
Hari sudah pagi. Mata ku masih sangat berat untuk di buka. Belum lagi karna menangis semalaman mata ku jadi bengkak.
Pagi ini aku dan ibu harus ke kantor polisi untuk mengetahui motif sebenarnya dan beberapa bukti terkait tentang pembunuhan Ayah ku. Entah aku sanggup atau tidak tapi aku harus kesana untuk memastikan.
"Del, Bunda Adel... kamu udah bangun Nak? Misela nyariin nih." Terdengar dari luar Ibu mengetuk pintu kamar ku.
"Sebentar Bu Adel baru bangun ini." Aku pun beranjak dari tempat tidur ku dan keluar dari kamar.
"Unda endong ela." Kata Misela meminta gendong sambil mengangkat tangannya.
Aku pun menggendong Misela dan memberikan surat dari Zaki yang sudah aku baca semalam pada Ibu.
"Bu ini surat dari Zaki, Ibu baca dulu ya sebelum kita berangkat. Adel mau mandiin Misela dulu ya." Aku dan Misela berjalan ke kamar mandi dan Ibu duduk di kursi dapur untuk membaca surat itu.
Ibu sepertinya satu pemikiran dengan ku. Kami akan berikan keputusan kami di kantor polisi nanti. Kami pun bersiap untuk berangkat. Kami berjalan bersama menuju halte bus.
Sesampainya di kantor polisi terlihat Hanan dan Pak Iskandar disana. Hanan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri kami tapi aku membuang muka dan mencari tempat duduk lain.
Beberapa menit kemudian seorang polisi memanggil kami ke ruang interogasi.
"Ini Bu bukti dan rekaman cctv di tempat kejadian perkara. Bukti ini hampir saja hilang karna di sabotase oleh Pak Hanif." Kata polisi tersebut dan menyodorkan sebuah laptop pada kami.
Vidio bukti terjadinya kecelakaan itu pun kami putar. Dan benar saja di dalamnya ada Ayah ku yang sengaja di tabrak oleh Pak Hanif. Aku dan ibu menangis saling berpelukan melihat Ayah yang sedang kesakitan saat itu.
"Apa Bu Renita akan mengikuti sidang di pengadilan nanti?" Tanya polisi itu.
"Enggak Pak, saya bahkan gak sanggup untuk bertemu pelaku. Saya menyerahkan sepenuhnya keputusan pada pihak berwenang. Dengan adanya kami di sidang itu juga tidak akan mengembalikan hidupnya suami saya. Saya sudah ikhlas dengan apa yang telah terjadi. Biarlah pelaku menerima hukumannya." Sahut Ibu.
"Baiklah Bu terimakasih atas kerjasamanya. Mungkin pelaku akan di penjara sekitar 20 tahun atas kasus pembunuh dan mencoba menghilangkan barang bukti. Jika ibu keberatan nanti bisa ajukan banding."
"Tidak Pak kami menerima semuanya. Jika di dunia ini pelaku menerima hukuman yang tak sepadan pasti kelak pelaku juga akan menerima yang sepadan."
"Baik Bu Ibu boleh pulang. Kami akan menindaklanjuti kasus ini sesuai hukum yang berlaku."
"Baik Pak kami permisi dulu."
Kamu pun keluar dari ruang interogasi dan hendak pulang. Tapi ternyata Hanan sudah menunggu kami di luar. Hanan menatap ku penuh penyesalan. Hanan juga melirik Misela. Aku yakin dia sangat ingin menggendong nya.
"Del tolong aku ingin bicara sebentar." Kata Hanan. Kutatap wajah Hanan. Aku melihat raut wajah yang tak karuan. Aku merasa dia juga menangis semalam. Tapi aku belum bisa untuk membicarakan semua ini.
"Jangan mencari atau menemui kami lagi. Aku mohon. Jangan pernah." Kata ku dan berlalu dari hadapan Hanan.
"Del." Hanan memanggil ku dengan nada sedikit tertekan seperti akan menangis. "Bu tolong bantu Hanan Bu." Hanan masih memohon dengan tetesan air mata di pipinya.
Ibu ingin berhenti dan menghampiri Hanan tapi aku menahan.
Kami pun tak menghiraukan panggilan Hanan kami terus berjalan menuju halte bus. Hanan terlihat berlutut dan menunduk disana. Sebenernya aku ingin sekali menghampiri nya dan memeluk nya. Tapi aku belum bisa melakukan itu. Aku belum sanggup untuk itu.
Bus yang kami naiki pun melaju.
"Bu nanti telpon Pak Rudi, bilang padanya untuk menjual rumah kita. Kita harus pergi dari sini Bu." Aku memeluk Misela yang sedang tertidur dengan lelap.
"Kamu yakin Nak gak mau bicara dulu dengan Hanan? Ibu kasian pada Hanan Nak. Ibu yakin Hanan juga tersiksa dengan keadaan ini."
