BROK3N

BROK3N
Bab 49 Zaki Mencium Adel



Siang ini aku pulang sendiri karna pekerjaan Hanan masih belum selesai. Aku jarang sekali bisa pulang bareng Hanan kalau aku masuk sif pagi.


Cuaca hari ini terlihat gelap. Sepertinya akan turun hujan. Banyak awan hitam yang menyelimuti matahari siang ini. Sepertinya sudah masuk musim penghujan karna sudah sering sekali hujan tiba-tiba turun.


Aku berjalan menelusuri trotoar jalanan menuju rumah ku dan sendirian. Jalanan disiang hari ini sangat sepi jarang sekali ada pejalan kaki di jam segini.


Tapi ada seseorang yang menarik paksa tangan ku dengan kasar dan membalikan badan ku.


"Yumna?" Aku kaget melihat Yumna ternyata diam mengikuti dari belakang.


"Iya kenapa gak suka gue ikutin? Gue cuma pengen tau wanita yang di cintai Ka Hanan itu seperti apa, ternyata gak jauh-jauh dari sampah masyarakat." Yumna begitu sinis menatap ku tajam penuh dendam.


"Kamu kenapa begitu kasar pada ku Yumna? Aku punya salah apa sama kamu? Kalau aku punya salah aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku gak mau cari musuh." Tanya ku terkejut dengan sikap Yumna yang begitu terlihat sangat marah pada ku.


"Ka Adel ternyata hati loe bener-bener busuk ya Ka?" Yumna terus bicara dengan nada tinggi pada ku. Aku tak tau apa alasannya yang tiba-tiba berkata seperti itu.


"Maksudnya apa? Apa yang membuat mu semarah ini? Tolong katakan biar aku perbaiki kesalahan ku."


"Udah deh jangan pasang muka sok alim Ka. Gue tau sifat busuk loe Ka."


"Maksudnya sifat busuk seperti apa Yumnaa?" Aku semakin bingung oleh sikap Yumna.


"Loe udah hamil diluar nikah sekarang jual diri lagi ya ampun kasian banget Ka Hanan kasian banget bisa-bisanya dia deket sama pelac** kayak loe ka. Loe tu gak pantes dapet laki-laki sebaik Ka Hanan. Lebih baik loe jangan deketin Ka Hanan lagi." Yumna menunjuk kan telunjuknya ke arah ku dengan bola mata yang bulat sempurna. Aku masih tak paham dengan perkataan Yumna tapi dia keterlaluan mengatakan aku seorang pelac**.


Plaakkk


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Yumna. Sebelah pipi Yumna memerah akibat tamparan ku. Caranya bicaranya sudah melampaui batas. Aku tak bisa menahan gerakan tangan ku.


"Jaga mulut mu Yumna. Bahkan kamu gak tau kejadian yang sebenarnya. Jangan menyimpulkan apa yang hanya kamu dengar saja tanpa kamu tau apa yang sudah terjadi sebenarnya. Aku bukan manusia seperti yang kamu tuduhkan pada ku. Memangnya sepantas apa diri mu untuk Hanan? Bahkan kamu dengan kasarnya menghina ku."


"Heh Ka yang harusnya yang dijaga itu tubuh mu Ka. Dan kamu akan dapet balesan karna udah menampar pipi ku ini. Inget ya Ka gue gak akan terima sama sekali dengan tamparan ini. Tunggu aja pembalasan gue. Gue bakal buat loe nyesel udah napar pipi gue."


Yumna pun pergi. Aku yakin dia menyimpan dendam pada ku. Tapi aku tak peduli. Sudah terlalu sering aku menerima hinaan semacam itu. Hanya saja terkadang ada sebuah penyesalan amat dalam di hati ini.


"Tuhan apa salah ku pada Yumna sampai dia mengatakan hal sekotor itu. Apakah aku memang pantas mendapatkan cacian itu darinya. Kenapa dia tiba-tiba menyebut ku seorang pelac** bukankah Engkau tau aku tak pernah menjual tubuh ku."


