BROK3N

BROK3N
Bab 46 Kelahiran Baby Misela



Malam ini terasa begitu sejuk dan indah dihiasi bulan sabit dan bintang saling berkedip. Ku tatap langit dari balik jendela kamar ku. Membayangkan wajah Ayah disana. Mengingat kembali kenangan yang Ayah tinggalkan. Padahal beberapa malam ini hanya ada awan hitam tanpa cahaya bulan bintang disana.


Aku yang berdiri menikmati pemandangan malam tiba-tiba merasakan sakit dibagian perut ku. Aku pikir karna aku terlalu lama berdiri ahirnya aku duduk di kursi. Sakit itu tak kunjung reda malah sedikit lebih menyiksa ahirnya aku berbaring di kasur.


Ku usahakan untuk memejamkan mata walau ini belum terlalu larut untuk tidur malam karna ku pikir perut cuma kenak kram ternyata sakitnya semakin tak tertahankan dan aku pun berjalan keluar kamar.


"Bu... Ibu sini deh." Aku memanggil ibu karna aku pikir ada yang salah dengan perut ku.


"Ada apa Del kamu haus?" Tanya ibu


"Engga Bu ini tumben perut Adel sakitnya gak ilang-ilang biasanya kalau kram sebentar doang." Aku mengelus-elus perut ku yang sesekali merasakan gerakan bayi ku.


"Jangan-jangan cucu Ibu udah mau lahir?" Ibu pun ikut mengelus perut ku dengan tersenyum bahagia. "Ayo kita ke bidan Nak. Ibu siapkan dulu keperluan mu dan bayi mu sebentar." Ibu masuk ke kamar mengambil ini dan itu. Ibu tau sekali apa yang akan aku dan bayi ku butuhkan nanti.


"Tapi naik apa Bu Adel gak kuat jalan Bu sakit ini." Aku duduk di kursi karna tak bisa terlalu lama lagi untuk berdiri.


"Sebentar Ibu telpon Nak Hanan dulu ya?" Ibu mengambil handphone bututnya di dapur.


"Tapi Bu kita udah ngerepotin Hanan dan Asep terus gak enak juga sama Bu Jamilah." Cegah ku.


"Kemaren Hanan mohon-mohon sama Ibu kalau kamu ada apa-apa harus telpon dia. Takutnya Hanan juga lagi mikirin kamu nanti malah dia marah karna gak ngabarin kondisi kamu Nak." Ibu kekeh dan menekan beberapa tombol mencari nomor Hanan.


"Ya sudah Bu telpon aja." Aku pun pasrah.


tuuutttt....tuuttt....


"Hallo assalamu'alaikum Bu ada apa? gak terjadi apa-apa kan sama Adel?" Ibu belum bicara tapi Hanan sudah mengajukan banyak pertanyaan. Itulah dia selalu posesif dengan keadaan ku.


"Nak Hanan bisa kesini bawa motor seperti nya Adelia mau melahirkan, tolong cepat ya Nak."


"Oiya Bu baik saya segera kesana Bu tunggu ya."


Hanan pun menutup telponnya lalu menemui Asep.


"Sep Adel mau melahirkan."


"Serius loe?"


"Iya loe mau ikut gak? Buruan mana kunci motor loe?"


"Ikutlah. Gila aja gak ikut. Tuh di meja deket pintu kuncinya tar gue ambil jaket dulu."


Tapi langkah mereka terhenti karna panggilan Bu Jamilah.


"e.eee..ee gak ada yang boleh pergi dari rumah ini. Emak gak setuju ya kalian pergi-pergi terus kerumah gadis itu." Cegah Bu Jamilah.


"Aduh Mak jangan mulai Adel mau melahirkan." kata Asep sembari mengacak-acak rambutnya.


"Iya Bude kasian Adel." Sambung Hanan.


"Apa urusannya sama kita ya biarin aja kalau dia mau melahirkan biar dia jalan kaki."


Pak Iskandar yang mendengar ucapan istrinya itu bergegas menghampiri pertengkaran mereka.


"Bu tega amat sih sama warganya sendiri ngomong gitu. Coba ibu bayangin kalau ibu mau melahirkan terus disuruh jalan kaki ibu mau? Jangan aneh-aneh dong Bu. Udah nih Nan pakai motor Pakde biar Asep pake motor Asep buat boncengin Bu Renita." Pak RT membela mereka dan memberikan sebuah kunci motor..


"Kok Bapak belain janda itu sih Bapak gak tergoda kan sama janda itu? Terus ngapain belain anak gadis pembawa sial itu. Nanti keluarga kita juga kenak sial Pak." Sentak Bu Jamilah pada suaminya.


"Bu cukup jangan ngomong aneh-aneh dan gak ada namanya orang pembawa sial gak ada udah cepet pada pergi sana kasian Nak Adel udah nunggu dari tadi."


