BROK3N

BROK3N
Bab 84 Resmi Menikah



Malam ini langit terlihat sangat indah di hiasi bulan purnama dan para bintang yang bersinar bersama.


Hanan ingin mengajak Adelia keluar untuk berjalan-jalan sebentar karna Hanan tau Adelia terlihat bosan tentu saja atas ijin Dokter.


"Adel ayo ikut aku. Kita lihat bulan di luar. Bagus banget bulatnya sangat sempurna."


"Hanan aku udah bilang kan pergilah jangan merepotkan dirimu hanya untuk wanita seperti ku."


"Adel kamu bicara apa sih. Ayo aku bantu kamu naik kursi roda."


Adel pun menuruti apa kata Hanan. Sejujurnya Adel juga ingin keluar dari dalam ruangan yang sempit itu.


Hanan pun mendorong kursi roda Adelia secara perlahan. Mereka berhasil menjadi sorotan beberapa orang di rumah sakit itu.


"Sabar banget ya kelihatan si cowok."


"Iya ganteng lagi."


"Kasian ceweknya sampe banyak perban begitu."


"Iya ya kira-kira kenapa ya bisa begitu."


"Mungkin kecelakaan parah."


"Jadi penasaran wajah cewek itu kalau udah buka perban."


"Eh jangan-jangan wajahnya sangat jelek tuh nanti."


"iya ya kasian cowoknya padahal ganteng banget gitu."


Begitulah kira-kira percakapan yang mereka dengar. Adelia malah makin merasa jadi beban untuk Hanan.


"Jangan dengarkan ucapan mereka." Kata Hanan mengelus bahu Adelia. Hanan pun membawa Adel ke taman kecil yang masih berada di lingkungan rumah sakit.


Hanan pun mencari tempat yang tepat untuk memandang rembulan malam itu.


"Lihatlah bulan itu begitu indah kan?. Bukan kah saat kamu melahirkan Misela dulu cahayanya sama persis seperti ini. Terang benderang dan sempurna."


Adelia pun menatap bulan itu. Adelia ingat betul kenapa dia menamai putrinya dengan nama Misela Metina karna itu artinya adalah cahaya rembulan yang indah.


Adelia pun menitikkan air mata. Lagi-lagi dia mengingat kalau Hanan terlalu baik untuknya.


"Hanan bisakah kamu melupakan ku?"


"Bahkan membayangkannya saja aku tak pernah Del. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi."


"Hanan… Aku… Aku tak pantas untuk mu Nan."


"Aku yang tak pantas untuk mu Del, wanita yang begitu hebat."


"Hanan…!"


"Del aku sudah bilang pada Pakde kalau penikahan kita akan dilakukan dua hari lagi. Ijab qobul akan di laksanakan di rumah sakit ini."


"Apa? Tapi Nan kenapa…!"


"Sayang aku tak mau kehilangan mu. Dengan aku menikahi mu aku akan lebih leluasa menjaga mu. Aku tak mau terjadi sesuatu lagi pada mu."


Hanan memegang kedua tangan Adelia dan menciumnya.


Adelia hanya menangis.


"Adel sayang aku sangat mencintaimu. Tak ada waktu untuk ku melupakanmu apalagi untuk meninggalkan mu dalam kondisi seperti ini. Bukankah kamu bilang ingin selalu berbahagia bersama ku. Itu artinya kamu juga harus mau bersusah payah bersama ku. Sedih mu adalah sedih ku. Sakit mu juga sakit ku. Kita akan melalui nya bersama-sama seperti yang sudah pernah kita lakukan. Kamu mau kan menikah dengan ku?"


"Hanan kamu terlalu baik untuk ku. Aku hanya akan jadi beban mu."


"Tidak Del. Itu tidak akan terjadi. Kamu adalah kebahagiaan ku yang sesungguhnya."


"Hanan terima kasih."


"Tidak bukan itu yang aku ingin kan?"


"Lantas apa?"


"Yang aku inginkan kamu menjadi istri ku dan berbahagia bersama ku. Tentu saja bersama anak-anak kita."


"Hanan apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu itu? Aku akan jadi wanita yang cacat."


"Aku sudah sangat yakin sayang. Kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan saat ini. Aku sudah bilang kan kamu adalah yang pertama dan terakhir untuk ku."


"Besok aku tinggal dulu ya sayang. Aku mau menyiapkan segala sesuatu nya. Tapi aku belum dapatkan jawabanku."


