
Sudah 5 bulan Hanan masih terbaring di tempatnya. Detak jantung nya normal denyut nadinya tak lemah lagi tapi tak ada salah satu dari kami yang melihat nya bergerak bahkan ujung jarinya. Aku sangat kehilangan sosoknya padahal setahun lebih aku bisa sedikit melupakan tapi kali ini bahkan satu hari pun tak bisa ku lewatkan untuk tak melihat wajahnya.
Hari ini aku harus lembur karna besok akan kedatangan manager baru jadi semua pekerjaan harus diselesaikan sekarang juga.
Jam dinding kantor sudah menujuk kan pukul 8 pm. Aku dan ke tiga teman kantor ku masih menatap layar komputer dengan sangat serius. Kami hanya berharap manager yang baru tak sekiller manager yang sekarang.
Pukul 10 pm kami menyelesaikan semua pekerjaan kami. Ahirnya aku bisa pulang dan bertemu dengan Hanan.
Aku sudah berpesan pada Ibu kalau pulang kantor akan langsung ke rumah sakit supaya Misela tak menunggu ku pulang.
Aku memesan ojol supaya lebih cepat sampai rumah sakit kalau mobil pasti harus berteman dengan kemacetan.
Sekitar 30 menit perjalanan ku dan akhir nya aku tiba di rumah sakit.
"Assalamu'alaikum Bu." Kucium punggung tangan Bu Selly yang sedang duduk santai di sofa.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa gak pulang kerumah aja Nak. Ini kan udah larut malam." Kata Bu Selly menyapa ku.
"Gak papa Bu Adel kangen sama Hanan. Ibu istirahat aja ya biar gantian Adel yang jaga Hanan." Ku genggam tangan Hanan. Masih dengan kondisi yang sama. Ku letakkan tangan Hanan di pipi ku. Hangat dan nyaman.
"Apa kamu gak capek Nak?"
"Engga papa Bu, Ibu tidur aja ya. Adel gak papa kok."
"Baiklah."
Bu Selly pergi tidur di sofa sedangkan aku ingin sekali mengobrol dengan Hanan. Setiap hari semua yang aku alami selalu ku curahkan padanya walaupun dia tak menjawab apa yang aku katakan.
"Nan hari ini aku bete banget deh. Masak disuruh lembur sampe larut malem. Mending kalau gajinya naik. Killer banget kan manager nya."
"Oiya Nan besok bakal ada manager baru loh. Katanya sih yang ini cewek Nan. Semoga gak sekiller manager yang sekarang ya Nan."
"Nan kamu kapan sih gak bangun juga? Aku udah kangen banget pengen kamu peluk nih. Apa aku cari laki-laki lain buat peluk aku Nan?"
"Nan di kantor banyak banget loh yang godain aku. Kamu gak takut apa aku di rebut sama pria lain? Kamu jahat banget sih gak kasih mereka pelajaran biar mereka tau kalau aku tu cuma milik mu."
"Bangun dong Nan kamu gak pengen apa cubit pipi ku lagi?"
Aku terus bicara tanpa ada respon dari Hanan hingga aku tertidur menyandar di sisi Hanan.
***
Alarm ponsel ku berbunyi. Tandanya waktu sudah pagi. Aku harus pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.
Ku kumpulkan dulu nyawa ku dari tidur nyenyak ku. Kuncing kali ya punya banyak nyawa.
"Hanan sayang aku pulang dulu ya aku mau kerja nanti aku kesini lagi."
Cup.
Bu Selly masih tertidur di sofa. Dengan perlahan aku membuka pintu dan menutupnya.
Sampai dirumah seperti biasa aku menyiapkan dulu keperluan Misela. Pagi ini sebelum aku berangkat kerja Misela belum bangun. Ahirnya aku memaksa kan diri tanpa berpamitan dengannya.
Dikantor para karyawan sudah menyibukkan diri masing-masing karna akan kedatangan manager baru. Setelah waktunya tiba kami semua berbaris di depan meja kami masing-masing untuk menyambut manager itu. Kami semua tertunduk.
"Selamat pagi. Hari ini saya akan di pindahkan ke cabang lain tapi posisi saya sudah ada gantinya. Silahkan perkenalkan diri." Sapa manager sebelumnya.
"Selamat pagi semuanya. Kenalkan nama saya Yumna Anasya Pradipta. Saya manajer baru kalian semua. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Terima kasih." Begitu perkenalkan singkatnya yang berhasil membuat ku terkejut dan menganga. Tapi langsung ku tutup mulut ku dengan kedua tangan ku.
Aku yang ada di barisan sedikit tertutup oleh lemari buku pun penasaran. Aku hanya ingin memastikan apakah itu Yumna yang aku kenal.
Sedikit ku condongkan tubuh ku de arah depan. Dan benar saja dia adalah Yumna yang pernah ku tampar sebelumnya.
"Mampus! Kenapa takdir ku begitu rumit hingga harus bertemu dengannya lagi. Apesnya kali ini dia adalah manager ku. Aku yakin dia akan balas dendam pada ku."
Aku menghela nafas panjang. Berkali-kali aku menghela nafas hingga perkenalkan dan pamitnya sang manager lama usai dan kami mengerjakan pekerjaan kami masing-masing.
