BROK3N

BROK3N
Bab 36 Rayuan Zaki



Hari ini adalah hari dimana semua murid kelas 3 SMA TARUNA BANGSA bernafas lega. Bagaimana tidak semua mata pelajaran yang di uji kan selesai. Suasana disekolah begitu menggembirakan karna setelah ini mereka semua akan sibuk dengan urusan masing-masing.


Aku pun membuang nafas lega. Rasanya beban hidup ku hilang dibawa angin. Dimalam hari aku tak perlu lagi sibuk dengan buku-buku pelajaran. Walau belum pengumuman kelulusan tapi aku yakin aku lulus karna semua soal bisa aku kerjakan dengan baik.


"Setelah ini aku mau cari pekerjaan ah." Ucap ku pada Putri.


"Hah kerja dimana?" Jawab Putri.


"Kan masih mau cari Putri sayang, gimana sih kamu."


"Oh iya maaf aku lagi gak fokus."


"Emang kamu kapan sih fokus."


"Iya juga ya haha."


Disela-sela tertawa kami Zaki datang menghampiri meja ku.


"Del bisa ikut gue gak?"


"Kemana Zak."


"Temenin gue dirumah bentar aja Del. Gue lagi bener-bener butuh temen ngobrol."


"Boleh. Aku pergi dulu ya Put. Daahh...!"


Aku dan Zaki pun berjalan keluar kelas menuju gerbang sekolah yang dimana Pak Soleh supir pengganti Pak Tarjo sudah menunggu kami disana.


Setelah masuk mobil dan menutup pintu mobil Zaki menyandarkan kepalanya di bahu ku.


"Kamu kenapa Zak, sakit?" Tangan ku pun memegang kening Zaki. Tapi tak terasa demam.


"Biar gini aja Del gue bener-bener kalut." Jawab Zaki.


Entah apa yang sedang dipikiran Zaki. Mungkin saja masalah Papahnya yang belum sembuh, atau bisa jadi tentang kuliah nya di Singapura. Entahlah tapi aku membiarkan Zaki menyandarkan kepalanya di bahu ku jika itu membuatnya nyaman.


Sesampainya nya dirumah aku tak langsung membangunkan Zaki. Ku biarkan Zaki sampai bangun dengan sendirinya. Pak Soleh pun keluar dari mobil setelah memarkirkan mobil sedan putih yang kami naiki.


Tak lama Zaki pun terbangun dari tidurnya.


"Loh kita udah sampe kenapa loe gak bangunin gue sih Del."


"Gak papa aku liat kamu nyenyak tidurnya."


"Makasi ya Del loe baik banget." Zaki mencium pipi ku. "Ayo masuk kerumah gue buatin jus alpukat." Aku hanya mengangguk.


Untuk ketiga kalinya aku memasuki halaman rumah mewah milik Pak Ibnu. Aku pun duduk di sofa ruang tamu dan Zaki pergi ke dapur untuk membuat jus alpukat.


"Bik nanti jangan ada yang ganggu gue sama Adel di ruang keluarga ya. kalian dibelakang aja kalau gak mau dipecat." Ancam Zaki kepada salah satu ART dirumahnya itu.


Setelah membuat jus alpukat Zaki mengajak ku ke ruang keluarga yang letaknya hanya bersebelahan dengan ruang tamu. Bedanya lebih privasi dan tempatnya lebih nyaman.


"Papah Mamah masih dirumah sakit Zak?"


"Iya Del makanya gue kesepian dan minta temenin elo. Minum dulu jus nya gue ganti baju dulu ya."


Aku memang haus sejak tadi, padahal ruangan ini dingin. Tegukan jus alpukat membasahi tenggorokan kan ku. Membuat rasa haus ku hilang. Ku lepaskan dasi ku dan memasukannya di tas ransel lalu ku letakkan di meja.


Zaki pun kembali dengan kaos oblong putih dan celana pendek biasa lalu duduk di samping ku.


"Gimana masih enak kan jus buatan gue?" Zaki bertanya sambil membelai rambut ku.


"Iya enak banget, kamu emang jago bikin jus." Zaki menggeser posisi duduknya. Kini paha kami saling menempel.


"Del loe mau bantu gue kan?" Bisikan Zaki ditelinga ku menciptakan perasaan aneh ditubuh ku. Dan aku pun sedikit agak pusing.