"Jawaban untuk apa Nan?"


"Kamu mau kan menikah dengan ku?"


"Tentu Hanan hiks… Sejujurnya aku pun tak mau kehilangan mu. Hanya kamu dan Misela yang ku punya saat ini. Aku ingin terus bersama mu hiks…!"


"Itulah jawaban yang ku inginkan. Artinya cinta ku tak bertepuk sebelah tangan."


Hanan kembali mencium tangan Adelia.


"Nan, bisakah kamu buat surat pernyataan yang berisi aku telah mencabut semua tuntutan kepada Pak Hanif?"


"Iya Hanan. Aku mau Pak Hanif juga hadir dalam pernikahan kita. Pak Hanif pasti bisa bebas dengan syarat. Aku yakin Pak Hanif juga sudah menyesali perbuatannya nya selama ini."


"Adelia apa kamu yakin?"


"Seyakin kamu akan menikahi wanita seperti ku Nan."


Hanan memeluk Adelia. Adelia tak hentinya menitikkan air mata. Bukan karna sedih tapi karna bahagia. Dia sangat beruntung ada seorang Hanan yang selalu ada di samping nya.


"Terima kasih sayang. Aku memang tak salah memilih pendamping hidup ku."


"Aku juga berterima kasih pada mu Mas Hanan."


"Iihh kok aneh sih."


Hanan melepaskan pelukannya.


"Apa yang aneh?"


"Mas Hanan haha."


"Lantas aku harus memanggil mu apa? Gak mungkin kan aku panggil suami ku dengan sebutan nama?".


"Jadi kamu mau panggil aku Mas Hanan?"


"Heem."


"Panggil sayang aja deh. Aneh banget di panggil Mas hahaha."


"Dasar orang aneh."


Adelia cemberut.


"Duh istriku kenapa tetep cantik walau cemberut."


"Jangan bohon wajah ku kan di balut perban mana kelihatan?"


"Hahaha gitu aja marah."


Ahirnya suasana malam yang tegang itu menjadi tawa ria antara Hanan dan Adelia.


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Putri Winata binti Tomo Candra Winata dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai lima ratus ribu rupiah dibayar tunai."


Begitulah ijab qobul yang Hanan ucapan. Hati Adelia bergetar saat namanya di panggil dalam sebuah janji suci antara dia dan Hanan.


"Bagaimana saksi apakah sah?" Kata Bapak penghulu.


"Sah." Ucap kedua saksi.


"Alhamdulillah. Barakallahu lakuma wa barak'alaik alfatihah."


Adelia pun menjabat tangan Hanan dan mencium nya.


Semua yang hadir di ruangan sempit itu ikut bahagia melihat sebuah ikatan sakral yang mengharukan.


Sesuai permintaan Adelia Pak Hanif pun bebas bersyarat dan ikut hadir dalam pernikahan mereka. Hanan memeluk kedua orang tuanya. Bu Selly menitikkan air mata haru dalam pelukan Hanan.


"Selamat ya sayang semoga kalian senantiasa berbahagia." Doa dari Bu Selly.


Adelia mencium kedua punggung tangan orang tua Hanan yang sekarang menjadi orang tuanya.


Kemudian mencium punggung tangan Pak Iskandar dan Bu Jamilah.


Walau dengan kondisi masih penuh perban dan tangan yang di infus Adelia terlihat sangat bahagia. Mungkin bukan dengan kondisi yang seperti ini. Tapi semua ini sudah cukup bagi Adelia.


Yumna, Asep dan Putri juga memberikan ucapan selamat. Begitu juga dengan Pak RT dan istrinya Bu Retno yang sedang menggendong Misela.


Semua orang disana terlihat sangat bahagia. Mereka saling tertawa satu sama lain dengan gurauan dan candaan. Acara itu pun di lanjutkan dengan makan bersama walau hanya nasi ketering seadaanya.


"Terima kasih banyak Mas Hanan kamu telah memberikan ku kebahagiaan."


"Iya sayang, kamu cepet sembuh ya biar kita bisa malam pertama."


"Mas."


Semua orang disana tertawa ria mendengar ucapan Hanan.


Karna acara itu di rumah sakit jadi tak berlangsung lama. Menjelang siang hari semua yang berkumpul di sana pulang.


Orang tua Hanan dan Pakde nya langsung pulang ke kampung sore hari nya.


###############################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...