BROK3N

BROK3N
Bab 42 Para Emak Gibah



Adelia POV


Hari-hari ku semakin membaik. Dukungan dari Ibu dan teman-teman ku membuat ku bertekad untuk membesarkan anak ini walau tanpa Zaki. Aku memang sangat mengharapkan kehadiran nya. Aku memang belum mengenal jauh tentangnya tapi aku mencintai nya. Dia cinta pertama ku. Dia laki-laki yang mampu membuat hati ku bergetar dan merasakan apa itu rindu.


Hanan sudah pergi kerumah Zaki tapi ternyata rumahnya kosong kata warga sekitar Pak Ibnu dan keluarga pindah rumah sedang kan Zaki udah pergi ke Singapura.


Hati ku sangat terpukul mendengar kabar itu. Zaki benar-benar mencampakkan ku. Aku tak tau salah ku dimana padanya. Padahal aku sudah memberikan hal yang paling berharga untuknya dan sekarang aku mengandung anaknya. Tapi dia pergi tanpa satu kata pun.


Tiga hari sudah berlalu dan Dokter membolehkan ku pulang karna kondisi ku sudah sangat baik saat ini. Aku pun pulang bersama Ibu, Hanan, Asep dan Putri dengan taxy.


"Alhamdulillah kita sudah sampai dirumah. Sekarang kamu harus bener-bener istirahat dulu ya biar pulih total dan cucu Oma juga sehat-sehat didalam sini." Ibu ku mengusap perut ku perlahan. Ibu benar-benar sudah menerima anak yang aku kandung. Walau aku tau Ibu masih menyimpan rasa kecewanya pada ku.


"Gue sama Asep pamit dulu ya Del. loe harus cepet sembuh." Kata Hanan.


"Makasi banyak kalian banyak membantu Ibu dan juga Adel." Kata Ibu pada Hanan dan Asep sembari memeluk kedua pria tampan itu selayaknya anak Ibu. "Kalau tidak ada kalian semua ibu mungkin gak akan bisa melewati ini semua. Maafin Ibu merepotkan kalian semua ya." Sambung Ibu.


"Engga Bu gak ada yang direpotkan disini." Kata Asep dengan senyum lesung pipinya.


"Nan kamu bisa bicara dengan Bu Dania apa aku masih bisa kerja?"


"Kok mau kerja sih Nak gimana kandungan mu?"


"Insyaallah Adel kuat Bu kalau gak kerja bagaimana dengan biaya melahirkan nantinya Bu."


"Ibu kan juga kerja Nak kasian kandungan mu Nak."


"Gak papa Bu."


"Menurut ku Tante masih bolehin kamu kerja Del dia orang baik dan gak tegaan. Nanti aku bantu tanyain ya."


"Thanks Put."


"Gue tanya Bu Dania besok. Ini obat loe Del harus abis ya." Hanan meletakkan kantong plastik berisi obat-obatan ku di meja. "Kita pergi dulu assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


***


Author POV


Dirumah Pak RT.


"Duh sebenarnya kalian kemana aja sih ganteng-ganteng Emak kok gak balik beberapa hari ini?" Kata Bu Jamilah menyapa Hanan dan Asep yang baru saja masuk rumah.


"Asep mau mandi dulu ah."


"Hanan juga abis mandi mau tidur ah."


"Eh eh gimana sih anak-anak ini ditanya orang tua malah ngabalier." Bu Jamilah hanya pasrah melihat Hanan dan Asep dengan tujuan mereka masing-masing.


Sementara Pak RT juga ikut kepo dengan tingkah mereka yang tak tidur dirumah selama beberapa hari. Ahirnya menunggu istrinya pergi dan menunggu Hanan keluar dari kamar mandi.


"Hanan apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Hanan tak bisa bohong pada Pakde nya itu. Tapi Hanan tak langsung menjawab pertanyaan Pak Iskandar. "Kemaren Pakde liat Asep mengambil uang tabungannya. Pakde tau uang itu tak sedikit pasti lebih dari 10juta. Buat apa Nan?" Pak Iskandar menekan Hanan untuk menjawab pertanyaan nya.


"Sebenernya Adelia Putri Bu Renita kemarin mencoba bunuh diri Pakde." Kata Hanan sedikit gugup mau melanjutkan bicaranya.


