
Akhir pekan tiba. Biasanya Ayah ngajak jalan-jalan walau cuma keliling kompleks. Tapi kali ini berbeda. Ayah tidak akan pernah lagi mengajak ku jalan-jalan.
Rasa malas keluar kamar muncul ketika aku kedatangan tamu bulanan. Rasa ingin rebahan di kasur makin mendalam.
Tok
Tok
"Del kamu gak bangun." Ibu mengetuk pintu kamar hendak membangunkan ku.
Aku berjalan membuka pintu. Adelia lagi dapet Bu jadi mau dikamar aja.
"Ya sudah Ibu nanti mau pergi. Pak RT ngundang Ibu-ibu kompleks untuk berkumpul katanya akan ada pekerjaan. Siapa tau bisa membantu ekonomi keluarga kita."
"Iya Bu hati-hati ya Adel mau lanjut tidur ini juga masih gelap." Aku kembali ke tempat tidur karna masih sangat berat mata ini untuk terbuka.
"Ibu pergi dulu ya." Ibu menutup pintu kamar dan terdengar sudah menuruni tangga.
Aku yang masih mengantuk kembali memejamkan mata.
.
.
Cahaya matahari mulai menerangi dunia. Perlahan cahaya nya memasuki sela jendela kamar ku. Handphone ku bergetar sejak tadi tapi aku enggan untuk mengambilnya di meja. Derita kedatangan tamu bulanan di hari pertama selalu seperti ini.
Handphone ku terus bergetar. Ku paksakan bangun dan mengambilnya.
Paman Dirga ngapain pagi-pagi udah Video Call. Ini hari Minggu dia juga pasti libur kerja.
Ternyata ada WhatsApp dari Zaki juga.
//Pagi Adelia. Semoga ahir pekan mu menyenangkan. Sebenernya aku pengen main ke rumah mu hari ini apakah boleh?//
Harus ku balas apa setelah apa yang terjadi kemarin. Kalau aku iyakan takut dia minta jawaban. Kalau aku tidak kan takut dia nanti sedih.
//Iya main aja tapi kita nanti ketemunya di taman sebelum rumah aku ya. Soalnya ibu gak dirumah.// Balasan ku pada pesan Zaki.
//Paman ada apa VC Adelia baru bangun tidur.// Ku WhatsApp paman Dirga karna ada 5 panggilan Vidio tadi.
//Paman mau ngajak kamu jalan-jalan Del. Sebentar lagi paman berangkat kamu siap-siap ya dandan yang cantik.//
Tak lama pesan ku dibalas. Dan bagaimana bisa aku menghadapi mereka. Aku sudah mengiyakan pesan Zaki tapi Paman Dirga mau kerumah juga.
'Pukul berapa sih ini. Kok sudah pada WhatsApp memang gak pengen pada nyantai apa. Aku malas sekali mau mandi. Tumben juga paman Dirga ngajak jalan-jalan. Apa karna mau menghiburku.' pikiran ku mengomel tak karuan.
Ku terpaksa turun dari tempat tidur lalu mengambil anduk dan mandi. Selesai mandi ku bersiap. Kaos biru laut dengan gambar Minnie mouse di bagian depan dan rok plisket warna hitam dan kumasukan kaos ku. Itulah style ku pagi ini.
Ku bingung jika harus memilih baju. Rambut ku juga ku ikat jadi satu ke belakang. Ku pakai sedikit bedak dan lipstik warna nude. Ku ambil tas selempang warna hitam. Lalu memakai sepatu cat warna hitam juga.
Belum juga ku merapikan penampilan ku tapi bel depan rumah sudah berbunyi.
Ting tong….Ting tong….
'Paman Dirga kenapa cepet banget ya.'
Akhirnya ku tenteng sepatu dan berjalan menuruni tangga.
"Paman Dirga cepet amat sampai sini. Ayo masuk dulu paman." Sambut ku pada paman Dirga.
"Iya Paman sudah gak sabar pengen ketemu kamu. Sudah 2 hari gak dirumah lagi di deket sini aja ada kerjaan." Jawab paman Dirga.
"Ayo duduk dulu paman. Mau minum apa Teh atau kopi?" Aku berjalan menuju dapur.
"Gak usah repot-repot Del. Kamu duduk aja sini." Sambil melambaikan tangan Paman Dirga mencegah ku membuatkannya minuman.
Ku duduk berhadapan dengannya.
Tanya ku karna memang aku tidak pernah sekali pun pergi dengannya. Bahkan hubungan kita juga tidak terlalu dekat karna sejak kecil aku dirumah ini dan paman bersama kakek nenek. Kita bertemu hanya sesekali saja. Terahir sebelum Ayah meninggal aku bertemu dengan paman saat sidang perceraiannya sekitar 3 tahun yang lalu.
