
Zaki menikmati sarapannya. Zaki ingin sekali bertanya tentang Pak Hanif. Tapi keinginan nya terhenti karna suara ketukan pintu.
tok
tok
tok
"Siapa Pah pagi-pagi sudah bertamu." Kata Bu Dian penasaran.
"Oiya Papah lupa bentar ya Papah ke depan dulu." Kata Pak Ibnu lalu berlalu melihat tamu yang datang. Tak butuh waktu lama Pak Ibnu membawa gadis cantik ke ruang makan.
Uhukk
"Sinta?" Zaki tersedak yang kaget melihat kedatangan Sinta.
"Baguslah kalau kalian sudah saling kenal, Mari sini duduk Nak sarapan bareng." Ucap Pak Ibnu sambil menarik kursi di sebelah Zaki untuk Sinta duduk. "Jadi Nak Sinta ini adalah anak temen Papah Pak Bromo itu loh Mah. Dia cocok kan buat Zaki Mah." Sambung Pak Ibnu menjelaskan kedatangan Sinta.
"Apa Pah?" Zaki terkejut dengan pernyataan Papah nya.
"Kenapa kamu kaget gitu Zak. Nanti kamu ajak Sinta jalan-jalan ya. Buat dia seneng hari ini. Bukan begitu Nak?" Pak Ibnu menatap Sinta yang terduduk dengan sopan.
"Tapi Pah Zaki ada acara lain. Ini terlalu mendadak." Zaki membantah.
"Zaki kamu harus baik pada Sinta. Papah sudah selesai Papah berangkat dulu Mah." Pak Ibnu pun beranjak dari tempat duduknya lalu di susul oleh Bu Dian.
"Ka Zaki mau nambah sarapan nya Sinta ambilin ya?" Kata Sinta hendak mengambil centong nasi.
"Gak usah loe aja yang makan." Ketus Zaki.
"Sinta udah sarapan tadi dirumah kok Ka." Ucap Sinta dengan nada lembut.
"Zaki kamu udah selesai sarapan nya?" Bu Dian memegang pundak anaknya.
"Sudah Mah."
"Siap-siap dulu sana."
"Siap-siap ngapain Mah?"
"Loh kamu gak mau dengerin kata Papah buat ajak jalan-jalan Nak Sinta?"
Zaki memutar bola matanya, lalu menatap Sinta yang sedari tadi tersenyum dan bertingkah sopan.
"Okey loe tunggu aja di ruang tamu." Kata Zaki pada Sinta. Dengan berat hati kakinya melangkah menaiki tangga dan masuk ke kamar nya untuk berganti pakaian. Setelah selesai Zaki mengambil handphone nya hendak melihat balasan pesan yang iya kirim tadi.
"Sia*...." Umpat Zaki. "Bodoh banget sih gue udah ngetik pesan tapi gak dikirim." Zaki hanya bicara sendiri. Dia hendak menghapus pesan yang lupa ia kirim tadi lalu mau mengirimkan ulang pesan yang baru tapi Bu Dian sudah membuka pintu kamar Zaki.
"Zaki kamu ganti baju aja lama banget sih udah kayak cewek aja cepet gak enak itu anak orang nungguin."
"Iya Mah." Zaki yang terkejut menjatuhkan ponselnya di tempat tidur dan mengikuti Bu Dian turun. Ahirnya Zaki melupakan handphone nya.
"Ayo Sin." Ajak Zaki pada Sinta.
"Iya Ka. Tante Sinta jalan dulu ya." Sinta pun dengan sopan mencium punggung tangan Bu Dian lalu menaiki sebuah mobil Pajero putih.
"Kita mau kemana Den?" Tanya pak Tarjo.
"Ke Dufan aja Pak." Jawab Zaki. Setelah itu tak ada pembicaraan lagi hanya suara musik bernada pelan yang diputar oleh pak Tarjo.
***
POV Adelia.
"Aduh Zaki udah jam segini masih gak bales pesan ku. Padahal udah dibaca. Aku telfon aja deh."
tuttt ttuuuttt...
"Udah 3x loh ditelpon nyambung tapi gak di angkat. Dia kemana sih, jangan-jangan dia sakit atau kenapa-kenapa? Aduhh enggak-enggak aku gak boleh mikir aneh-aneh. Cuacanya masih gerimis lagi. Aku tidur aja deh."
***
Dirumah Pak RT.
"Aduh gimana sih anak-anak Emak main PS aja, Mbok Yo...." Belum selesai kehebohan Bu Jamilah Asep langsung menoleh.
"Emang mau ngapain lagi sih Mak, mau kencan juga kan diluar masih gerimis." Kata Asep kesal karna ibunya berisik sehingga dia kalah permainan dengan Hanan. "Tuh kan gara-gara siapa nih Asep jadi kalah." Ketus Asep sambil melepas PS nya.
