BROK3N

BROK3N
Bab 50 Rencana Jahat Yumna



Malam ini aku di rundu kegalauan yang amat dalam. Entah apa yang harus aku lakukan pada perasaan ku yang bercampur aduk ini. Aku harus segera memutuskan untuk kehidupan ku kedepan. Tapi selalu saja ada yang hal yang membuat ku jadi plin-plan lagi.


Di satu sisi Zaki adalah Papa dari anak ku Misela dan tak bisa dipungkiri aku memang masih menyukai nya. Karna dia adalah cinta pertama ku bahkan satu-satunya pria yang membuat ku nyaman saat aku kehilangan Ayah.


Sedangkan di sisi lain Hanan selalu ada buat ku dan selalu mendukung ku tapi setelah Zaki mencampakkan ku, Dia tak pernah membiarkan ku bersedih, Dia selalu berusaha menghibur ku. Dan juga Hanan sangat menyayangi putri ku.


Tapi aku masih ragu dengan perasaan ini. Aku takut jika aku menerima Hanan Orang tuanya akan menolak status ku. jarang sekali ada orang tua yang menerima menantu dengan status anak satu kecuali anaknya sudah jadi duda.


Dan bagaimana jika Zaki mengambil hak asuh anak ku. Secara finansial aku akan kalah darinya. Lalu Jika aku menerima Zaki bagaimana dengan kedua orang tuanya? Apa iya mereka akan menerima Misela sebagai cucunya?


Cinta mana yang harus aku perjuangkan Tuhan?


Sampai larut malam aku tetap belum bisa memutuskan apa pun. Apa mungkin aku harus mencobanya dengan Hanan? Aku akan berusaha untuk mencintai nya walau mungkin itu akan butuh waktu untuk ku.


***


Pagi ini seperti biasa aku berangkat bekerja setelah pumping asi untuk baby Misela. Hanan setia menunggu sambil bermain dengan baby Misela. Dia sengaja berangkat lebih awal dari biasanya. Dia selalu menyempatkan dirinya untuk putri ku.


Aku pikir saatnya aku mengatakan pada Hanan jika aku akan belajar mencintai nya dan menerima kehadiran nya dalam hati ku.


"Ayo berangkat." Ajak ku pada Hanan.


"Papi berangkat dulu ya, anak Papi sama Oma dirumah ya. Jangan nakal jangan rewel okey. emuahh...!" Hanan mencium kedua pipi Misela lalu memberikan nya pada Ibu.


"Kami berangkat dulu ya Bu assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Dah anak Bunda. Emuah."


Kami berjalan seperti biasa.


Hari ini aku bertekad untuk menerima lamaran Hanan. Walau aku masih bingung dengan perasaanku tapi aku tak mau membuat Hanan terlalu lama menunggu ku. Lagi pula Hanan orang yang sangat baik sejauh ini.


"Emm Nan." Aku sedikit gugup.


"Hmm."


"Aku mau ngomong sesuatu."


"Tinggal ngomong geh."


"Tentang hal yang kemaren itu aku...em...aku mau menerima lamaran mu Nan."


"Serius?" Hanan memegang kedua bahu ku dengan mata berbinar.


"Iya aku mau mencoba nya."


"Alhamdulillah." Hanan melompat-lompat kegirangan lalu memeluk ku erat, begitu erat karna terlalu senang mendengar ucapan ku. "Terimakasih Del, Terimakasih udah kasih kesempatan ini." Aku tau Hanan akan sebahagia ini jika aku menerima nya.


"Nan aku gak bisa nafas nih."


"Sorry aku kelewat seneng Del. Seneng banget."


"Aku?"


"Hahaha biar kamu gak kaku lagi sama aku. Biar makin romantis juga." Hanan mendekat kan mulutnya ke telinga ku.


"Kamu ya...cubit nih." Aku mencubit lengan Hanan.


"AW AW sakit iya ampun. Ehem jadi kapan kamu siap ketemu Bapak Ibu ku Del?"