"Bantu gue ilangin rasa penat yang menguasai kelapa gue sejak seminggu lalu."


"Caranya?"


"Ikuti aja permainan gue."


"Perma..."


Zaki mencium bibirku. Aneh sekali rasanya aku menginginkan ciuman Zaki lagi. Aku tersenyum dan membuat Zaki kembali mencium ku. Kali ini tidak ia lepaskan tapi malah membuka mulutnya dan bermain lebih lama.


Aku hanya heran dengan diriku. Aku sangat menyukai permainan Zaki. Bahkan aku terlalu terbuai sampai apa yang tangan Zaki lakukan tak ada penolakan sama sekali dari ku.


Perasaan aneh yang aku rasakan sejak tadi membuat ku merelakan apa yang harusnya aku jaga dengan sangat baik. Ya kami melakukan nya. Bahkan aku begitu sangat menikmati nya. Aku terbuai dengan pesona permainan yang Zaki lakukan.


Setelah apa yang di inginkan Zaki selesai kami duduk bersanding kembali dengan sebuah TV yang menyala. Kali ini Zaki tidur di pangkuan ku dan menatap ku dengan dalam.


"Makasi sayang udah bikin gue bahagia." Zaki membelai pipi ku. Aku hanya mengangguk menatapnya. "Gue sayang banget sama loe Del. Tetaplah seperti ini Del, gue bener-bener nyaman ada di deket loe." Zaki memanjakan diri.


Aku merasakan rasa bersalah dalam diri ku. Rasanya hati dan pikiran ku sedang bertengkar menyesali apa yang udah ku lakukan dengan Zaki. Tapi tubuhku sangat menikmati nya.


"Disini dulu ya Del nanti biar Pak Soleh yang nganterin loe balik. Jangan tinggalin gue dengan cowok lain ya Del gue bener-bener sayang sama loe." Zaki menggenggam sebelah tangan ku dan Zaki pun terlelap di pangkuan ku.


Setelah memastikan Zaki tidur dengan nyenyak ku coba berdiri dengan pelan memindahkan kepala Zaki ke bantal. Ku ambil tas ransel ku dan perlahan membuka pintu untuk keluar.


Aku tak minta Pak Soleh buat nganter pulang. Aku tak tau apa yang terjadi sama diri ku. Rasanya aku pingin berjalan sejauh mungkin. Lama aku berjalan semakin aku merasakan rasa bersalah pada ku. Harusnya aku tak melakukan nya. Bagaimana jika aku hamil di usia ku yang masih 19 tahun ini.


Banyak sekali pikiran yang merasuki otak ku dan tanpa kusadari ada sosok Hanan berjalan mengikuti langkah ku sejak tadi.


"Del." Tak ada jawaban.


"Adelia." Aku terkejut dan membalikan badan. "Loe mau kemana?" Hanan bertanya dengan nada keras karna lamunan ku membuat telinga ku bermasalah.


"Loh kok aku disini. Ini dimana Nan?" Aku celingukan kebingungan. Yang ku ingat hanyalah aku keluar dari rumah Zaki.


Hanan berjalan menghampiri ku.


"Gue barusan dari rumah gue terus gue mau naik Bus buat balik lagi ke rumah Pakde tapi gue liat loe jalan dengan tatapan kosong. Jadi gue ikutin elo."


"Hah?"


"Loe dari mana sih ini udah sore tapi loe ada di daerah ini."


"Iya Nan tadi aku dari rumah Zaki."


"Apa? Loe udah jalan sejauh itu?"


"Maksudnya apa Nan?"


"Del loe mikirin apa pas jalan keluar dari rumah Zaki sampe loe gak berasa udah jalan lebih dari 20km."


"Serius kamu?" Hanan mengangguk. "Entahlah tolong Nan anter aku pulang ya."


"Gue juga mau balik ke Pakde ayo kita jalan ke sebelah sana ada halte bus disana."


Aku hanya mengekor pada Hanan. Aku bener-bener kacau. Tak mungkin kejadian tadi ku ceritakan pada Hanan. Aku hanya berharap Zaki tak menghianati ku.


*****


...Banyak-banyak Terimakasih buat reader yang setia kasih aku support 🙏 Saling dukung yuk....


...jangan lupa mampir di ***CINTA SUCI ANAYA*...


...❤️❤️❤️**...