"Apa kamu bilang? Bunuh diri?" Pak Iskandar sangat terkejut. Adelia yang dia kenal adalah sosok yang polos tak disangka melakukan hal semacam itu. "Alasannya?" Pak Iskandar kembali bertanya.


"Adelia hamil diluar nikah Pakde."


"Apa hamil? Kamu yakin?" Hanan hanya mengangguk. "Bagaimana bisa warga ku hamil diluar nikah astaghfirullah." Pak Iskandar mengelus dadanya. "Lalu bagaimana kondisi Bu Renita dan Adelia sekarang?"


"Ibunya sempat marah dan syok bahkan hampir kenak struk karna tensi darahnya naik drastis mendengar kabar Adel hamil dan mencoba bunuh diri. Ahirnya Hanan dan Asep bawa ke rumah sakit. Tapi biayanya tak sedikit Ahirnya Asep mengambil tabungannya. Tapi uang itu tak berkurang sedikit pun Pakde." Jelas Hanan.


"Karna ada yang sudah melunasi?" Kata Pak Iskandar menyela bicara Hanan. Hanan hanya mengangguk. " Siapa?" Hanan menggeleng kan kepalanya. "Baiklah jangan sampai Bude kamu tau masalah ini. Biar Pakde bicarakan dengan Bu Renita dulu." Hanan hanya mengangguk kan kepala lalu pergi ke kamarnya.


Sayang sekali pembicaraan mereka sudah terekam jelas oleh Bu Jamilah. Dia kembali lagi kerumah karna dompetnya yang tertinggal. Setelah mendengarkan pembicaraan antara suaminya dan keponakan nya itu Bu Jamilah bergegas keluar rumah lagi.


Seperti biasanya Bu Jamilah berkumpul dengan emak-emak gibah di warung deket rumahnya. Saat itu ada banyak ibu-ibu disana termasuk dua ibu yang pernah merebutkan Adelia jadi menantu mereka.


"Eh jeng jeng ada gosip hot banget loh ini."


"Uuhh pasti jeng semua ini bakal kaget sekaget kaget kaget nya."


"Ya ampun apa sih bikin penasaran aja sih jeng."


"Eh eh gini Lo itu warga baru kita Bu Renita tau kan?"


"Iya iya kenapa memang nya dia jeng?"


"Anak gadisnya si Adelia itu yang cantik yang kelihatan polos super polos taunya sekarang lagi hamidun ahahaha."


"Hah?"


"Apa?"


"Serius jeng?"


"Info akurat gak jeng?"


"Ya ampun jeng kapan sih seorang Jamilah gak ngasih info akurat?"


"ah gak nyangka banget ya."


"Ih kemarin abis kita rebutin jadi mantu jeng amit-amit deh."


"Iya ya gak nyangka padahal keliatan polos gitu Bu Renita nya juga kelihatan penyabar ya."


"Jeng jangan liat luarnya aja tapi liat juga dalamnya haha."


"Gak bisa dibiarin ini jeng dia warga baru udah mencoreng nama baik kampung kita."


"Betul itu betul harus diusir takut kampung kita kenak karma gara-gara mereka."


"Iya iya setuju jeng."


"Harus segera laporin ke Pak RT dan RW ini."


"Jeng sabar dulu jeng sabar."


"Loh kenapa jeng?"


"Anaknya si Adel itu baru pulang dari rumah sakit."


"Terus apa hubungannya sama kita? Ya kan jeng jeng semua?"


"Betul-betul."


"Dengerin dulu jeng. Adelia mau bunuh diri gara-gara tau dia hamil?"


"Hah?"


"Terus terus."


"Dia baru pulang dari rumah sakit, kan kita bukan pohon pisang yang cuma punya jantung tapi gak punya hati kan kan kan? Masak masih kondisi begitu kita usir sih jeng."


"Iya jeng betul kita laporin aja ke perangkat desa biar mereka yang tanganin."


"Betul jeng."


"Nanti jeng jeng aja yang lapor ya ekye gak ikut-ikut deh soalnya suami pasti ngomel-ngomel hahaha."


"Iya jeng tenang jeng."


"Jeng bungkusin minyak goreng sama pisang ya. Tapi ngutang dulu hehe."


"Hahaha."


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...