BROK3N

BROK3N
13. Rencana Pindah Rumah



"Kenapa Nak apa yang terjadi. Dimana Adelia?"


Ibu berteriak pada Zaki.


Zaki gugup. Dia juga kesulitan bicara karna mulutnya kesakitan serta berdarah.


"Adelia ada di balik gorden itu Tante." Zaki menunjuk ke arah gorden dimana tempat aku bersembunyi.


"Del, Adelia....Nak Masyaallah kenapa kamu?" Ibu panik tak karuan melihat rambut dan lipstik ku yang berantakan.


"Ibu.....!" aku memeluk ibu dengan sangat erat. Aku ketakutan. Bahkan aku tak berani melihat ke sisi mana pun. "Paman Dirga Bu...hiks hiks...!" tak bisa ku lanjutkan kata-kata ku. Lidah ku jadi kaku setelah menyebut namanya.


"Jadi Tante Om yang tadi mau m*l*c*hkan Adelia. Alhamdulillah saya datang disaat yang tepat. Belum banyak yang terjadi. Tapi saya yakin Adelia syok dan sangat ketakutan sekarang." jelas Zaki pada Ibu ku.


"Ya Allah cobaan apa lagi ini." Ibu tak melepaskan pelukannya. Ibu terus membelai rambut ku. "Terimakasih Nak. Kalau kamu gak datang Tante gak tau apa yang akan terjadi pada Adelia. Apa kamu bisa pergi sekarang sepertinya Adelia takut melihat sosok laki-laki sekarang. Maaf Tante gak bisa ngobatin luka mu." Ibu berbicara tanpa melepaskan pelukannya pada ku.


"Saya permisi dulu Tan. Jika Tante butuh pengacara untuk melaporkan kejadian ini minta Adelia untuk menghubungi saya. Assalamu'alaikum." Zaki pamit.


"Wa'alaikumsalam." jawab Ibu.


Zaki pulang dengan rasa bersalah.


"Andai aku datang lebih awal pasti Adelia tak kan seperti itu. sialllll........!" Zaki mengumpat lalu melempar sweeter nya ke tanah tapi dia memungutnya kembali dan berjalan menjauhi rumah ku.


.


.


.


Ibu mengangkat badan ku. menuntun ku secara perlahan menuju kamar ku. Satu demi satu tangga kita naiki sampai akhirnya Ibu menidurkan ku di tempat tidur dan menyelimuti ku.


"Tidur lah Del. Tenangkan pikiran mu. Ibu kebawah dulu buatin teh anget mau?" Aku hanya menggelengkan kepala ku. Dengan pelan ibu berbicara menenangkan ku. Aku yakin hatinya sangat sakit dan hancur melihat aku yang seperti ini. Kali ini aku merasa wanita yang paling buruk. Walau belum terjadi hal yang jauh tapi tubuh ku sudah tersentuh oleh laki-laki lain yang bukan suami ku. Bahkan aku belum memikirkan masalah suami.


Aku hanya terdiam tidur di pangkuan kaki ibu. ibu hanya membelai-belai rambut ku. Tak ada yang bisa dikatakan lagi dengan keadaan ku yang seperti ini.


"Adel ibu akan cari rumah baru untuk kita tinggal. Ibu tak mau kejadian ini terulang. Bisa saja Paman mu datang lagi saat Ibu tak dirumah. Ibu akan bicara dengan Nenek mu nanti."


Aku tak mengiyakan perkataan ibu. Lidahku benar-benar tak bisa mengucapkan satu kata pun.


***


Gelapnya dan sunyi nya malam sudah menyelimuti. Aku tak beranjak sedikit pun dari tempat tidur ku. Bahkan ku biarkan kamar ku gelap gulita.


