BROK3N

BROK3N
Bab 68 Bertemu Kembali



Satu bulan sudah berlalu. Ahirnya aku berkerja di sebuah perusahaan kosmetik kecil bagian sales. Gajinya memang gak begitu banyak tapi cukup untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari.


Sebenernya aku masih punya cukup uang. Tentu itu uang pemberian Zaki. Hanya aku akan menggunakan uang itu untuk keperluan Misela kelak.


Aku juga tak mau hanya berdiam diri dirumah. Usia ku masih sangat mampu untuk bekerja.


Walau di bekerja di perusahaan kosmetik itu cukup melelahkan dan targetnya yang sulit tapi aku tetap menjalani dengan senang hati. Sambil ku nikmati jadi orang Jakarta.


Malam ini Putri main ke kontrakan ku untuk meminta bantuan tentang tugas kuliah nya. Satu bulan ini Putri sibuk dengan kuliahnya karna sudah harus pengajuan judul skripsi padahal masih semester tiga.


Putri sering kesulitan dan selalu menelpon ku meminta bantuan ku.


Aku dan Putri duduk di teras untuk mengerjakan tugas Putri sedangkan Misela dan Ibu sudah tidur.


"Del kamu tau gak Asep satu kampus Lo sama aku? Dia ganteng banget selalu jadi pusat perhatian para cewek-cewek."


"Hah? Serius? Ya aku nggak tau lah kan kamu baru bilang. Jadi kalian sering ketemu? Tapi kamu gak bilang kan tau keberadaan ku disini?"


"Sejak kapan kamu jadi wartawan Del nanya nya nyerocos gitu. Pusing dengernya."


"Kan kamu yang mancing aku buat banyak tanya. Tinggal di jawab ini. Gak sesulit mata kuliah mu kan? Heee"


"Iya iya. Aku gak bilang apa-apa kok masalah kamu karna dia juga gak pernah nanya sama aku jadi ngapai juga kan aku bilang-bilang ke dia."


"Huft syukur deh. Aku khawatir dia bilang ke Hanan nantinya. Aku juga gak mau buat dia kecewa lagi."


"Lagian Del kamu gak kasihan sama Hanan? Bukannya kamu masih cinta banget sama dia? Coba Del kamu hubungi dia."


"Entahlah Put aku masih bingung dengan perasaan ini. Aku memang masih mencintainya. Aku juga merindukan nya apalagi Misela selalu teriak-teriak jika melihat foto Hanan."


"Bapaknya udah terima hukuman Del, biarlah jadi urusannya dengan Tuhan. Hanan kan gak tau menau masalah Bapak nya itu. Selama ini kamu melalui banyak hal sama Hanan Del. Aku yakin Hanan pasti tersiksa disana. Apalagi kamu pergi tanpa kabar sama sekali."


Memang benar apa kata Putri. Bahkan bukan cuma Putri yang mengatakan hal itu.


"Aku tau Put, aku sedang mencoba tapi hati ku masih menolaknya." Aku tertunduk.


"Aku pengen kamu bahagia Del. Aku gak mau kamu terus-menerus menderita. Aku yakin kok Hanan bisa bahagiain kamu sama Misela." Putri menggenggam tangan ku.


"Biarlah waktu yang menjawab ya Put."


"Ya udah aku gak akan bahas masalah Hanan lagi. Itu urusan hati mu."


"Makasi ya Put kamu memang sahabat terbaik ku."


"Kalau gitu balas kebaikan ku dengan bantu buat tugas ini ya hehe."


"Kamu baik ada maunya ya."


"Sedikit hehe."


Hingga larut malam aku dan Putri masih di teras kontrak ku.


*****


Satu tahun sudah berlalu.


Liburan Ahir semester hampir tiba. Asep meminta Hanan untuk menjemput nya di Jakarta karna Asep tak mau pulang liburan ke rumah sendirian.


Hanan pun menuruti apa kata Asep. Hanan pun pergi ke Jakarta dengan menaiki bus yang sama seperti saat dia pertama ke Jakarta.


Tiba di Jakarta Hanan tak langsung ke asramanya Asep. Entah kenapa dia ingin sekali pergi ke Monas. Hanan selalu penasaran dengan suasana di Monas.


Hanan duduk di bawah pohon palem di sekitar air pancuran. Hanan masih termenung disana sambil menikmati pemandangan hijau dan angin sepoi-sepoi.


Tentu Hanan pun masih memikirkan Adelia. Andai Adelia ada di sampingnya saat ini pasti akan sangat menyenangkan.


Tak jauh dari sana ada suara tertawa yang mengasyikkan. Hanan mencoba mencari sumber suara tapi terhalang oleh pagar tanaman yang tinggi. Hanan sangat penasaran sekali dengan suara itu karna Hanan seperti mengenal dengan baik tawa yang terdengar oleh telinga itu.


"Misela jangan lari sayang."