"Ibu mu kemana Del. Kok gak kelihatan.?" Tanya paman Dirga sambil tengok kesana-kemari.
"Oh ibu ada acara kumpul-kumpul sama Pak RT dan ibu-ibu kompleks."
"Ooh gtu." paman Dirga mengangguk.
"Kenapa Paman?" Aku merasa tidak enak. Sepertinya ada yang salah dengan tingkah laku paman Dirga.
"Del kamu sudah besar dan cantik ya. Kita sudah lama sekali Lo gak ketemu. Paman jadi kangen sama kamu." Paman Dirga berdiri dan menghampiri ku yang tadinya duduk berhadapan dengannya dan hanya terhalang oleh meja kecil. Dan sekarang dia duduk disebelah ku dengan jarak yang sangat dekat dan memandangi ku dari ujung kaki sampai kami saling bertatap mata.
"Maksud paman apa?" Aku sudah mulai gugup dan ketakutan.
"Adelia Putri Wintana kamu kan sudah dewasa apa kamu tak mengerti maksud Paman.? Dirumah tidak ada siapa pun selain kita. Bahkan diluar juga sepi Del." Paman Dirga tetap menatap ku dengan pandangan mesum di matanya. Tangan kanannya mulai meraba pipi ku.
"Paman mau apa?" Aku berdiri dan hendak pergi. Tapi tangan ku di tarik lalu tubuh ku dijatuhkan ke atas sofa yang kami duduki tadi.
"Jangan paman aku mohon. Tolong… tolong…" aku mencoba berteriak minta pertolongan. Air mata ku menetes menuju telinga. Tapi aku tak bisa apa-apa karna kedua tangan ku di bentangkan dan di pegang dengan erat olehnya. Tubuh Paman Dirga sekarang tepat di atas ku. Menatap ku dengan sebuah senyuman jahat.
"Kamu jangan teriak kompleks ini sepi sekali Paman sudah melihatnya. Jika kamu teriak lagi maka Paman kirim kamu bertemu dengan Ayah mu. Ngerti?"
Paman Dirga mulai men**** b*b*r ku lalu ke l*h*r ku. Tangan kirinya mulai masuk ke dalam baju ku. Aku hanya bisa meneteskan air mata dan menjerit dalam hati.
"Paman aku mohon aku ini keponakan mu. Anak dari kakak Paman. Tolong jangan lakukan ini. Hiks...hiks…" ku bicara dengan lirih bahkan aku hampir tidak bisa bicara karna ketakutan.
"Diam…." Teriak Paman Dirga.
Dia mulai melakukan hal layaknya aku istrinya. Aku hanya bisa pasrah aku tak ada kekuatan untuk berontak. Tak ada yang bisa ku lakukan bahkan untuk berteriak minta tolong.
"Brengs*k…." Brug brug brug.
Ada yang memukul bagian pipi dan perut Paman Dirga. Aku tak bisa melihat dengan jelas aku langsung menurunkan bajuku yang sudah di angkat oleh Paman Dirga. Aku berlari ke sudut ruangan dan bersembunyi di balik gorden.
"Sial** siapa kamu anak kecil berani ikut campur"
"Aku pacarnya Adelia."
"Heh dasar masih bau kencur udah pacaran. Berarti dia sudah bekas kamu ya bocah?"
Aku hanya bisa mendengar percakapan mereka dari balik gorden.
"Om jangan sembarangan kalau bicara. Om gak punya hati ya Adelia baru saja kehilangan ayahnya dan sekarang dia hampir kehilangan kehormatan nya hanya karna otak mesum Om. Kenapa Om tak memikirkan bagaimana terpuruknya dia nanti."
"Dasar bocah sial**." Buugg… Pukulan keras dari tangan Paman Dirga mengenai wajah Zaki. "Tau apa kamu bocah sial. Bisa-bisa kamu kurang ajar." Buggg satu pukulan lagi mendarat ke wajah Zaki.
"Ada apa ini. Dirga kenapa mau memukul anak itu. Dimana Adelia." Ibu ku datang syok melihat ada dua laki-laki yang sedang saling pukul.
"Sial**." Paman Dirga pengambil bajunya yang dilempar ke sofa tadi. Lalu berjalan keluar rumah.
"Dirga. Dirga…" ibu terus memanggilnya tapi tak menghentikan langkahnya.
Breemmm…. Suara mobil Paman Dirga pergi menjauh dari rumah ku.
Ibu yang mengejar Paman Dirga sampai depan pintu kembali lagi menghampiri Zaki dan melihat lukanya.
"Kenapa Nak apa yang terjadi. Dimana Adelia?"
Bersambung……..
*****
...#Terima kasih yang setia membaca novel Brok3n ini 🙏#...
...Jangan lupa tinggalkan like dan komentar nya ya 😘...