"Terserah kamu aja Nan. Aku siap kapan pun. Tapi gimana denga Pak RT Nan?"


"Oke nanti aku atur waktunya ya sama orang tua ku. Urusan Pakde itu gampang."


"Kamu yakin?"


"Seratus persen yakin."


"iihh apaan sih kamu pede banget deh."


"Hahaha udah ayo jalan."


Aku hanya tersenyum menanggapi tawa Hanan dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.


Ditoko.


Sepenggal kata yang aku dengar dari mulut Yumna saat aku membuka pintu. Aku lalu memikirkan kejadian kemarin.


"Ehem assalamu'alaikum ada apa nih rame-rame?" Tanya ku.


"Wa'alaikumsalam Del tolong jelaskan ini." Bu Dania memberikan handphone dengan rekaman cctv saat Zaki memberikan sejumlah uang pada ku. Aku tau Yumna pasti akan melakukan hal ini.


Belum sempat aku bicara Hanan memarahi ku.


"Del apa ini maksudnya? kamu terima uang dari laki-laki itu hah?"


Aku melirik Yumna. Dia tersenyum puas melihat expresi Hanan yang marah padaku.


"Jawab Del jelaskan pada kami apa benar kamu menjual tubuhmu pada laki-laki itu? Yumna melihat mu masuk ke dalam mobil bersama pria yang ada di dalam Vidio itu juga kemaren." Kata Bu Dania.


"Apa Bu menjual tubuh? Maksudnya pelac** Bu?" Hanan berteriak. Bu Dania hanya mengangguk.


"Gak nyangka kan Ka Hanan kalau Ka Adel kayak gitu jadi Ka Hanan jangan deket-deket lagi sama wanita sok alim ini. Dia itu cuma mau manfaatin Ka Hanan aja. Yumna yakin dia cuma mau uang Ka Hanan doang." Yumna menunjuk ku dengan kasar. Padahal usianya masih di bawah ku. Aku masih berusaha sabar menanggapi perkataan Yumna.


"Yumna bukankah kemarin aku udah bilang sama kamu. Terkadang apa yang kita lihat itu tidak sama dengan apa yang kita dengar. Begitu juga sebaliknya." Kata ku pada Yumna.


"Alah gak usah ceramah disini Ka. Kamu itu emang wanita naj*s. Nyatanya kamu hamil diluar nikah kan? Kamu menjual tubuh mu itu demi uang. Dan anak haram mu itu gak jelas kan siapa bapaknya? Atau jangan-jangan dia akan dijadikan alat untuk memeras Bapak nya nanti?" Perkataan Yumna makin keterlaluan. Tangan ku yang sedari tadi mengepal menahan amarah tiba-tiba melayang ke udara.


Plakk


"Ka Adel? Kamu berani menampar ku? Aku gka terima..." Yumna hendak membalas tamparan ku. Tapi ku tahan tangannya dengan sebelah tangan ku.


"Denger ya Yumna jangan pernah mengatakan anak ku itu anak haram. Tidak ada anak haram di dunia ini. Kamu boleh mencaci ku tapi tidak dengan anak ku. Dan lagi laki-laki yang ada dalam Vidio itu adalah Zaki. Ayah dari anak yang susah payah aku rawat tanpa suami. Dia yang udah ngerusak hidup ku. Karna dia aku harus bekerja bahkan saat hamil tua. Karna dia aku gak bisa mengambil beasiswa ku di universitas Indonesia. Karna dia aku hampir di usir oleh warga. Dan Dia memaksa ku menerima uang itu untuk anaknya sendiri bukan untuk tubuh ku. Paham kamu?" Ku lepaskan dengan kasar tangan Yumna yang aku genggam.


Hening. Tak ada yang berani berkata satu kata pun. Bahkan Hanan juga. Toko masih tutup jadi belum ada pelanggan masuk. Hanya karna kesalahan pahami ini Bu Dania harus membuka tokonya lebih siang.