"Loe yang gak bisa main PS." Jawab Hanan sambil tertawa puas.
"Udah Mak mendingan Mak jangan gangguin kita. Mak kemana sana Ghibah sama tetangga atau ngapain kek penting jangan disini." Asep berjalan menuntun badan Bu Jamilah menjauh lalu kembali duduk bersebelahan dengan Hanan.
"Anak jaman sekarang susah di atur emang." Bu Jamilah hanya bicara sendiri.
"......apa? Jadi Hanan udah tau semua?"
Bu Jamilah memajukan kupingnya hendak mendengar lebih jelas.
"Iya iya biar Hanan disini dulu sama Abang. Semoga dia belum tau terlalu jauh. Kamu memang harus bertanggung jawab. Jaga diri baik-baik Abang tutup telponnya." nut nut pembicaraan pun terputus.
"Apa sih Pak kok serius gitu? Itu tadi Hanif?" Bu Jamilah pun menghampiri suaminya karna tingkat kepo yang tinggi.
"Sudah Bu jangan kepo ini urusan orang tua."
"Loh Ibu juga sudah tua Pak."
"Kalau gitu Bapak mau cari yang muda."
"Apa Pak?"
"Engga maksud Bapak itu Bapak mau cari kelapa muda kepala Bapak pusing."
"Tapi masih gerimis Pak"
"Oiya tolong ambilkan payung Bu di dapur, Sama jaket Bapak dikursi deket kulkas."
Tanpa menjawab Bu Jamilah berjalan ke dapur untuk mengambilkan payung dan jaket Pak Ibnu.
"Ini Pak."
"Bapak pergi dulu ya assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Pak Iskandar pun perlahan menjauhi rumahnya. Bu Jamilah yang sedari tadi menatap kepergian suaminya kini menutup pintu rumahnya karna cuaca dingin masuk kerumahnya dan beraktifitas ala emak-emak.
***
Pak RT terdiam menatap dari kejauhan rumah kecil yang sedang aku tinggali. Tanpa keraguan lagi Pak RT melangkah kan kakinya mendekati rumah ku dan mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Loh Pak RT ada perlu apa ya, mari masuk dulu?" Ibu heran kenapa Pak RT dengan cuaca seperti ini main kerumah seperti ada hal yang mendesak.
Pak RT meletakkan payungnya lalu masuk dan duduk di sofa.
Aku yang belum sempat bermimpi mendengar kedatangan Pak RT dan hanya berdiri dibalik pintu kamar untuk mendengar percakapan Ibu dan Pak RT.
"Apa ada hal penting Pak?"
"Maaf Bu Renita kedatangan saya mengejutkan. Tapi ada hal yang mau saya tanyakan."
"Apa itu Pak seperti nya sangat penting?"
"Apakah pelaku yang menabrak suami Ibu sudah ketemu?"
"Belum. Memang nya kenapa kok Pak RT menanyakan hal itu?"
"Apa Bu Renita dan Nak Adelia akan memaafkan kesalahan yang sudah diperbuat pelaku jika pelakunya sudah ketemu?"
Ibu yang heran dengan pertanyaan Pak RT tak langsung menjawab. Ibu Dian sejenak menatap Pak RT dari atas sampai kaki. Ibu berpikir yang tidak-tidak.
"Apa jangan-jangan Pak RT yang menabrak suami saya?"
Pak Iskandar pun terkejut dan mendongak kan kepalanya yang sedari tadi sedikit menunduk tak berani menatap Ibu ku.
"Oh bukan maksudnya saya cuma penasaran aja Bu supaya tidak terjadi keributan nantinya di kampung ini." Pak RT sedikit gugup dengan perkataan. Ada yang disembunyikan dari pertanyaan.
"Saya tidak tau Pak. Mungkin ini memang takdir suami saya meninggal dengan cara menyakitkan. Tapi tindakan pelaku sangat tidak manusiawi. Dokter yang menangani suami saya bilang kalau saja sedikit lebih cepat suami saya sampai rumah sakit dia pasti selamat. Tapi kenyataannya pelaku malah kabur dengan tega meninggalkan suami saya yang sekarat saat itu. Sulit untuk memaafkannya. Tapi akan kami coba menerima takdir ini."
"Maaf kalau saya menanyakan hal yang sangat pribadi ini Bu Renita."
"Tidak apa-apa Pak."
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu."
"Buru-buru sekali Pak bahkan belum saya buatkan kopi."
"Tidak perlu saya langsung pulang saja sebelum istri saya ngomel. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
*****
...Reader nya banyak tapi yang like dikit 😁...
...Maaf jika ceritanya kurang menarik ya thanks yg udah setia disini 🙏...