Air mata ku terjatuh seiringan dengan datangnya hujan rintik-rintik. Seolah langit sedang mendukung ku untuk menangis saat itu. Aku ingin sekali menjerit sekuat-kuatnya. Tapi aku tak bisa. Hanya sesak di dada yang kurasa.


Aku tak peduli dengan hujan ini. Aku hanya bingung kenapa banyak sekali yang membenci ku. Apa salah ku pada mereka. Bukankah semua ini takdir yang sudah di atur. Tapi apakah takdir ini tidak terlalu kejam pada ku.


"Tuhan cobaan apa lagi yang akan Kau berikan kepada gadis kotor ini? Aku bahkan tak tau harus menyebut diri ku apa sekarang."


Baju ku mulai basah karna aku hanya terdiam tanpa gerakan. Aku tersadar dari lamunanku dan hujan pun yang mulai deras. Ahirnya ku putuskan untuk berteduh di sebuah halte bus. Hanya sendirian. Aku sedikit gugup dan takut. Aku mengingat kembali saat hujan bersama Zaki di halte bus dulu. Dengan suasana yang sama. Kenangan itu langsung aku tepis dari pikiran ku.


Ku usap-usap kedua telapak tangan ku untuk menghangatkan tubuh ku. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan ku. Pintu mobil itu terbuka. Seseorang didalam nya mengangguk-angguk kepalanya menandakan menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.


Itu adalah Zaki. Zaki Alamsyah. Laki-laki yang pernah tidur bersama dengan ku hingga kami punya seorang Putri. Laki-laki yang barusan melintas di pikiran ku kenapa tiba-tiba ada di hadapan ku sekarang.


Aku pun masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu tak berjalan. Zaki pun hanya menatap lurus kedepan.


"Ada apa lagi? Bukankah sudah ku katakan untuk tak mengganggu ku lagi?" Tanya ku mengawali obrolan yang tak kunjung dimulai olehnya.


"Del apa bisa kita mulai dari awal lagi?" Zaki masih menatap lurus kedepan.


"Memulai apa?" Tanya ku kembali.


"Hubungan kita Del?" Zaki menatap ku.


"Sejak kapan kita punya hubungan?" Jawab ku.


"Del gue mohon ijinin gue pengen merawat dan menjaga kalian." Zaki memegang sebelah tangan ku.


"Kalian siapa maksudnya?"


"Kalian! Tentu saja loe ibu dan Putri kita Del."


"Bukannya kamu hanya akan menuruti apa kata Papah mu Zak?" Aku melepaskan tangannya.


"Gue nyesel Del. Sekarang Papah sedang koma tapi pasti Papah juga akan senang melihat cucunya. Tolong Del gue pengen mulai lagi dari awal. Memulai semuanya dengan anak kita."


Zaki terus saja memohon pada ku. Dalam hati kecil ku aku memang sangat menginginkan hidup bersama, dengan anak kami juga karna aku tau Misela akan butuh sosok Papa. Tapi dia udah nyakitin aku bahkan anak kami. Dia udah ninggalin aku begitu saja.


"Gue pengen ketemu anak kita Del. Gue belum tau anak kita laki-laki atau perempuan. Dan siapa namanya Del? Gue mohon Del please please!"


"Jangan sekarang. Aku belum siap."


"Del tolong jangan pisahkan hubungan antara anak dan Papanya. loe jangan egois Del. Kasian anak kita."


"Aku bilang jangan sekarang."


"Del."


"Denger ya Zak aku gak mencoba memisahkan kalian tapi kamu lah yang menjauhi kami. Dan yang egois itu kamu Zak bukan aku. Aku udah mati-matian bertahan demi anak ku. Sekarang kamu tiba-tiba muncul dan bilang ingin memulai dari awal? Hah?" Tegas ku pada Zaki yang terus-menerus menyalahkan ku.


"Del aku mohon?" Zaki masih merengek.


"Tolong jangan sekarang aku bilang jangan sekarang. Dan berhentilah memohon." Aku berteriak


"Del loe masih sayang kan sama gue? Loe masih cinta kan Del sama gue?"


Zaki memberikan pertanyaan bodoh. Walau aku membenarkannya tapi bagiku tak perlu di jawab.