"Jika kita berjodoh kita pasti akan bertemu lagi Bu. Jangan terlalu Ibu pikirkan."
"Baiklah jika itu mau mu. Tapi kamu ingin kita pergi kemana?"
"Kita pindah saja ke Jakarta Bu. Adel akan minta bantuan Putri untuk mencarikan kita tempat tinggal disana."
"Apa kamu ingin mencari Zaki di Jakarta?."
"Tentu saja Engga Bu. Kita mengadu nasib saja disana. Adel akan cari pekerjaan baru juga nanti. Adel akan bertemu Bu Dania setelah ini."
"Baiklah nanti Ibu coba hubungi Pak Rudi."
"Bu bilang sama Pak Rudi kita gak akan bawa peralatan apapun yang ada di rumah itu. Kita jual semuanya."
"Kenapa begitu?"
"Kita pindah jangan sampai ada yang melihatnya Bu. Biarkan mereka taunya kita hanya pergi sebentar. Adel gak mau Hanan tau dan mencari kita. "
"Kenapa kamu lari dari masalah ini Nak?"
"Bu hanya itu yang bisa Adel lakukan saat ini."
"Baiklah. Ibu mengikuti keputusan mu saja Nak."
***
Di toko di ruangan Bu Dania.
"Assalamu'alaikum Bu." Sapa ku pada Bu Dania yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Wa'alaikumsalam sini Del masuk. Duduk sini." Bu Dania mengajak ku duduk di sofa. "Gimana acaranya semalam lancar kan? Maaf Lo ya Ibu gak bisa dateng. Ada urusan mendadak sekali semalem." Kata Bu Dania sambil menepuk lengan ku.
"Bu sebenarnya acaranya berjalan lancar, tapiβ¦!" Aku menghentikan bicara ku.
"Ada apa Del sepertinya ada hal yang serius?" Bu Dania mulai khawatir.
"Bu sebenarnya saya kesini mau berpamitan."
"Maksudnya pamit kemana?"
"Bu saya dan keluarga mau pamit pindah tempat tinggal."
"Kenapa Del apa yang salah? Apa Hanan menyakiti mu?"
"Bukan Hanan Bu, tapi Bapak Hanan yang melukai hati kami."
"Maksudnya Bapak Hanan gak merestui hubungan kalian?"
"Bukan begitu Bu, ternyata Bapak lah Hanan yang membunuh Ayah saya?"
Bu Dania syok dan menutup mulutnya yang menganga karna mendengar penjelasan ku.
"Bagaimana itu bisa terjadi Del?"
"Cerita nya panjang Bu saya gak bisa menjelaskan. Saya cuma mau berterimakasih sama ibu karna udah sangat baik selama dua tahun ini. Mungkin tanpa Bu Dania saat itu saya gak akan sekuat ini sekarang. Jasa Bu Dania akan selalu saya ingat."
"Tapi Del kamu yakin dengan keputusan? Terus kamu mau pindah kemana Del? Kamu sedang melarikan diri dari masalah mu Del."
"Sebenarnya saya juga belum yakin dengan keputusan saya Bu. Saya memang sedang ingin berlari dari masalah ini Bu. Saya berencana untuk pindah ke Jakarta Bu. Saya akan menghubungi Putri untuk membantu saya mencari tempat tinggal disana. Doakan saya Bu."
"Ibu tak bisa mencegah atau melarang mu Del, Ibu hanya berharap kamu bahagia dimana pun kamu berada."
"Terimakasih Bu, tapi saya mohon jangan beritahu Hanan apapun tentang masalah ini. Apalagi dia tau saya pindah ke Jakarta."
"Apa kamu udah gak cinta sama Hanan Del?"
"Bukan begitu Bu, tentu saja rasa cinta itu gak akan hilang dalam semalam. Hanya saja saya butuh waktu untuk memikirkan nya kembali. Saya yakin jika kami berjodoh kami pasti akan bertemu lagi. Biarlah semua itu yang di atas yang mengaturnya."
"Ibu bangga pada mu Del, kamu harus bahagia, kamu udah ibu anggap sebagai anak sendiri. Ibu gak rela kamu pergi tapi kebahagiaan mu jauh lebih penting." Bu Dania menangis dan memeluk ku.
"Terimakasih Bu." Aku pun membalas pelukan Bu Dania.
"Oiya sebentar bawa gaji kamu bulan ini." Bu Dania pergi ke meja kerjanya dan mengambil amplop lalu kembali menghampiri ku.
"Bu kok kayaknya ini banyak banget. Saya gak bisa terima Bu."
"Engga itu gak banyak. Kamu harus janji kalau kamu akan bahagia."
"Tapi Buβ¦!"
"Anggaplah itu bonus dan uang jajan untuk Misela."
"Terimakasih sekali lagi Bu."
"Ingat kamu harus bahagia!"
"Iya Bu insyaallah. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
################################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini ππ...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungan π...