Hanan langsung berdiri. Matanya melotot. Hati nya gemetar.


"Misela katanya? Apakah itu nama Misela putri kecil ku?" Bathin nya.


Hanan berjalan dan memutari pagar tanaman itu. Terus dan terus Hanan mencari suara yang dia harapkan sesuai dengan apa yg dia pikirkan.


Hanan menatap tajam dan dalam. Sangat sangat dalam. Matanya berkaca-kaca. Hanan melihat tiga orang yang wajahnya sangat dia rindukan.


"Itu Ibu Adel dan putri kecil ku Misela. Dia sudah sebesar itu. Dia begitu cantik sekali."


Hanan berjalan perlahan dengan tetesan air bening di pipinya. Hanan sangat ingin menggendong anak kecil yang sedang sibuk meniup gelembung sabun itu.


Hanan berdiri tepat di belakang Adelia.


Adel menoleh ke belakang dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya melotot terkejut dengan siapa dia berhadapan.


Tanpa pikir panjang Hanan langsung memeluk Adelia dengan sedikit isakan.


"Aku sangat merindukanmu. Aku sangat sangat merindukan mu Del. Bagaimana kamu setega itu meninggal ku tersiksa atas cinta ini." Hanan memeluk Adelia makin erat. Tak ada respon dari Adelia. Dia ikut menitikkan air mata. Tak bisa di pungkiri Adelia juga merindukan sosok Hanan.


Bu Renita menghampiri mereka dengan senyum bahagia. Bu Renita yang sedang menggendong Misela mengangguk-anggukkan kepalanya dan ikut terharu.


Hanan menyadari kehadiran Bu Renita. Hanan melepaskan pelukannya. Hanan menatap Adelia dengan sangat sendu. Hanan menghapus air mata yang menetes di pipi Adelia.


Hanan berpaling menatap Misela.


"Putri kecil Papi. Papi sangat merindukan mu sayang."


"Api pi endong ela."


(Papi Papi gendong Misela.)


Begitu kata Misela sambil mengangkat kedua tangannya yang tak sabar untuk di gendong Hanan. Adel tak pernah sekalipun membuat Misela melupakan Papinya. Adel selalu menceritakan papi nya. Menunjukan album foto dirinya dengan Hanan. Jadi Misela tak lupa dengan Papi nya itu.


Hanan pun menggendong Misela. Memeluk nya lalu menatapnya dan memeluk nya kembali. Itulah cara Hanan melepaskan rindunya pada anak yang sudah ia anggap putrinya sendiri.


"Duduk sini nak Hanan."


Bu Renita mengajak Hanan duduk di sebuah tikar.


"Bagaimana kamu tau kami ada disini?" Tanya Bu Renita.


"Hanan disini untuk menjemput Asep Bu. Tapi entah kenapa Hanan tadi sangat ingin pergi melihat Monas karna belum pernah kesini. Ternyata ada kalian semua disini." Jelas Hanan sambil membelai rambut Misela yang panjang.


"Syukurlah Ibu bahagia melihat mu kembali. Kabar mu baik kan?" Tanya Bu Renita lagi.


"Sekarang iya Bu Hanan sangat baik dan bahagia."


"Alhamdulillah."


"Bagaimana bisa kalian meninggalkan ku sendirian dan tanpa pamit."


Adel menunduk kan kepalanya mendengar pertanyaan Hanan. Sedangkan Bu Renita sedang menatap Adel.


"Oma ada adut adut cana Oma."


(Oma badut badut kesana Oma.)


Misela menunjuk ke arah dua badut yang sedang di kelilingi anak-anak seusianya.


"Ibu mau temani Misela dulu. Kalian ngobrol aja."


"Iya Bu."


Hening. Hanya ada suara air mancur.


Tak ada yang mau memulai pembicaraan baik Hanan mau pun Adel.


Cukup lama suasana itu. Hanan pun tak tahan ahirnya mengganti posisi duduk di hadapan Adelia dengan menyilang kan kakinya. Hanan mendongak kan kepala Adelia yang tertunduk karna posisi mereka sekarang berhadapan.


"Apakah kamu tak merindukan ku?" Tanya Hanan dengan nada sayu.


Adelia malah menggeleng kan kepalanya.


"Benarkah?"


Adelia diam.


"Baiklah kalau begitu aku pulang saja." Hanan hendak berdiri tapi pergelangan tangannya di tarik oleh Adelia.


"Kenapa di tahan? Kau tak merindukan ku jadi buat apa aku disini. Bahkan kamu seperti patung tak mau bicara satu kata pun." Hanan berpura-pura acuh pada Adelia.


"Aku merindukan mu. Sangat merindukan mu." Jawab Adelia.


Hana kembali duduk. Hanan menggenggam tangan Adelia yang menariknya tadi lalu menciuminya.


###############################


...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...


...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...


...Terimakasih banyak dukungan 😘...