Mata ku membulat karna bibirku di buat hangat olehnya. Dengan tanpa permisi lagi-lagi Zaki membuka masa lalu yang udah mulai aku lupakan.


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi lagi."


Aku mendorong tubuh Zaki dengan kasar. Sontak membuat Zaki terkejut.


"Kenapa Del?"


"Kamu apa-apaan sih Zak? Apa kamu gak mikir udah ngancurin hidup ku dan sekarang kamu masih berani mencium ku? Apa kamu gak punya otak untuk berfikir hah? Kalau kamu bersikeras aku akan bener-bener buat kamu gak akan pernah ketemu lagi sama Putri mu. Inget jangan pernah ganggu kehidupan yang udah susah payah aku bangun. Jangan pernah lakuin hal konyol seperti tadi."


Aku bergegas keluar dari mobil Zaki dan berlari sekuat mungkin.


Sesampainya dirumah.


"Buu.... Adel pulang assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Loh kok basah-basahan sih nanti masuk angin gimana?"


"Adel mandi dulu Bu."


Tanpa menatap dan menyapa Misela aku bergegas menuju kamar mandi. Aku tak mau Ibu tau kalau aku barusan menangis.


Setelah mandi aku menggendong anak ku. Dan membawanya ke kamar.


"Adel mau istirahat dulu ya Bu. Tolong jangan ganggu kami."


"Kamu kenapa? Tanya ibu karna melihat ada sedikit yang tak beres dengan tingkah ku.


"Gak papa Bu Adel cuma capek aja kok. Adel mau istirahat dulu di kamar."


Aku langsung menutup dan mengunci pintu kamar ku.


Ku baringkan Misela yang lelap di kasur. Menatapnya dengan cucuran air mata.


"Nak tadi Papa mu menemui Bunda bahkan Papa mu mencium Bunda Nak? Apa yang harus Bunda lakukan sekarang? Padahal kamu sudah punya Papi yang menyayangi mu Nak tapi kenapa Papa mu malah muncul tiba-tiba begini Hiks hiks...!"


***


Siang sudah berganti malam yang dingin dan sunyi karna hujan masih menyisakan rintikan airnya.


Tapi dari balik pintu ada seseorang yang mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum."


Seorang laki-laki. Aku tau itu pasti Hanan.


"Wa'alaikumsalam" jawab ku sambil membuka pintu.


"Hallo sayang Papi datang nih buat main sama kamu." Hanan mengusap bagian pipi Misela.


"Hujan-hujanan begini kok maksa kesini sih?" Tanya ku sembari memberikan Misela pada Hanan.


"Iya udah kangen banget sama anak Papi."


"Asep tumben gak ikut?"


"Iya Dia lagi ada tugas kelompok. Kan sebentar lagi mau ujian dia. Biarin sibuk belajar."


"Oh iya. Kamu mau minum apa Nan?"


"Apa aja asal yang buatin Bunda. Iya kan Nak?"


Aku pun menuju dapur untuk membuatkan Hanan minum.


"Ada Hanan ya Del?" Tanya ibu yang sedang membereskan baju Misela.


"Iya Bu. Mau Adel buatin teh anget."


"Itu di sebelah sana teh sama gulanya."


"Iya Bu."


Setelah selesai aku kembali ke ruang tamu. Melihat Hanan yang sedang mengobrol dengan Misela.


"Apa aku kejam pada Nan? Apa aku harus bergantung terus pada mu. Apa aku bisa jadi istri yang baik untuk mu sekaligus Bunda yang baik untuk anak ku?"


Malam pun berlalu. Hanan yang melihat Misela sudah tidur pulas pun memutuskan untuk pulang.


"Besok Papi kesini lagi ya. Anak Papi tidur yang nyenyak jangan buat Bunda repot ya daahh sayang..." Hanan mengatakan nya dengan lirih karna takut membangunkan baby Misela.


"Balik dulu ya besok ketemu lagi." Hanan memberikan senyum unjuk gigi dengan lesung pipi yang mempesona.


"Udah sana jangan kelamaan senyum gigi mu kering nanti."


Hanan menahan tawanya dan pulang.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...