BROK3N

BROK3N
8. Pemakaman Ayah



Sirine sudah berhenti berbunyi. Hanya kedipan lampu biru merah yang tersisa. Mobil sudah berhenti berjalan. Pintu pun mulai terbuka perlahan.


Jenazah Ayah diturunkan oleh dua laki-laki dengan tubuh tinggi dan tegap. Setelah Ayah turun dari mobil aku dan ibu juga turun. Kami di sambut oleh para tetangga yang sedang berduka juga. Isak tangis mereka terdengar jelas. Tapi aku tak mau meneteskan air mata lagi. Aku tak mau melihat mata yang terlalu kasihan padaku dan ibu. Aku akan berusaha setegar mungkin.


Jenazah ayah pun di bawa masuk ke dalam rumah. Dibantu pak RT dan beberapa warga. Ku duduk di dekat Ayah. Sedangkan ibu pergi ke dalam untuk menunjukkan beberapa hal yang harus disiapkan untuk pemakaman.


"Yang sabar ya nak Adel." Ada seorang ibu paruh baya memeluk ku dari belakang. Iya dia adalah Bu Sri. Istri dari Pak RT.


"Iya Bu, in syaa Allah. Terimakasih sudah datang dan membantu kami."


"Sudah seharusnya kita saling membantu. Ibu mau ke belakang bantu-bantu ya."


"Iya Bu."


Malam semakin larut. Rumah ku masih didatangi banyak warga yang melayat. Aku juga sedang menunggu kakek dan nenek. Karna pemakaman ini tak akan terjadi sebelum mereka datang. Rumah Kakek dan nenek memang jauh. Sekitar 3 jam perjalanan jika tidak macet.


Sedari tadi aku merasakan getaran handphone ku. Aku bahkan tak memikirkan pesan yang masuk karna tamu bergantian memberikan bela sungkawa.


Waktu sudah menunjukkan pukul 1.00 am. Sudah hampir pagi. Apa mungkin Ayah akan dimakamkan malam ini juga?


"Anak ku...ya Allah kenapa kamu pergi duluan nak. Kamu meninggal begitu memdadak. Sore tadi kita cuma ngobrol sebentar saja tapi kamu sudah pergi selamanya hiks hiks….!" Iya itu adalah suara nenekku yang baru datang. Setelah puas memeluk Ayah nenek menatap ku lalu memeluk ku begitu erat.


"Yang sabar ya sayang kamu pasti kuat menjalani semua ini."


"Iya nek. Nenek juga harus ikhlas melepas Ayah ya."


Kami saling berpelukan. Aku melihat kakek yang juga tak bisa menahan air matanya.


"Pemakaman sudah siap Bu." Pak RT memberitahu Ibu kalau ayah sudah siap untuk dimakamkan.


Nenek hanya menangis mendengarnya. Paman Dirga dan juga Kakek bergegas membantu warga membopong jenazah ayah. Sedangkan ibu hanya terduduk lemas di samping nenek.


Aku mengikuti jenazah Ayah yang perlahan keluar dari rumah. Menaiki mobil box bersama warga. Air mata ini tak bisa tertahan melepas kepergian Ayah untuk selamanya. Ku lambaikan tangan ku pada mobil jenazah yang perlahan menjauh pergi.


Hanya tinggal beberapa ibu-ibu disini menemani kami. Kami tidak ikut ke pemakaman karna ditakutkan malah histeris disana.


Bu Sri memberikan 3 cangkir teh hangat pada ku.


"Ini kasih ke ibu sama nenek mu biar perut tidak terlalu kosong. Kamu juga jangan lupa minum ya." Ucap Bu Sri.


"Terimakasih Bu."


.


.


.


Cahaya mentari masuk ke sela jendela kamar ku. Aku ketiduran setelah sholat subuh tadi. Akan ada banyak hal aneh pagi ini. Tak ada suara ibu yang membangun kan ku. Dan tak ada kecupan yang ku lakukan setiap pagi pada Ayah ku.


Ku Turuni tangga kamar ku. Satu persatu ku injakan kaki ku tanpa suara.


"Kamu jangan egois. Pikirkan masa depan Adelia juga. Kamu gak kerja mau makan apa Adelia?"