Tok


Tok


"kenapa tak menyalakan lampu Nak. Bukankah kamu sangat takut kegelapan." Ibu menghidupkan lampu tidur ku. "Apakah kamu belum merasa baik Nak?" Ibu membelai kepala ku yang setengah tertutupi selimut. "Ibu tau ini berat dan membuat mu syok. Harusnya Paman mu adalah orang kedua yang melindungi mu setelah Ayah tapi dia berbuat kejam padamu. Tapi Nak kamu ingat laki-laki yang menolong mu?" Aku hanya menggerakkan kepalaku tanda mengiyakan. "Dia sepertinya laki-laki yang baik. Ibu melihat wajahnya yang tulus dan sangat marah melihat kondisi mu. Ibu yakin dia benar-benar baik untuk mu. Mungkin kamu akan memikirkannya. Makanlah walau hanya sedikit. Besok kamu sekolah kan? Jadi kamu harus kumpulkan keberanian dan tenaga mu. Ibu tinggal dulu."


Ibu beranjak pergi dari tempat tidur ku. Memang apa yang Ibu katakan semuanya benar. Zaki orang baik. Dan besok aku harus sekolah masih ada dua hari untuk ujian sekolah setelah itu akan libur penenangan untuk persiapan Ujian Nasional. Aku gak boleh lemah. Aku memang harus jadi Adelia yang kuat. Aku tak mau Ayah sedih melihat keadaan ku.


Akhirnya ku buka selimut ku. Mengingat rambut dan bangun lalu berjalan menuju meja belajar tempat dimana ibu menyiapkan makan malam ku.


Ku santap ayam goreng potongan paha bawah kesukaan ku. Lalu makan dua potong buah melon dan meminum susu. Ku paksakan masuk ke mulut ku karna aku tak mau sakit hanya karna ini. Aku bisa melewati hari ku dengan kehilangan sosok Ayah. Harusnya aku juga bisa melewati ini semua.


Ku rapikan piring ku. Ku buka pintu kamar ku dan berjalan menuruni anak tangga. Aku melihat Ibu yang sedang berbicara di telepon.


"Iya baik Pak akan saya tunggu besok. Terimakasih sebelumnya." pembicaraan Ibu selesai dan menutup telponnya. Aku melihat raut wajah yang putus asa.


Ibu menyangga kepala di atas meja. Aku tau saat ini yang Ibu pikirkan hanyalah aku.


"Bu!" Panggil ku sambil terus melangkah turun dari tangga kamar ku.


"Adel. Kamu sudah bangun. Kamu benar-benar merasa baik sekarang?" Ibu menghampiri ku dan meminta piring makan malam yang aku bawa. Ibu lalu berjalan menuju tempat cuci piring dan menumpuknya. Ibu kembali menghampiri ku dan memapahkan duduk ke sofa tempat dimana kejadian mengerikan pagi tadi. Aku menolaknya. Ibu mengerti akan isyarat ku lalu membawa ku ke kursi meja makan.


"Ibu habis nelpon siapa?" Aku membuka pembicaraan ku dengan Ibu.


"Pak Rudi. Teman Ayah mu dulu. Dia biasa menangani jual beli rumah." kata Ibu.


"Maaf ya Bu Adelia hanya menambah beban Ibu." ku pegang tangan Ibu. Kami saling menatap satu sama lain.


"Kamu bicara apa sayang. Kamu ini anak ibu. Tak ada beban untuk seorang ibu yang merawat anaknya. Kamu juga suatu saat akan mempunyai anak. Kamu akan paham dengan perasaan Ibu saat ini." Ibu tersenyum dengan penuh kehangatan.


"Terus bagaimana kata Pak Rudi Bu?"


"Pak Rudi besok kesini mau melihat keadaan rumah kita. Akan dia usahakan secepat mungkin. Dia juga akan mencarikan rumah untuk kita nanti yang tempatnya aman. Semoga Paman mu tidak bertindak macam-macam selain hari ini."


"Bu, apa kita perlu memikirkan perkataan Zaki tentang seorang pengacara?"


"Ibu terserah kamu. Dia memang jahat pada mu Nak tapi ibu tidak menyarankan sebuah kejahatan dibalas dengan kejahatan. Yang terpenting kamu baik-baik saja sekarang jadi Ibu pikir tidak perlu melaporkan dia. Ibu hanya perlu bicara dengan Nenek mu."


"Baik Bu. Adelia masuk kamar lagi ya."


"Iya nak semoga mimpi indah ya."


*****


...Jangan lupa tinggalkan like nya ya 😊🙏...


...Terimakasih yang setia membaca sampai episode ini 😘...