"Makasi Pakde kami pamit dulu assalamu'alaikum."


Hanan dan Asep pun bergegas menuju rumah ku dengan motor masing-masing.


"Aduhh Bu Adel gak kuat sakitnya kok lama banget sih Hanan. Adel bener-bener gak tahan ini Bu makin sakit."


"Sabar ya sayang tunggu kamu harus tahan pokoknya."


"Bu sesakit inikah mau melahirkan?"


"Iya Nak kamu harus kuat menahannya ya. Sakitnya akan hilang setelah anakmu lahir."


Ibu mengangguk sambil mengelus halus perut ku. Tak lama dua sorot cahaya lampu menghampiri kami dengan melaju cepat..


"Maaf Bu lama ayo buruan Del naik." Hanan ikut gugup melihat ku yang sudah bercucur keringat.


Kami pun bergegas menuju bidan desa yang jaraknya memang lumayan jauh dari rumah ku.


Sesampainya di bidan Hanan mengambil kursi roda dan mendorong ku menuju ruang persalinan.


"Bu tolong Adelia sudah mau melahirkan." Hanan berseru pada perawatan yang berada di ruangan itu.


"Mari naikan ke sini."


Hanan mengendong ku dan membaringkan ku di sebuah tempat tidur kusus untuk ibu melahirkan.


"Silahkan tunggu diluar ya. Atau suaminya mau menemani?"


"Saya bukan suaminya sus mungkin Ibu mau menemani didalam?" Hanan menuntun Ibu untuk masuk ke ruangan bersalin.


"Baiklah Bapak tunggu diluar ya."


Pintu pun di tutup.


Ada tiga perawatan yang membantu ku melahirkan. Ada yang memasang infus, ada yang menyiapkan peralatan ini itu. Suasana sedikit menegang kan.


Aku pun diperiksa dan ternyata sudah pembukaan sembilan.


"Wah udah waktunya Bu udah pembukaan sembilan jangan ngeden dulu ya Bu tunggu aba-aba dari saya supaya tenaga Ibu gak habis saat waktunya, sekarang tarik nafas dan keluarkan pelan-pelan, ulangi sampai tiga kali ya." perawatan itu dengan telaten menuntunku yang sudah ingin teriak karna rasa sakitnya semakin tak tertahankan. Sedangkan ibu menggenggam erat tangan ku sembari menangis tanpa suara.


Aku pun mengikuti arahan perawatan itu.


Dan Bidan yang biasa memeriksa ku pun tiba dan langsung menangani ku


"Sudah siap ya Bu ayo tarik nafas lebih dalam lagi lalu ngeden dengan kuat ya. Dalam hitungan ketiga ya Bu siap ya satu dua tiga tarik...." Ku ikuti arahan Bu bidan untuk ngeden sekuat mungkin.


oeekkk....ooeeekkk....


Dengan keringat yang bercucuran membasahi rambut ku, dengan tenaga yang lumayan terkuras habis untuk ngeden tadi, dengan rasa lelah luar biasa dan nafas yang terengah-engah aku melihat seorang bayi mungil dihadapan ku yang masih berlumur darah.


"Selamat ya Bu putrinya cantik sekali, sehat dan tanpa suatu kekurangan apapun." Kata Bidan yang menolong ku melahirkan. "Biar dibersihkan dulu ya baby nya nanti baru boleh di gendong. Silahkan Ibu ikut dengannya biar saya keluarkan ari-ari nya dulu ini agak sedikit lengket diperut."


"Baik Bu bidan terimakasih."


Bu Bidan pun kembali menangani ku.


***


Tiga puluh menit sudah berlalu. Badan ku sudah bersih dan begitu juga dengan anak ku. Aku sudah dipersilahkan mengendongnya dan menyusuinya walau ASI ku belum keluar tapi Bidan bilang mulut baby akan merangsang keluarnya ASI.


"Bu cantik sekali ya Bu manis banget rambutnya juga lebat sekali Bu." Kata ku sambil mengusap pipi bayi mungil yang sedang aku gendong.


"Iya Nak Ibu jadi inget saat melahirkan mu dulu." Ibu ikut bahagia dan mengelus pipi anak ku dengar jari telunjuk nya.


Hanan dan Asep juga ikut bahagia atas kelahiran anak ku.


"Terimakasih ya Bu." Ibu memeluk ku.


"Terimakasih ya Nan Sep kalian sudah mau aku repot kan." Mereka hanya mengangguk.


"Ayah jika Ayah ada disini pasti Ayah akan sangat senang melihat cucu Ayah ini walau dengan cara yang salah."


"Ka siapa nama si baby mungil ini? Penasaran nih." Tanya Asep.


"Misela Metina"


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...