Ada sebuah gertakan terdengar ditelinga ku. Itu seperti suara nenekku. Benar saja. Nenek sedang menasehati Ibu. Tapi sepertinya bukan sebuah nasihat, rapatnya sedang memarahi Ibu ku.


Ke berlari dan memeluk tubuh ibu yang sedang berhadapan dengan Nenek.


"Adel sini duduk dekat Nenek." Nenek melambaikan tangannya mengajak ku duduk di sofa.


"Ada apa Nek?" Tanya ku


"Adel setelah lulus sekolah apa cita-cita Adel?"


Pertanyaan Nenek membuat ku bingung. Haruskah ku pikirkan kembali apa yang menjadi cita-cita ku setelah kepergian Ayah.


"Entahlah Nek Adel belum terpikirkan masalah Adel kedepan."


"Adel ikut Nenek saja ke kota tinggal bersama kakek dan paman Dirga ya?"


"Ibu ikut Nek?"


Tapi Nenek menggelengkan kepalanya menandakan kata tidak yang akan dia ucapkan.


"Terus ibu sama siapa? Ayah sudah pergi untuk selamanya, terus aku juga pergi ninggalin ibu? Engga mungkin Nek. Adelia akan tetap bersama ibu."


Ku hentakan kaki ku menandakan aku jengkel dengan keputusan yang akan Nenek putuskan. Ku berlari menaiki tangga dan masuk ke kamar lalu mengunci pintu. Nenek mengejar ku sampai depan kamar tidurku. Dan terus mengetuk pintu kamar ku. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan ibu ku. Bahkan ayah baru saja dimakamkan kenapa nenek begitu egois. Aku bukan lagi anak kecil yang bisa diatur. Aku sudah bisa memutuskan masalah ku sendiri.


'ayah kenapa Adelia tidak ikhlas ayah pergi'


Hiks hiks hiks….


Tok


Tok


Tok


"Adelia boleh Ibu masuk nak?" Suara ibu terdengar dari luar kamar ku.


Ku buka pintu kamar yang sedari tadi aku kunci agar Nenek tidak bisa masuk.


Kami duduk bersebelahan di pinggir kasur. Ibu mengelus rambut ku. Lalu memelukku.


"Maafkan ibu yang hanya seorang ibu rumah tangga nak. Ibu tak bisa bekerja bahkan ibu belum pernah bekerja sama sekali. Ibu mengkhawatirkan masa depan mu. Ikutlah dengan Nenek ke kota."


Kulepas kan dengan paksa pelukan ibu. Ku berdiri dan berjalan menuju jendela kamar.


"Bu, walaupun, apapun tidak ada alasan untuk aku meninggalkan ibu sendiri."


"Ibu akan menjual rumah ini nak. Ayah mu meninggalkan hutang yang lumayan besar. Tidak ada jalan keluar selain menjual rumah ini. Ibu bahkan tidak punya tabungan. Uang bela sungkawa hanya cukup untuk keperluan Yasinan ayahmu. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti keputusan Nenek mu. Hiks hiks hiks…"


"Apa? Bagaimana mungkin ayah meninggalkan banyak hutang Bu? Bukankah keuangan kita selama ini baik-baik saja. Kenapa Ayah meninggalkan hutang?"


"Dulu saat ibu keguguran adikmu, perlu biaya besar untuk semua itu. Belum lagi mobil yang ayah mu pakai juga belum lunas dan penjualnya tadi kesini menagih kekurangan dari cicilan mobil itu. Dia tidak mau tau."


"Maafin Adel ya Bu malah makin menyusahkan ibu. Adel akan cari jalan keluar Bu. Jangan memutuskan hal besar saat kita sedang sedih ataupun marah. Itu tidak akan membuat kita lebih baik. Biar nanti Adelia bicara lagi sama Nenek. Adel akan tetep menemani ibu. Adel gak akan ikut Nenek ke kota." Kupeluk ibuku dengan erat. Kami menangis bersama dikamar.


*****


...Mohon terus dukung BROK3N ya. Bantu like dan vote nya 😘🙏...


...Terimakasih 🙏...