa sih?" Zaki kembali memposisikan duduknya dan siap mendengarkan apa yang akan aku katakan.


"Sebelum nya aku minta maaf ya Zak karna aku dan baby Misela sudah merepotkan mu hari ini, aku pikir aku memang harus menelpon mu karna dia adalah putri mu juga. Tapi ternyata pikiran ku salah. Ada seseorang yang salah paham akibat dari keputusan ku itu yang terburu-buru."


"Hanan maksud loe?" Zaki langsung menebak seseorang yang aku maksud itu.


"Em…iya Zak. Aku gak mau gantungin kamu juga Zak."


"Maksudnya?"


"Sebenernya sebelum kamu dan Bu Dian datang kerumah ku di hari itu aku sudah menerima lamaran Hanan sebelum nya."


"What? Hanan udah melamar?" Zaki terlihat kaget.


"Iya Zak. Aku juga sudah bertemu dengan kedua orang tuanya."


"Apa mereka terima keadaan loe saat ini?"


Aku hanya menggeleng.


"Udah gue tebak mereka pasti menolak. Terus loe udah cinta sama Hanan Del?"


"Aku akan mencoba nya Zak. Bukankah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Lagi pula Hanan sangat baik pada ku selama ini."


"Jangan mencoba nya Del! Cintailah laki-laki yang loe cintai sekarang." Zaki membalikkan posisi duduknya kembali menatap bulan yang sedang memandangi kami saat ini.


"Maksud mu?"


"Tetap cintai gue Del. Gue tau loe masih cinta kan sama gue?"


"Kamu benar Zak aku memang masih menyimpan rasa itu. Tapi Zak asal kamu tau pengorbanan Hanan untuk ku sangatlah besar. Dia pria satu-satunya yang menguatkan ku saat aku terpuruk karna kamu mencampakkan ku. Dia rela menunggu, Dia rela bekerja keras untuk ku, Dia juga sangat menyayangi putri mu."


"Gue minta maaf kau gue ninggalin luka yang dalam di hati loe Del. Makanya gue mau mulai lagi dari awal sama loe Del. Gue mau memperbaiki semua yang udah gue rusak."


"Em iya Zak aku udah maafin kamu. Tapi betapa egoisnya aku Zak, tadinya memang aku akan menerima mu kembali karna Misela pasti butuh Ayah biologis nya bukan seorang Ayah sambung. Hanya setelah aku pikirkan lagi dan aku pikir berulang kali aku merasa begitu kejam terhadap perasaan Hanan jika aku menerima mu lagi Zak."


"Gue ngerti Del. Gue akan coba terima keputusan loe ini. Gue berharap loe bisa bahagia sama Hanan. Kalau Hanan nyakitin perasaan loe, bilang aja sama gue. Gue bakal buat dia nyesel."


"Makasi Zak atas perhatian nya. Kita masih bisa berteman kan? Kita masih bisa merawat Misela bersama Zak. Hanya sebatas orang tua saja. Kita masih bisa melakukan itu."


"Iya kita sepakat untuk merawat Misela bersama walau kita gak bisa bersama."


Aku tersenyum menatap Zaki lalu kembali melihat cahaya bulan.


"Maksud loe?"


"Iya dia adalah Sinta. Dia terlihat tulus pada mu Zak. Kemarin aku ngobrol dengannya. Tadinya aku pikir dia akan menghina ku kembali. Tapi dia bercerita banyak tentang mu. Sinta sungguh tulus mencintai mu. Cobalah untuk mencintai nya juga. Aku yakin dia bisa membahagiakan mu."


Zaki berdiri.


"Gue pergi dulu masih ada urusan yang harus gue selesaiin."


"Hmm."


"Makasih udah pernah ada dalam hidup gue. Semoga loe bisa bahagia."


"Iya Zak."


"Tunggu gue lupa sesuatu. Orang yang menabrak Ayah loe udah ketemu?"


"Belum tapi polisi udah tau siapa orang. Katanya masih di selidiki lebih dalam dan ngumpulin bukti-bukti kuatnya."


"Oh gitu. Setelah loe tau orangnya buatlah keputusan atas dasar hati loe bukan atas amarah loe. Gue pergi dulu jaga diri loe. Jangan terlalu lama di luar udaranya gak bagus." Zaki berdiri dan mengelus bagian tas kepala ku. Aku hanya tersenyum.


Setelah itu Zaki pergi begitu saja dengan menyisakan sebuah pertanyaan. Apa maksudnya untuk buat keputusan atas dasar hati bukan amarah?


Sudahlah.


Aku pun beranjak dari tempat duduk ku dan kembali ke dalam. Baru beberapa langkah aku berjalan ku dapati Hanan sedang berdiri dengan kedua tangannya di masukkan ke saku celana jeans nya.


"Hanan…"


Tapi Hanan malah membalikan badannya dan berjalan berbalik arah dengan ku.


"Nan tunggu aku." Aku mencoba berteriak memanggilnya tapi tak menghentikan langkahnya.


Aku berlari mengejarnya. Suasana rumah sakit sudah agak sepi tak banyak orang di luar ruangan sekarang. Aku pikir karna ini hampir tengah malam.


Aku berhasil mendekati Hanan. Ku raih tangannya dan berdiri di hadapannya.


"Kamu jangan salah paham dulu. Yang kamu lihat tadi gak seperti apa yang kamu pikirkan." Aku mendongak menatap Hanan.


Hanan pun menatap ku.


"Tadinya aku kesini buat temenin kamu tapi aku rasa kamu gak kesepian disini."


"Engga Nan bukan gitu aku juga berharap kamu bisa temani aku disini."


Hanan kembali diam. Dia tak mau menatap ku lagi. Tatapannya tertuju pada sebuah lampu di ruangan itu.


"Nan aku mohon dengerin aku dulu."


Masih tak ada jawaban dari mulut Hanan. Aku pelun memeluk Hanan. Tangan ku melingkar di pinggang nya. Kupeluk dengan erat. Kepalaku tepat berada di dadanya. Aku mencoba meyakinkan nya.


"Nan aku suka kamu cemburu, tapi aku berani bersumpah tak terjadi apapun anatara aku dan Zaki barusan. Dia hanya berpamitan pada ku. Aku juga udah bilang sama dia kalau aku lebih memilih mu dan aku bilang hubungan kita hanya sebatas orang tua Misela saja Nan."


Hanan pun membalasnya pelukan ku. Menempel kan dagunya di atas kepala ku. Begitu erat juga dia memelukku. Cukup lama kami berpelukan. Aku menunggu Hanan yang melepaskan pelukan ku duluan.


"Aku minta maaf." Begitu kata Hanan. Lalu dia memeluk ku kembali. "Ayo kita temani baby Misela." Hanan melajukan bicaranya tapi masih memeluk ku erat. Setelah Hanan tenang kami pun berjalan ke ruang dimana baby Misela di rawat. Kami duduk di kursi ruang tunggu di depan kamar baby Misela.


"Nan makasi udah mau percaya sama aku."


Hanan memegang sebelah tangan ku.


"Aku juga makasih sama kamu lebih memilih ku."


Kami saling tersenyum.


"Udah ngantuk? Tidur sini!" Hanan menepuk kedua pahanya supaya aku tidur di atas pangkuannya. Aku pun menuruti Hanan.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...