"Sepertinya dia belum menyadari kalau aku bekerja sebagai bawahannya." Batin ku sambil menengok sesekali ke arah Yumna yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan beberapa karyawan.
Mungkin aku tak kan sering bertemu dengannya karna jabatan ku hanya jabatan remahan rengginang. Sebisa mungkin akan aku hindari dia. Aku tak mau cari masalah dan lagi bisa saja dia langsung memecat ku tanpa pesangon.
Jam pulang pun tiba. Aku celingukan untuk memastikan kalau Yumna sudah pulang dan benar saja Yumna sudah pulang duluan. Aku segera memesan ojek online dan bergegas pulang.
Rasanya di kantor itu aku tak bisa bernafas dengan lega. Aku merasa sesak nafas sejak tau manajer baru itu adalah Yumna. Untung besok aku jatah libur dua hari. Jadi aku bisa tenang untuk dua hari kedepan.
"Assalamu'alaikum."
"Ndan endong."
(Bunda gendong).
Aku sadar beberapa bulan ini aku jarang sekali menghabiskan waktu untuk Misela putri ku. Karna aku harus bolak-balik ke rumah sakit untuk gantian menjaga Hanan.
"Ye yeeee."
Misela sangat senang mendengar ajakan ku.
"Tapi bunda mandi dulu ya. Misela siap-siap sama Oma okey?"
"Ote."
"Bu kita ke Timezone dulu ya."
"Kamu gak kerumah sakit?"
"Nanti aja Bu pulang dari Mall kasian Misela jarang bisa main sama aku karna sibuk terus."
"Ya udah sini ibu bantu Misela siap-siap."
"Iya Bu Adel mandi dulu ya."
Setelah kami bersiap kami pun pergi ke Mall untuk menemani Misela bermain.
Misela terlihat bahagia. Aku pun ikut bahagia melihat nya.
Setelah puas bermain kami pulang. Misela sudah tidur sejak di perjalanan. Aku pun langsung pergi ke rumah sakit.
"Hallo Hanan ku. Hari ini benar-benar melelahkan. Kamu tau gak manajer baru yang aku ceritakan itu ternyata Yumna. Iya Yumna yang itu yang pernah kerja di tempat Bu Dania. Ya ampun aku gak nyangka banget tau Nan. Dia pasti akan memecat ku tanpa senonoh ya kan?"
Bu Selly sedang sibuk dengan ponselnya. Dan aku terus saja bicara dengan Hanan.
"Nan aku bosan nih kamu gak bangun-bangun. Apa aku tinggalin kamu aja ya. Aku mau cari pria lain yang merespon curhatan ku lah."
"Nan ayo bangun dong telinga mu gak panas apa tiap hari dengerin aku ngomong terus? Aku aja yang ngomong capek Lo entah udah berapa kata yang aku ucapkan setiap harinya."
Ku pegang tangan Hanan dan kembali meletakan di pipi ku.
"Cubit nih Nan pipi ku. Ayo cubit Nan. Kok kamu lemes gini sih. Kalau gitu aku bener-bener mau cari pria lainlah."
"Nan aku marah nih. Beneran aku marah sama kamu karna kamu enak-enakan tidur disini sedangkan aku harus bekerja."
"Ngomongin kerja aku jadi inget lagi deh sama Yumna."
"Nan aku haus ngomong terus aku beli minum dulu ya ke kantin. Kamu mau minum engga? Engga ya ya udah deh."
Aku pun beranjak dari tempat duduk ku.
"Bu Adel mau beli minum dulu ya ke kantin."
"Iya."
Aku berjalan menelusuri setiap ruang di rumah sakit. Jalan menuju kantin cukup jauh. Tiba-tiba ada segerombolan orang yang sedang terisak di luar ruangan. Sepertinya keluarga mereka sedang di dalam ruangan itu dan sedang kritis.
Sedikit aku mendengar percakapan mereka sebelum aku berjalan belok menuju kantin.
"Golongan darah ku A sih. Apa aku perlu mendonorkan darah ku pada keluarga itu. Ah sudahlah aku sangat haus."
Aku pun ke kantin membeli dua botol minum dan beberapa cemilan untuk menemani ku nonton Drakor yang sedang tren pembicaraan nya di kantor. Aku jadi penasaran untuk menonton nya.
Saat kembali dari kantin aku masih melihat segerombolan orang itu masih sibuk telpon sana-sini masih mencari pendonor darah.
Jiwa malaikat ku pun muncul. Aku menghampiri mereka.
"Permisi, golongan darah saya A kalau berkenan saya akan mendonorkan darah saya jika cocok."
Banyak senyum di antara lima orang yang sedang berdiri di depan ruang rawat itu. Aku pun di ajak oleh seorang perawat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan ternyata darah ku cocok dan bisa melakukan transfusi darah.
Satu kantong darah ku telah di ambil dan siap untuk diberikan pada pasien. Aku masih menekan kapas bekas suntikan donor darah dan berjalan mendekati mereka yang masih sibuk mencari pendonor lain karna butuh tiga kantong darah.
Langkah ku terhenti melihat satu wanita yang sangat populer di mata ku.
"Yumna?" Suara ku mengalihkan semua mata. Mereka menatap ku termasuk orang yang ku panggil.
"Ka Adel?"
Yumna ikut terkejut.
################################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...