"Jadi laki-laki itu yang udah buat kamu..." Bu Dania menutup mulutnya. "Maafkan Ibu Del. Ibu kemakan omongan Yumna. Harusnya Ibu menanyakan masalah ini dulu sama kamu Del." Bu Dania memeluk ku. Semua karyawan yang tadinya berkumpul mulai meregang. Aku membalas pelukan Bu Dania.


"Gak papa Bu ini hanya salah paham. Yumna cemburu pada ku Bu karna Hanan tak membalas cintanya." Aku menepuk-nepuk punggung Bu Dania.


"Ka Hanan dia pasti bohong Ka. Ka Hanan jangan percaya. Jangan dekati dia lagi. Yumna Ka Yumna yang tulus mencintai mu Ka. Dia cuma mau manfaatin Ka Hanan." Yumna memegang lengan Hanan memohon untuk mempercayai. Tentu saja Hanan bukan orang yang mudah untuk di rayu.


"Yumna gue gak tau kalau loe sebusuk itu mau memfitnah Adel. Gue kecewa sama loe. Lepasin tangan gue. Yumna gue kenal Adel lebih lama dari pada loe. Ngerti?" Hanan menepis tangan Yumna.


"Yumna kamu tau akibat perbuatan mu ini Adelia harus membuka aib nya." Kata Bu Dania.


"Tapi Bu..." Yumna hendak mengelak.


"Yumna jangan hanya karna cinta mu pada Hanan kamu melupakan etika mu sebagai manusia. Kejarlah cinta mu dengan cara yang baik. Bukan dengan cara menjatuhkan orang lain. Cinta seperti itu engga akan bisa buat mu bahagia. Kamu harus ingat itu." Tutur ku pada Yumna.


"Diem lo! Gue gak mau denger loe ngomong lagi. Gue akan balas perbuatan loe ini." Bentak Yumna.


"Yumna. Kamu sudah benar-benar keterlaluan. Bahkan kamu lupa akan sopan santun terhadap orang yang lebih tua dari mu. Mulai besok kamu jangan pernah datang kemari lagi dan gaji kamu bulan ini akan saya transfer. Sekarang pergilah sebelum saya makin marah." Kata Bu Dania.


Yumna pun pergi dengan penuh kekesalan.


"Bu apa harus dipecat? Kasian dia mungkin sangat butuh pekerjaan ini Bu." Kata ku pada Bu Dania.


"Tidak Del kamu jangan terlalu baik. Del, ingat Yumna udah keterlaluan. Dia memfitnah mu bahkan mengatakan kamu pelac** dan bertingkah tidak sopan. Dia udah kelewat batas. Ibu gak yakin Del kalau dia masih kerja disini dia akan merasa menang nantinya karna kesalahan nya ada yang membela." Bu Dania kembali memelukku. "Maafin Ibu yang hampir percaya dengan ucapan Yumna." Aku mengangguk.


"Maaf Nan aku belum sempet bilang sama kamu. Aku hanya memikirkan jawaban untuk lamaran mu." Hanan mengangguk mengerti tapi Bu Dania yang heboh mendengar Hanan sudah melamar ku.


"Apa? Kalian akan menikah. Alhamdulillah kalian emang cume deh" Bu Dania mencubit gemas kedua pipi ku.


"Apa cume Bu." Kata Hanan.


"Cucok meong hahaha. Selamat ya Del semoga ini Ahir dari penderitaan mu selama ini. Dan kamu Hanan kamu harus jaga Adelia baik-baik." Ancam Bu Dania.


"Tentu saja Bu, saya akan mencintai nya dengan sepenuh hati." Hanan membusungkan dadanya.


"Uhuyyy....."


"Sweet sweet...."


Team produksi ikut heboh mendengar kalau Hanan akan melamar ku. Aku hanya tersenyum menanggapi mereka.


Semoga masalah ku dengan Yumna tak berkepanjangan untuk kedepannya. Cinta yang dia punya terlalu membuatnya lupa diri.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...